Stephen J. Adler (lahir 1955) adalah seorang jurnalis Amerika Serikat yang dikenal atas kepemimpinannya di bidang media internasional. Ia menjabat sebagai Editor-in-Chief Reuters, salah satu lembaga berita terbesar dan paling berpengaruh di dunia, dari tahun 2011 hingga 2021. Selama masa kepemimpinannya, Adler berfokus pada penguatan standar jurnalistik, inovasi digital, dan perluasan jangkauan global Reuters, sambil menekankan pentingnya akurasi, independensi, dan integritas dalam pelaporan berita.[1]
Sebagai seorang profesional media dengan pengalaman puluhan tahun, Adler memainkan peran penting dalam transformasi Reuters di era digital, termasuk adaptasi terhadap platform online, media sosial, dan tren konsumen berita modern. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang mempromosikan jurnalisme investigatif dan pendidikan wartawan, serta mengadvokasi praktik editorial yang menjaga kepercayaan publik terhadap media berita global.[2]
Kehidupan awal
suntingStephen J. Adler lahir pada tahun 1955 dari pasangan Norman Adler, yang menjabat sebagai ketua departemen bahasa Inggris di sekolah menengah, dan Mildred Adler, seorang penulis sekaligus pekerja sosial. Latar belakang keluarganya yang menekankan pendidikan dan literasi tampaknya berperan penting dalam membentuk minatnya terhadap jurnalisme dan komunikasi.[3]
Adler menempuh pendidikan tinggi di Harvard University, di mana ia lulus pada tahun 1977. Ia kemudian melanjutkan studinya di Harvard Law School, meraih gelar sarjana hukum pada tahun 1983. Pendidikan di kedua institusi bergengsi ini memberinya dasar intelektual yang kuat, menggabungkan pemahaman kritis, kemampuan analisis hukum, dan keterampilan komunikasi yang mendalam, yang kemudian menjadi aset penting dalam kariernya di bidang jurnalisme dan manajemen media.[3]
Karir
suntingAdler memulai karier jurnalistiknya sebagai reporter untuk Tampa Times dan Tallahassee Democrat. Pada 1983, ia bergabung dengan The American Lawyer sebelum pindah ke The Wall Street Journal pada 1988 sebagai legal editor. Di Wall Street Journal, ia dipromosikan menjadi assistant managing editor pada 1998 dan deputy managing editor pada 2000, memegang peran penting dalam pengawasan konten hukum dan editorial perusahaan.
Pada 2005, Adler diangkat sebagai editor-in-chief BusinessWeek. Selama lima tahun kepemimpinannya, majalah dan platform daringnya menerima lebih dari 100 penghargaan, memperkuat reputasi publikasi tersebut sebagai sumber berita bisnis yang berpengaruh dan tepercaya.
Pada 2010, Adler bergabung dengan Thomson Reuters sebagai senior vice president dan editorial director divisi profesional. Setahun kemudian, ia diangkat sebagai editor-in-chief Reuters News, di mana ia memimpin operasi editorial dan strategi berita global. Selama masa jabatannya, Reuters menerima delapan Pulitzer Prizes dan terus menegaskan standar jurnalisme internasional yang tinggi. Pada 2018, ia secara terbuka mengecam penahanan dan vonis terhadap dua jurnalis Reuters di Myanmar,[4] menekankan pentingnya kebebasan pers. Adler pensiun dari Reuters pada 2021.[1]
Selain karier editorialnya, Adler aktif dalam organisasi yang mendukung kebebasan pers dan jurnalisme independen. Ia menjabat sebagai Chairman of the Board dari Reporters Committee for Freedom of the Press dan menjadi anggota dewan Columbia Journalism Review serta Committee to Protect Journalists, berkontribusi pada advokasi dan perlindungan jurnalis di seluruh dunia.
Referensi
sunting- ^ a b https://www.reuters.com/article/technology/reuters-editor-in-chief-stephen-j-adler-announces-retirement-idUSKBN29B1SS/
- ^ "Stephen J. Adler | Columbia Journalism School". journalism.columbia.edu. Diakses tanggal 2025-11-06.
- ^ a b "Lisa Grunwald, an Editor, Is Wed to Stephen J. Adler (Published 1988)" (dalam bahasa Inggris). 1988-04-10. Diakses tanggal 2025-11-06.
- ^ "Dibebaskan, dua wartawan Reuters yang ungkap pembunuhan warga Rohingya". BBC News Indonesia. Diakses tanggal 2025-11-06.