Laha Bete atau laha' bete adalah makanan tradisional masyarakat pesisir Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan yang berbahan dasar ikan teri.[1] Laha berarti makanan yang dicampur dengan kelapa, sedangkan bete berarti teri dalam bahasa lokal. Oleh karenanya, secara harfiah laha bete berarti ikan teri yang bercampur dengan kelapa.[1] Nama Laha Bete hanya digunakan oleh orang-orang Bugis-Sinjai saja. Untuk daerah Bugis lainnya seperti Sidrap, Bone, Wajo, Soppeng dan Pinrang biasanya menyebutnya dengan lawa bale dikarenakan perbedaan dialek. [2]

Pelestarian makanan tradisional ini dilakukan oleh pemerintah dan Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Sinjai dengan mengadakan perlombaan seperti lomba membuat laha bete[3] dan senam kreasi dengan tema laha bete.[4]

Sejarah

sunting

Laha Bete diyakini sudah ada bahkan sebelum masa kolonial. Kuliner laha bete ini kembali dikenal masyarakat setelah seorang budayawan menulis lagu berjudul Laha Bete pada tahun 1990-an. Lirik lagu tersebut menggambarkan proses pembuatan laha bete dalam bahasa lokal Bugis:

"Betemi ri pangngajai, ri remme pangesse nipa, riteppang kaluku pura lung, ripeccoreng lemo-lemo, ricobereng pesse fields, retailanni laha bete..."

Artinya: "Ikan mairo yang diolah, direndam dengan cuka nipa, ditaburi kelapa parut, diberi perasan jeruk, dibuat sambal pedas, dinamakan Laha Bete."

Awalnya, laha bete hanya dikonsumsi oleh keluarga nelayan sebagai lauk sehari-hari yang murah dan mudah diperoleh. Namun kini, makanan ini telah disajikan dalam berbagai acara penting seperti pernikahan, akikah, syukuran, hingga jamuan resmi di rumah jabatan pemerintah daerah. Masyarakat dari pegunungan juga mulai mengenal dan mengonsumsi makanan ini dengan membeli bahan dasar dari wilayah pesisir.[1]

Bahan

sunting

Bahan utama untuk pembuatan laha bete adalah ikan teri segar, kelapa setengah tua yang diparut, dan cuka. Cuka yang digunakan dulu berupa cuka tradisional seperti cuka nipa (dari pohon nipah) atau cuka inru (dari nira aren). Namun, saat ini cuka yang digunakan berupa cuka komersial. Selain bahan utama, pada laha bete biasanya ditambahkan juga gula, garam, penyedap rasa, cabai merah, bawang goreng, dan jeruk sebagai pelengkap aroma dan tampilan.[1]

Cara pembuatan

sunting

Laha Bete dibuat tidak melalui proses pemanasan. Pada mulainya ikan dibersihkan, kemudian direndam dalam cuka selama kurang dari satu jam untuk proses mematangkan ikan serta menghilangkan bau amis tentunya. Penggunaan cuka ini harus berhati-hati agar ikan tidak terasa pahit atau rasanya terlalu masam. Setelah itu, dicampur dengan kelapa parut, bumbu, dan perasa lainnya. Makanan ini hanya bertahan sekitar 12 jam sejak dibuat karena tidak mengandung bahan pengawet.[1]

Penetapan sebagai Warisan Budaya

sunting

Pada tahun 2021 Pemerintah Indonesia telah menetapkan Laha Bete Sinjai diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia[5] melalui Surat Keputusan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia No SK: 372/M/2021. Pengetahuan pangan ini masuk dalam domain Pengetahuan dan Kebiasaan Perilaku Mengenai Alam dan Semesta, dengan nama karya budaya "Lahaโ€™ Bete Sinjai" dengan kode referensi AA001247.[6]

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d e Rukmana, A. (2021). Laha Bete as a Traditional Culinary Typical of Sinjai Regency. Media Pendidikan, Gizi, dan Kuliner, 10(2).
  2. ^ Aulia, Miftahul (31 Mei 2023). "Kuliner Laha Bete". TelusuRI. Diakses tanggal 2026-02-08.
  3. ^ Laraspati, Angga. "Populerkan Kuliner Lokal, Pemkab Sinjai Adakan Lomba Buat Laha Bete". detiksulsel. Diakses tanggal 2025-06-14.
  4. ^ Anindiati, Ayunia (2024-08-12). Febriansyah, Aan Ariska (ed.). "DWP Sinjai Gagas Lomba Senam Kreasi Laha Bete". RRI. Diakses tanggal 2025-06-14.
  5. ^ Nursam (2022-02-08). "Kuliner Laha Bete Sinjai Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda". Fajar Sulsel. Diakses tanggal 2025-06-14.
  6. ^ "Laha' Bete Sinjai". Pusdatin Kemendikbudristek. Diakses tanggal 2025-06-14.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Kabupaten Seruyan

Seruyan". Lintas10.com. Diakses tanggal 2025-11-16. (Indonesia) Situs web resmi Kabupaten Seruyan Wikimedia Commons memiliki media mengenai Seruyan Regency.

Kabupaten Wonosobo

bps.go.id/id/publication/2025/02/28/44ac706cf04749eb1df846a6/wonosobo-regency-in-figures-2025.html. ; Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak

Daftar kunjungan kerja Joko Widodo

Palakka, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Kabupaten Sinjai Presiden Jokowi mengunjungi RSUD Kabupaten Sinjai, dalam kunjungan kerjanya di Sulawesi Selatan 5