Şehzade Mustafa
Gambar Sehzade Mustafa dari buku pengelana Perancis “Les vraisportraits et vies des hommes illustres…” (1584)
Gubernur Amasya
Masa jabatan16 Juni 1541 – 6 Oktober 1553
Gubernur Manisa
Masa jabatan3 Mei 1533 – 16 Juni 1541
Kelahiranca 1516/1517
Istana Manisa, Manisa, Kekaisaran Ottoman
Kematian6 Oktober 1553(1553-10-06) (umur 36–37)
Ereğli, Konya, Kekaisaran Ottoman
Pemakaman
Kompleks Muradiye, Bursa
KeturunanFatma Sultan
Nergisşah Sultan
Şehzade Mehmed
Şah Sultan
Şehzade Ahmed
Şehzade Orhan
DinastiUtsmaniyah
AyahSuleiman yang Agung
IbuMahidevran Hatun
AgamaIslam Sunni
sunat Mustafa, 1530
Pangeran Şehzade Mustafa, putra tertua Sultan Süleyman Agung (1515-1553)

Şehzade Mustafa (Turki Otoman: شهزاده مصطفى; ca1516/1517 – 6 Oktober 1553) adalah seorang pangeran Ottoman, putra sultan Suleiman yang Agung dan selirnya Mahidevran Hatun. Ia adalah gubernur Manisa dari tahun 1533 hingga 1541, Amasya dari tahun 1541 hingga 1553, ketika ia dieksekusi atas perintah ayahnya.

Sebelum keberangkatan

sunting

Beberapa hari sebelum Sehzade Mustafa berangkat ke tempat kemah perang Suleiman I, Permaisuri Mahidevran Sultan bersama pengikutnya mendatangi rumah seorang wanita pendo'a untuk meminta agar sang wanita mendo'a kan Sehzade Mustafa agar Sehzade Mustafa dilindungi oleh Tuhan dari marabahaya. Esok hari nya pun sang wanita pendo'a tsb memberikan sebuah kalung dan wanita itu berkata bahwa atas izin Tuhan, tidak akan ada orang yang mampu mencelakai Sehzade Mustafa selama kalung itu bersama nya. Di saat Sehzade Mustafa bersiap untuk pergi ke kemah perang Suleiman I kalung tsb tertinggal di meja Sehzade Mustafa.

Hukuman mati

sunting
Pencekikan Şehzade Mustafa, putra Suleiman yang Agung. Detail ukiran oleh Cl. Duflos setelah desain oleh N. Hallé.

Sehzade Mustafa di hukum mati oleh Suleiman I atas tuduhan pemberontakan terhadap negara saat perang berlangsung karena fitnah Rustem Pasha dan Hurrem Sultan. Sehzade Mustafa dieksekusi mati oleh prajurit eksekutor saat memasuki tenda Suleiman I dengan mencekik leher nya. Sehzade Mustafa pun sempat melawan para prajurit eksekutor dan sempat melarikan diri ke luar tenda sebelum akhirnya Mahmud Aga menjatuhkan nya ke lantai kemudian prajurit eksekutor menjerat lehernya hingga tidak bernafas. Saat melihat anaknya Sehzade Mustafa telah mati Suleiman I pun mendekati jasad nya dan melihat sebuah gulungan surat berisi tentang fitnah tsb yg ditujukan untuk Suleiman I. Para Yanisari pun mengangkat jasad nya ke depat tenda Suleiman I di hadapan jasad Sehzade Mustafa, Yanisari dan juga Sipahi memberi penghormatan terakhir kepada Sehzade Mustafa. Lalu salah satu pengikut setianya yang juga seorang penyair Taşlıcalı Yahya berserta seluruh pasukan yang di bawa untuk menyelamatkan Sehzade Mustafa kembali ke Provinsi Amasya untuk mengabarkan berita duka tsb kpd ibu dari almarhum Sehzade Mustafa, Permaisuri Mahidevran Sultan, Istri dan juga anak nya bahwa Sehzade Mustafa telah di hukum mati oleh ayahnya sendiri Suleiman I dan mengabarkan kepada anak angkat dari Atmaca bahwa ayah angkatnya juga mati terpanah saat akan memberi perintah penyerangan untuk mengudeta Suleiman I.

