Kontes Sapi Sonok di Madura, Jawa Timur

Kontes Sapi Sonok ialah kontes kecantikan untuk sepasang sapi Madura betina, yang mana sapi dirangkai atau diapit menggunakan pangonong serta terampil mengikuti instruksi pawang, lalu pasangan sapi berjalan-jalan dengan langkah jalan neter kolenang (mengikuti irama musik) untuk menuju atau memasuki sebuah gapura.[1]

Sapi Sonok mempunyai postur tubuh dan dipelihara dengan baik, ia dilatih untuk dapat berjalan lurus. Pada saat kontes, selain dipakaikan perhiasan pada tubuhnya, dipakaikan pula minyak agar tubuh sapi mengkilat. Dengan irama musik, sapi yang dapat berjalan demikian dan melewati bambu gapura yang telah disediakan akan jadi pemenangnya. Sapi yang memenangkan kontes lomba ini menjadi sapi dengan harga yang tinggi hingga menjadi kebanggaan. Kontes ini bertujuan untuk mengurangi kecenderungan seleksi negatif, karena prinsip dasar dari pembentukan sapi Sonok adalah penerapan seleksi ternak.[2]

Etimologi

sunting

Dalam bahasa Madura, diketahui sonok merupakan kepanjangan dari sokonah nungkok yang berarti "kaki naik".[1]

Versi lain

sunting

Kontes sapi Sonok mulai digemari masyarakat sekitar, meskipun tata cara pelaksanaan permainannya masih banyak kekurangan. Maka diadakan sebuah musyawarah hingga akhirnya muncuk istilah sonรณ. Untuk so yakni soro = disuruh; Dan nรณ yakni nyono = masuk.[2]

Asal Usul

sunting

Ada beberapa versi asal mula terkait pelaksanaan Kontes Sapi Sonok. Dari persamaan tempat pelaksanaannya, selain Karapan sapi yang terkenal di Pulau Madura, keberadaan kontes sapi Sonok pun juga berada di pulau tersebut.

Versi Pertama

sunting

Asal-usul Kontes Sapi Sonok memiliki dua versi. Pertama, bahwa kesenian sapi Sonok diperkenalkan pertama kali oleh H. Achmad Hairudin, seorang kepala desa Dempo Barat Kecamatan Pasean pada tahun 1964. Pada saat itu sapi selain dimanfaatkan untuk membajak sawah juga sebagai hiburan. Kedua sapi dijalankan secara bersama-sama, kemudia pasangan sapi diadu dengan pasangan sapi lainya. Hingga akhirnya, kegiatan ini menjadi perlombaan dan terbentuklah perkumpulan peternakan sapi Sonok.[2]

Versi Kedua

sunting

Versi kedua menyebutkan Kontes Sapi Sonok digagas dari sebuah musyawarah perkumpulan taccek. Bermula dari penugasan bapak Mansoer seorang pegawai pemerintah Dinas Peternakan (Dispet) di Kabupaten Pamekasan. Sebagai petugas beliau melaksanakan penyuluhan dan berusaha memecahkan masalah seputar peternakan di wilayahnya. Permasalahan yang paling menonjol saat beliau bertugas ialah para peternak kurang memperhatikan ternaknya terutama sapi betina. Dengan kebiasan peternak pada pagi hari setelah selesai memandikan sapi, mereka pergi ke warung kopi sambil menjemur sapi yang baru siap dimandikan tersebut.

Sapi tersebut dikeringkan tubuhnya dengan cara diikat pada tiang yang disediakan oleh pemilik warung. Kebiasaan ini kemudian dimanfaatkan oleh Bapak Mansoer untuk melakukan penyuluhan di warung-warung pada saat peternak sedak menikmati minum kopi, beliau pun sekaligus mengajukan gagasan untuk membuat organisasi mengenai pemeliharaan sapi. Akhirnya beliau dapat mengubah kebiasaan penduduk setempat yang kurang memperhatikan pemilihan sapi betina berbalik mengistimewakannya.[2]

Referensi

sunting
  1. ^ a b Tety,, Hartatik,. Analisis genetika molekuler sapi Madura (Edisi Cetakan pertama). Bulaksumur, Yogyakarta. ISBNย 9789794209929. OCLCย 936205288. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  2. ^ a b c d 1962-, Susilawati, Trinil,. Sapi lokal Indonesiaย : Jawa Timur dan Bali (Edisi Cetakan pertama). Malang, Indonesia. ISBNย 9786024322335. OCLCย 1019833859. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Karapan sapi

masih berlanjut di kalangan pelaku karapan sapi. Kontes sapi Sonok Karapan sapi Brujul di Probolinggo Karapan sapi di Piala Presiden Pamekasan Pacu jawi โ€”

Sapi

Sapi madura dalam kontes sapi sonok Sapi di Desa Sambi, Sleman, Yogyakarta tahun 2002 Sapi milik penduduk di perbukitan Sembalun, Lombok Timur Sapi angkole

Waru Timur, Waru, Pamekasan

berkat menampilkan kesenian tradisional Sapi Sonok. Selain mendapat juara di tingkat Nasional, Sapi Sonok menjadi Potensi paling kuat bidang pertanian

Kabupaten Sumenep

Kabupaten Sumenep terbesar dan spesifik adalah ternak sapi. Terbukti pada tahun 2011 populasi sapi sekitar 357.067 ekor, yang masih dikelola secara tradisional

Daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Mensiang di Desa Bentangur Kerajinan kayu Antan Kerajinan kayu kelentong sapi Kerajinan sarung pisau dari kayu Kukuran Kelapa Kerajinan pahat batu Kerajinan

Palalang, Pakong, Pamekasan

kalender Umum / Islam, masih adanya budaya Kontes Sapi Sonok, Hadrah, Ketopak/Ludruk, Kerapan Sapi, dan lainnya, yang semuanya merefleksikan sisi-sisi

Kabupaten Pamekasan

000,- (2023) Semboyan daerah Pamekasan Hebat Slogan pariwisata Awesome Pamekasan Flora resmi Srikaya Fauna resmi Sapi sonok Situs web pamekasankab.go.id

Kota Tua Kalianget

Karapan Sapi Tari Moang Sangkal Tari Gambu Saronen Tan-pangantanan Ojhung Upacara Adat Nyadar Upacara Adat Penganten Ngekak Sangger Sape Sonok Tong-tong