Keasinan air permukaan laut rata-rata tahunan dari samudra di dunia. Data diambil dari World Ocean Atlas 2001.

Keasinan atau salinitas adalah tingkat rasa asin atau kadar garam terlarut dalam air. Keasinan juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah.

Definisi

sunting
Keasinan air berdasarkan persentase (semua) garam yang terlarut
Air tawar Air payau Air asin atau Air laut Air garam
< 0.05 % 0.05 - 3 % 3 - 5 % > 5 %

Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan saluran air alami sangat kecil sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam sebenarnya pada air ini, secara definisi, kurang dari 0,05%. Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagai air payau atau menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai 5%. Lebih dari 5%, ia disebut brine.

Air laut secara alami merupakan air saline dengan kandungan garam sekitar 3,5%. Beberapa danau garam di daratan dan beberapa lautan memiliki kadar garam lebih tinggi dari air laut umumnya. Sebagai contoh, Laut Mati memiliki kadar garam sekitar 30%.[1]

Istilah teknik untuk keasinan lautan adalah halinitas, dengan didasarkan bahwa halida-halida—terutama klorida—adalah anion yang paling banyak dari elemen-elemen terlarut. Dalam oseanografi, salinitas biasa dinyatakan bukan dalam persen tetapi dalam “bagian perseribu” (parts per thousand, ppt) atau permil (‰), kira-kira sama dengan jumlah gram garam untuk setiap liter larutan. Sebelum tahun 1978, salinitas atau halinitas dinyatakan sebagai ‰ dengan didasarkan pada rasio konduktivitas elektrik sampel terhadap "Copenhagen water", air laut buatan yang digunakan sebagai standar air laut dunia.[2] Pada 1978, oseanografer meredifinisikan salinitas dalam Practical Salinity Units (psu, Unit Salinitas Praktis): rasio konduktivitas sampel air laut terhadap larutan KCL standar.[3][4] Rasio tidak memiliki unit, sehingga tidak bisa dinyatakan bahwa 35 psu sama dengan 35 gram garam per liter larutan.[5]

Referensi

sunting
  1. ^ Goetz, P. W. (ed.): "The New Encyclopaedia Britannica (15th edn)", Vol. 3, p.937, Encyclopaedia Britannica Inc., Chicago, 1986.
  2. ^ Lewis, E.L. (1980). The Practical Salinity Scale 1978 and its antecedents. IEEE J. Ocean. Eng., OE-5(1): 3-8.
  3. ^ Unesco (1981a). The Practical Salinity Scale 1978 and the International Equation of State of Seawater 1980. Tech. Pap. Mar. Sci., 36: 25 pp.
  4. ^ Unesco (1981b). Background papers and supporting data on the Practical Salinity Scale 1978. Tech. Pap. Mar. Sci., 37: 144 pp.
  5. ^ Unesco (1985). The International System of Units (SI) in Oceanography. Tech. Pap. Mar. Sci., 45: 124 pp.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Mangrove

hingga perairan yang memiliki tingkat salinitas dua kali lipat salinitas air laut akibat penguapan berlebih (salinitas hingga 9%). Sejak tahun 2010, teknologi

Keasinan tanah

ketika kadar garam lingkungan tinggi, sehingga mengganggu pertumbuhan. Salinitas tanah tidak menjadi masalah atau hanya memberikan sedikit masalah pada

Danau Garam Besar

yang pernah tercatat pada danau ini adalah 29% atau sekitar 8,28 kali salinitas air laut pada tahun 1963 ketika ketinggian muka air di danau ini mencapai

Efek pemanasan global pada laut

perairan, kepunahan hewan laut akibat meningkatnya suhu dan penurunan salinitas perairan laut, naiknya permukaan laut. Ditambah juga dengan terjadinya

Laut Jawa

air laut dari Laut Tiongkok Selatan dan menurunkan tingkat salinitasnya. Penurunan salinitas membuat ikan layang terhalangi ke Selat Sunda dan bergerak

Laut Kaspia

Baikal (-1180 m). Perbedaan kedalaman ini menyebabkan adanya perbedaan salinitas, temperatur, dan ekologi di setiap bagian Laut Kaspia. Berdasarkan catatan

Hutan mangrove

baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya abrasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut

Krisis salinitas Messinium

Krisis salinitas Messina (bahasa Inggris: Messinian Salinity Crisiscode: en is deprecated ), juga disebut "Peristiwa Messina" dan pada tahap akhirnya