Pop kreatif (atau disebut Creative Pop) adalah kegiatan turunan dan subgenre dari musik pop Indonesia yang berkembang di Indonesia pada akhir abad ke-20 sebagai perpaduan antara musik Indonesia dan pengaruh global kontemporer seperti funk, jazz, disko, glam rock, new wave dan soft rock. Berakar dari budaya urban, genre ini umumnya dicirikan oleh melodi yang halus, ritme yang ceria, dan tema-tema nostalgia. Awalnya, genre ini diasosiasikan denganโ€”dan mencerminkanโ€”modernisasi pesat serta pertumbuhan ekonomi Indonesia pada era 1980-an dan awal 1990-an. Pop kreatif mendapat popularitas di kalangan anak muda Indonesia dan belakangan mengalami kebangkitan kembali dalam skena musik Tanah Air.[1]

Definisi

sunting

Istilah pop kreatif pertama kali muncul di media Indonesia pada era 1980-an.[10] Jurnalis Seno M. Hardjo dan Bens Leo disebut sebagai pihak yang memopulerkan istilah ini untuk membedakan musik yang dibawakan oleh musisi seperti Guruh Soekarnoputra, Eros Djarot, Chrisye, Fariz RM, dan Dian Pramana Poetra dari para penyanyi genre pop melankolis.[11] Pop kreatif dapat digambarkan sebagai "musik pop yang modis dan urban, didukung oleh kelas menengah atas di kota-kota besar." Genre ini muncul sebagai bentuk musik yang berbeda dari arus utama pada masanya.[12] Istilah lain yang sering diasosiasikan dengan genre ini antara lain "pop kontemporer", "pop trendi", dan "pop kelas atas".[12] Meskipun berkembang sebagai genre yang khas, kebangkitan global terhadap city pop Jepang telah mendorong pendengar masa kini untuk menyebutnya sebagai "city pop Indonesia".[13][14]

Lagu-lagu pop kreatif sering menampilkan aransemen instrumental yang rumit, dengan penggunaan menonjol sintisizer dan berbagai alat musik elektronik lainnya. Lirik dalam lagu pop kreatif cenderung lebih puitis dan introspektif dibandingkan dengan musik pop arus utama, yang turut melahirkan istilah "pop kreatif" itu sendiri.[15][16] Istilah ini juga membentuk persepsi publik, memposisikan genre tersebut sebagai sesuatu yang canggih dan identik dengan kemewahan kaum urbanisโ€”berbanding terbalik dengan genre pop melankolis yang kerap dianggap norak, kampungan, dan ketinggalan zaman oleh generasi muda pada masa itu.[16]

Larangan terhadap genre pop melankolis telah menciptakan peluang bagi para musisi yang bereksperimen dengan gaya jazz fusion dan new wave, yang ditandai dengan penggunaan sintisizer secara intensif, untuk tampil ke permukaan.[17] Dengan memanfaatkan teknologi baru seperti sintisizer dan mesin drum, musisi Indonesia mengambil inspirasi dari City Pop Jepang, Synth Pop Eropa, dan Boogie Amerika, lalu memadukan gaya-gaya tersebut dengan nuansa dan alur musikal khas Indonesia dari genre seperti Gamelan dan Keroncong.[18] Para artis yang dikategorikan ke dalam genre pop kreatif umumnya berfokus pada penciptaan ritme, melodi, harmoni, instrumen, dinamika, gaya, dan lirik yang unik dan kreatif.[19] Menurut akademisi Kitano, ia menarik kesamaan antara pop kreatif dan karya musisi Jepang seperti Yamashita Tatsuro, menyamakannya dengan evolusi musik pop Jepang ke dalam bentuk yang dikenal sebagai "new music." Hal ini menunjukkan bahwa pop kreatif merepresentasikan bentuk pop kontemporer atau trendi yang ditandai dengan pendekatan inovatifnya.[20] Pada intinya, pop kreatif menonjol sebagai genre yang ditujukan bagi audiens urban dan kosmopolitan, mencerminkan pengaruh dan selera modern yang membedakannya dari musik arus utama tradisional.[20]

Asal usul musik

sunting

Asal-usul pop kreatif dapat ditelusuri dari sejarah panjang Indonesia dalam tradisi musikal yang bersifat fusi (campuran). Bahkan sebelum genre ini secara formal muncul, musik Indonesia sudah ditandai oleh integrasi antara tradisi lokal dengan pengaruh luar. Genre seperti Keroncong dan Dangdut mencerminkan pencampuran iniโ€”Keroncong mengambil pengaruh dari musik rakyat Portugis, sementara Dangdut mengadopsi elemen dari musik film India. Pada dekade 1960-an dan 1970-an, kemunculan Pop Melayu menunjukkan kemampuan Indonesia untuk menggabungkan musik pop Barat dengan gaya musik daerah Melayu. Musisi seperti Rhoma Irama mulai memperkenalkan instrumen modern dan aransemen pop ke dalam bentuk musik tradisional, yang kelak menjadi fondasi bagi perkembangan pop kreatif.[21] Pada masa itu, Presiden Soekarno melarang semua musik "Ngak-Ngik-Ngok." Soekarno menganggap lagu-lagu Barat sebagai hedonistik dan sebagai bentuk imperialisme budaya dari Barat yang bertentangan dengan kepribadian bangsa Indonesia. Pemerintah pun mengambil langkah ketat untuk menekan pengaruh budaya yang dianggap sebagai Budaya Barat atau bertentangan dengan visi identitas nasional.[22] Larangan ini juga mencakup musik populer; grup musik dan individu yang memproduksi atau memainkan lagu-lagu tersebut dapat dikenakan sanksi,[22][23] bahkan hukuman penjara.[24]

Setelah peristiwa Gerakan 30 September dan naiknya rezim Orde Baru, dampak politik dari sikap anti-Barat Soekarno terhadap seni dan budaya menyebabkan industri kreatif Indonesia relatif terisolasi dari genre musik global kontemporer. Pada masa ini, terutama selama dekade 1960-an hingga awal 1970-an, industri musik Indonesia lebih banyak berfokus pada promosi musik rakyat dan gaya-gaya daerah. Isolasi ini berlangsung hingga pertengahan 1970-an,[25] ketika pemerintah Orde Baru mulai mendorong investasi asing secara agresif dan menerapkan sistem kapitalisme kroni tanpa regulasi, yang dikaitkan dengan kelompok Mafia Berkeley.[26] Hal ini memunculkan elit kapitalis baru dan masuknya pengaruh budaya asing ke dalam negeri. Bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi tersebut, industri pariwisata dan hiburan Indonesia mulai menyesuaikan diri dengan selera global. Pada masa inilah musisi Indonesia mulai memasukkan unsur rock, disko, dan jazz fusion ke dalam komposisi mereka, menandai awal era baru dalam skena musik nasional. Meskipun musik impor mendominasi pasar rekaman, musisi Indonesia tetap mempertahankan tradisi hibriditas mereka, yakni memadukan pengaruh asing dengan nuansa lokal.[27]

Awal mula

sunting
Potret Guruh Sukarnoputra

Pop kreatif sangat dipengaruhi oleh aliran progressive rock dan jazz, terutama pada masa kemunculannya pada pertengahan 1970-an. Para pelopor progressive rock memainkan peran penting dalam membentuk fenomena pop kreatif. Salah satu tokoh kuncinya adalah Guruh Sukarnoputra, putra Presiden pertama Indonesia, Sukarno, yang disebut sebagai pendiri[28] atau salah satu perintis dari genre ini.[29] Para intelektual elit yang terobsesi dengan musik Barat di sekitar Guruh turut mendorong naiknya popularitas pop kreatif sejak akhir 1970-an.[28] Guruh membentuk grup musik Gipsy pada pertengahan 1970-an, sebuah kelompok yang dikenal karena perpaduan inovatif antara progressive rock dan alat musik tradisional Indonesia seperti gamelan Bali. Grup ini merilis album berjudul Guruh Gipsy pada tahun 1976. Meskipun gaya avant-garde dan sifat eksperimental album ini tidak sukses secara komersial pada masanya, karya tersebut kemudian dievaluasi ulang dan diakui sebagai tonggak penting dalam sejarah musik Jakarta.[8] Guruh Gipsy kemudian memperoleh pengakuan luas karena pengaruhnya terhadap perkembangan musik Indonesia.[30][31] Pada Desember 2007, Rolling Stone Indonesia memilih Guruh Gipsy sebagai album Indonesia terbaik kedua sepanjang masa, tepat di bawah album pop kreatif lainnya, Badai Pasti Berlalu.[32] Tiga lagu dari album tersebutโ€”Badai Pasti Berlalu, "Merpati Putih", dan "Merepih Alam"โ€”masuk dalam daftar lagu Indonesia terbaik sepanjang masa versi Rolling Stone, sementara albumnya dinobatkan sebagai album musik Indonesia terbaik sepanjang masa.[32]

