Ratu Kalinyamat
Lukisan Ratu Kalinyamat karya Jatmiko
LahirRatna Kencana
l.k. 1520
Indonesia Demak (Demak Bintoro)
Meninggal1579
Indonesia Jepara (Kalinyamat)
Tempat tinggalJepara Jawa Tengah
PekerjaanRatu (Kerajaan Kalinyamat)
Dikenal atasRatu Kerajaan Kalinyamat
GelarKanjeng Ratu Kalinyamat
Suami/istriSultan Hadlirin
Relief pada makam Ratu Kalinyamat di Masjid Mantingan

Ratu Kalinyamat (meninggal sekitar tahun 1579) adalah penguasa Jepara pada abad ke-16. Ia merupakan puteri Sultan Trenggana, Raja raja ketiga Kesultanan Demak. Ratu Kalinyamat menjabat sebagai Bupati di Jepara dan tercatat terlibat dalam upaya perlawanan Jepara terhadap kekuasaan Portugis di Malaka. Pada masa pemerintahannya, Jepara berkembang sebagai salah satu kekuatan maritim di pesisir utara Jawa.[1] Pemerintah Indonesia menyematkan gelar pahlawan nasional kepada Ratu Kalinyamat pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2023.[2][3]

Latar belakang

sunting

Ratu Kalinyamat memiliki nama asli Retna Kencana, juga dikenal sebagai Ratu Pembayun atau Ratna Kencana. Ia adalah putri Sultan Trenggana (memerintah 1521โ€“1546), raja Demak ketiga, sekaligus cucu Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak. Sebagai anggota keluarga inti Dinasti Demak, Retna Kencana tumbuh dalam lingkungan elite politik dan keagamaan Jawa pesisir yang memiliki pengaruh besar dalam perdagangan dan dakwah Islam.[4]

Pada usia remaja, Retna Kencana dinikahkan dengan Pangeran Kalinyamat, yang kemudian bergelar Pangeran Hadiri atau Susuhunan Kalinyamat. Melalui pernikahan ini, ia tidak langsung naik takhta, melainkan mendampingi suaminya sebagai penguasa Jepara, sebuah wilayah penting di pesisir utara Jawa yang berfungsi sebagai pelabuhan utama Demak.[5]

Asal-usul Pangeran Kalinyamat

sunting

Pangeran Kalinyamat dikenal sebagai sosok yang datang dari luar Pulau Jawa, meski asal-usulnya memiliki berbagai versi. Berdasarkan tradisi Jepara, Pangeran Kalinyamat awalnya bernama Win-tang,[1] seorang pedagang dari Tiongkok yang terseret ombak hingga terdampar di pesisir Jepara. Setelah itu, ia menuntut ilmu di bawah arahan Sunan Kudus.[6]

Menurut versi lain, Win-tang berasal dari Aceh dengan nama lahir Pangeran Toyib, putra Sultan Mughayat Syah (1514โ€“1528). Ia pernah mengunjungi Tiongkok dan diangkat sebagai anak oleh seorang menteri bernama Tjie Hwio Gwan, yang memberinya nama baru, Tjie Bin Thang. Dalam catatan Jawa, nama itu kemudian dikenal sebagai Win-tang.[7]

Win-tang beserta ayah angkatnya akhirnya berpindah ke Jawa, di mana ia mendirikan sebuah pemukiman yang kelak dikenal sebagai desa Kalinyamat, sekarang termasuk Kecamatan Kalinyamatan. Dari tempat inilah ia memperoleh julukan Pangeran Kalinyamat. Ia menikahi Retna Kencana, putri Sultan Demak yang kemudian dikenal sebagai Ratu Kalinyamat, yang kemudian membuatnya resmi menjadi bagian dari keluarga kerajaan Demak dan dianugerahi gelar Pangeran Hadiri.[8]

Dalam pemerintahan di Jepara, Pangeran Kalinyamat dan Ratu Kalinyamat memerintah bersama. Ayah angkatnya, Tjie Hwio Gwan, diangkat sebagai patih dengan gelar Sungging Badar Duwung, yang turut memperkenalkan dan mengajarkan seni ukir kepada masyarakat setempat, membentuk dasar perkembangan budaya lokal Jepara.[9]

