Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Oktober 2022) |
Kecanduan seks internet, juga dikenal sebagai kecanduan seks dunia maya, telah diusulkan sebagai kecanduan seksual yang ditandai dengan aktivitas seksual maya melalui internet yang menyebabkan konsekuensi negatif yang serius terhadap kesejahteraan fisik, mental, sosial, dan/atau keuangan seseorang.[1][2] Gangguan ini juga dapat dianggap sebagai bagian dari gangguan kecanduan internet.[3] Kecanduan seks internet memanifestasikan berbagai perilaku: membaca cerita erotis; melihat, mengunduh, atau memperdagangkan pornografi daring; aktivitas daring di ruang obrolan fantasi dewasa; hubungan seks di dunia maya; masturbasi saat terlibat dalam aktivitas daring yang berkontribusi pada gairah seksual seseorang; pencarian pasangan seksual luring dan informasi tentang aktivitas seksual.[3][4][5][6]
Kecanduan seks internet dapat memiliki beberapa penyebab menurut American Association for Sex Addition Therapy. Penyebab pertama adalah keterikatan fisiologis saraf yang terjadi selama orgasme bisa memperkuat dan melampirkan gambar atau skenario menjadi perilaku adiktif secara bersamaan. Kedua, cacat psikologis seperti pengabaian, ketidakpentingan atau kurangnya keterikatan yang tulus terkadang menyebabkan perilaku kecanduan seks sebagai pengalihan. Ketiga, pecandu seks internet mungkin memiliki ketidakseimbangan kimia dalam tumbuhnya akibat depresi berat, gangguan bipolar, atau gangguan manik depresif.[7] Pecandu seks siber mungkin juga mengalami anoreksia keintiman karena bagi mereka dunia maya terasa lebih nyaman daripada hubungan di dunia nyata.
Secara Umum
suntingKecanduan seks dunia maya merupakan bagian dari kecanduan seksual dan gangguan kecanduan internet. Sebagai bentuk perilaku kompulsif, kecanduan seks internet dapat diidentifikasi melalui 3 kriteria: gagal membuat keputusan mengenai perilakunya, obsesi dengan perilakunya, dan ketidakmampuan untuk menghentikan perilaku meskipun dihadapi konsekuensi negatif. Orang-orang dengan tipe kecanduan ini setidaknya terlibat dalam satu perilaku yang relevan.
Sebagian besar alasan mengapa individu mencoba bentuk-bentuk ekspresi seksual seperti ini sangat beragam dan dapat berkaitan dengan gangguan atau masalah psikologis individu tersebut. Individu yang mengalami rendah diri, citra tubuh (body image) yang sangat terdistorsi, disfungsi seksual yang tidak ditangani, isolasi sosial, depresi, atau sedang dalam masa pemulihan dari kecanduan seksual sebelumnya lebih rentan mengalami kecanduan seks internet.
Masalah psikologis yang dapat timbul akibat kecanduan ini, seperti sulit menjangkau keintiman, harga diri, identitas diri, pemahaman diri.[8]
Faktor-Faktor Kecanduan Seks Internet
suntingPengaruh Lingkungan
suntingSalah satu faktor lingkungan yang memengaruhi seseorang adalah teman sebaya. Kelompok teman sebaya merupakan dunia nyata remaja yang menyiapkan tempat remaja menguji dirinya sendiri dan orang lain. Biasanya dimulai dengan teman sebaya yang mengirimkan pesan teks seksual. Ketika lebih banyak menghabiskan waktu di luar dari pada di dalam rumah dan sebagian besar waktu diluar rumah digunakan untuk bergaul dengan teman sebayanya dan sebagai konsekuensi adalah pengaruh kelompok teman sebaya lebih besar dari pada pengaruh dari dalam rumah (Ezekiel, et al, 2023).[9]
Kecanggihan Teknologi
suntingStudi oleh Shaughnessy, et al (2011)[10] menyebutkan bahwa kemudahan akses dan ketersediaan materi seksual di internet dapat meningkatkan perilaku seks internet.
Diri Sendiri
suntingStudi oleh Putri, et al (2016) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi perilaku seks internet termasuk kontrol diri yang rendah.[11]
Dampak Kecanduan Seks Internet
suntingDampak Sosial-Interpersonal
suntingKetika seseorang tidak dapat mengendalikan diri dalam menggunakan internet untuk aktivitas seksual, ia dapat kehilangan kepercayaan diri, yang kemudian menyebabkan depresi dan berbagai masalah sosial lainnya yang muncul akibat keterasingan dari orang lain (Agastya, I. G. N., dkk, 2020).[12]
Dampak Psikologis
suntingSebuah studi oleh Wรฉry, dkk (2016),[13] menemukan bahwa seorang individu yang memiliki masalah kecanduan seks internet memiliki tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu yang tidak memiliki masalah kecanduan seks internet.
