Italia
Lencana kaos/Lambang Asosiasi
JulukanGli Azzurri (Si Biru)
AsosiasiFederasi Sepak Bola Italia (FIGC)
KonfederasiUEFA (Eropa)
PelatihSilvio Baldini (sementara)
KaptenGianluigi Donnarumma
Penampilan terbanyakGianluigi Buffon (176)
Pencetak gol terbanyakLuigi Riva (35)
Kode FIFAITA
Peringkat FIFA
Terkini 12 Kenaikan 1 (1 April 2026)[1]
Tertinggi1 (November 1993, Februari 2007, Aprilโ€“Juni 2007, September 2007)
Terendah21 (Agustus 2018)
Peringkat Elo
Terkini 12 Penurunan 5 (19 Januari 2024)[2]
Warna pertama
Warna kedua
Pertandingan internasional pertama
ย Italia 6โ€“2 Prancisย 
(Milan, Italia; 15 Mei 1910)
Kemenangan terbesar
ย Italia 9โ€“0 Amerika Serikatย 
(Brentford, Inggris; 2 Agustus 1948)
Kekalahan terbesar
ย Hungaria 7โ€“1 Italiaย 
(Budapest, Hungaria; 6 April 1924)
Piala Dunia
Penampilan18 (Pertama kali pada 1934)
Hasil terbaik1 1st (1934, 1938, 1982, 2006)
Kejuaraan Eropa
Penampilan11 (Pertama kali pada 1968)
Hasil terbaik1 1st (1968, 2020)
Final Liga Negara
Penampilan2 (Pertama kali pada 2021)
Hasil terbaik3 3rd (2021, 2023)
Piala Konfederasi
Penampilan2 (Pertama kali pada 2009)
Hasil terbaik3 3rd (2013)
Situs webFIGC.it (dalamย bahasaย Italia)

Tim nasional sepak bola Italia (bahasa Italia: Nazionale di calcio dell'Italia) adalah tim yang mewakili Italia dalam kompetisi sepak bola internasional senior utama pria sejak tahun 1910. Tim ini dikendalikan oleh Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), badan pengatur sepak bola di Italia, yang merupakan bagian dari UEFA, dan di bawah yurisdiksi FIFA. Pertandingan kandang Italia dimainkan di berbagai stadion di seluruh Italia.

Italia adalah salah satu tim nasional paling sukses dalam sejarah sepak bola dan Piala Dunia FIFA setelah memenangkan empat gelar (1934, 1938, 1982, 2006), dan tampil di dua final lainnya (1970, 1994), dan berhasil meraih juara ketiga (1990), dan juara keempat (1978). Italia juga telah memenangkan dua Kejuaraan Eropa UEFA (1968, 2020), dan tampil di dua final lainnya (2000, 2012), dan berhasil mencapai semifinal (1988), dan juara keempat (1980). Italia juga berhasil meraih posisi ketiga pada Piala Konfederasi FIFA (2013), dan 2 kali di Liga Negara UEFA (2021, 2023).

Tim ini dikenal sebagai Gli Azzurri (Si Biru) karena biru Savoy adalah warna umum tim nasional yang mewakili Italia karena itu adalah cat tradisional Rumah Kerajaan Savoy yang memerintah Kerajaan Italia pada tahun 1938. Italia juga meraih medali emas pada Olimpiade sepak bola (1936), dan berhasil meraih medali perunggu pada Olimpiade sepak bola (1928, 2004).

Italia juga memiliki persaingan penting dengan negara-negara sepak bola lainnya seperti Brasil, Kroasia, Prancis, Jerman, dan Spanyol.

Sejarah

sunting

Asal-usul dan gelar Piala Dunia 1934 & 1938

sunting

Upaya awal untuk membentuk tim nasional Italia terjadi pada tanggal 30 April 1899, ketika tim pilihan Italia bermain melawan tim pilihan Swiss. Italia kalah 0-2 di Turin. Pertandingan resmi pertama tim ini diadakan di Milan pada tanggal 15 Mei 1910. Italia mengalahkan Prancis dengan skor 6โ€“2, dengan gol pertama Italia dicetak oleh Pietro Lana. Tim Italia bermain dengan sistem (2โ€“3โ€“5) dan terdiri dari De Simoni, Varisco, Calรฌ, Trerรจ, Fossati, Capello, Debernardi, Rizzi, Cevenini I, Lana, Boiocchi. Francesco Calรฌ didapuk sebagai kapten pertama tim.

Kesuksesan pertama dalam turnamen resmi adalah medali perunggu di Olimpiade Musim Panas 1928 di Amsterdam. Setelah kalah di semifinal melawan Uruguay, kemenangan 11โ€“3 melawan Mesir mengamankan tempat ketiga dalam kompetisi tersebut. Pada gelaran Piala Internasional Eropa Tengah 1927โ€“30 dan 1933โ€“35, Italia meraih tempat pertama dari lima tim Eropa Tengah, memuncaki grup dengan 11 poin di kedua edisi turnamen tersebut. Italia kemudian juga memenangkan medali emas di Olimpiade Musim Panas 1936 dengan kemenangan 2-1 di babak perpanjangan waktu dalam pertandingan final melawan Austria pada tanggal 15 Agustus 1936.

Setelah menolak untuk berpartisipasi dalam Piala Dunia perdana (1930, di Uruguay), tim nasional Italia memenangkan dua edisi berturut-turut turnamen tersebut pada tahun 1934 dan 1938, di bawah arahan pelatih Vittorio Pozzo dan penampilan Giuseppe Meazza, yang dianggap sebagai salah satu pemain sepak bola Italia terbaik sepanjang masa oleh sebagian orang. Italia menjadi tuan rumah Piala Dunia 1934, dan memainkan pertandingan Piala Dunia pertama mereka dalam kemenangan 7-1 atas Amerika Serikat di Roma. Italia mengalahkan Cekoslowakia 2-1 di babak perpanjangan waktu di final di Roma, dengan gol dari Raimundo Orsi dan Angelo Schiavio untuk meraih gelar Piala Dunia pertama mereka.

Gli Azzurri meraih gelar kedua mereka pada tahun 1938 dengan mengalahkan Hungaria 4โ€“2 lewat dua gol dari Gino Colaussi dan dua gol dari Silvio Piola. Ada rumor yang beredar bahwa sebelum final Piala Dunia 1938, Perdana Menteri Italia yang fasis, Benito Mussolini, mengirim telegram kepada tim, yang berbunyi "Vincere o morire!" (secara harfiah diterjemahkan sebagai "Menang atau mati!"). Namun, tidak ada catatan yang tersisa tentang telegram tersebut, dan salah satu pemain, Pietro Rava mengatakan ketika diwawancarai: "Tidak, tidak, tidak, itu tidak benar. Dia mengirim telegram yang isinya mendoakan kami yang terbaik, tetapi tidak pernah 'menang atau mati'."

Rekonstruksi era 1950-an dan 1960-an

sunting
Timnas Italia tahun 1965

Pada tahun 1949, 10 dari 11 pemain inti dalam susunan pemain tim nasional tewas dalam kecelakaan pesawat yang menimpa Torino, pemenang lima gelar Serie A sebelumnya. Italia tidak melaju lebih jauh dari babak pertama Piala Dunia 1950, karena kekuatan mereka yang langsung berkurang akibat bencana udara tersebut. Tim Italia kemudian melakukan perjalanan dengan kapal daripada pesawat karena takut akan kecelakaan lain.