Kematian Pangeran Kalinyamat

sunting

Pada tahun 1549, Sunan Prawata, raja keempat Kesultanan Demak, dibunuh oleh utusan Arya Penangsang, sepupunya yang menjabat sebagai adipati Jipang. Setelah peristiwa tersebut, Ratu Kalinyamat menemukan keris Kyai Betok milik Sunan Kudus menancapkannya pada tubuh kakaknya. Bersama suaminya, Pangeran Kalinyamat, ia pergi ke Kudus untuk menuntut penjelasan. Sunan Kudus, pendukung Arya Penangsang dalam perebutan takhta Demak pasca wafatnya Sultan Trenggana (1546), menyatakan bahwa tindakan itu merupakan balasan atas kematian ayah Arya Penangsang yang dibunuh oleh Sunan Prawata. Kecewa dengan jawaban tersebut, Ratu Kalinyamat dan Pangeran Kalinyamat memutuskan kembali ke Jepara. Dalam perjalanan, mereka diserang oleh pengikut Arya Penangsang, dan Pangeran Kalinyamat tewas. Lokasi kematiannya kemudian dikenal sebagai Desa Prambatan, karena jenazahnya konon merambat di tanah sebelum berhenti.[10][11]

Ratu Kalinyamat melanjutkan perjalanan membawa jenazah Pangeran Kalinyamat, melewati sejumlah wilayah yang kemudian memperoleh nama berdasarkan peristiwa tersebut. Di sebuah sungai, darah jenazah mengubah warna air menjadi ungu, sehingga daerah itu dikenal sebagai Kaliwungu. Ia kemudian melewati Pringtulis dan Mayong, dinamai demikian karena Ratu Kalinyamat berjalan sempoyongan atau moyang-moyong. Selanjutnya jenazah melewati Purwogondo, tempat awal tercium bau jenazah, lalu Pecangaan, sebelum akhirnya tiba di Mantingan. Peristiwa ini menjadi bagian dari cerita rakyat yang menghubungkan perjalanan Ratu Kalinyamat dengan penamaan sejumlah wilayah di Jepara.[6][10]

Pemerintahan

sunting

Kenaikan takhta

sunting

Setelah kematian suaminya, Retna Kencana melakukan pertapaan di Watu Gilang, Bukit Donorojo.[12] Tradisi Jawa menggambarkan pertapaan tersebut sebagai โ€œtelanjangโ€, yang dipahami secara simbolik sebagai sumpah hidup prihatin dan penolakan terhadap kemewahan hingga kematian Arya Penangsang, yang bertanggung jawab atas kematian suami dan saudara laki-lakinya. Naskah babad dan tradisi lisan menyebutkan bahwa selama masa pertapaan tersebut, Retna Kencana berada dalam ancaman sehingga berpindah ke tempat yang lebih aman dan terhindar dari upaya pembunuhan. Setelah Arya Penangsang tewas, Retna Kencana diangkat sebagai penguasa Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat.[13]

Penulis-penulis Jawa tradisional kerap menggunakan tamsil atau perumpamaan dalam penyampaian peristiwa sejarah. Oleh karena itu, kisah pertapaan โ€œtelanjangโ€ tidak dipahami secara harfiah, melainkan sebagai simbol tekad Ratu Kalinyamat. Dalam Babad Tanah Jawi, penekanan diberikan pada sikap dan keteguhan Ratu Kalinyamat yang memilih meninggalkan pemerintahan sementara untuk bertapa dan memohon petunjuk Tuhan, sebelum memperoleh dukungan dari Sultan Pajang dengan bantuan Ki Pemanahan dan Ki Penjawi.[14]

Kejayaan Jepara

sunting

Ratu Kalinyamat memerintah wilayah jepara pada periode 1546โ€“1579. Selama masa pemerintahannya, ia memegang otoritas politik dan militer serta terlibat dalam berbagai ekspedisi militer melawan kekuatan Portugis. Sumber Portugis, terutama catatan Meilink-Roelofsz,[15] menyebut Jepara sebagai pusat perdagangan yang ramai dan makmur. Pada kurun waktu antara 1549 hingga 1579, Kesultanan Kalinyamat mencapai puncak pengaruhnya dalam dunia maritim. Pada masa ini, kerajaan mengembangkan pelabuhan-pelabuhan dan melaksanakan sejumlah ekspedisi laut. Meskipun ekspedisi tersebut tidak menghasilkan penguasaan wilayah secara berkelanjutan, sumber-sumber sejarah mencatat keterlibatan berkelanjutan Ratu Kalinyamat dalam perlawanan terhadap Portugis, termasuk ekspedisi ke Ambon pada tahun 1565. Masa pemerintahannya berlangsung dalam konteks sejarah ketika penguasa perempuan juga memegang peranan penting di wilayah lain, seperti Aceh dan kawasan pesisir utara Jawa.[16]