Dampak Kesehatan Fisik dan Seksual
suntingPenelitian oleh Griffiths (2012)[14] menjelaskan bahwa individu yang terlibat berlebihan dalam kegiatan seks internet dapat mengalami masalah fisik seperti kurang tidur, kelelahan, dan pengabaian kebersihan pribadi. Penelitian oleh Chaney dan Dew (2003), menjelaskan bahwa individu yang kecanduan seks dapat mengalami penurunan minat terhadap aktivitas seksual di kehidupan nyata dan memiliki ekspektasi yang tidak realistis terhadap pasangannya.
Dampak Profesional dan Finansial
suntingStudi oleh Young (2008)[15] menjelaskan bahwa kecanduan seks internet dapat menyebabkan penurunan produktivitas, kinerja pekerjaan yang buruk, dan bahkan kehilangan pekerjaan karena waktu yang dihabiskan untuk melakukan aktivitas seks internet yang berlebihan selama jam kerja. Penelitian oleh Greenfield dan Muench (2000)[16] menunjukkan bahwa kecanduan seks internet dapat menyebabkan tekanan keuangan yang signifikan karena pengeluaran yang berlebihan untuk aktivitas dan layanan yang berhubungan dengan seks internet.
Konsekuensi Kriminal
suntingPria yang memiliki perilaku seksual agresif berisiko meningkatkan agresivitasnya empat kali lipat ketika terus-menerus menonton beraktivitas seksual secara daring (Ybarra, M. L., & Mitchell, K. J., 2005).[17]
Screening Kecanduan Seks Internet
suntingBeberapa skrining dalam bentuk kuesioner dikembangkan untuk mengidentifikasi kecanduan cybersex. Alat ini membantu profesional menilai dan mendeteksi masalah kecanduan sejak dini. Salah satunya ialah Internet Sex Screening Test (ISST), dikembangkan oleh Delmonico (1997) yang berisi 25 item yang mengukur keterlibatan dalam aktivitas seksual daring dan potensi kecanduan. Penelitian oleh Ann Liebert et al. (1999)[18] menunjukkan ISST efektif membedakan individu dengan atau tanpa masalah cybersex.
Dalam ISST, terdapat tujuh area pengukuran utama, yaitu:
1) โ Online Sexual Compulsivity (OSC)
suntingUntuk mengukur tingkat kompulsifitas seksual daring, seperti ketidakmampuan mengontrol aktivitas seksual di internet meskipun terdapat dampak negatif, serta gejala kecanduan dan kehilangan kontrol.
2) Online Sexual Behaviour-Social (OSB-S)
suntingUntuk mengukur aktivitas seksual daring yang melibatkan interaksi sosial, termasuk bercakap melalui percakapan dengan tema seksual, penggunaan nama panggilan seksual, serta risiko terkait berbagi identitas terselubung dengan orang lain di dunia maya. Area ini menunjukkan dimensi sosial dari perilaku daring.
3) Online Sexual Behaviour-Isolated (OSB-I)
suntingUntuk menilai perilaku seksual yang dilakukan secara sendiri tanpa interaksi, seperti mengakses pornografi dan masturbasi daring, yang lebih bersifat pribadi dan terisolasi.
4) Online Sexual Spending (OSS)
suntingUntuk mengukur perilaku pembelian materi seksual, keanggotaan atau layanan seksual yang dibayar melalui internet, sebagai tanda penggunaan finansial dalam aktivitas daring.
5) Interest in Online Sexual Behaviour (IOSB)
suntingUntuk mengukur minat atau ketertarikan dalam menggunakan internet untuk keperluan seksual, termasuk aktivitas seperti menyimpan situs atau konten seksual secara digital.
6) Non-home Computer Use for OSB (NHCU)
suntingUntuk mengukur kecenderungan menggunakan komputer publik atau kerja untuk mengakses konten seksual, suatu perilaku yang dapat menimbulkan masalah sosial dan hukum.
7) Accessing Illegal Sexual Material (AISM)
suntingUntuk menilai perilaku mengakses materi seksual ilegal seperti pornografi anak dan konten ilegal lainnya, yang memiliki konsekuensi hukum serius.