Aktivitas para anggota Guruh Gipsy setelah bubarnya grup tersebut berperan besar dalam perkembangan pop kreatif. Setelah tahun 1977, Guruh Sukarnoputra, Chrisye, dan kakak-beradik Keenan Nasution dan Debby Nasution muncul sebagai tokoh kunci dalam genre ini. Keluarga Nasution berperan dalam membina gerakan pop kreatif Indonesia dengan membimbing langsung generasi baru musisi dari rumah mereka di kawasan Menteng. Kediaman mereka menjadi pusat kolaborasi musik dan tempat berkumpulnya talenta-talenta baru seperti Elfa Secioria, yang mendapatkan bimbingan langsung serta menjadi bagian dari komunitas pop kreatif yang sedang berkembang.[33] Dua karya besar dari tahun 1977 secara luas dianggap sebagai tonggak awal pop kreatif: album lagu tema film melodrama Badai Pasti Berlalu dan antologi Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR). Kedua album ini menampilkan gaya musik pop yang canggih dan berorientasi Barat, berbeda dari Pop Melayu maupun pop melankolis yang sentimenal. Para anggota Guruh Gipsy, termasuk Chrisye dan saudara Nasution, bekerja sama dengan Jockie Surjoprajogo, kibordis dari grup rock God Bless, dalam kedua proyek tersebut. Kolaborasi ini menunjukkan potensi untuk menciptakan bentuk musik pop Indonesia yang lebih modern dan berkelas. Guruh Sukarnoputra juga memberikan kontribusi besar sebagai komponis ternama, baik melalui karyanya untuk Chrisye maupun dalam membimbing generasi baru musisi yang akan membentuk karakter pop kreatif pada dekade 1980-an. Produksi lagu tema Badai Pasti Berlalu diawasi oleh Eros Djarot, yang sebelumnya aktif dalam skena progressive rock era 1970-an. Dengan demikian, sejumlah tokoh penting dari masa keemasan rock Indonesia kemudian bertransformasi menjadi pionir awal dalam pengembangan pop kreatif.[34]

Kompetisi LCLR

sunting
Fariz RM merupakan salah satu artis yang berkontribusi terhadap munculnya aliran Pop kreatif.

Genre pop kreatif dipopulerkan oleh para musisi muda yang berpartisipasi dalam festival "Lomba Cipta Lagu Remaja" (LCLR) pada tahun 1977 dan 1978. Pada pertengahan 1970-an, musik pop Indonesia didominasi oleh grup-grup seperti Koes Plus, Favorite's Group, Panbers, The Mercy's, dan D'Lloyd. Musik mereka cenderung memiliki kesamaan dalam melodi, progresi akor, dan pola penulisan lirik yang sederhana. Kritikus musik ternama Remy Sylado mengkritik dangkalnya tema dalam lagu-lagu pop Indonesia saat itu, dengan menyebut bahwa hampir semua lagu diisi oleh kata "Mengapa!".[3] Radio Prambors, yang saat itu dikenal sebagai stasiun radio anak muda,[35] kemudian menginisiasi kompetisi LCLR untuk menggali potensi kreatif anak muda dalam penulisan lagu dan memutus kejenuhan industri musik pop yang saat itu dinilai terlalu komersial dan monoton.[36][37] Dalam pelaksanaan pertamanya, LCLR 1977 melahirkan lagu "Kemelut" karya Junaedi Salat, yang dibawakan oleh Keenan Nasution,[38] sebagai juara pertama, dan lagu "Lilin-Lilin Kecil" ciptaan James F. Sundah yang dinyanyikan oleh Chrismansyah Rahadi,[39] yang terpilih sebagai "Lagu Favorit" berdasarkan pilihan pendengar.[40] Di antara sepuluh pemenang, tiga lagu berasal dari kelompok vokal siswa SMA Negeri 3 Jakarta, yaitu "Akhir Sebuah Opera", "Angin", dan "Di Malam Kala Sang Sukma Datang". Para siswa seperti Fariz R. Munaf, Adjie Soetama, Raidy Noor, dan Iman RN kelak dikenal sebagai penggerak penting dalam musik pop Indonesia.[41] Fariz RM sendiri menyatakan kekagumannya terhadap para pendahulunya, menyebut tokoh-tokoh seperti Chrisye, Harry Roesli, saudara Nasution, Yockie Suryoprayogo, dan lainnya sebagai "kakak-kakak" yang sangat memengaruhi perjalanan kariernya.[42]

Pada LCLR 1978, lagu "Khayal" ciptaan Christ Kaihatu dan Tommy WS keluar sebagai juara pertama,[43] sementara lagu "Kidung" karya Chris Manusama terpilih sebagai "Lagu Favorit".[44] Ajang ini terus melahirkan penulis lagu berbakat seperti Ikang Fawzy, Dian Pramana Poetra, Yovie Widianto, dan banyak lagi. Gaung LCLR Prambors mengguncang industri musik pop Indonesia. Pada era 1977โ€“1978, sejumlah musisi seperti Chrisye,[45] Keenan Nasution,[46] Eros Djarot,[47] dan God Bless[48] secara terbuka antusias memproduksi karya-karya alternatif sebagai respons terhadap dominasi musik pop melankolis arus utama.[49][50] Meskipun ada tekanan sosial maupun dari pemerintah, penyanyi pop melankolis hampir tidak pernah terlibat dalam ajang ini. Hanya tiga nama yang pernah terlibat, yakni Christine Panjaitan (FLPI 1985), Endang S. Taurina (FLPI 1986), dan Dian Piesesha (FLPI 1987).[51] Aransemen musik yang disajikan oleh Yockie Soerjoprajogo dalam LCLR cenderung mengadopsi elemen progressive rock dengan dominasi instrumen kibor, menciptakan suasana musik yang megah dan kaya, terutama dalam hal harmoni akor yang lebih luas dan gaya penulisan lirik yang puitis. Gaya aransemen ini kemudian dilanjutkan oleh Yockie saat menggarap album solo Chrisye seperti Sabda Alam, Percik Pesona, Puspa Indah Taman Hati, Pantulan Cinta, Resesi, Metropolitan, dan Nona, yang kemudian menjadi ciri khas dari pop kreatif.[52] Pengaruh jazz mulai terlihat dalam LCLR 1980 melalui aransemen yang dibuat oleh Abadi Soesman dan Benny Likumahuwa. LCLR kemudian mengedepankan tren musik yang sedang berkembang, menjadikannya barometer inovasi dalam industri musik pop Indonesia sekaligus ajang favorit para musisi muda.[49] Memasuki era 1980-an, para artis dan grup seperti Fariz RM, Yockie Suryoprayogo, dan Candra Darusman memainkan peran penting dalam membentuk selera dan standar musik pop modern Indonesia. Mereka menggabungkan melodi yang rumit, aransemen yang halus, serta teknik produksi kontemporer yang terinspirasi dari gaya populer internasional.[53]

Harmoko dan jatuhnya pop Melankolis

sunting

ย  Menjelang akhir 1970-an, pop kreatif mulai bersaing dengan genre Pop Melankolis, yaitu musik dengan nada lembut yang terinspirasi dari Traditional Pop Amerika tahun 1950-an.[54] Pop Melankolis menarik perhatian banyak orang Indonesia, termasuk Iwan Fals, sebagai medium untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintahan Orde Baru, terutama terkait kondisi hidup, represi politik, dan stagnasi ekonomi yang diwarisi oleh rezim tersebut.[55] Subgenre ini akhirnya dilarang tayang di TVRI, satu-satunya stasiun televisi nasional Indonesia pada saat itu, oleh Harmoko, Menteri Penerangan kala itu, pada tahun 1988. Setelah mendengarkan lagu "Hati Yang Luka" yang saat itu sedang populerโ€”diciptakan oleh Obbie Messakh dan dinyanyikan oleh Betharia Sonataโ€”Harmoko segera memerintahkan pelarangan terhadap "lagu-lagu cengeng",[6] dengan alasan bahwa "perkara lagu Hati Yang Luka, yang dinyanyikan Betharia Sonata sambil menangis, sungguh menarik perhatian."[56] Ada spekulasi bahwa Presiden Suharto secara pribadi juga tidak menyukai lagu tersebut.[57] Menurut Harmoko, lagu-lagu semacam itu dianggap menghambat pembangunan nasional karena tidak mampu membangkitkan semangat kerja.[58] Ia mengkritik konten acara TVRI yang dipenuhi "ratapan rendah selera tentang patah semangat, rumah tangga hancur, atau hal-hal yang cengeng", dan menilainya tidak cocok untuk membangun masyarakat yang produktif dan bersemangat.[56] Dikatakan pula bahwa Harmoko membenci lagu tersebut karena liriknya dianggap "melumpuhkan semangat", bertentangan dengan semangat pembangunan yang digaungkan oleh pemerintah Orde Baru.[6][59] Pelarangan ini menyebabkan banyak musisi bangkrut dan menghancurkan industri pop melankolis yang sebelumnya mendominasi pasar.[60][61] Tanpa hambatan, pop kreatif kemudian berkembang pesat dari gerakan bawah tanah menjadi arus utama, dengan dukungan pemerintah dalam mempromosikan genre tersebut.[62][63]