Wilayah Kesultanan Kalinyamat pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, meliputi Jepara, Kudus, Pati, Juwana, Rembang, dan Mataram. Jepara juga menjalin hubungan dagang dengan daerah lain seperti Malaka, Bali, Maluku, Makassar, dan Banjarmasin. Kota ini menjadi pusat produksi dan distribusi komoditas maritim serta kerajinan, termasuk seni ukir yang kelak menjadi identitas Jepara.[1][4]

Serangan Terhadap Portugis

sunting

Serangan Pertama

sunting

Ratu Kalinyamat kembali menjabat sebagai bupati Jepara. Setelah wafatnya Arya Penangsang pada tahun 1549. Pada saat itu wilayah Demak, Jepara, dan Jipang berada di bawah kekuasaan Pajang yang dipimpin oleh Raja Hadiwijaya. Meskipun demikian, Hadiwijaya tetap menghormati Ratu Kalinyamat sebagai sosok senior yang berpengaruh.[1][17]

Seperti bupati Jepara sebelumnya yaitu Pati Unus, Ratu Kalinyamat memiliki kebijakan yang menentang kehadiran Portugis. Pada tahun 1550, ia mengerahkan sekitar 4.000 prajurit Jepara yang menaiki 40 kapal untuk memenuhi permintaan Sultan Johor dalam upaya merebut kembali Malaka dari kekuasaan Eropa, yang pada masa itu merupakan pusat perdagangan rempah-rempah.[16]

Pasukan Jepara kemudian bergabung dengan armada Persekutuan Melayu, membentuk kekuatan sekitar 200 kapal perang. Serangan gabungan dari arah utara berhasil merebut sebagian wilayah Malaka, meskipun Portugis melakukan perlawanan. Pasukan Persekutuan Melayu terpaksa mundur, sementara pasukan Jepara tetap bertahan. Setelah pemimpin pasukan gugur, tentara Jepara akhirnya ditarik mundur. Pertempuran lanjutan di laut dan pantai menewaskan sekitar 2.000 prajurit Jepara.[18] Angin badai menyebabkan dua kapal mereka kandas di pantai Malaka dan jatuh ke tangan Portugis. Dari seluruh pasukan yang berangkat, hanya kurang dari separuh yang berhasil kembali ke Jawa. Ratu Kalinyamat tetap gigih dalam perlawanan terhadap Portugis. Pada tahun 1565, Ratu Kalinyamat memenuhi permintaan masyarakat Hitu di Ambon untuk menghadapi gangguan dari Portugis dan kelompok Hative.[19]

Serangan Kedua

sunting

Pada tahun 1564, Sultan Alauddin Al - Qahhar dari Kesultanan Aceh meminta bantuan Demak untuk menyerang Portugis di Malaka. Saat itu, Demak dipimpin Arya Pangiri, putra Sunan Prawata, yang dikenal mudah curiga, sehingga utusan Aceh dibunuh. Aceh kemudian tetap melancarkan serangan ke Malaka pada 1567 tanpa dukungan Jawa, namun serangan tersebut gagal. Pada 1573, Sultan Aceh kembali meminta bantuan, kali ini kepada Ratu Kalinyamat. Ia mengirim 300 kapal berisi sekitar 15.000 prajurit Jepara, dipimpin oleh Ki Demang Laksamana. Pasukan baru tiba di Malaka pada Oktober 1574, setelah pasukan Aceh sebelumnya telah dikalahkan Portugis. Jepara menembaki Malaka dari Selat Malaka, mendarat, dan membangun pertahanan, tetapi akhirnya pertahanannya ditembus Portugis. Sekitar 30 kapal terbakar dan enam kapal perbekalan direbut. Dalam kondisi semakin lemah, pasukan Jepara memutuskan kembali ke Jawa, dengan hanya sekitar sepertiga dari jumlah awal yang selamat.[20][21] Meskipun mengalami kekalahan, Ratu Kalinyamat tercatat sebagai pemimpin wanita yang gagah berani. Portugis menyebutnya rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige Dame, yang berarti โ€œRatu Jepara, wanita kaya dan berkuasa, perempuan pemberani".[22]

Anak Angkat

sunting

Ratu Kalinyamat tidak memiliki anak kandung. Ia mengasuh beberapa kerabat sebagai anak angkat, antara lain Pangeran Timur Rangga Jumena, Arya Pangiri, dan Pangeran Arya Jepara, yang masing-masing memiliki peran penting dalam politik Jawa pasca-Demak.