Pada Piala Dunia 1954 dan 1962, Italia gagal lolos dari babak pertama dan tidak lolos ke Piala Dunia 1958 karena kalah 2โ€“1 dari Irlandia Utara di pertandingan terakhir babak kualifikasi. Italia tidak ikut serta dalam edisi pertama Kejuaraan Eropa pada tahun 1960 (yang saat itu dikenal sebagai Piala Negara-Negara Eropa) dan tersingkir oleh Uni Soviet di babak pertama kualifikasi Kejuaraan Eropa tahun 1964.

Partisipasi mereka di Piala Dunia 1966 berakhir dengan kekalahan 0-1 di tangan Korea Utara. Meskipun menjadi favorit turnamen, Gli Azzurri yang diperkuat pemain bintang seperti Gianni Rivera dan Giacomo Bulgarelli, tersingkir di babak pertama oleh tim semi-profesional sekaligus debutan, Korea Utara. Tim Italia dihujat habis-habisan saat kembali ke tanah air, sementara pencetak gol Korea Utara, Pak Doo-ik, dirayakan sebagai Daud yang mengalahkan Goliat. Saat Italia kembali ke tanah air, para penggemar yang marah melemparkan buah dan tomat busuk ke bus mereka di bandara.

Juara eropa dan runner-up Piala Dunia (1968โ€“1974)

sunting
Kapten Giacinto Facchetti mengangkat trofi Piala Eropa 1968.

Pada tahun 1968, Italia menjadi tuan rumah Kejuaraan Eropa dan memenangkan turnamen tersebut dalam partisipasi pertamanya, mengalahkan Yugoslavia di Roma sekaligus merebut gelar pertama mereka sejak Piala Dunia 1938. Final berakhir imbang 1โ€“1 setelah perpanjangan waktu, dan peraturan saat itu mengharuskan pertandingan diulang beberapa hari kemudian. Ini akan menjadi satu-satunya final Kejuaraan Eropa atau Piala Dunia yang diulang. Pada 10 Juni 1968, Italia memenangkan pertandingan ulangan 2โ€“0 (dengan gol dari Gigi Riva dan Pietro Anastasi) untuk merebut trofi.

Pada Piala Dunia 1970, dengan penampilan para pemain juara Eropa yang lebih matang seperti Giacinto Facchetti, Gianni Rivera dan Gigi Riva serta penyerang tengah baru Roberto Boninsegna, Italia mampu kembali ke final Piala Dunia setelah 32 tahun. Mereka mencapai hasil ini melalui salah satu pertandingan paling terkenal dalam sejarah sepak bolaโ€”"Pertandingan Abad Ini", semifinal Piala Dunia 1970 antara Italia dan Jerman Barat yang dimenangkan Italia 4โ€“3 di babak perpanjangan waktu. Lima dari tujuh gol tercipta di babak perpanjangan waktu. Mereka kemudian dikalahkan oleh Brasil di final dengan skor telak 4โ€“1.

Setelah kalah dari Belgia di perempat final Kualifikasi Kejuaraan Eropa 1972, era generasi ini berakhir di Piala Dunia 1974, di mana Italia tersingkir di babak penyisihan grup setelah kalah 2โ€“1 melawan Polandia di pertandingan terakhir grup.

Generasi juara dunia (1978โ€“1986)

sunting

Di bawah bimbingan awal Fulvio Bernardini dan kemudian pelatih kepala Enzo Bearzot, generasi baru pemain Italia muncul di panggung internasional pada paruh kedua tahun 1970-an. Di Piala Dunia 1978, Italia adalah satu-satunya tim dalam turnamen yang mengalahkan juara dan tim tuan rumah Argentina, dan Italia berhasil mencapai final perebutan tempat ketiga, di mana mereka dikalahkan oleh Brasil 2โ€“1. Dalam pertandingan babak penyisihan grup putaran kedua melawan Belanda, kiper Italia Dino Zoff kebobolan oleh tendangan jarak jauh dari Arie Haan. Zoff dikritik atas kekalahan yang menyingkirkan Italia tersebut.

Italia menjadi tuan rumah Kejuaraan Eropa 1980, edisi pertama yang diadakan antara delapan tim alih-alih empat seperti edisi sebelumnya. Setelah dua hasil imbang dengan Spanyol dan Belgia dan kemenangan tipis 1โ€“0 atas Inggris, Italia dikalahkan oleh Cekoslowakia dalam pertandingan perebutan tempat ketiga melalui adu penalti 9โ€“8 setelah Fulvio Collovati gagal dalam tugasnya.

Salah satu foto ikonik setelah Italia juara Piala Dunia 1982. Presiden Italia, Sandro Pertini bermain scopone bersama Dino Zoff, Franco Causio dan Enzo Bearzot

Setelah skandal Totonero di Serie A, di mana beberapa pemain tim nasional seperti Paolo Rossi dituntut dan diskors karena pengaturan pertandingan dan taruhan ilegal, Gli Azzurri lolos ke babak kedua Piala Dunia 1982 setelah tiga hasil imbang yang kurang memuaskan melawan Polandia, Peru dan Kamerun. Setelah mendapat kritik keras, tim Italia memutuskan untuk memboikot pers sejak saat itu, dengan hanya pelatih Enzo Bearzot dan kapten Dino Zoff yang ditunjuk untuk berbicara kepada pers. Grup putaran kedua Italia adalah grup neraka bersama Argentina dan Brasil. Pada pertandingan pembuka, Italia menang 2โ€“1 atas Argentina lewat tendangan kaki kiri Marco Tardelli dan Antonio Cabrini. Setelah Brasil mengalahkan Argentina 3โ€“1, Italia perlu menang untuk melaju ke semifinal. Italia unggul dua kali melalui gol Paolo Rossi, dan dua kali pula Brasil menyamakan kedudukan. Ketika Falcรฃo mencetak gol untuk menyamakan kedudukan menjadi 2โ€“2, Brasil seharusnya lolos berdasarkan selisih gol, tetapi pada menit ke-74 Rossi mencetak gol kemenangan sekaligus hat-trick. Italia ke semifinal lewat salah satu pertandingan terhebat dalam sejarah Piala Dunia. Pada laga semifinal, mereka mengalahkan Polandia dengan dua gol dari Rossi untuk bermain di final.

Pada final tanggal 11 Juli 1982, Italia bertemu Jerman Barat di Madrid. Babak pertama berakhir tanpa gol, setelah Antonio Cabrini gagal mengeksekusi penalti yang diberikan karena pelanggaran Hans-Peter Briegel terhadap Bruno Conti. Di babak kedua, Paolo Rossi kembali mencetak gol pertama dan membuat Italia unggul. Pada saat Jerman terus menyerang untuk mencari gol penyeimbang, Marco Tardelli dan pemain pengganti Alessandro Altobelli menyelesaikan dua serangan balik contropiede untuk menjadikan skor 3โ€“0. Paul Breitner mencetak gol hiburan Jerman Barat tujuh menit sebelum pertandingan berakhir. Selebrasi Tardelli yang penuh teriakan setelah mencetak gol adalah salah satu gambar yang paling ikonik dalam kemenangan Italia di Piala Dunia 1982. Paolo Rossi memenangkan Sepatu Emas dengan torehan enam gol serta Penghargaan Bola Emas untuk pemain terbaik turnamen. Sedangkan Dino Zoff yang berusia 40 tahun menjadi pemain tertua yang memenangkan Piala Dunia.

