Dayang-Dayang Istana Mempersiapkan Pintalan Sutra Yang Baru, sebuah lukis sutra karya Kaisar Huizong dari dinasti Song, awal abad ke-12.

Serikultur, atau perternakan sutra, adalah budidaya ulat sutra untuk menghasilkan sutra. Meskipun ada beberapa spesies komersial ulat sutra, tetapi Bombyx mori atau Ulat Murbei (ulat dari ngengat ulat domestik) adalah ulat sutra yang paling banyak digunakan dan paling intensif dipelajari. Sutra diyakini pertama kali diproduksi di Tiongkok pada periode Neolitikum. Serikultur telah menjadi industri rumahan yang penting di negara-negara seperti Brasil, Tiongkok, Prancis, India, Italia, Jepang, Korea, dan Rusia. Saat ini, Tiongkok dan India adalah dua negara produsen utama, dengan lebih dari 60% produksi tahunan dunia.

Sejarah

sunting

Menurut catatan Konfusius, penemuan produksi sutra berasal dari sekitar 2700 SM, meskipun catatan arkeologis menunjukkan pembudidayaan sutra sudah ada paling tidak sejak zaman Yangshao (5000-3000 SM).[1] Pada tahun 1977, sepotong keramik dari 5400-5500 tahun yang lalu, modelnya terlihat seperti terbuat dari ulat sutra telah ditemukan di Nancun, Hebei, memberikan bukti paling awal yang diketahui tentang serikultur.[2] Dengan analisis arkeologis yang cermat, serat sutera juga ditemukan di situs Peradaban Indus sejak 2450-2000 SM, diyakini bahwa sutra telah digunakan secara luas di wilayah Asia Selatan.[3][4] Sekitar paruh pertama abad ke-1 Masehi, sutra telah mencapai Khotan kuno,[5] oleh serangkaian interaksi di sepanjang Jalur Sutra. Pada 140 M, pembuatan sutra telah dilakukan di India.[6] Pada abad ke-6 M, penyelundupan telur ulat sutra ke dalam Kekaisaran Bizantium menyebabkan sutra diproduki di daerah Mediterania, yang dimonopoli oleh Kekaisaran Bizantium selama berabad-abad (sutra Bizantium). Pada tahun 1147, selama Perang Salib Kedua, Roger II dari Sisilia (1095โ€“1154) menyerang Korintus dan Thebes, dua pusat produksi sutra penting di Bizantium, menangkap para penenun dan membawa peralatan mereka, kemudian membuat sutra sendiri di Palermo dan Calabria,[7] dan akhirnya menyebarkan industri sutra ke Eropa Barat.

Referensi

sunting
  1. ^ Barber, E. J. W. (1992). Prehistoric textiles: the development of cloth in the Neolithic and Bronze Ages with special reference to the Aegean (Edisi reprint, illustrated). Princeton University Press. hlm.ย 31. ISBNย 978-0-691-00224-8. Diakses tanggal 6 November 2010.
  2. ^ "2015-10-29240509.html". Diarsipkan dari asli tanggal 2018-02-08. Diakses tanggal 2019-11-25. 1977ๅนดๅœจ็Ÿณๅฎถๅบ„้•ฟๅฎ‰ๅŒบๅ—ๆ‘้•‡ๅ—ๆจๅบ„ๅ‡บๅœŸ็š„5400-5500ๅนดๅ‰็š„้™ถ่ดจ่š•่›น๏ผŒๆ˜ฏไปฟ็…งๅฎถ่š•่›น็ƒงๅˆถ็š„้™ถๅ™จ๏ผŒ่ฟ™ๆ˜ฏ็›ฎๅ‰ๅ‘็Žฐ็š„ไบบ็ฑป้ฅฒๅ…ปๅฎถ่š•็š„ๆœ€ๅค่€็š„ๆ–‡็‰ฉ่ฏๆฎใ€‚
  3. ^ GOOD, I. L., et al. "New Evidence for Early Silk in the Indus Civilization." Archaeometry, vol. 51, no. 3, June 2009, pp. 457-466. EBSCOhost, doi:10.1111/j.1475-4754.2008.00454.x.
  4. ^ Vainker, Shelagh (2004). Chinese Silk: A Cultural History. Rutgers University Press. hlm.ย 20. ISBNย 0813534461.
  5. ^ Hill, John E. 2003. "Annotated Translation of the Chapter on the Western Regions according to the Hou Hanshu." 2nd Draft Edition. Appendix A.
  6. ^ "History of Sericulture" (PDF). Governmentof Andhra Pradesh (India) - Department of Sericulture. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 21 July 2011. Diakses tanggal 7 November 2010.
  7. ^ Muthesius, "Silk in the Medieval World", p. 331.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Dewa-dewi Tionghoa

yang diidentifikasikan sebagai Leizu (ๅซ˜็ฅ–), istri Kaisar Kuning: penemuan serikultur terutama dikaitkan dengan dia. Qฤซngyฤซshรฉn (้’่กฃ็ฅž, โ€œDewa Berpakaian Biru-Hijauโ€):

Sutra

sutra murbei (Bombyx mori) yang diternak (peternakan ulat itu disebut serikultur). Sutra memiliki tekstur mulus, lembut, tetapi tidak licin. Rupa berkilauan

Sejarah sutra

beberapa titik selama paruh akhir milenium 1 SM. Tiongkok memonopoli serikultur (budidaya ulat dan pembuatan sutra) selama ribuan tahun. Tidak hanya terbatas

Peternakan

penyerbukan tanaman pertanian maupun tanaman liar. Peternakan ulat sutra, atau serikultur, telah ada paling tidak sejak Dinasti Shang di Tiongkok. Bombyx mori adalah

Prefektur Gunma

dengan Tokyo. Namun masih banyak industri tradisional seperti industri serikultur dan pertanian. Produk pertanian utama prefektur Gunma adalah kubis dan

Leizu

legendaris Tiongkok dan istri Huang Di. Menurut tradisi, ia menemukan serikultur, dan menemukan alat tenun sutra pada abad ke-27 SM. Leizu menemukan Ngengat

Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO

suara Mongolia: Khoomei 2009 2009 Nanyin 2009 2009 Seni Regong 2009 2009 Serikultur dan kerajinan sutra di Tiongkok 2009 2009 Festival Perahu Naga 2009 2009

Sejarah ekonomi Jepang

cetakan yang sama telah ditemukan di kedua sisi Selat Tsushima. Irigasi, serikultur, dan menenun dibawa ke Jepang oleh imigran Tiongkok, yang disebutkan dalam