Pangeran Timur Rangga Jumena

sunting

Pangeran Timur Rangga Jumena adalah putra bungsu dari Sultan Trenggana yang kemudian menjabat sebagai bupati Madiun.[23]

Arya Pangiri

sunting

Arya Pangiri adalah putra dari Sunan Prawoto, raja keempat Kesultanan Demak, yang kemudian menjadi penguasa Demak sebelum berkuasa di Pajang. Ia awalnya menjabat sebagai adipati (bupati) Demak setelah menikah dengan Ratu Pembayun, putri Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Setelah Sultan Hadiwijaya mangkat pada tahun 1583, terjadi perebutan kekuasaan di Pajang antara putra mahkota, Pangeran Benawa, dan Arya Pangiri, serta dukungan ulama pesisir. Dalam konflik ini Arya Pangiri berhasil menyingkirkan Pangeran Benawa dan naik takhta Pajang dengan gelar Sultan Ngawantipura pada tahun tersebut. Pemerintahannya dikenal lebih fokus pada ambisi militer, terutama konflik dengan kerajaan Mataram, sehingga mengabaikan kesejahteraan rakyat. Kekuasaan Arya Pangiri berakhir pada tahun 1586 ketika Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya dari Mataram menyerbu Pajang. Arya Pangiri dikalahkan dan kemudian dikembalikan ke Demak, sementara Pangeran Benawa mengambil alih kepemimpinan Pajang.[24][25][26]

Pangeran Arya Jepara

sunting

Pangeran Arya Jepara merupakan anak dari Maulana Hasanuddin, sultan pertama Kesultanan Banten, dan seorang anggota keluarga keraton Demak melalui ibunya, Ratu Ayu Kirana, saudara perempuan Sultan Trenggana. Pangeran ini diangkat dan dibesarkan di lingkungan istana Kalinyamat, di mana ia diperlakukan seperti anggota keluarga kerajaan dan kelak menjadi penguasa Jepara setelah wafatnya Ratu Kalinyamat. Setelah kematian Sultan Maulana Yusuf dari Banten pada sekitar tahun 1580, putra mahkota Banten masih di bawah umur. Pangeran Arya Jepara kemudian berupaya merebut takhta Kesultanan Banten, yang memicu konflik bersenjata di wilayah tersebut. Dalam peristiwa pertempuran tersebut, pasukan yang dipimpin Arya Jepara harus menarik diri setelah Ki Demang Laksamana, komandan militernya, gugur dalam pertempuran melawan Patih Mangkubumi dari Kesultanan Banten. Setelah gagal dalam perebutan kekuasaan di Banten, Arya Jepara kembali ke Kalinyamat. Namun, pada akhir abad keโ€‘16, kerajaan Kalinyamat diserang oleh pasukan Panembahan Senopati dari Kesultanan Mataram yang memperluas pengaruhnya di Jawa. Dalam serangan tersebut, kota Jepara berhasil diduduki dan pusat pemerintahan Kalinyamat mengalami kehancuran, menandai berakhirnya otonomi politik kerajaan tersebut di bawah kekuasaan Mataram. [25][26][27]

Pengganti Ratu Kalinyamat

sunting

Ratu Kalinyamat meninggal dunia sekitar tahun 1579 dan dimakamkan tidak jauh dari pusara Pangeran Kalinyamat, tepatnya di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara.[28] Selama memimpin, Ratu Kalinyamat juga berperan dalam membimbing sejumlah tokoh muda yang kemudian menjadi figur penting dalam politik Jawa dan Banten. Tokoh pertama adalah adiknya, Pangeran Timur Rangga Jumena, putra bungsu Sultan Trenggana, yang kemudian memegang jabatan sebagai bupati Madiun. Tokoh kedua, Arya Pangiri, adalah keponakannya dari Sunan Prawata, yang kelak menjadi bupati Demak. Sementara itu, sepupunya, Pangeran Arya Jepara, putra Ratu Ayu Kirana (saudara perempuan Sultan Trenggana), juga mendapat bimbingan dari Ratu Kalinyamat.[29]

Penghargaan

sunting

Pada 10 November 2023, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Ratu Kalinyamat atas jasanya dalam perjuangan melawan kolonialisme dan kepemimpinannya sebagai penguasa perempuan Nusantara.[30]

Kepustakaan

sunting
  • Babad Tanah Jawi. 2007. (terj.). Yogyakarta: Narasi
  • De Graaf HJ, Pigeaud ThGT. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
  • Hayati dkk. 2000. Peranan Ratu Kalinyamat di jepara pada Abad XVI. Jakarta: Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional.