Italia kemudian gagal lolos ke Kejuaraan Eropa 1984 dan kemudian langsung lolos sebagai juara bertahan di Piala Dunia 1986. Namun perjalanan mereka terhenti di babak 16 besar saat dikalahkan juara Eropa, Prancis.

Generasi baru dan runner-up Piala Dunia (1986โ€“1994)

sunting

Pada tahun 1986, Azeglio Vicini diangkat sebagai pelatih kepala baru, menggantikan Bearzot. Ia memberikan peran sentral kepada pemain seperti Walter Zenga dan Gianluca Vialli. Vicini juga memberikan kesempatan kepada pemain muda yang berasal dari tim U-21. Vialli mencetak gol yang memberikan Italia tiket ke Kejuaraan Eropa 1988 di Jerman, dan ia digadang-gadang sebagai penerus Altobelli karena memiliki insting mencetak gol yang sama. Kedua penyerang tersebut mencetak gol di Jerman, di mana Uni Soviet mengalahkan Azzurri di semifinal.

Roberto Baggio pada tahun 1990

Italia menjadi tuan rumah Piala Dunia untuk kedua kalinya pada tahun 1990. Lini serang Italia menampilkan barisan penyerang berbakat seperti Salvatore Schillaci dan Roberto Baggio muda. Italia memainkan hampir semua pertandingan mereka di Roma dan tidak kebobolan satu gol pun dalam lima pertandingan pertama mereka. Namun mereka kalah di semifinal di kota Napoli dari juara bertahan Argentina. Pemain Argentina, Diego Maradona yang bermain untuk Napoli, memberikan komentar sebelum pertandingan terkait ketidaksetaraan Utara-Selatan di Italia dan Risorgimento (penyatuan Italia di abad ke-18), meminta warga Napoli untuk mendukung Argentina dalam pertandingan tersebut. Italia kalah 4โ€“3 melalui adu penalti setelah bermain imbang 1โ€“1 setelah perpanjangan waktu. Gol pembuka Schillaci di babak pertama disamakan di babak kedua oleh sundulan Claudio Caniggia untuk Argentina. Aldo Serena gagal mengeksekusi penalti terakhir, sementara Roberto Donadoni juga gagal mengeksekusi penalti karena tendangannya ditepis oleh kiper Sergio Goycochea. Italia kemudian mengalahkan Inggris 2โ€“1 dalam pertandingan perebutan tempat ketiga di Bari, dengan Schillaci mencetak gol kemenangan melalui penalti dan menjadi pencetak gol terbanyak turnamen dengan enam gol.

Setelah gagal lolos ke Kejuaraan Eropa 1992, Vicini digantikan oleh mantan pelatih AC Milan, Arrigo Sacchi yang membawa gaya permainan baru yang lebih menyerang. Pada November 1993, FIFA menempatkan Italia di peringkat ke-1 sejak sistem pemeringkatan diperkenalkan pada Desember 1992.

Pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat, Italia kalah dalam pertandingan pembuka melawan Irlandia dengan skor 0โ€“1 di Giants Stadium, New Jersey. Setelah menang 1โ€“0 melawan Norwegia dan bermain imbang 1โ€“1 dengan Meksiko, Italia lolos dari Grup E berdasarkan jumlah gol yang dicetak oleh empat tim yang memiliki poin sama. Dalam pertandingan babak 16 besar mereka di Stadion Foxboro dekat Boston, Italia tertinggal 0โ€“1 menjelang akhir pertandingan melawan Nigeria, tetapi Baggio menyamakan kedudukan pada menit ke-88 dan melalui penalti di babak perpanjangan waktu untuk meraih kemenangan. Baggio mencetak gol telat lainnya melawan Spanyol di pertandingan perempat final mereka di Boston untuk memastikan kemenangan 2-1 dan dua gol melawan Bulgaria di pertandingan semifinal mereka di New York untuk kemenangan 2-1 lainnya. Di final, yang berlangsung di Stadion Rose Bowl Los Angeles, 2.700 mil (4.320 km) dan tiga zona waktu jauhnya dari Amerika Serikat bagian Timur Laut tempat mereka memainkan semua pertandingan sebelumnya, Italia, yang memiliki waktu istirahat 24 jam lebih sedikit daripada Brasil, memainkan 120 menit pertandingan tanpa gol, membawa pertandingan ke adu penalti, pertama kalinya final Piala Dunia ditentukan melalui adu penalti. Italia kalah dalam adu penalti berikutnya dengan skor 3โ€“2 setelah Baggio, yang bermain dengan bantuan suntikan penghilang rasa sakit dan hamstring yang dibalut perban tebal, gagal mencetak gol dari tendangan penalti terakhir pertandingan.

Runner-up Euro dan kontroversi di Piala Dunia 2002 (1994โ€“2002)

sunting

Setelah Piala Dunia 1994 berakhir, Sacchi masih dipercaya sebagai pelatih kepala untuk turnamen berikutnya. Italia lolos ke putaran final Kejuaraan Eropa 1996 di Inggris. Namun, mereka kalah dari Rusia dan Cekoslowakia dengan skor 2โ€“1 serta hanya bermain imbang 0โ€“0 melawan Jerman. Gianfranco Zola gagal mengeksekusi penalti yang menentukan dalam pertandingan melawan Jerman, yang akhirnya memenangkan turnamen tersebut.

Setelah finis di posisi kedua di belakang Inggris dalam kualifikasi Piala Dunia 1998, Italia memastikan tempat di putaran final setelah mengalahkan Rusia dalam pertandingan play-off, saat Pierluigi Casiraghi mencetak gol kemenangan dalam kemenangan agregat 2โ€“1 pada 15 November 1997. Setelah finis pertama di grup mereka dan mengalahkan Norwegia di babak kedua, Italia menghadapi adu penalti di perempat final, untuk ketiga kalinya berturut-turut di Piala Dunia. Tim Italia, yang kali ini mengandalkan Alessandro Del Piero serta Baggio menahan tim tuan rumah, Prancis, dengan hasil imbang 0โ€“0 setelah perpanjangan waktu, tetapi kalah 4-3 dalam adu penalti. Dengan dua gol yang dicetak di turnamen ini, Baggio tetap menjadi satu-satunya pemain Italia yang mencetak gol di tiga Piala Dunia FIFA yang berbeda.

Dua tahun kemudian, di Kejuaraan Eropa 2000, Italia menyapu bersih empat laga dengan kemenanga. Tim yang dilatih oleh mantan kapten Dino Zoff itu berhasil mencapai semifinal, menghadapi adu penalti lagi tetapi keluar sebagai pemenang atas salah satu tuan rumah, Belanda. Kiper Italia, Francesco Toldo menyelamatkan satu tendangan penalti selama pertandingan dan dua tendangan penalti dalam adu penalti, sementara striker Francesco Totti mencetak gol penaltinya dengan tendangan cucchiaio (secara harfiah berarti 'sendok') atau panenka. Italia finis di posisi runner-up turnamen, kalah di final 2โ€“1 melawan Prancis (karena gol emas di perpanjangan waktu) setelah kebobolan gol penyama kedudukan hanya 30 detik sebelum waktu tambahan yang diperkirakan berakhir. Setelah kekalahan tersebut, pelatih Dino Zoff mengundurkan diri sebagai bentuk protes setelah dikritik oleh presiden klub AC Milan dan politisi Silvio Berlusconi.