Setelah pelarangan terhadap pop melankolis, industri kreatif Indonesia praktis mengalami kehancuran,[64] dengan harga kaset dan pemutar pita (tape recorder) yang turun drastis sejak akhir tahun 1970-an.[65] Kondisi ini memungkinkan sebagian besar masyarakat Indonesia untuk menikmati lagu-lagu dari band luar negeri, seiring meningkatnya minat terhadap budaya dan musik asing yang mulai masuk melalui kebijakan relaksasi budaya Orde Baru.[66] Keberhasilan Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) mendorong Radio Prambors untuk mengemas lagu-lagu tersebut dan mendistribusikannya ke masyarakat luas dalam bentuk kaset. Harga kaset yang terjangkau serta jangkauan radio yang luas menjadikan genre pop kreatif tersebar secara masif.[67] Dalam penyelenggaraannya setiap tahun, lagu-lagu finalis LCLR selalu diperkenalkan melalui program khusus di TVRI. Selain itu, malam final kompetisi ini juga disiarkan langsung oleh TVRI, memastikan jangkauannya mencakup seluruh wilayah Indonesia. Paparan yang luas ini memainkan peran penting dalam mendorong lagu-lagu dari kompetisi tersebutโ€”meskipun dengan komposisi yang lebih kompleks dibandingkan pop komersial arus utama saat ituโ€”menjadi lagu populer yang sukses di pasaran.[68]

Popularitas

sunting
Jakarta pada masa urbanisasi pesat di awal tahun 80-90an, turut menyumbang pada daya tarik Pop kreatif yang luas.

Kemunculan pop kreatif pada akhir abad ke-20 bertepatan dengan proses urbanisasi pesat di Indonesia dan meningkatnya keterbukaan terhadap budaya global di bawah kebijakan relaksasi budaya pemerintah Orde Baru. Tren musik internasional seperti disco dan funk Barat mulai mendominasi siaran radio Indonesia, menginspirasi seniman lokal untuk menciptakan musik yang mencerminkan gaya hidup masyarakat urban yang sedang tumbuh, sambil tetap mempertahankan nuansa lokal. Para musisi pop kreatif mengadopsi teknik produksi modern dan estetika global, tetapi tetap mempertahankan elemen khas Indonesia, seperti struktur melodi dan penataan lagu. Genre ini sangat diminati oleh kalangan kelas menengah yang sedang berkembang, warga perkotaan, dan kelompok kelas santai yang ingin menjalin kedekatan budaya dengan budaya asing.[69]

Penyanyi dan/atau komponis terkenal dalam subgenre ini antara lain Chrisye, Fariz RM, KLa Project, Utha Likumahuwa, Vina Panduwinata,[2][70] Harvey Malaiholo,[71] Christ Kayhatu, dan Dodo Zakaria.[72] Seperti halnya City Pop Jepang yang sering menganggap penyanyi dan penulis lagu Tatsuro Yamashita sebagai "Raja City Pop",[73] genre pop kreatif di Indonesia juga kerap menganggap Chrisye sebagai "Rajanya".[74] Kesuksesan album lagu tema Badai Pasti Berlalu dan album Sakura milik Fariz RM menjadi momentum pertumbuhan pop kreatif.[75] Fariz RM dan Dian Pramana Poetra adalah contoh musisi yang berhasil di genre ini. Album "Sakura" (1980) oleh Fariz RM dan "Indonesia Jazz Vocal" (1982) oleh Dian Pramana Poetra mendapat sambutan positif dan berhasil memikat generasi muda Indonesia.[76] Setelah kesuksesan album "Sakura", musisi seperti bassist Erwin Gutawa, drummer Uce Haryono, dan kibordis Eddie Harris menyuarakan niat untuk "memperbarui musik Indonesia dalam hal warna, karakter, dan gaya".[77] Bersama Fariz RM, mereka membentuk grup musik Transs, yang mengusung gaya jazz fusion dengan penekanan pada improvisasi dan pengaruh dari genre seperti bossa nova, samba, disko, dan funk.[78] Nama Transs merupakan kependekan dari "Transition", yang mencerminkan misi kelompok ini untuk menghadirkan pembaruan dalam skena musik Indonesia melalui gaya dan pengaruh baru.[79][80] Album mereka yang berjudul "Hotel San Vicente" kemudian dianggap sebagai salah satu album jazz fusion Indonesia terbaik sepanjang masa,[81] dan menempati peringkat ke-35 dalam daftar โ€˜The 150 Greatest Indonesian Albums of All Timeโ€™ versi majalah Rolling Stone Indonesia yang diterbitkan pada edisi #32 bulan Desember 2007.[82]

Transs kemudian menjadi salah satu cetak biru dalam pengembangan musik fusion di Indonesia sekaligus pelopor lahirnya kelompok musik lain dengan gaya jazz fusion seperti Karimata, Krakatau, Black Fantasy, Emerald, Bhaskara, dan lainnya.[83][84][85]

Kemunculan Casiopea, grup jazz-rock pelopor dari Jepang, juga turut menginspirasi terbentuknya sejumlah band jazz-rock dan fusion di Indonesia, seperti Krakatau, Karimata, dan Emerald Band.[86]

Jazz memiliki pengaruh besar terhadap pop kreatif, karena banyak musisi dalam genre ini telah terbiasa dengan jazz sejak kecil. Indra Lesmana, putra dari Jack Lesmanaโ€”yang dikenal sebagai "bapak jazz Indonesia"โ€”menjadi figur penting dalam pop kreatif setelah membentuk band Krakatau pada dekade 1980-an. Demikian pula, penyanyi dari keluarga berada seperti Candra Darusman tumbuh dengan kecintaan terhadap jazz karena pengaruh selera musik orang tua mereka. Jazz menjadi elemen penentu dalam pop kreatif sebagian berkat kontribusi lulusan sekolah musik "Elfa Studio" yang didirikan oleh musisi jazz Elfa Secioria. Banyak lulusan Elfa Studio yang kemudian menonjol sebagai penampil pop kreatif. Salah satunya adalah Dwiki Dharmawan, anggota Krakatau, yang belajar piano jazz langsung di bawah bimbingan Elfa sejak usia muda.[87]

Pada suatu kesempatan, grup Krakatau dan Casiopea pernah tampil satu panggung dan saling unjuk kebolehan dalam acara 21st Economics Jazz di Universitas Gadjah Mada.[88]

Awal berdirinya Yayasan Musik Yamaha di Jl. Hayam Wuruk, Jakarta pada tahun 1971. Yasuke Sato (kedua dari kiri).

Band-band tersebut mendapat pengakuan melalui keikutsertaan mereka dalam Kontes Musik Ringan Yamaha yang bergengsi di Jepang. Ekspor musik disukai oleh pemerintah, yang memungkinkan kelompok seperti Krakatau, Emerald, dan Karimata untuk masuk ke arus utama.[89] Kerjasama antara Indonesia dan Yamaha dimulai pada tahun 1970, ketika Yasuke Sato, perwakilan Yamaha Jepang, bertemu dengan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, yang saat itu menjabat Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan & Industri dan Sultan Yogyakarta, untuk membahas potensi kerjasama dalam memajukan musik di Indonesia. Kemitraan ini akhirnya berujung pada pendirian Yayasan Musik Yamaha, di bawah pimpinan Kapolda Hoegeng Iman Santoso yang dikenal dengan kecintaannya pada musik. Yayasan ini kemudian berganti nama menjadi Yayasan Musik Indonesia (YMI) dan berperan penting dalam memajukan pendidikan dan promosi musik di Indonesia.[90] Di antara pemenang terkenal dari Yamaha Light Music Contest di Tokyo adalah Indonesia 6, sebuah grup bentukan Elfa Secioria, yang menampilkan Yani Danuwijaya sebagai "Pemain Keyboard Internasional Terbaik" di usia yang sangat muda dan Dezzy Arnas sebagai "Pemain Bassis Terbaik", pada tahun 1987. Lagu yang dibawakan Indonesia 6 pada Kontes Musik Cahaya Internasional 1987 di Tokyo merupakan aransemen ulang dari "All the Things You Are", sebuah standar jazz yang aslinya diciptakan Jerome Kern dengan lirik oleh Oscar Hammerstein II . Penampilannya mendapat pujian kritis dan membawa grup tersebut mendapat pengakuan nasional. Menyusul kesuksesan mereka, Indonesia 6 merilis lagu " Fatamorgana ", yang sangat terinspirasi oleh band jazz-fusion Jepang Casiopea . Lagu ini menampilkan aransemen yang rumit, ritme sinkopasi, dan bassline yang rumit.[91] Penampil menonjol lainnya termasuk Squirrel Band dari Surabaya, yang membuat Dewa Budjana memperoleh gelar "Gitaris Terbaik" pada tahun 1984, dan Krakatau Band yang memenangi Kontes Musik Ringan Indonesia pada tahun 1985 dan kemudian tampil di Tokyo. Selain itu, Dwiki Dharmawan memperoleh pengakuan sebagai "Pemain Keyboard Terbaik," sementara Emerald Band memperoleh dua penghargaan di Jepang, dengan Iwang Noorsaid, yang dikenal sebagai Imaniar, dinobatkan sebagai "Pemain Keyboard Terbaik" dan Inang Noorsaid memperoleh penghargaan atas keterampilan bermain drumnya.[86] Dukungan pemerintah ini memberikan kesempatan bagi band-band ini untuk menampilkan bakat mereka di platform seperti TVRI dan RRI .[89] Melalui pertunjukan di televisi, mereka menjangkau khalayak yang lebih luas, memperluas basis penggemar mereka dan memperkenalkan gaya musik baru kepada masyarakat Indonesia.[68][92]