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d Hayati, Chusnul (2000). Peranan Ratu Kalinyamat di Jepara pada abad XVI. Departemen Pendidikan Nasional.
  2. ^ https://setkab.go.id/presiden-jokowi-anugerahkan-gelar-pahlawan-nasional-kepada-enam-tokoh/
  3. ^ https://osf.io/ptkyd/
  4. ^ a b Wiyatmi; Sari, Swatika; Liliani, Else (2021). Para raja dan pahlawan perempuan, serta bidadari dalam folklor Indonesia. Cantrik Pustaka. ISBNย 978-602-0708-82-9.
  5. ^ Supriyono, Agustinus. (2013). TINJAUAN HISTORIS JEPARA SEBAGAI KERAJAAN MARITIM DAN KOTA PELABUHAN. Paramita: Historical Studies Journal. 23.
  6. ^ a b Fakir, Suparman Al (2023-10-14). LAJER GLAGAHWANGI. Uwais Inspirasi Indonesia. hlm.ย 258. ISBNย 978-623-133-162-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ^ M.Si, Drs M. Rizal Qasim (2019-09-30). Di Balik Runtuhnya Majapahit Dan Berdirinya Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa. Araska Publisher. ISBNย 978-623-7145-66-0.
  8. ^ Atmosiswartoputra, Mulyono (2020-04-24). Perempuan-Perempuan Pengukir Sejarah. Bhuana Ilmu Populer. ISBNย 978-602-455-271-8.
  9. ^ ACHMAD, SRI WINTALA (2020). MELACAK GERAKAN PERLAWANAN DAN LAKU SPIRITUALITAS RATU KALINYAMAT. Araska Publisher. ISBNย 978-623-7910-55-8.
  10. ^ a b ADJI, KRISNA BAYU (2018). Ensiklopedi Raja-Raja dan Istri-Istri Raja di Tanah Jawa Dari Wangsa Sanjaya hingga Hamengku Buwono IX. Araska Publisher. ISBNย 978-602-5805-23-3.
  11. ^ Santoso, Suwito (1987). Babad Tanah Jawi: Galuh Mataram. Citra Jaya Murti.
  12. ^ Mardiyono, Peri (2020). Tuah Bumi Mataram: Dari Panembahan Senopati hingga Amangkurat II. Araska Publisher. hlm.ย 292. ISBNย 9786237537793. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  13. ^ Mardiyono, Peri (2020). Tuah Bumi Mataram: Dari Panembahan Senopati hingga Amangkurat II. Araska Publisher. hlm.ย 255. ISBNย 9786237537793. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  14. ^ Olthof, W. L. (2017-12-17). Babad Tanah JAWI: Mulai dari Nabi Adam Sampai Runtuhnya Mataram. Narasi. hlm.ย 67. ISBNย 978-979-16853-3-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  15. ^ Meilink-Roelofsz, Marie Antoinette Petronella (1962). Asian Trade and European Influence in the Indonesian Archipelago Between 1500 and about 1630 (dalam bahasa Inggris). Nijhoff.
  16. ^ a b Worthy, Kenneth; Allison, Elizabeth; Bauman, Whitney (2018-11-09). After the Death of Nature: Carolyn Merchant and the Future of Human-Nature Relations (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBNย 978-1-351-58290-2.
  17. ^ Abdullah, Muhlis (2020). HURU-HARA MAJAPAHIT DAN BERDIRINYA KERAJAAN ISLAM DI JAWA. Araska Publisher. ISBNย 978-623-7537-49-6.
  18. ^ "Sosok Ratu Kalinyamat, Kegigihannya Membebaskan Malaka Diakui Portugis". SINDOnews Daerah. Diakses tanggal 2026-04-01.
  19. ^ "Hitu dan Ratu Kalinyamat Koalisi Erat Perjuangan Bangsa | Media Indonesia". EpaperMI (dalam bahasa Inggris). 2021-11-06. Diakses tanggal 2026-04-01.
  20. ^ Laily, Anis Nur; Prakoso, Lukman Yudho; Putri, Puja Sari (2023-08-29). "The Role of Ratu Kalinyamat in Past Maritime Successes: As a Study of Archipelago Sea Defense". Ministrate: Jurnal Birokrasi dan Pemerintahan Daerah (dalam bahasa Inggris). 5 (3): 282โ€“290. doi:10.15575/jbpd.v5i3.28912. ISSNย 2714-8130.
  21. ^ Emalia, Imas; Pradjoko, Didik (2025-12-05). "The Maritime Strategy of Queen Kalinyamat in Shaping the Demak-Jepara Sultanate, 1549โ€“1579". JAWI (dalam bahasa Inggris). 8 (2): 128โ€“141. doi:10.24042/00202582804900. ISSNย 2622-5530.
  22. ^ Barros, Joรฃo de (1778). Da Asia de Joรฃo de Barros e de Diogo de Couto. Lisboa: Na Regia officina typografica.
  23. ^ M.Si, Drs M. Rizal Qasim (2019-09-30). Di Balik Runtuhnya Majapahit Dan Berdirinya Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa. Araska Publisher. ISBNย 978-623-7145-66-0.
  24. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2013-12-03. Diakses tanggal 2013-11-27.
  25. ^ a b Graaf, H. J. de (2012-12-11). Islamic States in Java 1500-1700: Eight Dutch Books and Articles by Dr. H.J. de Graaf (dalam bahasa Inggris). BRILL. ISBNย 978-90-04-28700-6.
  26. ^ a b Ricklefs, M. C. (2008). "A History of Modern Indonesia since c .1200". doi:10.5040/9781350394582.
  27. ^ Isnaeni, Hendri F. (2019-06-18). "Pangeran Jepara Menuntut Takhta Banten". Historia.ID. Diakses tanggal 2026-04-01.
  28. ^ Kompasiana.com (2025-05-31). "Masjid dan Makam Mantingan; Warisan budaya Ratu Kalinyamat". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2026-02-08.
  29. ^ Sulistyanto, B. (2019). Ratu Kalinyamat: Sejarah atau Mitos? Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
  30. ^ Safitri, Eva. "Jokowi Resmi Beri Gelar Pahlawan Nasional ke 6 Tokoh". detik.com. Detik. Diakses tanggal 10 November 2023.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Kerajaan Kalinyamat

