| Silet Open Up | |
|---|---|
| Nama asal | Siprianus Bhuka |
| Lahir | 22 November 1993 Ngada, Nusa Tenggara Timur, Indonesia |
| Pekerjaan |
|
| Tahun aktif | 2019—sekarang |
| Karier musik | |
| Genre | |
Siprianus Bhuka (lahir 22 November 1993), dikenal secara profesional sebagai Silet Open Up, adalah seorang penyanyi, pencipta lagu, rapper, dan musisi berkebangsaan Indonesia. Ia dikenal secara luas sebagai salah satu figur sentral dalam gelombang kebangkitan musik populer Indonesia Timur (sering disebut sebagai "Pop Timur" atau "Lagu Pesta Timur") pada dekade 2020-an. Silet Open Up meraih popularitas nasional dan internasional melalui serangkaian karya yang memadukan elemen musik hip-hop, R&B, reggaeton, dan irama tradisional Nusa Tenggara Timur.[1]
Karier musiknya ditandai oleh kemampuan adaptasi yang unik, bertransisi dari rapper berbasis komunitas kampus di Yogyakarta menjadi ikon musik populer yang diterima oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Terobosan kariernya dimulai dengan singel viral "Kaka Main Salah" (2020) yang menjadi fenomena di platform media sosial, dan mencapai puncak pengakuan kritikus serta publik pada tahun 2025 melalui lagu "Tabola Bale". Lagu tersebut tidak hanya membawanya memenangkan penghargaan bergengsi Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards untuk kategori Pencipta Lagu Pop Terbaik, tetapi juga menjadi sorotan nasional ketika ditampilkan di Istana Merdeka pada perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, di mana penampilannya berhasil mengajak Presiden Prabowo Subianto menari bersama.[2][3]
Sebagai seniman, Silet Open Up dianggap memiliki peran penting dalam mendesentralisasi industri musik Indonesia yang sebelumnya sangat terpusat di Jakarta, membuktikan bahwa karya dengan dialek lokal dan identitas kedaerahan yang kuat mampu menembus pasar arus utama (mainstream) dan bahkan kancah internasional.[4]
Kehidupan awal
suntingSiprianus Bhuka dilahirkan pada tanggal 22 November 1993 di Wae Ia, sebuah desa yang terletak di Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, di pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Ia lahir di tengah keluarga besar yang memiliki akar tradisi yang kuat. Siprianus adalah anak bungsu dari delapan bersaudara, lahir dari pasangan suami istri Thomas Woda (ayah) dan Dolfina Tiza (ibu).[5]
Lingkungan masa kecil Siprianus sangat kental dengan nuansa musikal. Ia tumbuh dalam keluarga di mana mayoritas anggotanya memiliki kegemaran dan bakat menyanyi. Hal ini menciptakan ekosistem alami bagi Siprianus kecil untuk mengenal nada, irama, dan ekspresi vokal sejak usia dini. Meskipun demikian, pada tahap awal kehidupannya, musik belum dipandang sebagai jalur karier yang menjanjikan secara ekonomi oleh keluarganya, melainkan lebih sebagai bagian dari aktivitas sosial dan budaya sehari-hari masyarakat Flores.[6]
Identitas religius juga memainkan peran sentral dalam pembentukan karakter awalnya. Tumbuh di Flores, wilayah dengan populasi Katolik yang dominan di Indonesia, Siprianus dibesarkan dalam tradisi iman Katolik yang taat. Latar belakang ini kelak tercermin dalam jalur pendidikan formal yang ia tempuh serta beberapa karya musik rohani yang ia rilis di kemudian hari.[7]