Pada akhir 1980-an, KLa Project muncul dan memperkuat genre Pop kreatif dengan pengaruh new wave dan penggunaan synthesizer. Album perdana mereka dengan hits seperti "Tentang Kita" dan "Yogyakarta" menandai era keemasan KLa Project dan memperluas penerimaan musik pop kreatif di Indonesia.[3] Festival Lagu Populer Indonesia mencapai masa kejayaannya pada pertengahan tahun 80-an, dalam arti lagu-lagu yang dihasilkannya berhasil meraih penghargaan internasional sekaligus laku di pasaran.[93] Pada tahun 1985, panitia FLPI berhasil mendapatkan 12 lagu yang terpilih sebagai 'yang terbaik'. Hampir semua lagu menjadi hits, dan para pemenangnya dapat berbicara di Festival Internasional. Lagu Burung Camar karya Vina Panduwinata meraih Kawakami Awards pada Festival Lagu Pop Dunia di Budokan Hall, Tokyo, Jepang.[94]

Perpecahan menjadi Pop urban

sunting

Dengan jatuhnya pemerintahan Orde Baru, berakhirlah monopoli penyiaran radio di tanah air. Pergeseran ini memungkinkan munculnya perusahaan media baru, memberikan masyarakat Indonesia lebih banyak pilihan dan genre untuk dijelajahi.[6] Pop kreatif akhirnya terabaikan oleh genre yang dikenal sebagai Pop Melayu yang berasal dari Malaysia . Munculnya Pop Melayu dengan lirik-liriknya yang sentimental dan merdu, menandai masa ketika Pop kreatif mulai menurun popularitasnya.[67] Pada akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an, tren musik Indonesia mulai bergeser dari pop ke genre slow rock yang sedang naik daun. Perubahan ini dipicu oleh keberhasilan grup rock Malaysia Search dan vokalis utamanya, Amy (Suhaimi), yang meraih popularitas besar dengan lagu hits mereka "Isabella". Pengaruh Amy di kancah musik Indonesia segera diikuti oleh kebangkitan Nike Ardila, yang hitnya "Bintang Kehidupan" mengukuhkan tempat slow rock di Indonesia. Karena selera penonton Indonesia condong ke arah slow rock, kelayakan komersial lagu-lagu pop melankolis menurun secara signifikan. Pop kreatif, yang dulunya dipromosikan secara besar-besaran melalui platform yang didukung pemerintah seperti RRI dan TVRI, berjuang untuk mencapai tingkat kesuksesan yang sama dalam perubahan dunia musik.[95] Pada awal tahun 2000-an, Pop kreatif secara bertahap dilupakan oleh para pecinta musik, dan akhirnya memudar menjadi tidak dikenal karena Pop Melayu menarik perhatian publik.[67][96] Pada tahun 2008, Pop kreatif telah menjadi genre khusus, dengan popularitasnya terutama ditopang oleh generasi tua yang tumbuh dengan musiknya. Kehadirannya di kancah musik Indonesia sebagian besar dipertahankan oleh komunitas kecil blogger dan arsiparis musik yang berdedikasi untuk melestarikan dan mendokumentasikan genre tersebut.[97]

Upaya untuk menghidupkan kembali genre Pop kreatif sebelum tahun 2017 sangat minim, karena lanskap musik Indonesia menjadi semakin beragam dengan munculnya berbagai genre lainnya. Salah satu upaya penting adalah konser Pagelaran Zaman Emas Fariz RM yang diadakan pada 21 Agustus 2003 di Plenary Hall, JCC Jakarta. Acara tersebut menampilkan sederet artis ternama, antara lain Sherina Munaf, Reza Artamevia, Titi DJ, Katon Bagaskara, Warna, /rif, dan Syaharani . Selain itu, Dwiki Dharmawan ditunjuk untuk mengaransemen komposisi musik untuk konser tersebut. Konser ini dianggap gagal secara komersial, karena jumlah penontonnya rendahโ€”hanya 2.000 orang yang hadir di tempat berkapasitas 5.000 orang.[98] Ada juga penolakan dari industri musik mengenai genre pop kreatif . Panitia Anugerah Musik Indonesia (AMI) telah menetapkan penggantian nama kategori menjadi "Pop urban" untuk kompetisi AMI Awards 2013 . Panitia menganggap nama tersebut tersinggung dengan implikasi bahwa lagu-lagu di luar klasifikasi "pop kreatif" mungkin dianggap "kurang kreatif", dengan alasan bahwa semua genre musik harus "terus disempurnakan dari waktu ke waktu" [99] Konsekuensi yang tidak diinginkan dari upaya untuk mengganti nama Pop Kreatif menjadi Pop Urban adalah pembagian genre menjadi dua varietas yang berbeda. Yang pertama mempertahankan suara synth-heavy asli, yang terinspirasi dari tahun 1980-an, yang dicontohkan oleh artis seperti Fariz RM, sementara yang terakhir muncul dalam popularitas pasca-2010, menggabungkan elemen-elemen yang lebih kontemporer dari soft jazz dan funk modern, gaya berorientasi groove, yang diwakili oleh artis-artis seperti Maliq & D'Essentials, RAN, Soulvibe, dan Tompi .[8][100] Begitu debut, Maliq & D'Essentials awalnya berlabel Pop Kreatif dan sempat dipuji media pada tahun 2000-an sebagai awal mula "kebangkitan Pop Kreatif". Namun seiring berjalannya waktu, kemudian muncul sebuah gerakan untuk mempopulerkan Pop urban.[8] [63] Menurut Widi Puradiredja, sebelum maraknya Maliq & D'Essentials dan grup musik sejenisnya, sudah ada grup yang mengusung aliran musik sejenis, seperti Humania, The Groove, dan Bunglon . Namun, artis-artis terdahulu ini kesulitan untuk mendapatkan perhatian signifikan dari industri musik dan masyarakat umum, karena musik mereka dianggap terlalu rumit atau berat untuk menarik perhatian masyarakat umum.[63]

Kebangkitan abad ke-21

sunting

Templat:Pop musicDengan meningkatnya minat dari generasi muda, banyak orang Indonesia mulai menyebut pop kreatif dari era 1980โ€“1990-an sebagai "City Pop Indonesia". Tren ini semakin populer di kalangan penggemar musik muda, seiring dengan bangkitnya kembali City Pop Jepang secara global,[101] yang didorong oleh kemunculan platform streaming digital seperti YouTube dan Spotify.[102][103] Akibatnya, generasi muda Indonesia kembali menemukan pop kreatif, merayakan daya tarik nostalgianya serta kemiripannya dengan estetika kosmopolitan ala City Pop Jepang.[101][104][105] Meskipun tidak terdapat hubungan yang jelas atau terdefinisi antara City Pop Jepang dan pop kreatif Indonesia, kedua genre ini memiliki akar yang sama dalam soft rock dan jazz fusion.[106][107] Perkembangan kedua genre ini kemungkinan berlangsung secara paralel, selaras dengan tren penerimaan musik populer Barat di Asia sepanjang abad ke-20, yang membentuk banyak kesamaan di antara keduanya. Pengaruh dari soft rock, jazz fusion, funk, dan disko asal Amerika Serikat dan Eropa memainkan peran penting dalam membentuk karakter kedua genre tersebut, karena musisi lokal menyesuaikan gaya-gaya ini dengan lanskap budaya dan musikal mereka masing-masing. Konteks historis ini juga menjadi salah satu faktor yang mendorong kebangkitan city pop di masa kini, ketika para pendengar di Asiaโ€”dan bahkan duniaโ€”kembali mengeksplorasi dan menafsirkan ulang genre-genre tersebut dalam kerangka musik modern.[108][109]

