Posthumanisme atau pascahumanisme (berarti "setelah humanisme" atau "melampaui humanisme") adalah istilah yang memiliki setidaknya tujuh definisi berbeda menurut filsuf Francesca Ferrando:[1]

  1. Antihumanisme: setiap teori yang kritis terhadap humanisme tradisional dan ide-ide tradisional tentang kemanusiaan dan kondisi manusia.[2]
  2. Poshumanisme budaya: cabang teori budaya yang kritis terhadap asumsi dasar humanisme dan warisannya[3] yang mengkaji dan mempertanyakan gagasan historis tentang "manusia" dan "sifat manusia", sering kali menantang gagasan khas tentang subjektivitas dan perwujudan manusia[4] dan berusaha untuk bergerak melampaui konsep kuno "sifat manusia" untuk mengembangkan konsep yang terus-menerus beradaptasi dengan pengetahuan teknosains kontemporer.[5]
  3. Poshumanisme filosofis: pandangan filosofis[6] yang mengacu pada posthumanisme budaya, pandangan filsafat ini meneliti implikasi etis saat memperluas lingkaran perhatian moral dan memperluas subjektivitas di luar spesies manusia.[4][7]
  4. Kondisi poshuman: dekonstruksi kondisi manusia oleh para ahli teori kritis.[8]
  5. Transhumanisme poshuman: ideologi dan gerakan transhuman yang berusaha untuk mengembangkan dan menyediakan teknologi yang menghilangkan penuaan, memungkinkan keabadian dan sangat meningkatkan kapasitas intelektual, fisik, dan psikologis manusia, untuk mencapai "masa depan pascamanusia".[9]
  6. Pengambilalihan AI: Sebuah versi pandangan transhumanisme di mana manusia pada akhirnya tidak akan bisa ditingkatkan, melainkan akhirnya digantikan oleh kecerdasan buatan. Beberapa filsuf, termasuk Nick Land, mempopulerkan pandangan bahwa manusia harus merangkul dan menerima kematian mereka pada akhirnya.[10] Hal ini terkait dengan pandangan "kosmisme", yang mendukung pembangunan kecerdasan buatan yang kuat bahkan jika itu dapat mengakibatkan akhir bagi umat manusia, mereka berpandangan bahwa "akan menjadi tragedi kosmik jika umat manusia membekukan evolusi pada tingkat manusia yang lemah".[11][12][13]
  7. Kepunahan Manusia Sukarela, dengan visinya terhadap "masa depan pascamanusia", dalam hal ini adalah masa depan tanpa eksistensi manusia.[14]

Referensi

sunting
  1. ^ Ferrando, Francesca (2013). "Posthumanism, Transhumanism, Antihumanism, Metahumanism, and New Materialisms: Differences and Relations" (PDF). Existenz. ISSNย 1932-1066. Diakses tanggal 2014-03-14.
  2. ^ J. Childers/G. Hentzi eds., The Columbia Dictionary of Modern Literary and Cultural Criticism (1995) p. 140-1
  3. ^ Esposito, Roberto (2011). "Politics and human nature". Angelaki. 16 (3): 77โ€“84. doi:10.1080/0969725X.2011.621222.
  4. ^ a b Miah, A. (2008) A Critical History of Posthumanism. In Gordijn, B. & Chadwick R. (2008) Medical Enhancement and Posthumanity. Springer, pp.71-94.
  5. ^ Badmington, Neil (2000). Posthumanism (Readers in Cultural Criticism). Palgrave Macmillan. ISBNย 978-0-333-76538-8.
  6. ^ Ferrando, Francesca (2019-06-27). Philosophical Posthumanism. Bloomsbury Reference Online. ISBNย 9781350059498. Diakses tanggal 18 December 2019.
  7. ^ Morton, Timothy, 1968. Being ecological. Cambridge, Massachusetts. ISBNย 978-0-262-03804-1. OCLCย 1004183444. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  8. ^ Hayles, N. Katherine (1999). How We Became Posthuman: Virtual Bodies in Cybernetics, Literature, and Informatics. University Of Chicago Press. ISBNย 978-0-226-32146-2.
  9. ^ Bostrom, Nick (2005). "A history of transhumanist thought" (PDF). Diakses tanggal 2006-02-21. ; Oliver Krรผger: Virtual Immortality. God, Evolution, and the Singularity in Post- and Transhumanism., Bielefeld: transcript 2021
  10. ^ "The Darkness Before the Right". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-05-17. Diakses tanggal 2015-11-28.
  11. ^ Hugo de Garis (2002). "First shot in Artilect war fired". Diarsipkan dari asli tanggal 17 October 2007.
  12. ^ "Machines Like Us interviews: Hugo de Garis". 3 September 2007. Diarsipkan dari asli tanggal 7 October 2007. gigadeath โ€“ the characteristic number of people that would be killed in any major late 21st century war, if one extrapolates up the graph of the number of people killed in major wars over the past 2 centuries
  13. ^ Garis, Hugo de. "The Artilect War - Cosmists vs. Terrans" (PDF). agi-conf.org. Diakses tanggal 14 June 2015.
  14. ^ Torres, Phil (12 September 2017). Morality, foresight, and human flourishingย : an introduction to existential risks. Durham, North Carolina. ISBNย 978-1-63431-143-4. OCLCย 1002065011. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)

Symber

sunting


๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Pascamanusia

antar spesies, sistem sosial, dan aspirasi intelektual interdisipliner. Posthumanisme tidak sama dengan transhumanisme (peningkatan bioteknologi manusia)

Makna kehidupan

menguntungkan semua orang yang hidup dalam kebudayaan. Subgenre filosofis posthumanisme dan transhumanisme (kadang-kadang digunakan secara sinonim) adalah perluasan

Antihumanisme

Dalam teori sosial dan filsafat, antihumanisme atau anti-humanisme adalah sebuah pandangan yang bersikap kritis terhadap humanisme tradisional, termasuk

N. Katherine Hayles

Hayles' How We Became Posthuman, 1999. dianggap "teks kunci yang membawa posthumanisme ke perhatian internasional yang luas". Nathaniel Stern merangkum buku