| Namaย asli | ุญุงุฏุซุฉ ุงูุฑุฌูุน |
|---|---|
| Tanggal | Bulan Safar Tahun 4 H / sekitar Juli 625 M |
| Lokasi | Raji', sekarang di Asfan, di bagian Utara Mekkah |
| Jenis | Pengkhianatan, Penyergapan dan Pembantaian |
| Penyebab | Permintaan pengajaran Islam oleh suku Hudzail dan berujung pengkhianatan |
| Peserta/Pihak terlibat | Utusan Rasulullah ๏ทบ dan suku Huzail serta Lihyan |
| Hasil | Syahidnya 10 sahabat Rasulullah ๏ทบ |
| Korban | |
| 10 utusan Muslim gugur ( termasuk 2 yang ditangguhkan yakni Khubaib bin Adiy dan Zaid bin Datsinah ) | |
Tragedi Ar-Raji' ( Bahasa Arabย :ุญุงุฏุซุฉ ุงูุฑุฌูุน) merupakan sebuah peristiwa atau insiden pengkhianatan berupa pembantaian Sahabat Nabi yang dilakukan oleh Bani Hudzail (Hadhayl) dalam upaya melawan Islam dan balas dendam atas kematian pemimpin mereka bernama Sufyan bin Khalid Al Hudzali yang dibunuh oleh Sahabat Nabi bernama Abdullah bin Unais.[1][2]
Latar Belakang
suntingSetelah Perang Uhud, Quraisy yang walau mendapatkan kemenangan, merasa terancam dengan dengan keberadaan muslim yang mulai menguat dan mampu memberikan ofensi atau perlawanan kepada kabilah lain yang mengusik perkembangan Islam. Maka, Quraisy berusaha melakukan berbagai macam cara untuk melawan dakwah Islam, termasuk dengan bersekutu dan memberikan pengaruh kepada kabilah lain di sekitaran Mekkah.
Salah satu kabilah yang cukup dekat secara geografi dan menjalin hubungan yang baik dengan Quraisy ialah kabilah Hudzail atau Bani Hudzail dari turunan Hudzail bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan. Sehingga dapat dikatakan bahwa Bani Hudzail merupakan salah satu dari cabang kabilah Mudari selayaknya Quraisy dengan wilayah di utara kota Mekah.
Tepat sebelum kejadian Ar-Raji', salah satu pemuka Bani Hudzail bernama Khalid bin Sufyan Al-lihyani Al Hudzali ( Bani Lihyan merupakan cabang dari Bani Hudzail ) membuat sebuah konspirasi untuk menduduki Madinah dan membunuh Rasulullah Muhammad. Maka, dengan itu, Rasulullah Muhammad yang bertindak sebagai kepala negara atau pemimpin kota Madinah mengutus salah satu Sahabat bernama Abdullah bin Unais untuk membunuh Khalid bin Sufyan dan itu berhasil dilakukan oleh sahabat Abdullah bin Unais melalui penyusupan.

Hal ini membuat Bani Lihyan dan Bani Hudzail secara keseluruhan menaruh dendam kepada Islam dan Rasulullah Muhammad sehingga mereka membuat siasat berupa permintaan pengajaran Islam di suku mereka, lalu pada saat di sekitaran daerah mereka, para utusan pengajar yang rata-rata berasal dari kaum Anshar dibunuh dan dibantai. Saat kejadian berlangsung, tercatat dalam riwayat Bukhari mengenai kejadian ini bahwa Bani Hudzail dan Lihyan membawa sekitar 200 orang yang dengannya tak kurang terdapat 100 orang pasukan pemanah sehingga 10 orang utusan tak dapat berkutik walau sempat memberikan perlawanan.[2]
Hasilnya ialah 7 orang sahabat nabi syahid di tangan para pasukan Bani Lihyan dan Hudzail, menyisakan 3 orang sahabat. Mereka adalahย :
3. Zaid bin Datsinah
Namun, karena Abdullah bin Thariq tetap menolak menyerah dan terus memberikan perlawanan. Pada akhirnya ia dieksekusi di tempat saat mencoba melarikan diri[3] dan menyisakan Khubaib dan Zaid yang nantinya juga akan dieksekusi, tetapi dilakukan oleh Quraisy ( setelah mereka dijual di Mekkah ). Khubaib mati dibunuh dalam keadaan disalib dan tubuhnya digantung. Sedangkan, Zaid dieksekusi oleh Bani Jumah setelah mereka dijual ke Mekkah oleh Bani Lihyan dan Hudzail.[4]
Daftar Korban
suntingBeberapa sahabat yang diketahui diutus dalam peristiwa ini ialahย :
1. Ashim bin Tsabit ( Pemimpin Rombongan )
2. Martsad bin Abi Martsad Al Ghanawi
4. Zaid bin Datsinah Al Anshari
( dan beberapa sahabat lainnya yang tidak begitu spesifik diceritakan dalam riwayat )
Dampak
suntingDampak yang paling signifikan dari peristiwa ini ialah membuat Rasulullah Muhammad lebih berhati-hati dalam penanganan hal serupa agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali dan peristiwa yang paling besar lainnya setelah peristiwa Ar Raji dan Bir'u Maunah terjadi, yakni Qunut Nazilah di mana Rasul Muhammad melaknat dan meminta balasan atas perbuatan Bani Hudzail di Raji' dan Bani Amir dari Najd di peristiwa Bir'u maunah selama satu bulan penuh.[2][5]
Peristiwa ini juga menimbulkan kesedihan di diri Rasulullah Muhammad yang selalu teringat akan kejadian ini setelahnya. Nabi melakukan pembasalan setelah Pertempuran Bani Qurayzah, lalu menuju perkampungan Bani Lihyan pelaku pembunuhan ar-Raji, tetapi mereka semua melarikan diri.[2]
Referensi
sunting- ^ [1]"Mengenal Tragedi Pengkhinatan di Ar-Raji" dikutip dari islamdigest.republija.co.id
- ^ a b c d Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1
- ^ Nasrulloh, Muhammad (2020-04-21). Kisah-Kisah Inspiratif SAHABAT NABI. Aghitsna Publisher. hlm.ย 93. ISBNย 978-602-5743-29-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ [2]"ูุฌูุนุฉ ููู ุงูุฑุฌูุน"
- ^ [3]"Antara Tragedi Raji, Biโr Maunah Dan Qunut Nazilah", dikutip dari almanhaj.or.id"