Meskipun beberapa musisi Indonesiaโ€”terutama dari skena musik indieโ€”[110] seperti Mondo Gascaro,[111] Dhira Bongs,[112] Kurosuke,[113] Coldiac,[114] Tokyolite, Ikkubaru,[115] Vintonic,[116] dan Spring Summer[117] mencoba meniru gaya City Pop Jepang dan dapat dikategorikan sebagai "City Pop Indonesia", pelabelan pop kreatif secara umum dengan istilah tersebut masih menuai kontroversi. Klasifikasi yang terlalu luas ini telah menyebabkan masuknya berbagai genre seperti disko Indonesia, hard rock 1990-an, hingga kelompok proto-pop melayu dalam label yang sama, sehingga mengaburkan identitas khas dari pop kreatif. Para kritikus memperingatkan bahwa pencampuran ini dapat menyebabkan kebingungan, terutama bagi pendengar internasional yang ingin memahami karakter unik dari genre pop kreatif. Anggota Diskoria, Merdi Simanjuntak, menyatakan ketidaksetujuannya atas pelabelan tersebut terhadap grupnya dan genre secara umum, dengan menyebut, "Saya hanya bisa tertawa!"[5] Fariz RM sendiri pernah mengomentari kaitannya dengan genre City Pop, dengan menyatakan bahwa inspirasinya datang dari berbagai sumber dan tidak terbatas pada City Pop Jepang. Ia menyebut Harie Dea sebagai sosok yang justru berperan besar dalam membentuk gaya musik tersebut. Ketika ditanya soal istilah "City Pop Indonesia", Fariz RM menolak pelabelan tersebut dan menekankan bahwa kategori seperti ini biasanya diciptakan oleh pendengar atau pengamat, bukan oleh para musisinya sendiri.[118]

Fadli Aat dan Merdi Simanjuntak dari Diskoria, diakui atas usaha mereka dalam mengenalkan ulang musik disko-pop kreatif Indonesia ke khalayak lebih luas[119]

Ciri khas lagu-lagu bergaya pop kota yang sedang populer di Indonesia saat ini, kadang-kadang dikenal sebagai Pop urban, terletak pada perpaduan pengaruh dari penggabungan unsur-unsur funk, musik elektronik, dan jazz. Meskipun daftar putar "pop kota Indonesia" sebagian besar didominasi oleh musik dari tahun 1980-an, banyak musisi kontemporer dalam industri musik Indonesia semakin banyak memproduksi lagu-lagu mereka sendiri yang terinspirasi oleh Pop kreatif .[8][67][120] Di antara tokoh yang menonjol dalam pendidikan ini adalah Diskoria . Dimulai dengan lagu debut mereka "Balada Insan Muda" [121] dan mendapatkan pengakuan luas dengan "Serenata Jiwa Lara",[122] Diskoria telah memainkan peran penting dalam memperkenalkan kembali musik Indonesia dari masa lalu, dikemas ulang dalam gaya Jazz dan disko pop modern yang beresonansi dengan anak muda saat ini.[7][100] Selain itu, seniman seperti Laleilmanino dan Lalahuta juga bisa dikatakan sebagai revivalis Pop Kreatif .[2] Selain itu, karya-karya seniman seperti Vira Talisa, Mondo Gascaro, Aya Anjani juga muncul sebagai sumbangan signifikan bagi era genre saat ini di blantika musik Indonesia. Tren saat ini biasanya berkisar pada penciptaan dan remix lagu-lagu baru yang sengaja meniru kepekaan pop kreatif / city pop lama.[7][67][120] Sebuah pengenalan kembali Pop Indonesia jadul yang menonjol adalah "Primadona" karya Adikara . Dibuat sebagai penghormatan terhadap genre tersebut,[123] lagu tersebut telah diputar lebih dari 150.000 kali di TikTok [124] dan pada satu titik mencapai 5 teratas di tangga lagu Billboard Indonesia selama 7 minggu.[125]

Momentum ketertarikan terhadap genre ini mendorong didaur ulangnya lagu-lagu Pop kreatif lama menjadi sebuah album mini, "Lagu Baru dari Masa Lalu", yang merupakan inti dari kompetisi LCLR yang kini sudah tidak ada lagi, dalam upaya organisasi arsip musik, Irama Nusantara, untuk menghargai dan memberi inspirasi kepada lebih banyak seniman yang mendalami genre ini.[126][127] Album ini didorong dengan harapan untuk meningkatkan manajemen hak cipta dan pengarsipan lagu-lagu Pop kreatif Indonesia lama.[128] Untuk proyek tersebut, lima lagu dari tahun 1980-an diaransemen dan dinyanyikan ulang oleh delapan musisi berbeda. Lagu pertama album tersebut, "Walau dalam Mimpi", yang merupakan lagu dari album berjudul sama karya penyanyi jazz Ermy Kullit, diaransemen dan dinyanyikan oleh Dhira Bongs . Adoria dan Vira Talisa membawakan "Dunia yang Ternoda" karya Jimmie Manopo .[126] Aya Anjani, putri musisi kreatif Pop dan penyanyi-penulis lagu Yockie Suryo Prayogo,[129] mendaur ulang lagunya "Terbanglah Lepas" bersama Parlemen Pop . Andien dan Mondo Gascaro menyanyikan lagu duet "Kisah Insani" yang pertama kali dipopulerkan oleh Chrisye dan Vina Panduwinata . Vokalis grup musik Anomalyst Christianto Ario Wibowo atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Kurosuke membawakan lagu dari grup musik Transs "Senja dan Kahlua".[130] Upaya yang dilakukan oleh arsiparis musik, Munir Septiandry, juga telah mengungkap dan mencoba merilis kembali banyak lagu Pop kreatif yang hilang melalui arsip berjudul "Kota Tanamur." [131][132] Proyek ini berfungsi sebagai inisiatif pelestarian budaya dan penghormatan kepada diskotek pertama di Indonesia, Tanamur, yang memainkan peran penting dalam membentuk musik urban dan kehidupan malam di negara ini pada masa kejayaannya.[132][133][134]

Pengaruh

sunting

Di Malaysia

sunting
Sheila Majid, Ratu Jazz Malaysia

Pop Kreatif di Malaysia merupakan genre yang relatif berumur pendek. Secara budaya dan musik, Malaysia tidak memiliki panggung musik tahun 80-an yang relatif mewah. Hal ini sebagian besar disebabkan karena musik seperti Hip Hop Malaysia, Rap, dan sejenisnya tidak diterima oleh media arus utama yang didominasi oleh stasiun milik pemerintah dan diberi label Haram (dilarang) oleh stasiun, terutama Radio Televisyen Malaysia (RTM) . [135] Sehingga pada era 80an dan 90an, selera musik masyarakat Malaysia lebih condong pada aliran musik tradisional seperti Irama Malaysia ("Melodi Malaysia"), etnik kreatif ("musik etnik kreatif") atau pop etnik ("pop etnik") dan bahkan Dangdut Indonesia.[136][137] Beberapa upaya memperkenalkan genre Pop Kreatif ke Malaysia memiliki tingkat keberhasilan yang bervariasi. Band rock Slam awalnya mengadopsi konsep berorientasi Pop Kreatif untuk album perdana mereka, Slam . Namun, dengan penjualan album hanya mencapai 40.000 unit, band ini mengevaluasi kembali pendekatan mereka dan mengalihkan fokus mereka ke genre Rock Melayu untuk mencapai kesuksesan komersial yang lebih besar.[138] Untuk waktu yang singkat, kompetisi Anugerah Juara Lagu (AJL) ke-7 tahun 1992 akan menggunakan Pop kreatif sebagai salah satu genre mereka. Hal ini mendorong Ziana Zain untuk bereksperimen sebentar dengan genre Pop kreatif pada lagunya " Madah Berhelah " yang diciptakan oleh Saari Amri di mana ia mencapai posisi Finalis pada kompetisi AJL ke-7 tahun 1992. Juara kedua lainnya antara lain "Syakila" karya Rahim Maarof, "Kekasih Awal dan Akhir" karya Jamal Abdillah, dan "Pada Syurga Di Wajahmu" karya Nash Elias sebagai finalis.[139] Kompetisi AJL akan mengubah genre Pop kreatif sebagai salah satu kategorinya menjadi Ballad, mungkin karena lagu-lagu yang dihasilkan lebih mirip dengan Ballad.[140] Namun salah satu artis yang memiliki pengaruh terhadap dunia musik Malaysia adalah Sheila Madjid . Album kedua Sheila Majid, Emosi (1986), memperkenalkan perpaduan pionir jazz dan R&B, sebuah genre yang inovatif di Malaysia saat itu. Album ini mendapat perhatian signifikan di kancah Pop Kreatif Indonesia yang sedang berkembang, yang mendorongnya untuk mencoba pasar Indonesia. Singelnya โ€œ Sinaran โ€ dan โ€œ Antara Anyer dan Jakarta โ€ menjadi sangat populer,[141][142] dengan "Sinaran" menduduki tangga lagu internasional, termasuk di Jepang.[143]

Lihat juga

sunting
  • Daftar artis pop kreatif
  • Jazz Goes To Campus โ€“ konser jazz fusion tertua di Indonesia yang diciptakan oleh veteran kreatif Pop, Candra Darusman