Giovanni Trapattoni mengambil alih kepemimpinan tim pada Juli 2000 setelah pengunduran diri Dino Zoff. Bermain di Grup 8 kualifikasi Piala Dunia FIFA 2002, Italia menyelesaikan turnamen tanpa terkalahkan setelah menghadapi Rumania, Georgia, Hungaria dan Lituania. Pada putaran final, kemenangan 2โ€“0 melawan Ekuador dengan dua gol dari Christian Vieri diikuti oleh serangkaian pertandingan kontroversial. Selama pertandingan melawan Kroasia, wasit Inggris Graham Poll secara keliru menganulir dua gol yang sah, sehingga mengakibatkan kekalahan 2-1 bagi Italia. Pada laga selanjutnya, meskipun dua gol dianulir karena offside, gol sundulan telat dari Del Piero membantu Italia meraih hasil imbang 1-1 melawan Meksiko, yang terbukti cukup untuk melaju ke babak knockout.

Korea Selatan, sebagai negara tuan rumah bersama, menyingkirkan Italia di babak 16 besar dengan skor 2-1. Pertandingan tersebut menuai kontroversi ketika beberapa anggota tim Italia, terutama striker Francesco Totti dan pelatih Giovanni Trapattoni, menduga adanya konspirasi untuk menyingkirkan Italia dari kompetisi. Trapattoni bahkan secara tidak langsung menuduh FIFA memerintahkan wasit untuk memastikan kemenangan Korea agar salah satu dari dua negara tuan rumah tetap berada di turnamen tersebut. Keputusan paling kontroversial dari wasit Byron Moreno adalah penalti awal yang diberikan kepada Korea Selatan (diselamatkan oleh Buffon), gol emas Damiano Tommasi yang secara keliru dinyatakan offside serta kartu merah Totti setelah menerima kartu kuning kedua karena dugaan diving di area penalti. Presiden FIFA Sepp Blatter menyatakan bahwa para hakim garis telah menjadi "bencana" dan mengakui bahwa Italia dirugikan akibat keputusan offside yang buruk selama pertandingan grup, tetapi ia membantah tuduhan konspirasi. Sambil mempertanyakan kartu merah Totti oleh Moreno, Blatter menolak untuk menyalahkan kekalahan Italia sepenuhnya pada wasit, dengan menyatakan: "Tersingkirnya Italia bukan hanya karena wasit dan hakim garis yang melakukan kesalahan manusiawi yang tidak direncanakan. Italia melakukan kesalahan baik dalam bertahan maupun menyerang."

Juara dunia dan kemunduran (2002โ€“2010)

sunting
Suporter Italia saat merayakan gol ke gawang Prancis di final Piala Dunia 2006
Presiden Italia Giorgio Napolitano memberi selamat kepada Lippi dan kapten Cannavaro setelah final melawan Prancis.

Trapattoni tetap bertahan dan memimpin tim di Euro 2004 di Portugal, di mana setelah hasil imbang melawan Denmark dan Swedia serta kemenangan atas Bulgaria di Grup C, Italia tersingkir setelah kalah dalam selisih gol dari ketiga tim yang memiliki poin yang sama. Kiper Gianluigi Buffon dan presiden federasi sepak bola Italia saat itu, Franco Carraro, menuduh tim Swedia dan Denmark mengatur hasil pertandingan terakhir mereka (hasil 2-2 yang membuat kedua tim lolos). Meskipun ada seruan, juru bicara UEFA saat itu, Robert Faulkner, mengatakan organisasi tersebut tidak akan menyelidiki hasil tersebut.

Federasi Sepak Bola Italia mengganti Trapattoni dengan Marcello Lippi. Dengan kontroversi calciopoli yang melanda liga domestik, Italia memasuki Piala Dunia 2006 sebagai salah satu dari delapan tim unggulan. Italia finis pertama di Grup E dengan kemenangan atas Ghana dan Republik Ceko serta hasil imbang dengan Amerika Serikat. Di babak 16 besar, Italia mengamankan kemenangan 1โ€“0 atas Australia lewat tendangan penalti Francesco Totti di detik akhir pertandingan. Italia kemudian menggulung Ukraina dengan skor 3-0 lewat gol cepat Gianluca Zambrotta dan gol tambahan dari Luca Toni. Di babak semifinal, Italia mengalahkan tuan rumah Jerman 2-0 dengan gol dari Fabio Grosso dan Alessandro Del Piero di menit-menit terakhir perpanjangan waktu.

Pada 9 Juli 2006, Azzurri memenangkan gelar Piala Dunia keempat mereka setelah mengalahkan Prancis di final. Kapten Prancis Zinedine Zidane membuka skor dari titik penalti pada menit ketujuh sebelum Marco Materazzi mencetak gol lewat sundulannya dua belas menit kemudian. Skor tetap imbang hingga perpanjangan waktu dan Zidane diusir wasit karena menanduk Materazzi. Momen itu jadi salah satu momen paling bersejarah sepanjang Piala Dunia. Italia kemudian memenangkan adu penalti dengan skor 5-3, dengan semua pemain Italia berhasil mencetak gol dari tendangan mereka. Gol penalti penentu dicetak oleh Grosso.

FIFA memilih tujuh pemain Italia โ€” Gianluigi Buffon, Fabio Cannavaro, Gianluca Zambrotta, Andrea Pirlo, Gennaro Gattuso, Francesco Totti dan Luca Toni โ€” dalam daftar 23 pemain All Star Team. Buffon juga memenangkan Penghargaan Lev Yashin, yang diberikan kepada kiper terbaik turnamen; ia hanya kebobolan dua gol dalam tujuh pertandingan turnamen, yang pertama gol bunuh diri oleh Zaccardo dan yang kedua dari tendangan penalti Zidane di final, dan tetap tak terkalahkan selama 460 menit berturut-turut. Sebagai penghormatan atas kemenangan Italia di Piala Dunia keempat mereka, para anggota skuat dianugerahi bintang jasa Cavaliere.

Marcello Lippi, yang telah mengumumkan pengunduran dirinya tiga hari setelah kemenangan Piala Dunia, digantikan oleh Roberto Donadoni. Italia lolos ke Euro 2008 dengan menjadi juara grup di atas Prancis. Pada 14 Februari 2007, Italia naik ke peringkat pertama dalam Peringkat Dunia FIFA untuk kedua kalinya. Di Euro 2008, Azzurri kalah 3โ€“0 dari Belanda di pertandingan pembuka babak grup. Pertandingan berikutnya melawan Rumania berakhir 1โ€“1 berkat penyelamatan penalti dari Gianluigi Buffon. Italia kemudian memenangkan pertandingan grup terakhir mereka melawan Prancis 2โ€“0, pertandingan ulang final Piala Dunia 2006. Azzurri tersingkir di perempat final melalui adu penalti melawan juara Spanyol. Dalam waktu seminggu setelah pertandingan, kontrak Roberto Donadoni diakhiri dan Marcello Lippi dipekerjakan kembali sebagai pelatih.

Pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, juara bertahan Italia secara tak terduga tersingkir di fase grup, finis di posisi terakhir di grup mereka. Setelah ditahan imbang 1โ€“1 oleh Paraguay dan Selandia Baru, mereka menderita kekalahan 3โ€“2 dari Slovakia setelah tertinggal 2โ€“0 dan 3โ€“1. Ini adalah pertama kalinya Italia gagal memenangkan satu pertandingan pun di turnamen Piala Dunia, dan dengan demikian menjadi negara ketiga yang tersingkir di babak pertama saat menjadi juara bertahan Piala Dunia.

