Museum Radya Pustaka
Bagian depan museum dengan patung Rangga Warsita.
PetaKoordinat: 7°34′4.91″S 110°48′52.20″E / 7.5680306°S 110.8145000°E / -7.5680306; 110.8145000
Didirikan28 Oktober 1890
dipindahkan di tempat sekarang pada 1 Januari 1913
LokasiIndonesia Kota Surakarta, Jawa Tengah [1]
Akses transportasi umumSriwedari 2 Utara, Sriwedari 2 Selatan
Situs webradyapustaka.id

Museum Radya Pustaka (bahasa Jawa: ꦩꦸꦱꦾꦶꦪꦸꦩ꧀ꦫꦢꦾꦥꦸꦱ꧀ꦠꦏ, translit. Musyium Radya Pustaka) adalah sebuah museum yang terletak di Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia.

Sejarah singkat

sunting
Raden Adipati Sosrodiningrat IV, pendiri Museum Radya Pustaka

Museum ini didirikan oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV di Dalem Kepatihan pada tanggal 28 Oktober 1890.[2] Pembangunannya berlangsung selama masa pemerintahan Pakubuwono IX.[3] Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV menjabat sebagai Patih dalam masa pemerintahan Pakubuwono IX dan Pakubuwono X.[4] Pada 1 Januari 1913, koleksi museum dipindahkan ke gedung Museum Radya Pustaka yang digunakan hingga kini.[5] Alamatnya di Jalan Slamet Riyadi Nomor 275, Surakarta.[6] Gedung yang ditempati oleh Museum Radya Pustaka merupakan bekas rumah kediaman seorang warga Belanda bernama Johannes Busselaar.[7]

Status hukum

sunting

Museum Radya Pustaka tidak berada di bawah naungan Dinas Purbakala maupun Dinas Pariwisata Pemerintahan Daerah setempat.[butuh rujukan] Pada tanggal 11 November 1951, pengelolaan Museum Radya Pustaka dikelola oleh yayasan yang bernama Yayasan Paheman Radya Pustaka.[8] Lalu untuk tugas pelaksanaan sehari-hari dibentuk presidium yang pertama kalinya pada tahun 1966 diketahui oleh Go Tik Swan atau juga dikenal dengan nama K.R.T. Hardjonagoro.

Halaman

sunting
Museum Radya Pustaka Surakarta

Pada halaman gedung Museum Radya Pustaka terdapat sebuah patung yang menampilkan sosok Ranggawarsita.[9] Ia adalah seorang pujangga keraton Surakarta yang sangat termasyhur dan hidup pada abad ke-19. Patung ini diresmikan oleh presiden Soekarno pada tahun 1953. Di depan dan di belakang patung ini terdapat prasasti yang menggunakan aksara Jawa.

Lalu di serambi museum ada beberapa meriam beroda dari masa VOC yang berasal dari abad ke-17 dan ke-18. Sementara itu ada pula beberapa meriam-meriam kecil milik Keraton Kartasura. Selain itu terdapat pula beberapa arca-arca Hindu-Buddha. Antara lain terdapat arca Rara Jonggrang yang artinya adalah “perawan tinggi” tetapi sebenarnya adalah arca Dewi Durga. Selain itu ada pula arca Boddhisatwa dan Siwa. Arca-arca ini ditemukan di sekitar daerah Surakarta.

Koleksi

sunting
Arca Shiwa Mahadewa
Arca Ganesha Museum Radya Pustaka

Museum Radya Pustaka memiliki koleksi yang terdiri dari arca berbahan batu dan perunggu, keris, gamelan, serta naskah-naskah kuno.[10] Koleksi naskah kuno yang banyak dicari itu di antaranya mengenai Wulang Reh karangan Pakubuwono IV yang isinya antara lain mengenai petunjuk pemerintahan dan Serat Rama karangan Pujangga Keraton Surakarta bernamaYasadipura I yang menceritakan tentang wiracarita Ramayana.

Pada 18 November 2007, Kepala Museum Radya Pustaka, KRH Darmodipuro (Mbah Hadi) ditahan pihak kepolisian sebagai tersangka dalam kasus hilangnya sejumlah koleksi museum, antara lain lima arca batu buatan abad ke-4 dan 9 yang dijual kepada pihak lain dengan harga Rp 80 juta-Rp 270 juta per arca. Penyelidikan menunjukkan bahwa koleksi museum yang hilang diganti dengan barang palsu.[11] Dua hari kemudian, polisi menggeledah rumah pengusaha Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo Subianto di Jakarta dan menemukan lima arca yang hilang dari museum.[12]