Referensi

sunting

Templat:Post-disco

  1. ^ a b c d e "Kembalinya Musik Pop Kreatif dalam Terminologi Baru: Indonesian City Pop". harpersbazaar.co.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-01-15.
  2. ^ a b c Suteja, Nicholas Timothy (2023-06-25). "Bangkitnya Lagu-lagu Chrisye, Fariz RM, dan Pop Kreatif dalam Label City Pop Indonesia". medcom.id. Diakses tanggal 2024-01-15.
  3. ^ a b c d e Astari, Fiolita Dwina (2020-12-27). "Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Ubah Musik Pop Lebih Kreatif". Minews ID. Diakses tanggal 2024-11-19.
  4. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :21
  5. ^ a b Arief, Anto (2021-03-27). "Stop Melabeli Musik Lawas Indonesia Dengan "City Pop Indonesia"". Pophariini (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-11-16.
  6. ^ a b c d "Kilas Balik Pop Indonesia tahun 80-an". GEOTIMES. 2021-02-21. Diakses tanggal 2024-11-19.
  7. ^ a b c "Perkembangan Indonesian City Pop dari Waktu ke Waktu". MLDSPOT. Diakses tanggal 2024-12-10.
  8. ^ a b c d e ้‡‘, ๆ‚ ้€ฒ (2020). "ใ€Œใ‚ทใƒ†ใ‚ฃใƒใƒƒใƒ—ใ€ใชใใƒใƒƒใƒ—ใ‚น: ใ‚ธใƒฃใ‚ซใƒซใ‚ฟ้ƒฝไผšๆดพ้ŸณๆฅฝใฎๅฎŸๅƒ". ใƒใƒ”ใƒฅใƒฉใƒผ้Ÿณๆฅฝ็ ”็ฉถ. 24: 35. doi:10.11385/jaspmpms.24.0_35.
  9. ^ a b Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :18
  10. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :210
  11. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :33
  12. ^ a b Wallach, Jeremy (2008-12-15). Modern Noise, Fluid Genres: Popular Music in Indonesia, 1997โ€“2001 (PDF) (dalam bahasa Inggris). Univ of Wisconsin Press. ISBNย 978-0-299-22903-0.
  13. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :292
  14. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :242
  15. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :62
  16. ^ a b Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :211
  17. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :213
  18. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :182
  19. ^ Estiningtyas, Arista (2022-07-11). "Mengenal Jenis Musik Pop dan Ciri-Cirinya: Standar hingga Balada". tirto.id. Diakses tanggal 2024-11-20.
  20. ^ a b ๆพ้‡Ž, ๆ˜Žไน… (1995). "The lyricism of pop creativity". ใ‚คใƒณใƒ‰ใƒใ‚ทใ‚ขใฎใƒใƒ”ใƒฅใƒฉใƒผใƒปใ‚ซใƒซใƒใƒฃใƒผ (dalam bahasa Jepang) (Edisi ๆพ้‡Žๆ˜Žไน…). ใ‚ใ“ใ‚“. hlm.ย 27โ€’44.
  21. ^ Wallach, Jeremy; Clinton, Esther (2013-06-01). "History, Modernity, and Music Genre in Indonesia: Popular Music Genres in the Dutch East Indies and Following Independence". Asian Music. 44 (2): 3โ€“23. doi:10.1353/amu.2013.0020. ISSNย 1553-5630.
  22. ^ a b Nur Hakim, Rahmat (16 September 2021). "Saat Presiden Soekarno Menutup Kuping Dengar Musik Ngak Ngik Ngok..." Kompas.
  23. ^ Muhammad, Fikri (2 June 2011). "Apa Salah Musik-Musik Barat Seperti The Beatles di Telinga Sukarno? - National Geographic". nationalgeographic.grid.id. Diakses tanggal 2024-12-13.
  24. ^ Riz (2021-06-15). "Pada Era Soekarno, Masyarakat Indonesia Dilarang Mendengarkan Maupun Menyanyikan Lagu-lagu Barat, Ini Hukumannya Jika Melanggar". RIAU24.com. Diakses tanggal 2024-12-13.
  25. ^ Alkatiri, Zeffry J. (2010). Pasar Gambir, komik Cina & es Shanghai: sisik melik Jakarta 1970-an (Edisi Cet. 1.). Depok: Masup Jakarta. ISBNย 978-602-96256-0-8. OLย 25243208M.
  26. ^ Bevins, Vincent (2020-05-19). The Jakarta Method: Washington's Anticommunist Crusade and the Mass Murder Program that Shaped Our World (dalam bahasa Inggris). PublicAffairs. hlm.ย 183. ISBNย 978-1-5417-2401-3.
  27. ^ Riz (2022-01-25). "A Brief History of Indonesian AOR, City Pop and Boogie -". StampTheWax (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diarsipkan dari asli tanggal 13 December 2024. Diakses tanggal 2024-12-13.
  28. ^ a b "ใ‚คใƒณใƒ‰ใƒใ‚ทใ‚ขใฎใ‚ทใƒ†ใ‚ฃใƒใƒƒใƒ—ใ€ใ€Œใƒใƒƒใƒ—ใƒปใ‚ฏใƒฌใ‚ขใƒ†ใ‚ฃใƒ•ใ€ใจใฏ๏ผŸ | ใƒ–ใƒซใƒผใ‚ฟใ‚น". BRUTUS.jp (dalam bahasa Jepang). 2025-01-08. Diakses tanggal 2025-01-08.
  29. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :223
  30. ^ Titon, Jeff Todd; Fujie, Linda, ed. (2009). Worlds of music: an introduction to the music of the world's peoples (Edisi Shorter version, 3rd). Belmont, CA: Schirmer Cengage Learning. hlm.ย 236. ISBNย 978-0-495-57010-3.
  31. ^ Ginting, Asriat, ed. (2007). Musisiku (Edisi Cet. 1). Jati Padang, Jakarta: Republikaย : Komunitas Pecinta Musik Indonesia. ISBNย 978-979-1102-52-0. Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)
  32. ^ a b Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :252
  33. ^ Nugroho, Kelik M. (2015). Almanak musik Indonesia, 2005-2015. Yayasan Tali Kemanusiaan. hlm.ย 160. ISBNย 978-602-73654-0-7.
  34. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :263
  35. ^ Maulana (ed.). "Tampil Adaptif di Industri Kreatif Jadi Kunci Sukses Prambors". mediaindonesia.com. Diakses tanggal 2024-12-11.
  36. ^ "Festival Lagu Populer Indonesia era 70an". Aldi Wirya. 13 November 2014. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-06-26. Diakses tanggal 2016-07-26.
  37. ^ Wulandari, Agustina (2021-03-23). "Lima Dekade Prambors, Terdepan di Industri Kreatif dan Tampil Adaptif sebagai Brand Anak Muda". Okezone. Diakses tanggal 2024-12-11.
  38. ^ "Selamat Hari Musik Nasional 2022, Ini 10 Album Kompilasi Paling Berdampak dalam Sejarah Indonesia". liputan6.com. 2022-03-09. Diakses tanggal 2024-11-20.
  39. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :52
  40. ^ Sarana, PT Balarusa Mitra (2020-08-21). "Album Lomba Cipta Lagu Remaja 1978 Bertabur Pesona". Pophariini (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-11-20.
  41. ^ Liputan6.com (2003-08-17). "Fariz RM Setelah Seperempat Abad". liputan6.com. Diakses tanggal 2025-01-08. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  42. ^ Moenaf, Fariz Roestam (2009). Living in harmony: jati diri, ketekunan, dan norma. Penerbit Buku Kompas. ISBNย 978-979-709-422-5.
  43. ^ Nugroho, Kelik M. (2015). Almanak Musik Indonesia 2005-2015. Jakarta: Yayasan Tali Kemanusiaan. hlm.ย 149. ISBNย 978-602-73654-0-7.
  44. ^ "Welcome to Prambors | Hits Terbaik Dunia". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-04-19. Diakses tanggal 2014-04-18.
  45. ^ Endah, Alberthiene (2008). The Last Words of Chrisye. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. ISBNย 978-979-22-5655-0.
  46. ^ "Mengenang "Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors", Karya Anak Muda yang Abadi". hai.grid.id. Diakses tanggal 2024-11-20.
  47. ^ Wibisono, Nuran (2019-02-04). "Sejarah Hidup Yockie Suryo Prayogo, Sang Petualang Musikal". tirto.id. Diakses tanggal 2024-11-20.
  48. ^ developer, medcom id (2023-11-10). "Mengulik Sejarah Awal Band God Bless". medcom.id. Diakses tanggal 2024-11-20.
  49. ^ a b Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :35
  50. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :244
  51. ^ "Festival Lagu Populer Indonesia (FLPI) era 80an". Aldi Wirya. 5 May 2010. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-10-13. Diakses tanggal 2016-07-26.
  52. ^ "Throwback: Rekam Jejak Karier Yockie Suryo Prayogo". kumparan. Diakses tanggal 2024-11-20.
  53. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :324
  54. ^ Yampolsky, P. (1989). โ€œHati Yang Lukaโ€, an Indonesian Hit. Indonesia, 47, 1โ€“17. https://doi.org/10.2307/3351072
  55. ^ Elliot (2018-10-16). "Traditional and Modern Indonesian Music" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2022-08-27.
  56. ^ a b Matanasi, Petrik (2019-01-29). "Sejarah Pelarangan Lagu Cengeng Zaman Orde Baru". tirto.id. Diakses tanggal 2024-11-16.
  57. ^ "Orba Benci Musik Cengeng". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. 2023-11-14. Diakses tanggal 2024-11-20.
  58. ^ Tranggono, Indra (2022-08-27). "Merayakan Melankolisme". kompas.id. Diakses tanggal 2024-11-16.
  59. ^ Budiadnyana, Ari. "Makna Lagu Hati yang Luka, Pernah Dilarang Diputar saat Orde Baru". IDN Times Bali. Diakses tanggal 2024-11-19.
  60. ^ "Lagu Cinta Melankolis yang (Pernah) Berbahaya". www.dcdc.id. Diakses tanggal 2024-11-19.
  61. ^ "Ketika Pop Melankolis Tidak Lagi Mendominasi, Dua Bintang Ini Lahir Menandai Tren Baru di Blantika Musik Indonesia - Lontar News". lontarnews.com. 2023-04-14. Diakses tanggal 2024-11-19.
  62. ^ "Ketika Pop Melankolis Tidak Lagi Mendominasi, Dua Bintang Ini Lahir Menandai Tren Baru di Blantika Musik Indonesia - Laman 2 dari 2". Lontar News. 2023-04-14. Diakses tanggal 2024-01-15.
  63. ^ a b c Fitrianto, Dahono (2009-09-25). "Saatnya Pop Kreatif Bangkit". Kompas.
  64. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :215
  65. ^ Williams, Sean (2010-12-01). "Modern Noise, Fluid Genres: Popular Music in Indonesia, 1997-2001". The Australian Journal of Anthropology (dalam bahasa Inggris). 21 (3): 396โ€“397. doi:10.1111/j.1757-6547.2010.00095.x. ISSNย 1035-8811.
  66. ^ Kusumo, Rizky (7 April 2021). "Industri Musik Indonesia dari Masa ke Masa, Hingga Terbit Royalti". GoodnewsfromIndonesia.
  67. ^ a b c d e "Indonesian City Pop dan Pasang Surutnya Pop Kreatif di Indonesia". MLDSPOT. Diakses tanggal 2024-11-20.
  68. ^ a b Sarana, PT Balarusa Mitra (2019-08-17). "Lomba Lagu Indonesia: Perlukah Musik Dilombakan?". Pophariini (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-11-20.
  69. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :325
  70. ^ "KLa Project, Gelombang yang Mendobrak 'Pop Cengeng' Indonesia". hiburan. Diakses tanggal 2024-01-15.
  71. ^ Nadhir, Farhan (28 Februari 2025). "Kebangkitan Pop Kreatifย : Dari Era 80-an ke Musik Modern". kumparan. Diakses tanggal 2025-03-05.
  72. ^ "Beruntungnya Musik Galau Era Kini, Gak Dilarang Seperti di Era Orde Baru karena Alasan Ini - Indozone Music - Halaman 2". Indozone Music. Diakses tanggal 2024-12-10.
  73. ^ "Ed Motta drops exclusive City Pop Vol. 2 mixtape of smooth and funky Japanese AOR". Wax Poetics. April 28, 2016. Diarsipkan dari asli tanggal June 29, 2019. Diakses tanggal 2019-03-13.
  74. ^ Riandi, Ady Prawira. Aditia, Andika (ed.). "Cerita Iis Sugianto Berkolaborasi dengan Chrisye, Ada Sosok Rinto Harahap". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2024-12-11.