Kemerosotan Timnas Italia (2010โ€“2018)

sunting
Timnas Italia saat final Euro 2012 di Olympic Stadium, Kiev, 1 Juli 2012

Marcello Lippi mengundurkan diri setelah Piala Dunia dan digantikan oleh Cesare Prandelli, meskipun pengganti Lippi telah diumumkan sebelum turnamen. Di UEFA Euro 2012, Italia di bawah Prandelli bisa menemukan sentuhan mereka lagi dan menjadi tim yang sulit dikalahkan. Pada fase grup, mereka finis di posisi dua di belakang Spanyol, yang membuat mereka berhadapan dengan Inggris di perempat final. Setelah pertandingan yang sebagian besar dikuasai Italia di mana mereka gagal memanfaatkan peluang, Azzurri akhirnya berhasil mengalahkan Inggris melalui adu penalti. Di semifinal melawan Jerman, dua gol babak pertama oleh Mario Balotelli membawa Italia ke final. Di final, Italia dibantai 4โ€“0 oleh Spanyol, tim juara dunia yang sedang memiliki generasi emasnya.

Pada Piala Dunia 2014, Italia mengalahkan Inggris 2โ€“1 dalam pertandingan pertama mereka sebelum kalah dari tim underdog Kosta Rika 1โ€“0 dalam pertandingan kedua babak grup. Pada pertandingan terakhir di babak grup, mereka tersingkir oleh Uruguay 1โ€“0, dalam pertandingan yang kontroversial, di mana pemain Italia Claudio Marchisio diusir secara kontroversial sementara Luis Suarez dari Uruguay yang menggigit Giorgio Chiellini tidak diberi pelanggaran atau kartu sekalipun. Tak lama setelah kekalahan ini, pelatih Cesare Prandelli mengundurkan diri.

Mantan manajer Juventus, Antonio Conte dipilih untuk menggantikan Prandelli. Pada 10 Oktober 2015, Italia lolos ke Euro 2016, berkat kemenangan 3โ€“1 atas Azerbaijan; hasil tersebut berarti Italia telah tak terkalahkan dalam 50 pertandingan kualifikasi Eropa. Pada 4 April 2016, diumumkan bahwa Antonio Conte akan mengundurkan diri sebagai pelatih Italia setelah Euro 2016 untuk menjadi pelatih kepala Chelsea. Skuat 23 pemain awalnya dikritik oleh banyak penggemar dan anggota media karena kurangnya kualitas. Pemain-pemain seperti Andrea Pirlo dan Sebastian Giovinco secara mengejutkan tidak dibawa. Namun, gaya kepelatihan Conte yang condong kepada fisik dan sepakbola pragmatis ternyata cocok dengan timnas Italia yang sudah tidak memiliki pemain bintang. Italia membuka Euro 2016 dengan kemenangan 2โ€“0 atas Belgia dan lolos berkat kemenangan melawan Swedia di pertandingan kedua, yang membuat kekalahan 1โ€“0 mereka dari Irlandia di pertandingan terakhir babak grup tidak berpengaruh apa-apa bagi mereka. Italia membuat kejutan setelah mengalahkan juara bertahan Eropa, Spanyol 2โ€“0 di babak 16 besar. Namun, Italia akhirnya dikalahkan oleh juara Piala Dunia, Jerman di perempat final melalui adu penalti, setelah hasil imbang 1โ€“1.

Setelah kepergian Conte yang direncanakan setelah Euro 2016, Gian Piero Ventura mengambil alih peran sebagai manajer tim. Selama kualifikasi Piala Dunia 2018, Italia finis kedua di Grup G, lima poin di belakang Spanyol. Italia kemudian bermain di babak play-off melawan Swedia, di mana mereka kalah 1โ€“0 secara agregat. Untuk pertama kalinya Italia gagal lolos ke Piala Dunia sejak 1958. Setelah pertandingan, para veteran seperti Andrea Barzagli, Daniele De Rossi dan kapten Gianluigi Buffon menyatakan pensiun dari tim nasional. Pada 15 November 2017, Ventura dipecat sebagai kepala pelatih, dan pada 20 November 2017, Carlo Tavecchio mengundurkan diri sebagai presiden Federasi Sepak Bola Italia. Luigi Di Biagio ditunjuk sebagai manajer sementara dan memimpin tim dalam pertandingan persahabatan berikutnya pada Maret 2018, termasuk penampilan terakhir Buffon dari 176 penampilan dalam pertandingan persahabatan melawan Argentina.

Oase juara Eropa dan era kegelapan (2018โ€“sekarang)

sunting

Pada 14 Mei 2018, Roberto Mancini diumumkan sebagai manajer baru. Pada 16 Agustus 2018, dalam pembaruan Peringkat Dunia FIFA pertama setelah Piala Dunia, Italia turun ke peringkat terendah mereka yaitu peringkat ke-21. Pada 18 November 2019, Italia menyelesaikan kualifikasi Euro 2020 dengan sepuluh kemenangan dalam sepuluh pertandingan, menjadi tim keenam yang lolos ke Kejuaraan Eropa dengan rekor sempurna. Pada 17 Maret 2020, UEFA mengkonfirmasi bahwa Euro 2020 akan ditunda selama satu tahun karena pandemi COVID-19.

Presiden Italia, Sergio Mattarella (kanan) berbincang dengan kapten Chiellini di Roma, sehari setelah Italia merebut gelar Euro 2020

Saat gelaran Euro 2020 yang tertunda, Italia masih mengandalkan para pemain senior seperti Chiellini dan Leonardo Bonucci. Bintang muda seperti Gianluigi Donnarumma dan Federico Chiesa juga menjadi andalan di bawah pelatih Mancini. Italia finis di puncak Grup A, mengungguli Turki, Swiss dan Wales. Sebagai salah satu negara tuan rumah, Italia memainkan ketiga pertandingan grup di Stadio Olimpico Roma, dan menjadi tim pertama dalam sejarah Kejuaraan Eropa yang memenangkan setiap pertandingan babak penyisihan grup tanpa kebobolan. Di babak 16 besar, Italia mengalahkan Austria 2โ€“1 di Stadion Wembley setelah perpanjangan waktu. Di perempat final, Italia mengamankan kemenangan 2โ€“1 atas tim bertabur bintang, Belgia, sebelum mengalahkan Spanyol melalui adu penalti di semifinal.

Pada final, tanggal 11 Juli 2021, Italia memenangkan Kejuaraan Eropa dengan mengalahkan tuan rumah Inggris di Stadion Wembley melalui adu penalti setelah hasil imbang 1โ€“1, untuk gelar Eropa kedua mereka dan yang pertama sejak 1968. Kiper Gianluigi Donnarumma juga memenangkan penghargaan Pemain Terbaik Turnamen. Pada tanggal 16 Juli, semua anggota skuat pemenang Kejuaraan Eropa dianugerahi Bintang Jasa Italia Cavaliere.

Italia juga memegang rekor tidak terkalahkan selama 37 pertandingan beruntun yang bertahan sepanjang tiga tahun sebelum akhirnya takluk oleh Spanyol 2โ€“1 di babak semifinal UEFA Nations League 2021.

Era kegelapan timnas Italia kemudian dimulai. Pada 15 November 2021, Italia bermain imbang 0โ€“0 dengan Irlandia Utara dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022 terakhir mereka dan finis di posisi kedua, dua poin di belakang Swiss. Pada 24 Maret 2022, Italia kalah 1โ€“0 di semifinal play-off melawan Makedonia Utara, kekalahan kandang pertama mereka dalam kualifikasi Piala Dunia, sehingga gagal lolos ke Piala Dunia untuk kedua kalinya secara berturut-turut.