Pengelolaan Kecanduan Seks Internet
suntingPsikoterapi
suntingCognitive Behavioral Therapy (CBT) = jenis terapi bicara untuk mengubah pola pikir dan perilaku negatif. Psikoterapi harus bisa engelola gejala menggunakan intervensi segera dan manajemen jangka panjang. Pasien harus memahami pikiran dan perasaan mereka terkait seksualitas untuk menangani masalah dengan mengarah pada perilaku baru. Penting juga untuk mempertimbangkan langkah konkret, seperti membuka laptop hanya ketika di ruang terbuka, mengunduh software yang dapat memonitor aktivitas daring, membatasi waktu daring, memberi tahu masalah kepada orang yang dapat dipercaya (Young K. S., 2008).[19]
Farmakoterapi
suntingBhatia, M. S., dkk (2012),[20] menunjukkan bahwa obat-obatan psikotropika mengurangi keparahan, intensitas, dan frekuensi kecanduan. Penelitiannya menggunakan serotonin inhibitor reuptake, seperti fluoxetin 20 mg setiap hari dengan konseling. Pasien menunjukkan kemajuan setelah enam minggu dan dosis obatnya menurun secara bertahap setelah lima bulan.
Rujukan
sunting- ^ Stein, Dan J.; Hollander, Eric; Rothbaum, Barbara Olasov (31 August 2009). Textbook of Anxiety Disorders. American Psychiatric Pub. hlm.ย 359โ. ISBNย 978-1-58562-254-2. Diakses tanggal 24 April 2010.
- ^ Parashar A, Varma A (April 2007). "Behavior and substance addictions: is the world ready for a new category in the DSM-V?". CNS Spectr. 12 (4): 257, author reply 258โ9. doi:10.1017/S109285290002099X. PMIDย 17503551.
- ^ a b Griffiths, Mark (November 2001). "Sex on the internet: Observations and implications for internet sex addiction". The Journal of Sex Research. 38 (4): 333โ342. doi:10.1080/00224490109552104. S2CIDย 144522990. Diakses tanggal 2 April 2013.
- ^ Young, Kimberly S. (September 2008). "Internet sex addiction: Risk factors, stages of development, and treatment". American Behavioral Scientist. 52 (1): 21โ37. doi:10.1177/0002764208321339. S2CIDย 143927819. Diakses tanggal 2 April 2013.
- ^ Daneback, Kristian; Michael W. Ross; Sven-Axel Mรฅnsson (2006). "Characteristics and behaviors of sexual compulsives who use the internet for sexual purposes". Sexual Addiction & Compulsivity. 13 (1): 53โ67. CiteSeerXย 10.1.1.502.5953. doi:10.1080/10720160500529276. S2CIDย 56232106. Diakses tanggal 2 April 2013.
- ^ Laier, C.; Pawlikowski, M.; Pekal, J.; Schulte, F. P.; Brand, M. (2013). "Cybersex addiction: Experienced sexual arousal when watching pornography and not real-life sexual contacts makes the difference". Journal of Behavioral Addictions. 2 (2): 100โ107. doi:10.1556/JBA.2.2013.002. PMIDย 26165929.
- ^ "SRT Training & Certification | Sexual Recovery Therapist | AASAT". American Association for Sex Addiction Therapy (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2018-06-20.
- ^ "Internet sex addiction". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). 2025-05-25.
- ^ Ezekiel, R; Madume, A. K.; Anieche, J. E.; Woko, C. N.; Paul, J. N.; Okuku, M. O. (30.03.2023). "Correlates of Risky Sexual Behaviours of Adolescents in Rivers State: A Study of Peer Pressure and Social Media Influences". Scholars Bulletin: 30โ36. doi:10.36348/sb.2023.v09i02.002. ISSNย 2412-897X. Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun (link)
- ^ Shaugnessy, Krystelle; Byers, E. Sandra; Walsh, Lindsay (2010). "Online sexual activity experience of heterosexual students: Gender similarities and differences". Archives of Sexual Behavior. 40: 419โ427. doi:10.1007/s10508-010-9629-9.
- ^ Putri, Novita; Kurniati, Mala; Aryastuti, Nurul (2024). "Analisis faktor kecenderungan perilaku mengakses situs porno pada pelajar". Holistik Jurnal Kesehatan. 17 No. 10: 895โ904. doi:10.33024. ISSNย 2620-7478.
- ^ Agastya, I Gusti Ngurah; Siste, Kristiana; Nasrun, Martina Wiwie Setiawan; Kusumadewi, Irmia (2020). "Cybersex addiction: an overview of the development and treatment of a newly emerging disorder". Medical Journal of Indonesia. doi:0.13181/mji.rev.203464. ISSNย 2252-8083.
