

Sléndro atau saléndro atau salindru adalah satu di antara dua laras dari alat musik gamelan. Laras ini lebih mudah untuk dipahami daripada pelog ataupun laras yang lain, karena adalah secara mendasar hanya lima nada dekat yang berjarak hampir sama dalam satu oktaf.[3]
Menurut mitologi Jawa, gamelan slendro lebih tua usianya daripada gamelan pelog.[4] Sléndro memiliki 5 (lima) nada per oktaf, yaitu 1 2 3 5 6 (C- D E+ G A) dengan interval yang sama atau kalaupun berbeda perbedaan intervalnya sangat kecil. Pelog memiliki 7 (tujuh) nada per oktaf, yaitu 1 2 3 4 5 6 7 (C+ D E- F# G# A B) dengan perbedaan interval yang besar.[5][6]
Oleh karena itu, laras musik ini mempunyai interval perfektum empat yang lebih sempit, sekitar 480 sen, berbeda dengan interval pelog yang lebih lebar.
| Notasi Kepatihan | Nama Jawa | Notasi Daminatila | Nama Sunda | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Nama penuh | Nama pendek | Nama Tradisional | Makna | Nama notasi | Nama Tradisional | ||
| 1 | siji | ji | panunggal | kepala | 5 | la | singgul |
| 2 | loro | ro | gulu | leher | 4 | ti | galimer |
| 3 | telu | lu | dhadha | dada | 3 | na | panelu |
| 5 | lima | ma | lima | tangan, lima | 2 | mi | kenong |
| 6 | enem | nem | enam | enam | 1 | da | tugu |
Asal mula laras slendro tidak jelas. Akan tetapi istilah sléndro diyakini berasal dari nama Sailendra, wangsa penguasa Kerajaan Medang dan Sriwijaya.[7] Laras slendro diduga dibawa ke Sriwijaya oleh pendeta Buddha Mahayana dari Gandhara di India, melalui Nalanda dan Sriwijaya, dari sana berkembang ke Jawa, Sunda, Madura, dan Bali.[8][9]
Referensi
sunting- ^ "The representations of slendro and pelog tuning systems in Western notation shown above should not be regarded in any sense as absolute. Not only is it difficult to convey non-Western scales with Western notation, but also because, in general, no two gamelan sets will have exactly the same tuning, either in pitch or in interval structure. There are no Javanese standard forms of these two tuning systems." Lindsay, Jennifer (1992). Javanese Gamelan, p.39-41. ISBN 0-19-588582-1.
- ^ Leeuw, Ton de (2005). Music of the Twentieth Century, p.128. ISBN 90-5356-765-8.
- ^ S.Pd.,M.Sn, Didin Supriadi, S. Sen ,M Pd, Saryanto, M. Sn, Gandung, Joko Srimoko, S. Sn, M. Sn, Dani Nur Saputra (2024-01-28). Karawitan Dasar Minang dan Jawa. Cv. Azka Pustaka. hlm. 21. ISBN 978-623-8214-96-9. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ r.search.yahoo.com https://r.search.yahoo.com/_ylt=Awr1Tgrhi2tpIgIAQfLLQwx.;_ylu=Y29sbwNzZzMEcG9zAzIEdnRpZAMEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1769865442/RO=10/RU=https://trenggaleknjenggelek.jawapos.com/seni-budaya/2596054239/inilah-perbedaan-gamelan-jawa-bernada-slendro-dan-pelog-siapa-yang-tertua/RK=2/RS=xCk42.ybjOhG6q74A0tfJfr0lHo-. Diakses tanggal 2026-01-17.
- ^ Herman, Rechberger (2018-02-01). Scales and Modes Around the World: The complete guide to the scales and modes of the world (dalam bahasa Inggris). Fennica Gehrman Ltd. hlm. 173–177. ISBN 978-952-5489-28-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Rubiono, Purwo (2012). Misteri pelog dan slendro. Dinas Pendidikan Propinsi Banten bekerjasama dengan Lembaga Keilmuan dan Kebudayaan nimusInstitute. hlm. 25–28. ISBN 978-602-18158-2-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ r.search.yahoo.com https://r.search.yahoo.com/_ylt=AwrKAwS9q4RpGwIAe7_LQwx.;_ylu=Y29sbwNzZzMEcG9zAzIEdnRpZAMEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1771511997/RO=10/RU=https://kawruhbasa.com/gamelan-slendro-asal-mula-nada-ciri-sifat-dan-contohnya//RK=2/RS=FTYAu.Bj3PMJbwZMT1.E5vn3iJE-. Diakses tanggal 2026-02-05.
- ^ "Gamelan: cultural interaction and musical development in central Java". Diarsipkan dari asli tanggal 2023-04-11. Diakses tanggal 2010-11-11.
- ^ Rapat Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi II, Cisarua, 5-10 Maret 1984. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. 1985. hlm. 274. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)