Untuk katalog perpustakaan, lihat jv:Musiyum Radya Pustaka#Katalog

Kyai Rajamala

sunting
Kyai Rajamala
Canthik Kyai Rajamala

Berada di kamar bagian barat terdapat sebuah patung kepala raksasa yang terbuat dari kayu dan merupakan hasil karya Pakubuwono V ketika dia masih seorang putra mahkota. Patung tersebut jumlah sebenarnya adalah dua: yang satu lainnya disimpan di Keraton Surakarta. Patung ini ialah hiasan depan sebuah perahu yang dipakai untuk mengambil permaisuri Pakubuwono IV yang berasal dari Madura. Sampai sekarang patung ini masih dianggap keramat dan sering diberi sesajian.[13]

Galeri

sunting

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ "DAFTAR MUSEUM KEBUDAYAAN PER KEC. Laweyan". Pusdatin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Diakses tanggal 30 Mei 2025. ;
  2. ^ Rusmiyati, dkk. (2018). Katalog Museum Indonesia Jilid I (PDF). Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. hlm. 474. ISBN 978-979-8250-66-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ Munandar, A. A., dkk. (2011). Sejarah Permuseuman di Indonesia (PDF). Jakarta: Direktorat Permuseuman. hlm. 4. ISBN 978-602-19627-1-8. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ^ Ameera, Hanna (Desember 2024). My Magic Keys. Bantul: Jejak Pustaka. hlm. 69. ISBN 978-623-183-999-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ^ Chabibah (2010). Mahmud (ed.). Ensiklopedia Seri Pendapatan Nasional. Semarang: Alprin. hlm. 125. ISBN 978-623-263-388-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ^ Direktorat Museum (2008). Monografi Museum Indonesia se-Jawa dan Bali (PDF). Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. hlm. 9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ^ Grinspana, A. K., dkk. (2023). Gautama, Candra (ed.). Cerita dari Solo: Yang Tersua di Satu Masa. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 45. ISBN 978-623-134-068-9. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ^ Redaksi Majalah Adiluhung (2016). "Museum Radya Pustaka: Sumbangsih Besarnya bagi Perkembangan Ilmu Pengetahuan di Indonesia". Majalah Adiluhung (10). PT. Daniasta Perdana. ;
  9. ^ Fakultas Keguruan Sastra Seni, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yogyakarta (1972). Publikasi Ilmu Keguruan Sastra Seni. Fakultas Keguruan Sastra Seni, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yogyakarta. hlm. 38. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  10. ^ Nastiti, T. S., dkk. (Desember 2024). Survei Prasasti Zaman Hindu-Buddha di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2023. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 107. ISBN 978-623-134-312-3. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  11. ^ "Ironi Sebuah Museum" Diarsipkan 2007-12-18 di Wayback Machine., Kompas, 20 November 2007
  12. ^ "Rumah Hasim Digeledah 2 Kali", Detikcom, 21 November 2007
  13. ^ "Canthik Rajamala, Jejak Bisu Kejayaan Keraton Surakarta". 2021-03-07.

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Kota Surakarta

Indonesia yaitu Museum Radya Pustaka. Alamat Museum Radya Pustaka di Jalan Slamet Riyadi Nomor 275, Kelurahan Sriwedari. Museum Radya Pustaka dibangun pada tanggal

Serat Wulangreh

Wulang Reh saat ini disimpan di Museum Radya Pustaka, Perpustakaan Reksa Pustaka, dan Perpustakaan Sasana Pustaka di Surakarta. Kata wulang bersinonim dengan

Kesunanan Surakarta Hadiningrat

kebudayaan, yang kemudian pada tahun 1890 melahirkan Paheman Radya Pustaka, dengan Museum Radya Pustaka yang masih berdiri sampai sekarang. Institusi Kepatihan

Pustaka

penggunaan kata pustaka dalam konteks sosial-budaya, yakni Pustaha, Radya Pustaka, Rekso Pustoko, dan Balai Pustaka. Praktik penggunaan kata pustaka sebagai nama

Prasasti Mantyasih

masa berikutnya dibawa oleh seorang Pangeran dan disimpan di museum Radya Pustaka. Saat Pemerintah Kota Magelang mencari hari jadi pada tahun 1989 di

Lambang Babar Purnomo

ia tangani adalah kasus pencurian arca-arca purbakala koleksi Museum Radya Pustaka, Surakarta. Ia juga adik ipar dari Bupati Sleman 2000-2009 Ibnu Subiyanto

Mangkunegara I

Museum Radya Pustaka Surakarta, cat, MS/J; no. 308:237 halaman. Babad Tutur, naskah transliterasi Th.G.Th. Pigeaud, tercatat dalam Perpustakaan Reksa Pustaka

Laweyan, Surakarta

Wayang Orang Sriwedari.[butuh rujukan] Selain itu, juga terdapat Museum Radya Pustaka yang lokasinya berdekatan dengan Taman Sriwedari. Kampung batik Laweyan