📑 Table of Contents
Undang-Undang Bantuan Luar Negeri tahun 1948
Great Seal of the United States
Judul lengkapSuatu tindakan untuk memajukan perdamaian dunia dan kesejahteraan umum, kepentingan nasional, dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat melalui tindakan ekonomi, keuangan, dan tindakan lain yang diperlukan untuk pemeliharaan kondisi di luar negeri di mana lembaga-lembaga bebas dapat bertahan hidup dan konsisten dengan pemeliharaan kekuatan dan stabilitas Amerika Serikat.
Disahkan olehKongres Amerika Serikat ke-80
Berlaku3 April 1948
Kutipan
Hukum publik80-472
Undang-Undang Umum62 Stat. 137
Riwayat legislatif
  • Diajukan di Senate dengan nama S. 2202
  • Disetujui Senate pada tanggal 13 Maret 1948 (71–19)
  • Disetujui House pada tanggal 31 Maret 1948 (333–78)
  • Diangkat oleh komisi rapat gabungan pada tanggal 1 April 1948; disetujui oleh House pada tanggal 2 April 1948 (321–78) dan oleh Senate pada tanggal 2 April 1948 (agreed)
  • Ditandatangani Presiden Harry S. Truman pada tanggal 3 April 1948
Label yang digunakan pada paket bantuan yang dibuat dan dikirim berdasarkan Rencana Marshall.
Jenderal George Marshall, Menteri Luar Negeri AS ke-50

Rencana Marshall (bahasa Inggris: Marshall Plan) (secara resmi disebut Program Pemulihan Eropa, ERP) adalah inisiatif Amerika yang diberlakukan pada tahun 1948 untuk memberikan bantuan luar negeri ke Eropa Barat. Amerika Serikat mentransfer $13,3 miliar (setara dengan $173,8 miliar pada tahun 2024) dalam program pemulihan ekonomi ke ekonomi Eropa Barat setelah berakhirnya Perang Dunia II. Menggantikan proposal sebelumnya untuk Rencana Morgenthau, program ini beroperasi selama empat tahun yang dimulai pada tanggal 3 April 1948,[1] meskipun pada tahun 1951, Rencana Marshall sebagian besar digantikan oleh Mutual Security Act. Tujuan Amerika Serikat adalah untuk membangun kembali wilayah yang dilanda perang, menghilangkan hambatan perdagangan, memodernisasi industri, meningkatkan kemakmuran Eropa, dan mencegah penyebaran komunisme.[2]: 27  Rencana Marshall mengusulkan pengurangan hambatan antarnegara dan integrasi ekonomi Benua Eropa sekaligus mendorong peningkatan produktivitas serta penerapan prosedur bisnis modern.[3]

Referensi

sunting
  1. ^ "Marshall Plan | Summary & Significance | Britannica". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). 2025-04-03. Diakses tanggal 2025-05-18.
  2. ^ Hogan, Michael J. (1987). The Marshall Plan: America, Britain and the Reconstruction of Western Europe, 1947-1952 (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-37840-6.
  3. ^ Carew, Anthony (1987). Labour under the Marshall plan : the politics of productivity and the marketing of management science. Internet Archive. Manchester, Kerajaan Inggris. : Manchester University Press. ISBN 978-0-7190-1986-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Bacaan lanjutan

sunting
  • Agnew, John and Entrikin, J. Nicholas eds. The Marshall Plan Today: Model and Metaphor Routledge. (2004) online version
  • Arkes, Hadley. Bureaucracy, the Marshall Plan, and the National Interest (1972).
  • Behrman, Greg, The Most Noble Adventure: The Marshall Plan and the Time When America Helped Save Europe (2007) ISBN 0-7432-8263-9
  • Bonds, John Bledsoe. Bipartisan Strategy: Selling the Marshall Plan (2002) online version
  • Esposito, Chiarella. America's Feeble Weapon: Funding the Marshall Plan in France and Italy, 1948–1950 (1994) online version
  • Djelic, Marie-Laure A. Exporting the American Model: The Post-War Transformation of European Business (1998) online version
  • Fossedal, Gregory A. Our Finest Hour: Will Clayton, the Marshall Plan, and the Triumph of Democracy. (1993).
  • Gimbel, John, The origins of the Marshall plan (Stanford University Press, 1976). (reviewed here)
  • Kipping, Matthias and Bjarnar, Ove. The Americanisation of European Business: The Marshall Plan and the Transfer of Us Management Models (1998) online version
  • Lewkowicz, Nicolas. The German Question and the International Order, 1943-48 (Palgrave Macmillan: Basingstoke and New York) (2010)
  • Lewkowicz, Nicolas. The German Question and the Origins of the Cold War (IPOC: Milan) (2008)
  • Mee, Charles L. The Marshall Plan: The Launching of the Pax Americana (1984).
  • Milward, Alan S. The Reconstruction of Western Europe, 1945–51. (1984).
  • Röpke, Wilhelm, Humane Economist,"Biography of Wilhelm Röpke (1899-1966): Humane Economist". Mises.org. Diakses tanggal 2009-08-18.
  • Vickers, Rhiannon. Manipulating Hegemony: State Power, Labour and the Marshall Plan in Britain (2000) online edition
  • Wallich, Henry Christopher. Mainsprings of the German Revival (1955)
  • Wasser, Solidelle F. and Dolfman, Michael L., "BLS and the Marshall Plan: The Forgotten Story: The Statistical Technical Assistance of BLS Increased Productive Efficiency and Labor Productivity in Western European Industry after World War II; Technological Literature Surveys and Plan-Organized Plant Visits Supplemented Instruction in Statistical Measurement", Monthly Labor Review, Vol. 128, 2005
  • Wend, Henry Burke. Recovery and Restoration: U.S. Foreign Policy and the Politics of Reconstruction of West Germany's Shipbuilding Industry, 1945–1955 (2001) online version
  • Zmirak, John, Wilhelm Röpke: Swiss Localist, Global Economist (ISI Books, 2001)

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Harry S. Truman

presiden setelah kematian Franklin D. Roosevelt. Truman menerapkan Rencana Marshall setelah Perang Dunia II untuk membangun kembali ekonomi Eropa Barat

Blokade Berlin

tetapi tidak lama kemudian dikenal luas sebagai Rencana Marshall. Stalin menentang Rencana Marshall Plan. Dia telah membangun semacam sabuk pelindung

Rencana Morgenthau

dan segera diikuti oleh Rencana Marshall. Ketika Rencana Morgenthau diterbitkan oleh pers AS pada bulan September 1944, rencana tersebut segera diambil

KfW

dibentuk pada tahun 1948 pasca Perang Dunia II sebagai bagian dari Rencana Marshall. KfW dimiliki oleh Republik Federal Jerman (80%) dan Pemerintah Jerman

Soemitro Djojohadikoesoemo

tindakan Belanda dan menyerukan penghentian bantuan Amerika (yakni Rencana Marshall) kepada Belanda. Sumitro kemudian memimpin Kedutaan Besar Indonesia

Perang Dingin

Soviet untuk menyapu habis seluruh pendukung Rencana Marshall. Kebijakan kembar Doktrin Truman dan Rencana Marshall menyebabkan miliaran bantuan ekonomi dan

Beasiswa Marshall

pengakuan atas kemurahan hati Menteri Luar Negeri George C. Marshall dan Rencana Marshall setelah Perang Dunia II, tujuan dari beasiswa ini adalah untuk

Charles Bonesteel

proposal, yakni Rencana Marshall. Bonesteel sebagai asisten Menteri Luar Negeri Amerika Serikat pada saat itu ikut menyusun rencana ini. Bersama George