  75. ^ Sakrie, Denny (2015-03-01). 100 Tahun Musik Indonesia. GagasMedia. ISBNย 978-979-780-785-6.
  76. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :216
  77. ^ Ginting, Asriat (2007). Musisiku. Penerbit Republika. hlm.ย 254. ISBNย 978-979-1102-52-0.
  78. ^ Sarana, PT Balarusa Mitra (2021-08-26). "40Th. Album Transs, Hotel San Vicente: Melampaui City Pop". Pophariini (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-11-21.
  79. ^ Boer, Harlan (21 Agustus 2021). "40th Album Transs: Hotel San Vicente Melampaui City Pop". Pophariini.
  80. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :302
  81. ^ Harlan, Boer (2020). This album could be your life: 50 album musik terbaik Indonesia, 1955โ€’2015. Bandung: Elevation Books โ€“ via catalogue.nla.gov.au.
  82. ^ "150 Album Indonesia Terbaik". Rolling Stone Indonesia. No.ย 32. Jakarta: JHP Media. Desember 2007.
  83. ^ Maradona, Dhanta Akbar (2023-07-29). "Karya Musik Fariz RM dalam Belantika Musik di Indonesia Pada Tahun 1980-1990". Avatara. 14 (1). Universitas Negeri Surabaya. ISSNย 2354-5569.
  84. ^ Sakrie, Denny (2011-03-13). "30 Tahun Album "Hotel San Vicente" Transs". Rumah Musik Denny Sakrie. Diakses tanggal 2024-11-21.
  85. ^ Mukthi, M.F. (2024-12-17). "Transs, Pengusik Lagu Cengeng". premium.historia.id. Diakses tanggal 2025-02-21.
  86. ^ a b Spd, Dicky Harisman. "Masa Keemasan Musik Dunia Era 80an, di Indonesia pun Berkembang Pesat hingga Muncul Musik Pop Kreatif". Desk Jabar. Diakses tanggal 2025-01-08.
  87. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :265
  88. ^ "Krakatau Reunion Berbagi Panggung dengan Casiopea dari Jepang". VOA Indonesia. 2015-10-12. Diakses tanggal 2025-01-09.
  89. ^ a b Krakatau di Sejak Doeloe Diarsipkan 2011-04-04 di Wayback Machine., Sejak Doeloe, diakses 22 April 2011
  90. ^ "50 Tahun, #YamahaMusik50 Menginspirasi lewat Suara dan Musik". SINDOnews Lifestyle. Diakses tanggal 2025-02-07.
  91. ^ "Dari kahitma ke indonesia 6". Tempo. 30 January 1988. Diakses tanggal 2025-02-07.
  92. ^ "Beruntungnya Musik Galau Era Kini, Gak Dilarang Seperti di Era Orde Baru karena Alasan Ini - Indozone Music - Halaman 2". Beruntungnya Musik Galau Era Kini, Gak Dilarang Seperti di Era Orde Baru karena Alasan Ini - Indozone Music - Halaman 2. Diakses tanggal 2024-12-10.
  93. ^ "Festival Lagu Populer Indonesia". 80-an. 2 November 2009. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-05-13. Diakses tanggal 2016-07-26.
  94. ^ Andi Baso Djaya (19 March 2016). "Anugerah Bakti Musik Indonesia 2016 untuk 4 tokoh". Beritagar.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-08-15. Diakses tanggal 2016-07-26.
  95. ^ gm, Indra (2023-04-14). "Ketika Pop Melankolis Tidak Lagi Mendominasi, Dua Bintang Ini Lahir Menandai Tren Baru di Blantika Musik Indonesia - Halaman 2 dari 2 - Lontar News". lontarnews.com. Diakses tanggal 2024-12-10.
  96. ^ gm, Indra (2023-04-14). "Ketika Pop Melankolis Tidak Lagi Mendominasi, Dua Bintang Ini Lahir Menandai Tren Baru di Blantika Musik Indonesia - Laman 2 dari 2". Lontar News. Diakses tanggal 2024-01-15.
  97. ^ "Para Penikmat Masa". Tempo. 2008-11-24.
  98. ^ "Yang Ingin Bertahan dalam Hidup dan Musik". Tempo. 31 August 2003. Diakses tanggal 2025-02-08.
  99. ^ Yuniar, Nanien (12 June 2013). "Tantowi: Penghargaan Wakili Tren Musik Yang Berlangsung". ANTARA News. Diakses tanggal 2025-02-08.
  100. ^ a b Arief, Anto (2019-01-23). "Bukan City Pop Indo, Tapi Indo Pop Urban". Pophariini (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-12-10.
  101. ^ a b Aurelia, Joan (2 Agustus 2021). "Booming City Pop di Balik Keajaiban Ekonomi Jepang". tirto.id. Diakses tanggal 2024-11-16.
  102. ^ Kim, Joshua Minsoom (2 Juni 2020). "Pacific Breeze 2: Japanese City Pop, AOR & Boogie 1972-1986". Pitchfork.
  103. ^ St. Michel (6 Agustus 2020). "City Pop on Vinyl brings back the glitzed-out sounds of Japan's bubble". The Japan Times.
  104. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :327
  105. ^ Handitya, Eliesta. "City Pop, Sebentuk Nostalgia dan Memoar Kejayaan Ekonomi Jepang era 1970 โ€“ 1980an | LARAS" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-12-10.
  106. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :44
  107. ^ Rusyadi, Denden (24 April 2024). "Pop Kreatif Indonesia Versus City Pop Jepang, Lagu Urban yang Pernah Berjaya di Era 70 Dan 80-an". radartasik.com. Diakses tanggal 2025-02-08.
  108. ^ Sommet, Moritz; Kat, Ken (Februari 2021). "City Pop Abroad: Findings From An Online Music Community Survey". University of Fribourg.
  109. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :111
  110. ^ Agato, Yudhistira (2021-06-24). "The Guide to Getting Into the Vast and Diverse Sounds of Indonesian Indie Music". VICE (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-03-15.
  111. ^ Rura, Cecylia (2020-04-10). "Versi Remix City Pop 80an dari Lagu Dan Bila Mondo Gascaro Dirilis". medcom.id. Diakses tanggal 2025-03-01.
  112. ^ "Inspirasi City Pop di Karya Terbaru Dhira Bongs". superlive.id. Diakses tanggal 2025-03-06.
  113. ^ Arief, Anto (2023-10-30). "Kurosuke - Distant Memories". Pophariini (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-03-01.
  114. ^ Dharma, Avicena Farkhan (2020-02-11). "Eksplorasi Musik Coldiac Melalui EP Baru Bertajuk "No Make Up"". Whiteboard Journal (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-03-01.
  115. ^ ่—คๅท่ฒดๅผ˜ (2020-10-30). "Indonesian band Ikkubaru talks about Japan's 80's City pop attractiveness and 6 masterpieces". Tokion (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-02-08.
  116. ^ "Vintonic Hadir Leburkan Electropop dan City Pop". superlive.id. Diakses tanggal 2025-03-06.
  117. ^ Arief, Anto (2018-11-11). "Nuansa City-Pop ala Spring Summer". Pophariini (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-03-01.
  118. ^ "Indonesian City Pop Dari Sudut Fariz RM dan Vira Talisa". MLDSPOT. Diakses tanggal 2024-11-16.
  119. ^ Veneralda, Livina (21 April 2018). "Mengenal Musik Pop dan Disko Indonesia bersama Diskoria". Whiteboard Journal. Diakses tanggal 17 October 2020.
  120. ^ a b Nadhir, Farhan (28 February 2025). "Kebangkitan Pop Kreatifย : Dari Era 80-an ke Musik Modern". kumparan. Diakses tanggal 2025-03-05.
  121. ^ Saraswati, Dyah Paramita (14 February 2019). "Kembali ke 80-an Bareng Diskoria dan LaleIlmaNino Lewat 'Balada Insan Muda'". detikcom. Diakses tanggal 17 October 2020.
  122. ^ Pramudya, Windy Eka (17 March 2020). "Diskoria Gandeng Dian Sastrowardoyo untuk Lagu Serenata Jiwa Lara, Nino: Membujuknya Bernyanyi Bukan Hal Mudah". Pikiran Rakyat. Diakses tanggal 17 October 2020.
  123. ^ "Adikara Berdisko Ria Through A New Single Titled Primadona". VOI - Waktunya Merevolusi Pemberitaan (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-12-12.
  124. ^ Diterbitkan, Penulis: Nadia Sabilla Ramadhani. "Lagunya Viral! Adikara Fardy Ungkap Fakta di Balik 'Primadona'. Kembali ke Era 80 an". KapanLagi.com. Diakses tanggal 2024-12-12.
  125. ^ "Primadona - Adikara Fardy / Lagu Juara". www.lagujuara.com (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-12-12.
  126. ^ a b Cicilia, Maria (16 June 2021). Suryanto (ed.). ""Lagu Baru dari Masa Lalu", album apresiasi untuk musisi lawas". Lembaga Kantor Berita Nasional Antara. Jakarta. Lembaga Kantor Berita Nasional Antara. Diakses tanggal 5 November 2022.
  127. ^ Arifah, Hani. "Lagu Baru dari Masa Lalu, Album Kompilasi Musik Lawas 80-an". detikhot. Diakses tanggal 2024-12-10.
  128. ^ "Mini Album 'Lagu Baru Dari Masa Lalu': Ketika Arsip Bisa Dinikmati Kembali". Mini Album โ€˜Lagu Baru Dari Masa Laluโ€™: Ketika Arsip Bisa Dinikmati Kembali. Diakses tanggal 2024-12-10.
  129. ^ Fauzi, Mohammad Farras (16 June 2021). "Hadirnya Mini Album 'Lagu Baru dari Masa Lalu, Vol. 1' untuk Pelestarian Lagu Legendaris Indonesia". Hai.grid.id. Grid Network. Diakses tanggal 5 November 2022.
  130. ^ Dewangkara, Raka (2021-06-17). "Irama Nusantara Mempersembahkan Lagu Baru dari Masa Lalu". Pophariini (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-12-10.
  131. ^ Budd, Charles (17 July 2021). "Munir resurfaces a lost era of funky Indonesian disco from 1979 to 1991". Mixmag Asia. Diakses tanggal 2024-12-14.
  132. ^ a b Kansha, Shadia (2021-07-16). "Mengenang Tanah Abang Timur dan Sejarahnya, LP "Tanamur City" Kompilasikan Musik-Musik City Pop Indonesia". Whiteboard Journal (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-12-14.
  133. ^ Hanggoro, Hendaru Tri (7 November 2018). "Kenangan yang Tertinggal di Tanamur - Historia". Historia. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-11-08. Diakses tanggal 2024-12-14.
  134. ^ Jenkins, Martin (2011-11-15). "Tanamur: Long Gone but Not Forgotten". Indonesia Expat (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2024-12-14.
  135. ^ "Kenapa pada zaman 80-an banyak lagu diharamkan oleh RTM? Ini puncanya". Gemilang Daily (dalam bahasa American English). 2023-03-30. Diakses tanggal 2024-12-26.
  136. ^ Tan Sooi Beng (Oct 2005). "From Folk to National Popular Music: Recreating Ronggeng in Malaysia". Journal of Musicological Research. 24 (3โ€“4): 303โ€“5. doi:10.1080/01411890500234054.
  137. ^ Billboard. Nielsen Business Media.
  138. ^ "Sejarah Penubuhan kumpulan SLAM Yang Anda Tidak Tahu". Diakses tanggal 2024-12-26.
  139. ^ Elalhe Lim (28 December 1992). "Fauzi triumphs at Juara Lagu finals". New Straits Times. hlm.ย 15 (Life & Times). Diakses tanggal 14 October 2024.
  140. ^ "31 Trivia Menarik Anugerah Juara Lagu (AJL) TV3 - Azhan.co" (dalam bahasa American English). 2017-01-19. Diakses tanggal 2024-12-26.
  141. ^ Saodah Ismail (11 October 1987). "'Emosi' Sheila Majid berjaya di Indon". Berita Minggu. hlm.ย 8. Diakses tanggal 14 November 2010.
  142. ^ Juliana June Rasul (25 July 2006). "The lah-lah queen" [Ratu lah-lah] (dalam bahasa Inggris). Today. hlm.ย 30. Diakses tanggal 14 November 2010.
  143. ^ Serimah Mohd Salehuddin (30 May 2006). "Legenda Ratu Jazz". Berita Harian. Diarsipkan dari asli tanggal 1 Jun 2006. Diakses tanggal 22 November 2011.