Pada Agustus 2023, setelah lima tahun menjadi pelatih Italia, Mancini mengundurkan diri. Luciano Spalletti dipilih sebagai pelatih baru dan memimpin tim dalam enam pertandingan terakhir kualifikasi Euro 2024, berhasil meraih tiket langsung ke Kejuaraan Eropa. Italia tampil mengecewakan, mereka tersingkir dari turnamen di babak 16 besar setelah kalah 2โ€“0 dari Swiss, yang menyebabkan Menteri Olahraga Andrea Abodi menyebut hasil di Euro sebagai "kegagalan".

Pada Juni 2025, setelah kekalahan 3โ€“0 melawan Norwegia dalam pertandingan pertama kualifikasi Piala Dunia 2026 di Oslo, Spalletti diberhentikan dari jabatannya dan digantikan mantan juara Piala Dunia 2006, Gennaro Gattuso. Debut Gattuso sebagai commissario tecnico Italia terjadi pada 5 September dalam kemenangan 5โ€“0 melawan Estonia. Pada November tahun yang sama, Italia lolos ke babak play-off untuk ketiga kalinya berturut-turut setelah kekalahan kandang 4โ€“1 dari Norwegia. Italia diundi ke Jalur A babak play-off dan mengalahkan Irlandia Utara 2โ€“0 di semifinal, tetapi pada 31 Maret 2026, Italia gagal lolos ke Piala Dunia FIFA 2026 setelah kalah tandang dari Bosnia dan Herzegovina melalui adu penalti setelah hasil imbang 1โ€“1. Hasil ini menandai Piala Dunia ketiga berturut-turut yang gagal mereka ikuti. Dua hari kemudian, Gabriele Gravina mengundurkan diri sebagai Presiden Federasi Sepak Bola Italia disusul oleh Buffon dan Gattuso yang juga mengundurkan diri sebagai kepala delegasi dan kepala pelatih. Pada 10 April, Silvio Baldini ditunjuk sebagai manajer sementara untuk pertandingan persahabatan Italia pada bulan Juni.

Pelatih kepala beserta dengan jajarannya

sunting
Posisi Staf
Pelatih kepala Italia Silvio Baldini (karteker)
Asisten pelatih kosong
Asisten teknis Italia Leonardo Bonucci
Pelatih penjaga gawang Italia Cristiano Lupatelli
Pelatih kebugaran kosong
Analis pertandingan Italia Marco Mannucci
Kepala delegasi kosong
Dokter Italia Angelo De Carli
Italia Carmine Costabile
Fisioterapi Italia Mauro Doimi
Italia Fabio Sannino
Italia Emanuele Randelli
Italia Fabrizio Scalzi
Dokter Osteopati Italia Walter Martinelli
Ahli ilmu gizi Italia Matteo Pincella

Sumber: [3]

Pemain

sunting

Skuad terkini

sunting

Para pemain berikut dipanggil untuk friendly match melawan Luksemburg dan Yunani pada tanggal 03 dan 07 Juni 2026.[4]

Penampilan dan gol per 31 Maret 2026, setelah pertandingan melawan Bosnia dan Herzegovina.

No. Pos. Nama pemain Tanggal lahir (umur) Tampil Gol Klub
1GK Gianluigi Donnarumma Kapten 25 Februari 1999 (umurย 27) 81 0 Asosiasi Sepak Bola Inggris Manchester City
1GK Giovanni Daffara 5 Desember 2004 (umurย 21) 0 0 Federasi Sepak Bola Italia Avellino
1GK Lorenzo Palmisani 12 Juni 2004 (umurย 21) 0 0 Federasi Sepak Bola Italia Frosinone

2DF Marco Palestra 3 Maret 2005 (umurย 21) 2 0 Federasi Sepak Bola Italia Cagliari
2DF Honest Ahanor 23 Februari 2008 (umurย 18) 0 0 Federasi Sepak Bola Italia Atalanta
2DF Davide Bartesaghi 29 Desember 2005 (umurย 20) 0 0 Federasi Sepak Bola Italia AC Milan
2DF Fabio Chiarodia 5 Juni 2005 (umurย 21) 0 0 Asosiasi Sepak Bola Jerman Borussia Mรถnchengladbach
2DF Pietro Comuzzo 20 Februari 2005 (umurย 21) 0 0 Federasi Sepak Bola Italia Fiorentina
2DF Costantino Favasuli 26 April 2004 (umurย 22) 0 0 Federasi Sepak Bola Italia Catanzaro
2DF Filippo Manรฉ 8 Maret 2005 (umurย 21) 0 0 Asosiasi Sepak Bola Jerman Borussia Dortmund
2DF Luca Reggiani 9 Januari 2008 (umurย 18) 0 0 Asosiasi Sepak Bola Jerman Borussia Dortmund

3MF Niccolรฒ Pisilli 23 September 2004 (umurย 21) 2 0 Federasi Sepak Bola Italia Roma
3MF Matteo Dagasso 1 April 2004 (umurย 22) 0 0 Federasi Sepak Bola Italia Venezia
3MF Giacomo Faticanti 31 Juli 2004 (umurย 21) 0 0 Federasi Sepak Bola Italia Juventus Next Gen
3MF Luca Lipani 18 Mei 2005 (umurย 21) 0 0 Federasi Sepak Bola Italia Sassuolo
3MF Cher Ndour 27 Juli 2004 (umurย 21) 0 0 Federasi Sepak Bola Italia Fiorentina
3MF Lorenzo Venturino 22 Juni 2006 (umurย 19) 0 0 Federasi Sepak Bola Italia Roma

4FW Pio Esposito 28 Juni 2005 (umurย 20) 7 3 Federasi Sepak Bola Italia Inter Milan
4FW Francesco Camarda 10 Maret 2008 (umurย 18) 0 0 Federasi Sepak Bola Italia Lecce
4FW Luigi Cherubini 15 Januari 2004 (umurย 22) 0 0 Federasi Sepak Bola Italia Sampdoria
4FW Jeff Ekhator 11 November 2006 (umurย 19) 0 0 Federasi Sepak Bola Italia Genoa
4FW Seydou Fini 2 Juni 2006 (umurย 20) 0 0 Federasi Sepak Bola Italia Frosinone
4FW Samuele Inacio 2 April 2008 (umurย 18) 0 0 Asosiasi Sepak Bola Jerman Borussia Dortmund
4FW Luca Koleosho 15 September 2004 (umurย 21) 0 0 Federasi Sepak Bola Prancis Paris FC

Pemanggilan pemain baru-baru ini

sunting

Para pemain berikut juga pernah dipanggil ke skuad dalam 12 bulan terakhir.