Makam Sehzade Mustafa yang bersebelahan dengan ibunya (Mahidevran Sultan)

Pemecatan Rustem Pasha

sunting

Beberapa saat setelah Sehzade Mustafa dihukum mati Sersan Husein pun mengetahui ada nya Yanisari yang terlibat atas eksekusi mati dan pembunuhan dua komandan pasukan Yanisari ia langsung mendatangi salah satu komandan pasukan Yanisari yang terlibat tersebut dan membawa nya kehadapan seluruh Yanisari dan menyuruh nya untuk mengakui perbuatannya. Ia pun berkata bahwa Rustem Pasha lah yang telah membuat Suleiman I menghukum mati Sehzade Mustafa saat mendengar hal itu Suleiman I langsung memecat Rustem Pasha dari jabatannya sebagai Perdana Menteri/Wazir Agung secara tidak terhormat dan di adili setelah perang usai.

Keluarga

sunting

Anak laki-laki

sunting

Mustafa memiliki setidaknya tiga putra. Semua putranya yang masih hidup pada saat kematiannya dieksekusi tak lama kemudian oleh kakek mereka Suleiman yang Agung.

  • Şehzade Mehmed (1546, Amasya – Mei 1554, Bursa).[1]
  • Şehzade Ahmed (meninggal pada tahun 1553?).[2]
  • Şehzade Orhan (meninggal pada tahun 1552/1553)

Anak perempuan

sunting

Mustafa memiliki setidaknya tiga anak perempuan:[1][3][4]

  • Fatma Sultan. Dia menikah dengan Boşnak Ahmed Pasha pada tahun 1552.
  • Nergisşah Sultan (1536, Manisa – 1592). Pada tahun 1554, setelah kematian ayahnya, kakeknya Süleyman menikahkannya dengan Cenâbî Ahmed Pasha, yang dua puluh tahun lebih tua dari ayahnya dan Sanjak Bey dari Kütahya selama 20 tahun. Dia menjanda pada tahun 1562.
  • Şah Sultan (ca 1547, Amasya – 2 November 1577). Ia menikah dengan Abdülkerim Ağa, jenderal Janissari, antara tahun 1562 dan 1567.

Referensi

sunting
  1. ^ a b Peirce 1993, hlm. 60.
  2. ^ Konyalı, İbrahim Hakkı (2007). Konya Tahihi. Konya. p. 280
  3. ^ Yılmaz Öztuna, Kanuni Sultan Süleyman (Sayfa: 174-189), Babıali Kültür Yayınları, 2006
  4. ^ Güler 2011, hlm. 21.

Why Did Suleyman the Magnificent Execute His Son Sehzade Mustafa in 1553? (https://www.researchgate.net/publication/309128882_Why_Did_Suleyman_the_Magnificent_Execute_His_Son_Sehzade_Mustafa_in_1553)

Why Did Süleyman the Magnificent Execute His Son (https://dergipark.org.tr/en/download/article-file/752469)

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Şehzade Mehmed

Ia ditunjuk untuk memerintah di Manisa setelah saudara laki-lakinya Sehzade Mustafa dikirim ke Amasya dari sana. Peirce, Leslie P., The Imperial Harem:

Şehzade Cihangir

menjadi gubernur sebuah provinsi. Kebijaksanaa Sehzade Cihangir membawanya kepada kesetiaan Sehzade Mustafa, bahkan ia tidak memercayai ibundanya Hurrem

Mahidevran Sultan

Süleyman I, dan tidak dinikahi atau bukan istri resmi. Eksekusi putranya, Sehzade Mustafa atas tuduhan ingin membunuh ayahnya, menjadikannya tokoh terkenal dalam

Ahmed I

Sultan Ahmed (Masjid Biru). Ia digantikan oleh adiknya Şehzade Mustafa sebagai Sultan Mustafa I. Kemudian tiga putra Ahmed naik ke takhta: Osman II (memerintah

Şehzade Bayezid

Şehzade Bayezid (Turki Otoman: شهزاده بايزيدcode: ota is deprecated ‎; 1527 – 25 September 1561) adalah seorang pangeran Ottoman sebagai putra Sultan

Abad Kejayaan

Kekaisaran Ottoman melalui putra dan cucunya. Safiye Sultan, selir favorit Şehzade Murad, muncul kembali di spin-off, sekarang nenek dari Ahmed I dan Valide

Şehzade Mahmud (Putra Mehmed III)

Sultan, saudara tiri calon sultan Ahmed I dan saudara laki-laki sultan Mustafa I. Şehzade Mahmud lahir di Istana Manisa, ketika ayahnya masih seorang pangeran

Provinsi Amasya

Strabo juga pernah di pimpin oleh putra pertama Suleiman I, yaitu Sehzade Mustafa. (Turki) Kantor Gubernur Diarsipkan 2006-02-06 di Wayback Machine.