Simakobu
Gambar sinar-x tengkorak simakobu
CITES Apendiks I (CITES)[2]
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Primata
Subordo: Haplorhini
Infraordo: Simiiformes
Famili: Cercopithecidae
Subfamili: Colobinae
Tribus: Presbytini
Genus: Simias
Miller, 1903
Spesies:
S. concolor
Nama binomial
Simias concolor
Miller, 1903
Peta sebaran spesies

Simakobu atau masepsep memiliki nama ilmiah Simias concolor merupakan primata asli Indonesia yang endemik di kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, monotipik dalam genus Simias. Spesies ini dapat ditemukaan di Pulau Sipora, Pagai Utara, Pagai Selatan, dan Siberut. Bagian dari famili Cercopithecidae, dan subfamili Colobinae, spesies tunggal untuk genus Simias.[3]

Gambaran

sunting

Simakobu jantan memiliki panjang sekitar 490–550 mm sedangkan pada betina memiliki panjang 460–550 mm.[4] Berat rata-rata sekitar simakobu adalah 8,7 kg untuk jantan dan 7,1 kg untuk betina.[5] Panjang ekor simakobu bervariasi antara 14 hingga 15 cm.[5] Ada dua jenis warna pada simakobu yaitu abu-abu gelap dan warna coklat muda, tetapi warna abu-abu gelap lebih umum ditemui.[5] Simakobu memiliki tangan dan kakinya yang sama panjang.[6] Ekor simakobu berukuran agak pendek dibandingkan dengan spesies primata yang lain dalam subfamili Colobinae.[6] Simakobu yang sudah dewasa memiliki warna rambut hitam dan semakin gelap daripada saat masih muda.[6] Keunikan hewan ini adalah ekornya pendek, setra tidak berbulu, bulunya hanya ada pada ujung ekor.[5] Karena bentuk ekornya yang seperti ekor babi tersebut maka simakobu juga sering disebut monyet ekor babi.[6]

Habitat

sunting

Simakobu adalah hewan endemik Indonesia, tetapi persebarannya hanya terbatas di Kepulauan Mentawai saja yaitu di di daerah barat pantai Sumatera.[7] Simakobu hidup di daerah hutan rawa dan hutan dataran rendah.[3] Selain di daerah tersebut, simokobu juga ditemukan di hutan primer yang terletak di lereng bukit.[3] Simakobu berkembang biak dengan cara beranak, musim lahir ada pada bulan Juni hingga bulan Juli.[3]

Status konservasi

sunting

Populasi simakobu diperkirakan terus menurun, pada sepuluh tahun terakhir hewan ini mengalami penurunan sebesar 90%.[3] Simakobu kini bestatus hewan langka.[3] Kelangkaan simakobu diakibatkan karena perburuan yang berlebihan serta banyak habitat asli hewan ini yang rusak dan hilang.[3] Hutan primer sebagai habitat simakobu kini terus berkurang karena banyak hutan yang dibuka untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit.[3] Simakobu banyak dijual oleh masyarakat setempat sehingga banyak diburu.[4]

Tindakan dalam upaya untuk melestarikan simakobu juga telah dilakukan, pertama melaukan peningkatan perlindungan untuk Taman Nasional Siberut sebagai habitat alami simakobu.[3] 2) Langkah selanjutnya melakukan perlindungan terhadap hutan Peleonan di Siberut Utara yang merupakan rumah bagi populasi primata yang mudah dijangkau.[3] Berikutnya melaukan perlindungan pada kawasan Kepulauan Pagai melalui bekerja sama dengan sebuah perusahaan penebangan yang telah berlatih.[3] Pemerintah juga meningkatkan pendidikan konservasi terutama mengenai berburu.[3] langkah terakhir adalah pengembangan model ekonomi alternatif bagi masyarakat lokal untuk mengurangi kemungkinan menjual tanah mereka kepada perusahaan penebangan yang ingin membuka hutan.[3]

Rujukan

sunting
  1. ^ Quinten, M.; Setiawan, A.; Cheyne, S.; Traeholt, C.; Whittaker, D. (2020). "Simias concolor". 2020: e.T20229A17953422. doi:10.2305/IUCN.UK.2020-2.RLTS.T20229A17953422.en. ;
  2. ^ "Appendices | CITES". cites.org. Diakses tanggal 2022-01-14.
  3. ^ a b c d e f g h i j k l m "Simias concolor". ICUN Red List. Diakses tanggal 9 Mei 2014.
  4. ^ a b "Simakobu" (PDF). Primate SG. Diakses tanggal 9 Mei 2014.
  5. ^ a b c d "Simias concolor (simakobou)". Animal Diversity Web. Diakses tanggal 9 Mei 2014.
  6. ^ a b c d "Pig-tailed Langur". The Primata. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-09-25. Diakses tanggal 9 Mei 2014.
  7. ^ "Pig tailed langur)". Arkive. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-08. Diakses tanggal 9 Mei 2014.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Pulau Siberut

primatanya, di antaranya bilou (Hylobates klossii), langur buntut babi (Simias concolor), langur Mentawai (Presbytis potenziani) dan beruk Pulau Pagai

Kabupaten Kepulauan Mentawai

Kepulauan Mentawai seperti: Beruk Mentawai, Macaca pagensis Monyet Ekor Babi, Simias Concolor Tupai Kasturi Mentawai, Tupaia chrysogaster Siamang Mentawai, Hylobates

Cercopithecidae

Genus Rhinopithecus – monyet hidung-pesek Genus Nasalis – bekantan Genus Simias – simakobu Parker, Sybil, P (1984). McGraw-Hill Dictionary of Biology. McGraw-Hill

Langur

Genus Rhinopithecus – monyet hidung-pendek Genus Nasalis – bekantan Genus Simias – simakobu Wikimedia Commons memiliki media mengenai Colobinae. Wikispecies

25 Primata Paling Terancam Punah di Dunia

for Conservation of Nature. 2008. Diakses tanggal 10 August 2010. ; ; "Simias concolor". IUCN Red List of Threatened Species. Version 2008. International

Daftar tumbuhan dan satwa dilindungi di Indonesia

berisiko rendah 25 Presbytis thomasi lutung kedih apendiks II rentan 26 Simias concolor lutung simakobu apendiks I terancam kritis 27 Trachypithecus auratus

Daftar genus mamalia

Pseudopotto Pygathrix Rhinopithecus Rungwecebus Saguinus Saimiri Semnopithecus Simias Symphalangus Tarsius Theropithecus Trachypithecus Varecia Elephas Loxodonta

Suku Molossia

Aristomachos prostata, sekretaris Menedamos yang memberi kewarganegaraan kepada Simias dari Apollonia, penduduk di Theptinon, di bawah Raja Aleksandros I 342-330/329