Pos. Nama pemain Tanggal lahir (umur) Tampil Gol Klub Panggilan terakhir
GK Alex Meret 22 Maret 1997 (umurย 29) 3 0 Italia Napoli v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
GK Elia Caprile 25 Agustus 2001 (umurย 24) 0 0 Italia Cagliari v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
GK Marco Carnesecchi 1 Juli 2000 (umurย 25) 0 0 Italia Atalanta v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
GK Guglielmo Vicario 7 Oktober 1996 (umurย 29) 5 0 Inggris Tottenham Hotspur v. ย Norwegia, 16 November 2025

DF Alessandro Bastoni 13 April 1999 (umurย 27) 43 3 Italia Inter Milan v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
DF Federico Dimarco 10 November 1997 (umurย 28) 38 3 Italia Inter Milan v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
DF Leonardo Spinazzola 25 Maret 1993 (umurย 33) 27 0 Italia Napoli v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
DF Gianluca Mancini 17 April 1996 (umurย 30) 20 2 Italia Roma v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
DF Andrea Cambiaso 20 Februari 2000 (umurย 26) 19 3 Italia Juventus v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
DF Riccardo Calafiori 19 Mei 2002 (umurย 24) 14 0 Inggris Arsenal v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
DF Alessandro Buongiorno 6 Juni 1999 (umurย 27) 12 0 Italia Napoli v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
DF Federico Gatti 24 Juni 1998 (umurย 27) 8 0 Italia Juventus v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
DF Giorgio Scalvini 11 Desember 2003 (umurย 22) 8 0 Italia Atalanta v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
DF Diego Coppola 28 Desember 2003 (umurย 22) 2 0 Prancis Paris FC v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
DF Giovanni Di Lorenzo 4 Agustus 1993 (umurย 32) 53 5 Italia Napoli v. ย Norwegia, 16 November 2025
DF Raoul Bellanova 17 Mei 2000 (umurย 26) 6 0 Italia Atalanta v. ย Norwegia, 16 November 2025
DF Matteo Gabbia 21 Oktober 1999 (umurย 26) 0 0 Italia AC Milan v. ย Norwegia, 16 November 2025
DF Destiny Udogie 28 November 2002 (umurย 23) 12 0 Inggris Tottenham Hotspur v. ย Israel, 14 October 2025
DF Giovanni Leoni 21 Desember 2006 (umurย 19) 0 0 Inggris Liverpool v. ย Israel, 8 September 2025
DF Davide Zappacosta 11 Juni 1992 (umurย 33) 14 0 Italia Atalanta v. ย Moldova, 9 June 2025
DF Daniele Rugani 29 Juli 1994 (umurย 31) 7 0 Italia Fiorentina v. ย Moldova, 9 June 2025
DF Luca Ranieri 23 April 1999 (umurย 27) 1 0 Italia Fiorentina v. ย Moldova, 9 June 2025
DF Francesco Acerbi 10 Februari 1988 (umurย 38) 34 1 Italia Inter Milan v. ย Norwegia, 6 June 2025

MF Nicolรฒ Barella 7 Februari 1997 (umurย 29) 70 10 Italia Inter Milan v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
MF Bryan Cristante 3 Maret 1995 (umurย 31) 48 2 Italia Roma v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
MF Manuel Locatelli 8 Januari 1998 (umurย 28) 36 3 Italia Juventus v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
MF Davide Frattesi 22 September 1999 (umurย 26) 34 8 Italia Inter Milan v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
MF Sandro Tonali 8 Mei 2000 (umurย 26) 32 4 Inggris Newcastle United v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
MF Samuele Ricci 21 Agustus 2001 (umurย 24) 11 0 Italia AC Milan v. ย Norwegia, 16 November 2025
MF Hans Nicolussi Caviglia 18 Juni 2000 (umurย 25) 0 0 Italia Parma v. ย Israel, 14 October 2025
MF Nicolรฒ Rovella 4 Desember 2001 (umurย 24) 4 0 Italia Lazio v. ย Israel, 8 September 2025
MF Giovanni Fabbian 14 Januari 2003 (umurย 23) 0 0 Italia Fiorentina v. ย Israel, 8 September 2025
MF Cesare Casadei 10 Januari 2003 (umurย 23) 0 0 Italia Torino v. ย Moldova, 9 June 2025

FW Giacomo Raspadori 18 Februari 2000 (umurย 26) 46 11 Italia Atalanta v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
FW Mateo Retegui 29 April 1999 (umurย 27) 28 11 Arab Saudi Al-Qadsiah v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
FW Moise Kean 28 Februari 2000 (umurย 26) 26 13 Italia Fiorentina v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
FW Gianluca Scamacca 1 Januari 1999 (umurย 27) 22 1 Italia Atalanta v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
FW Matteo Politano 3 Agustus 1993 (umurย 32) 20 4 Italia Napoli v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
FW Nicolรฒ Cambiaghi 28 Desember 2000 (umurย 25) 1 0 Italia Bologna v. ย Bosnia dan Herzegovina, 31 March 2026
FW Federico Chiesa 25 Oktober 1997 (umurย 28) 51 7 Inggris Liverpool v. ย Irlandia Utara, 26 March 2026 INJ
FW Riccardo Orsolini 24 Januari 1997 (umurย 29) 13 2 Italia Bologna v. ย Norwegia, 16 November 2025
FW Mattia Zaccagni 16 Juni 1995 (umurย 30) 13 1 Italia Lazio v. ย Norwegia, 16 November 2025
FW Roberto Piccoli 27 Januari 2001 (umurย 25) 1 0 Italia Fiorentina v. ย Israel, 14 October 2025
FW Daniel Maldini 11 Oktober 2001 (umurย 24) 6 0 Italia Lazio v. ย Israel, 8 September 2025
FW Lorenzo Lucca 10 September 2000 (umurย 25) 5 0 Inggris Nottingham Forest v. ย Moldova, 9 June 2025

  • INJ Withdrew due to injury

Catatan pemain

sunting

Penampilan terbanyak

sunting
Gianluigi Buffon adalah pemain dengan penampilan terbanyak dalam sejarah Italia dengan 176 penampilan.

Per 15 November 2021 pemain dengan penampilan terbanyak untuk Italia.

Peringkat Pemain Penampilan Gol Periode
1 Gianluigi Buffon 176 0 1997โ€“2018
2 Fabio Cannavaro 136 2 1997โ€“2010
3 Paolo Maldini 126 7 1988โ€“2002
4 Daniele De Rossi 117 21 2004โ€“2017
5 Andrea Pirlo 116 13 2002โ€“2015
6 Giorgio Chiellini 117 8 2004โ€“2022
Leonardo Bonucci 121 8 2010โ€“2023
8 Dino Zoff 112 0 1968โ€“1983
9 Gianluca Zambrotta 98 2 1999โ€“2010
10 Giacinto Facchetti 94 3 1963โ€“1977

Pemain yang dicetak tebal masih aktif bermain bersama Italia.

Pencetak gol terbanyak

sunting
Luigi Riva adalah pencetak gol terbanyak dalam sejarah Italia dengan 35 gol.

Per 15 November 2021 pemain dengan gol terbanyak untuk Italia.

