📑 Table of Contents

Jacob Ponto adalah raja ke-14 dari Kerajaan Siau. Ia memerintah Kerajaan Siau selama 39 tahun dari 1851 sampai 1889 M.

Riwayat hidup

sunting

Selama memerintah kerajaan Siau selama 39 tahun, selain menolak beragama menuruti kehendak Belanda, Jacob Ponto juga dikenal sebagai raja yang tidak mau menyengsarakan rakyatnya, ia menolak menaikan pajak perkepala meskipun Belanda memaksanya. Ia juga menolak mengibarkan bendera Belanda di istana Kerajaan Siau, ia hanya mau mengibarkan bendera Merah Putih yang sejak dahulu dijadikan sebagai bendera Kerajaan Siau. Pembangkangan demi pembangkangan yang dilakukan Jacob Ponto membuat Belanda geram, meskipun begitu Belanda tidak bisa berbuat banyak, karena Jacob Ponto dicintai rakyatnya. Oleh karena itu Belanda merencanakan taktik licik untuk menyingkirkan Jacob Ponto.

Pada tahun 1889, dengan alasan berunding Wakil Residen Manado datang ke Siau dan meminta Jacob Ponto naik ke kapal yang sedang berlabuh di Pelabuhan Ulu Siau. Belanda menyatakan ingin merundingkan hal penting dengan raja. Namun pada saat di kapal, Jacob Ponto ditawan, selanjutnya dibuang ke Karesidenan Cirebon. Selama ditawan di atas kapal dan di kirim ke Cirebon, Jacob Ponto diperlakukan dengan buruk sehingga menyebabkan penderitaan untuknya. Jacob Ponto sampai di Cirebon dalam kondisi terkena penyakit kulit, sehingga menyebabkannya sakit-sakitan.

Kematian

sunting

Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Jacob Ponto mengajukan permohonan agar dipindahkan ke suatu daerah yang mempunyai sumber air panas, ia ingin menetap di daerah tersebut, hal ini dilakukannya guna mengobati penyakit kulitnya. Belanda mengabulkan permintaan Jacob Ponto dan menempatkannya di Desa Sangkanurip yang memang memiliki sumber mata air panas. Di desa itu, Jacob Ponto diterlantarkan Belanda, ia dimiskinkan hidupnya. Pada 3 Mei 1890,[1] ketika sedang mandi di kolam air panas Sangkanurip, Jacob Ponto wafat. Penduduk sekitar kemudian memakamkannya tidak jauh dari area itu. Desa Sangkanurip dahulu termasuk wilayah Keresidenan Cirebon, kini masuk wilayah administrasi Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.[2]

Titik terang mengenai identitas Jacob Ponto baru diketahui saat seorang keturunannya yang menelusuri jejaknya pada sekitar tahun 1960-an, yaitu G.D. Ponto, datang dan mengungkapkan bahwa ia adalah seorang raja Siau yang dibuang oleh Belanda.[3]

Referensi

sunting


๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Daftar fam Sangir

Pianusa Pianusa Pieter Pilat Pimpin Pinory Pondaag Ponggohong Ponga Pongoh Ponto Pontoluli Pontoh Pontolawokang Pontolondo Pontorondo Pontius Posumah Powatu

Daftar fam Minahasa

Pongantung - Pongayouw - Ponggawa - Pongilatan - Pongoh - Ponosingon - Pontoan - Pontoan - Ponto - Pontoh - Pontonuwu - Pontororing - Porayow - Poraweouw - Porayouw

Elektromagnetisme

ย 62โ€“135. ISBNย 9781139167932. Soebyakto 2017, hlm.ย 45. Yuberti 2014, hlm.ย 177. Ponto, Hantje (2018). Dasar Teknik Listrik (PDF). Yogyakarta: Deepublish. hlm

Wolfgang Amadeus Mozart

produktif dalam penciptaan komposisi. Dia menggubah opera Mitridati, rรจ di Ponto (1770) dan Lucia Silla (1772) dan keduanya mendapat sukses besar dalam pertunjukannya

Arus bolak-balik

yang dapat merusak organ tubuh yang paling dalam. Ponto 2018, hlm.ย 51. Ponto 2018, hlm.ย 51-52. Ponto 2018, hlm.ย 52. Gertshen, Kneser dan Vogel 1996, hlm

Daftar tokoh Sulawesi Utara

Gubernur Nusa Tenggara Timur Pertama Soleman B. Ponto. Laksamana Muda TNI (Purn.) Soleman B. Ponto, S.T., M.H., adalah seorang purnawirawan perwira tinggi

Daftar film Indonesia tahun 2019

Sahetapy, Donny Damara, Rita Matumona, Elly Sugigi, Robby Tremonti, Harry Ponto, Puan Maharani Drama, Komedi Gempita Tjipta Perkasa 40.273 28 Trinity Traveler

Semikonduktor

Abdullah 2017, hlm.ย 319. Gertshen, Kneser dan Vogel 1996, hlm.ย 264. Ponto 2018, hlm.ย 4. Ponto 2018, hlm.ย 50. Gertshen, Kneser dan Vogel 1996, hlm.ย 241. Setiyo