Lulus dari bangku SMA, Siprianus memutuskan untuk merantau ke pulau Jawa demi menempuh pendidikan tinggi, sebuah langkah yang umum diambil oleh pemuda-pemuda dari Nusa Tenggara Timur untuk mencari peluang yang lebih baik. Ia memilih Yogyakarta, kota yang dikenal sebagai "Kota Pelajar" dan pusat kebudayaan, sebagai tujuannya. Ia diterima di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), salah satu perguruan tinggi swasta. Ia mengambil jurusan Teknobiologi, sebuah bidang sains yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup untuk menghasilkan produk dan jasa, yang secara akademis sangat jauh berbeda dari dunia seni musik yang ia minati.[8]
Karier
suntingSelama masa kuliahnya di Yogyakarta, Siprianus mulai aktif terlibat dalam skena musik lokal kampus. Ketertarikannya tertuju pada genre hip-hop dan R&B, dua genre yang saat itu memiliki komunitas yang cukup kuat namun tergolong niche di kalangan mahasiswa.[6]
Ia bergabung dengan sebuah grup hip-hop bernama DMC. Di dalam grup ini, Siprianus tidak langsung memegang peran sebagai rapper utama. Karena rekan-rekannya yang lebih muda di dalam grup lebih mendominasi bagian rap, Siprianus mengambil peran sebagai vokalis R&B yang mengisi bagian-bagian melodius atau hook lagu. Pada masa ini, ia menggunakan nama panggung "Silet Open Up", sebuah nama yang kelak ia pertahankan. Filosofi di balik nama ini sering dikaitkan dengan ketajaman lirik (seperti silet) dan sikap terbukanya (open up) terhadap berbagai pengaruh musik.[6]
Setelah lulus kuliah pada tahun 2017, grup DMC bubar karena para anggotanya harus kembali ke daerah asal masing-masing, sehingga Siprianus pun kembali ke kampung halamannya di Ngada, Flores. Kepulangan ini membawa benturan budaya yang signifikan bagi visi bermusiknya, karena di Yogyakarta ia terbiasa dengan musik hip-hop dan R&B yang lebih "murni" atau berkiblat ke barat, sementara masyarakat Ngada lebih menggemari "Lagu Pesta" atau musik daerah yang memiliki irama cepat, repetitif, dan cocok untuk tarian massal dalam acara adat atau perayaan. Kritik bahkan datang dari lingkungan terdekatnya, seperti ibunya yang pernah mengomentari gaya rap-nya dengan kalimat menohok: "Kapan nyanyinya ini? Dari tadi ngomong terus". Kritik ini menyadarkannya bahwa idealisme bermusiknya tidak sejalan dengan selera pasar lokal, sehingga ia menghadapi dilema: mempertahankan gaya hip-hop idealisnya namun tidak didengar, atau beradaptasi dengan selera pasar. Akhirnya, Siprianus memilih untuk bersikap pragmatis dengan mulai berpikir strategis tentang bagaimana menjadikan musik sebagai sumber penghidupan, bukan sekadar hobi. Ia kemudian melakukan eksperimen musikal dengan mempelajari struktur musik pesta yang disukai masyarakat Flores dan mencoba menyisipkan elemen hip-hop, rap, dan R&B ke dalamnya secara halus. Strategi adaptasi ini—menggabungkan beat elektronik yang danceable dengan teknik vokal rap—menjadi titik balik evolusi gaya bermusiknya menuju apa yang kini dikenal sebagai "Pop Timur" atau "Hip-hop Timur".[6]