Peringkat Pemain Gol Penampilan Perbandingan Periode
1 Luigi Riva 35 42 0.83 1965โ€“1974
2 Giuseppe Meazza 33 53 0.62 1930โ€“1939
3 Silvio Piola 30 34 0.88 1935โ€“1952
4 Roberto Baggio 27 56 0.48 1988โ€“2004
Alessandro Del Piero 91 0.3 1995โ€“2008
6 Adolfo Baloncieri 25 47 0.53 1920โ€“1930
Filippo Inzaghi 57 0.44 1997โ€“2007
Alessandro Altobelli 61 0.41 1980โ€“1988
9 Christian Vieri 23 49 0.47 1997โ€“2005
Francesco Graziani 64 0.36 1975โ€“1983

Rekor tim

sunting

Rekor kompetitif

sunting

ย  Juaraย ย ย  Juara keduaย ย ย  Juara ketigaย ย ย  Juara keempatย ย 

Piala Dunia FIFA

sunting
Rekor Piala Dunia FIFA Rekor kualifikasi
Tahun Putaran Posisi Mn M S* K GM GK Mn M S K GM GK
Uruguay 1930 Tidak ikut serta Tidak ikut serta
Italia 1934 Juara 1 5 4 1 0 12 3 1 1 0 0 4 0
Prancis 1938 Juara 1 4 4 0 0 11 5 Lolos otomatis sebagai juara bertahan
Brasil 1950 Babak penyisihan grup 7 2 1 0 1 4 3 Lolos otomatis sebagai juara bertahan
Swiss 1954 Babak penyisihan grup 10 3 1 0 2 6 7 2 2 0 0 7 2
Swedia 1958 Tidak lolos 4 2 0 2 5 5
Chili 1962 Babak penyisihan grup 9 3 1 1 1 3 2 2 2 0 0 10 2
Inggris 1966 Babak penyisihan grup 9 3 1 0 2 2 2 6 4 1 1 17 3
Meksiko 1970 Juara kedua 2 6 3 2 1 10 8 4 3 1 0 10 3
Jerman Barat 1974 Babak penyisihan grup 10 3 1 1 1 5 4 6 4 2 0 12 0
Argentina 1978 Juara keempat 4 7 4 1 2 9 6 6 5 0 1 18 4
Spanyol 1982 Juara 1 7 4 3 0 12 6 8 5 2 1 12 5
Meksiko 1986 Babak 16 besar 12 4 1 2 1 5 6 Lolos otomatis sebagai juara bertahan
Italia 1990 Juara ketiga 3 7 6 1 0 10 2 Lolos otomatis sebagai tuan rumah
Amerika Serikat 1994 Juara kedua 2 7 4 2 1 8 5 10 7 2 1 22 7
Prancis 1998 Perempat final 5 5 3 2 0 8 3 10 6 4 0 13 2
Korea Selatan Jepang 2002 Babak 16 besar 15 4 1 1 2 5 5 8 6 2 0 16 3
Jerman 2006 Juara 1 7 5 2 0 12 2 10 7 2 1 17 8
Afrika Selatan 2010 Babak penyisihan grup 26 3 0 2 1 4 5 10 7 3 0 18 7
Brasil 2014 Babak penyisihan grup 22 3 1 0 2 2 3 10 6 4 0 19 9
Rusia 2018 Tidak lolos 12 7 3 2 21 9
Qatar 2022 9 4 4 1 13 3
Amerika Serikat Meksiko Kanada 2026 10 7 1 2 24 13
Total 4 Gelar 18/21 83 45 21 17 128 77 128 85 31 12 258 85
* Dinyatakan seri termasuk pertandingan babak gugur yang ditentukan dengan adu penalti.
** Warna emas menunjukkan pemenang pada turnamen tersebut. Kotak berwarna merah menunjukkan tuan rumah pada turnamen tersebut.

Kejuaraan Eropa UEFA

sunting
Rekor Kejuaraan Eropa UEFA Rekor kualifikasi
Tahun Putaran Posisi Mn M S* K GM GK Mn M S K GM GK
Prancis 1960 Tidak ikut serta Tidak ikut serta
Spanyol 1964 Tidak lolos 4 2 1 1 8 3
Italia 1968 Juara 1 3 1 2 0 3 1 8 6 1 1 21 6
Belgia 1972 Tidak lolos 8 4 3 1 13 6
Republik Federal Sosialis Yugoslavia 1976 6 2 3 1 3 3
Italia 1980 Juara keempat 4 4 1 3 0 2 1 Lolos otomatis sebagai tuan rumah
Prancis 1984 Tidak lolos 8 1 3 4 6 12
Jerman Barat 1988 Semifinal 3 4 2 1 1 4 3 8 6 1 1 16 4
Swedia 1992 Tidak lolos 8 3 4 1 12 5
Inggris 1996 Babak penyisihan grup 10 3 1 1 1 3 3 10 7 2 1 20 6
Belgia Belanda 2000 Juara kedua 2 6 4 1 1 9 4 8 4 3 1 13 5
Portugal 2004 Babak penyisihan grup 9 3 1 2 0 3 2 8 5 2 1 17 4
Austria Swiss 2008 Perempat final 8 4 1 2 1 3 4 12 9 2 1 22 9
Polandia Ukraina 2012 Juara kedua 2 6 2 3 1 6 7 10 8 2 0 20 2
Prancis 2016 Perempat final 5 5 3 1 1 6 2 10 7 3 0 16 7
Eropa 2020 Juara 1 7 5 2 0 13 4 10 10 0 0 37 4
Jerman 2024 16 besar 14 4 1 1 2 3 5 8 4 2 2 16 9
Total 2 Gelar 11/17 49 22 19 8 55 36 126 78 32 16 240 85
* Dinyatakan seri termasuk pertandingan babak gugur yang ditentukan dengan adu penalti.
** Warna emas menunjukkan pemenang pada turnamen tersebut. Kotak berwarna merah menunjukkan tuan rumah pada turnamen tersebut.
*** Kejuaraan Eropa UEFA 2020 diselenggarakan di sebelas negara berbeda di seluruh penjuru Eropa. Termasuk salah satu tuan rumahnya adalah Italia.

Liga Negara UEFA

sunting
Rekor Liga Negara UEFA
Tahun Divisi Grup Mn M S* K GM GK P/R Peringkat
Portugal 2018โ€“2019 A 3 4 1 2 1 2 2 8
Italia 2020โ€“2021 A 1 8 4 3 1 10 5 3
Belanda 2022โ€“2023 A 3 8 4 2 2 12 11 3
Jerman 2024โ€“2025 A 2 8 4 2 2 17 13 5
Total 24 11 9 4 34 24 3
* Dinyatakan seri termasuk pertandingan babak gugur yang ditentukan dengan adu penalti.
** Kotak berwarna merah menunjukkan tuan rumah pada turnamen tersebut.

Piala Konfederasi FIFA

sunting
Rekor Piala Konfederasi FIFA
Tahun Putaran Posisi Mn M S* K GM GK
Arab Saudi 1992 Tidak ada tim dari Eropa yang berpartisipasi
Arab Saudi 1995 Tidak lolos
Arab Saudi 1997
Meksiko 1999
Korea Selatan Jepang 2001
Prancis 2003 Tidak ikut serta
Jerman 2005 Tidak lolos
Afrika Selatan 2009 Babak penyisihan grup 5 3 1 0 2 3 5
Brasil 2013 Juara ketiga 3 5 2 2 1 10 10
Rusia 2017 Tidak lolos
Total Juara ketiga 2/10 8 3 2 3 13 15
* Dinyatakan seri termasuk pertandingan babak gugur yang ditentukan dengan adu penalti.

Kehormatan

sunting

Gelar

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ "The FIFA/Coca-Cola Men's World Ranking". FIFA. 1 April 2026. Diakses tanggal 1 April 2026.
  2. ^ Peringkat Elo berubah dibandingkan dengan satu tahun yang lalu."World Football Elo Ratings". eloratings.net. 19 Januari 2024. Diakses tanggal 19 Januari 2024.
  3. ^ "Nazionale A" (dalam bahasa Italia). FIGC. Diakses tanggal 19 June 2025.
  4. ^ "Baldini punta sulla linea verde per le amichevoli con Lussemburgo e Grecia: Donnarumma guida il gruppo" (dalam bahasa Italia). Italian Football Federation. 25 May 2026. Diakses tanggal 25 May 2026.

Pranala luar

sunting