Templat:Pop musicTemplat:Post-disco

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Pop Indonesia

hingga tahun 1980-an, dua subgenre pop Indonesia mendominasi industri lokal: pop melankolis dan pop kreatif. Pop melankolis, juga dikenal sebagai lagu

Wali (grup musik)

Grup ini dikenal sebagai bagian dari kancah "pop kreatif lokal", yang menggabungkan penggunaan ritme pop Melayu dalam lagu-lagu mereka. Album pertama

Daftar artis pop kreatif

Berikut adalah daftar artis dan grup yang berkaitan dengan Pop kreatif (juga disebut sebagai City Pop Indonesia), sebuah genre musik yang mulai menonjol pada

Pop melankolis

dengan Pop melankolis, termasuk Diana Nasution, Rita Butar Butar, dan Betharia Sonatha. Iis Sugianto, seorang penyanyi dari subgenre Pop kreatif di bawah

Oppie Andaresta

merilis singel berjudul "Satu Macam Saja" pada 1990 dengan nuansa pop kreatif dan pop-rock. Ovie juga sempat berduet dengan Mayangsari, hingga bertrio

Modulus Band

adalah band Indonesia yang mengusung musik jazz fusion, ethno jazz dan pop kreatif. Kata Modulus awalnya berupa akronim dari candaan Modal Dengkul Alus

HIVI!

HIVI! (dibaca Haivai) merupakan sebuah grup musik pop Indonesia yang dibentuk di Jakarta pada tahun 2009. Grup musik ini beranggotakan tiga orang yaitu

Aku Cinta Dia (lagu)

musik swing pop mid tempo. Bagian jeda lagu ini diisi dengan gitar solo yang dimainkan oleh Raidy Noor beriring hentakan musik swing pop mid tempo. Lalu