Momentum kesuksesan komersial Silet Open Up tiba pada akhir tahun 2019 dan awal 2020 melalui kolaborasinya dengan musisi Kapthenpurek dalam lagu berjudul "Kaka Main Salah" yang dirilis pada 20 Januari 2020 di bawah lisensi Collab Asia Music. Lagu tersebut menjadi fenomena viral yang luar biasa di Indonesia, terutama didorong oleh popularitas aplikasi video pendek TikTok, di mana iramanya yang catchy dengan sentuhan reggae dan electronic dance music (EDM) sederhana menjadi latar musik bagi jutaan video pengguna. Secara lirik, lagu ini mengangkat tema sosial yang relevan dengan realitas pemuda di Indonesia Timur, yakni hubungan asmara yang kandas akibat belis (mahar pernikahan) yang terlalu mahal, dengan potongan lirik "Nona pung belis mahal, kaka stengah mati" yang menjadi sangat ikonik. Cara penyampaian Silet Open Up dan Kapthenpurek yang jenaka namun realistis menjadikan lagu ini tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga representasi narasi lokal yang jujur, sehingga kesuksesannya melambungkan nama Silet Open Up ke kancah nasional dengan video musik dan lirik lagunya di YouTube yang mencapai puluhan juta penayangan.[9]
Tahun 2025 menjadi tahun emas dalam perjalanan karier Silet Open Up dengan dirilisnya lagu "Tabola Bale", sebuah proyek kolaborasi masif yang melibatkan vokal dari Jacson Zeran, Juan Reza, dan Diva Aurel. Lagu ini meledak di pasaran melebihi kesuksesan karya-karya sebelumnya karena menawarkan perpaduan budaya yang tidak biasa antara elemen musik khas Indonesia Timur dan nuansa musik Minangkabau, dengan lirik yang menceritakan kisah romantis seorang pemuda yang terpesona pada perubahan teman masa kecilnya, yang diungkapkan melalui frasa "Dulu ade rambu kepang dua, skarang rambut merah-merah". Dampak kulturalnya mencapai puncak pada perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, di mana penampilan Silet Open Up dan para kolaboratornya menjadi sorotan utama media nasional dan berhasil mencairkan suasana protokoler kenegaraan, bahkan Presiden Republik Indonesia saat itu, Prabowo Subianto, turun dari mimbar kehormatan untuk ikut menari dan berjoget bersama para penampil serta tamu undangan.[2][5]
Diskografi
sunting- "Kaka Main Salah" (2019)
- "Sa Su Bosan" (2021)
- "Tambah Gaga" (2023)
- "Nona PNS" (2024)
- "Tabola Bale" (2025, berkolaborasi dengan Juan Reza, Jacson Zeran, dan Diva Aurel)
- "Gaya Lama" (2025, berkolaborasi dengan Juan Reza, Jacson Zeran, dan Diva Aurel)
Referensi
sunting- ^ "Profil Silet Open Up Penyanyi 'Tabola Bale' yang Tampil di Istana Merdeka Meriahkan HUT RI ke-80". KapanLagi.com. 2025-08-18. Diakses tanggal 2025-12-21.
- ^ a b "Berkat Tabola Bale, Silet Open Up Raih AMI Awards 2025". www.jpnn.com. Diakses tanggal 2025-12-21.
- ^ "Profil Silet Open Up, Penyanyi Tabola Bale yang Meriahkan Suasana HUT RI Ke-80 di Istana". KapanLagi. Diakses tanggal 2025-12-21.
- ^ Nareen, Rayna Aurelia (2025-11-20). "Silet Open Up dan Ecko Show Menang AMI Awards 2025, Bangga Musik Timur Makin Menggema". KapanLagi.com. Diakses tanggal 2025-12-21.
- ^ a b Mahendro, Aryo. "Profil Silet Open Up, Penyanyi Tabola Bale yang Goyang Istana Merdeka". detikbali. Diakses tanggal 2025-12-21.
- ^ a b c d IDETIMUR, Bayu- (2023-10-20). "Silet Open Up : Aku Suka Tantangan". Update IDE Timur. Diakses tanggal 2025-12-21.
- ^ "Profil Silet Open Up, Penyanyi Tabola Bale yang Meriahkan Suasana HUT RI Ke-80 di Istana". Beautynesia. Diakses tanggal 2025-12-21.
- ^ "Instagram". www.instagram.com. Diakses tanggal 2025-12-21.
- ^ Lhc Makassar Official (2019-09-11), KAKA MAIN SALAH [ Official lyric video ], diakses tanggal 2025-12-21