Kalinyamat mendapatkan Jepara, Pati, Juwana, dan Rembang. Puncak kejayaannya terjadi di pertengahan abad ke-16 ketika Kalinyamat dipimpin oleh Ratu Kalinyamat

Kesultanan Demak

Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri, penguasa Jepara atau Kalinyamat (Suami Ratu Kalinyamat). Hal ini menyebabkan adipati-adipati di bawah Demak memusuhi

Kabupaten Jepara

Ratu Retno Kencono bersedia turun dari pertapaan dan dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar Nimas Ratu Kalinyamat. Pada masa pemerintahan Ratu

Sultan Hadlirin

Ratu Kalinyamat kecewa. Ratu Kalinyamat bersama suaminya pulang ke Jepara. Di tengah jalan mereka diserbu anak buah Arya Penangsang. Ratu Kalinyamat berhasil

Pangeran Arya Jepara

Pangeran Arya Jepara adalah raja pengganti Ratu Kalinyamat yang menguasai Jepara, Kudus, Pati, Hutan Mentaok (Mataram). Pangeran Arya Jepara adalah adik

Arya Penangsang

ke Gunung Danaraja tempat Ratu Kalinyamat menyendiri setelah kematian Sunan Prawoto dan suaminya Hadlirin. Ratu Kalinyamat mendesak Jaka Tingkir agar

Pesta Baratan

satu tradisi karnaval masyarakat Jepara yang erat kaitannya dengan Ratu Kalinyamat. Kata โ€œbaratanโ€ berasal dari sebuah kata Bahasa Arab, yaitu โ€œbaraahโ€

Mayong, Jepara

bupati Jipang. Ratu Kalinyamat menemukan keris Kyai Betok milik Sunan Kudus menancap pada mayat kakaknya itu. Maka, Pangeran dan Ratu Kalinyamat pun berangkat