Saguer merupakan salah satu minuman tradisional yang diolah langsung dari Pohon Enau atau yang sering disebut Pohon Seho oleh masyarakat Minahasa. Proses pembuatannya yang disebut batifar biasa dilakukan masyarakat di hutan, kebun, atau bahkan di halaman belakang rumah. Menariknya, saguer segar memiliki rasa manis yang khas layaknya jus buah.[1]
Pada pengolahannya, saguer diolah dengan mancampurkan nira segar dan nira yang telah difermentasi di dalam wadah bambu. Untuk menjaga kebersihannya, ujung bambu dipasangi ijuk kelapa sebagai penyaring. Kualitas akhir dari saguer ini ditentukan oleh ijuk tersebut, semakin baru ijuk kelapa yang dipakai, semakin prima pula kualitas saguer yang didapat.[2]
Masyarakat Minahasa biasanya mengonsumsi minuman ini dengan batok kelapa, karena mereka percaya dengan begitu mereka bisa lebih terhubung dengan leluhur mereka.[2]
Sejarah
suntingKonon katanya, saguer ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang Minahasa yang kemudian disebut Dotu atau Opo. Minuman ini mencapai masa kejayaannya pada tahun 1829 ketika para serdadu Minahasa mengikuti perang.[1]
Selain mengonsumsi dengan batok kelapa ada juga adat atau tradisi khusus meminum saguer dengan menyimpannya didalam bambu lalu meminumnya dengan gelas bambu juga. Tradisi ini biasanya diadakan saat hari-hari besar orang Minahasa.[2]
Pada awalnya, ada juga hukum adat yang menyatakan bahwa saguer adalah minuman dewa dan leluhur, sehingga tidak diperbolehkan untuk diperdagangkan, namun pada abad ke-18 hukum adat tersebut mulai hilang dan pada akhirnya saguer sudah boleh diperdagangkan yang akhirnya menjadi salah satu sumber penghasilan para petani Minahasa.[2]
Penjelasan
suntingProses
suntingSaguer dibuat melalui proses fermentasi alami atau didiamkan selama 6 jam hingga semalaman. Proses ini dilakukan untuk menghasilkan rasa manis dan keasam-asaman pada minuman tersebut. Proses fermentasi ini juga lah yang membuat saguer memiliki kadar alkohol sebesar 4-5%.[3]
Jenis dan rasa
suntingUmumnya terdapat dua jenis saguer, yakni yang pertama saguer manis yang umum dikonsumsi tanpa melalui proses fermentasi, sehingga tidak akan memberikan rasa asam. Adapun cara lain untuk mengonsumsi saguer dengan cita rasa asam adalah dengan mencampurkan air nira yang sudah terfermentasi dan air nira segar.[3]
Tidak hanya dua rasa itu saja, para petani secara turun-temurun percaya bahwa rasa saguer bisa diatur dengan menambahkan bahan penyedap tertentu. Cara tradisional ini bisa menghasilkan tiga varian rasa, yaitu manis, asam manis, serta asam-gurih. Keunikan rasa ini membuat para petani meyakini kalau setiap pohon seho punya cita rasa khas tersendiri. Tak hanya soal rasa, berdasarkan pengetahuan lokal, tingkat kekentalan saguer juga dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kental, sedang (kental-cair), dan encer.[3]
Manfaat
suntingSelain untuk tradisi atau adat, saguer juga memiliki beberapa manfaat lainnya, yaitu diantaranya adalah sebagai sumber energi alami, mendukung kesehatan pencernaan, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, membantu menurunkan tekanan darah, dan lainnya.[4]
Referensi
sunting- ^ a b "MerahPutih Media Berita untuk Generasi Terkini". MerahPutih. Diakses tanggal 2026-05-22.
- ^ a b c d Zefanya, Marissa (2021-06-20). "5 Fakta Saguer, Arak khas Minahasa yang Manis dan Asam". IDN Times. Diakses tanggal 2026-05-22.
- ^ a b c Liputan6.com (2022-10-18). "Saguer, Minuman Fermentasi Aren Khas Minahasa, Racikannya Turun-temurun". liputan6.com. Diakses tanggal 2026-05-22. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ^ Lumantow, Alfianne (2024-09-23). "Inilah Manfaat Saguer, Minuman Tradisional Untuk Kesehatan". manadopost.jawapos.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-05-22.