- ^ Wรฉry, Aline; Billieux, J. (2016-03-01). "Online sexual activities: An exploratory study of problematic and non-problematic usage patterns in a sample of men". Computers in Human Behavior. 56: 257โ266. doi:10.1016/j.chb.2015.11.046. ISSNย 0747-5632.
- ^ Griffiths, Mark D. (2012-04). "Internet sex addiction: A review of empirical research". Addiction Research & Theory. 20 (2): 111โ124. doi:10.3109/16066359.2011.588351. ISSNย 1606-6359.
- ^ Young, Kimberly S. (2008-09-01). "Internet Sex Addiction: Risk Factors, Stages of Development, and Treatment". American Behavioral Scientist (dalam bahasa Inggris). 52 (1): 21โ37. doi:10.1177/0002764208321339. ISSNย 0002-7642.
- ^ Greenfield, D N; Muench, F (2000). "The costs and payoffs of muddling through: Personal consequences of Internet addiction". In A Thatcher & J. Wretschko (Eds.) (Ed.): 65โ93.
- ^ Ybarra, Michele L.; Mitchell, Kimberly J. (2005-10). "Exposure to Internet Pornography among Children and Adolescents: A National Survey". CyberPsychology & Behavior. 8 (5): 473โ486. doi:10.1089/cpb.2005.8.473. ISSNย 1094-9313.
- ^ Ann Liebert, M; Delmonico, D L; Carnes, P J (1999). "Drue of Choice". CyberPsychology & Behavior. 2 (5).
- ^ Young, Kimberly S. (2008-09-01). "Internet Sex Addiction: Risk Factors, Stages of Development, and Treatment". American Behavioral Scientist (dalam bahasa Inggris). 52 (1): 21โ37. doi:10.1177/0002764208321339. ISSNย 0002-7642.
- ^ Singh Bhatia, Manjeet; Jhanjee, Anurag; Kumar, Pankaj (2012-06-01). "Seminal Retention Syndrome with Cybersex Addiction: A Case Report". Journal of Clinical & Diagnostic Research. 6 (5): 879. ISSNย 0973-709X.
Bacaan lanjutan
sunting- Delmonico, David L.; Griffin, Elizabeth J. (2010). "Cybersex Addiction and Compulsivity". Dalam Young, Kimberly S.; de Abreu, Cristiano Nabuco (ed.). Internet Addiction: A Handbook and Guide to Evaluation and Treatment. John Wiley and Sons. hlm.ย 113โ134. ISBNย 978-0-470-55116-5.
- Delmonico, David L. (2002). "Sex on the superhighway: Understanding and treating cybersex addiction". Dalam Carnes, P. J.; Adams, K. M. (ed.). Clinical Management of Sex Addiction. New York, NY: Taylor & Francis. hlm.ย 239โ254.
- Delmonico, David L.; Griffin, Elizabeth J.; Carnes, P. J. (2002). "Treating online compulsive sexual behavior: When cybersex becomes the drug of choice.". Dalam Cooper, A. (ed.). Sex and the Internet: A Guidebook for Clinicians. New York, NY: Taylor & Francis. hlm.ย 147โ167.
- Schwartz, Mark F.; Southern, Stephen (2000). "Compulsive Cybersex: The New Tea Room". Sexual Addiction & Compulsivity: The Journal of Treatment & Prevention. 7 (1โ2): 127โ144. doi:10.1080/10720160008400211. S2CIDย 144003671.
- Schneider, Jennifer P. (2000). "Effects of cybersex addiction on the family: Results of a survey". Sexual Addiction & Compulsivity: The Journal of Treatment & Prevention. 7 (1โ2): 31โ58. doi:10.1080/10720160008400206. S2CIDย 143246560.
- Orzack, Maressa Hecht; Rossb, Carol J. (2000). "Should Virtual Sex Be Treated Like Other Sex Addictions?". Sexual Addiction & Compulsivity: The Journal of Treatment & Prevention. 7 (1โ2): 113โ125. doi:10.1080/10720160008400210. S2CIDย 144636125.
- Delmonico, David L. (1997). "Cybersex: High tech sex addiction". Sexual Addiction & Compulsivity: The Journal of Treatment & Prevention. 4 (2): 159โ167. doi:10.1080/10720169708400139.
Pranala luar
sunting- WikiSaurus:libidinist
- Cybersexual Addiction Quiz
- Internet Pornography and Sex Addiction Help through Supplementation
- Internet Pornography and Masturbation Addiction Help
- Using Exposure and Response Prevention (ERP) to break away from pornography and masturbation addiction Diarsipkan 2022-01-04 di Wayback Machine.