Gunung Colo
Erupsi Gunung Colo pada tahun 1983.
Titikย tertinggi
Ketinggian486ย m (1.594ย ft)[1]
Koordinat0ยฐ10โ€ฒ12โ€ณS 121ยฐ36โ€ฒ29โ€ณE๏ปฟ / ๏ปฟ0.17ยฐS 121.608ยฐE๏ปฟ / -0.17; 121.608
Geografi
Peta
LetakSulawesi Tengah, Indonesia
Geologi
Jenis gununggunung berapi kerucut dengan caldera
Letusan terakhirJuli-December 1983

Gunung Colo adalah sebuah gunung berapi kerucut yang terletak di Pulau Una-Una, Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Gunung ini berada di di tengah Teluk Tomini, bagian utara Sulawesi. Secara administratif termasuk ke wilayah Kabupaten Tojo Una-Una. Gunung ini terakhir meletus dahsyat pada tahun 1983 yang mengancurkan dua per tiga bagian pulau.

Pembentukan Gunung Colo

sunting

Gunung Colo merupakan gunungapi yang menyendiri di Teluk Tomini dan berada jauh dari zona subduksi. Gunungapi terdekat adalah gunung-gunung di daratan Sulawesi Utara yang merupakan produk dari subduksi. Gunung Colo bukan merupakan gunungapi yang terbentuk akibat proses subduksi lempeng. Dikatakan demikian akibat beberapa hal sebagai berikut. Di wilayah Teluk Tomini terdapat cukup banyak episentrum gempa. Umumnya, gempa bumi pada zona subduksi memiliki hiposentrum pada zona Benioff. Zona Benioff di sekitar Gunung Colo berada pada kedalaman lebih dari 200ย km (relatif lebih dalam). Bisa saja Gunung Colo terbentuk akibat subduksi dengan Zona Benioff yang dalam ini, tetapi jika memang subduksi yang terjadi, maka harusnya bukan hanya satu gunungapi saja yang terbentuk di daerah ini, melainkan satu deret. Selain itu, Gunung Colo berada jauh dari zona subduksi. Berbeda jauh dengan deretan gunungapi di Sulawesi Utara, jarak antara zona subduksi dengan Gunung Colo ini lima kali lipatnya, bahkan lebih.

Gunung Colo diperkirakan terbentuk akibat rifting by subduction rollback. Rifting ini terjadi pada daerah Teluk Tomini yang merupakan implikasi dari subduction rollback. Subduction rollback merupakan peregangan kerak akibat perubahan sudut dari lempeng yang menunjam (subducting slab). Subduksi ini terjadi di Laut Sulawesi, strike subduksi tersebut sejajar dengan garis pantai Lengan Utara Sulawesi. Daerah ini merupakan Palung Sulawesi Utara (North Sulawesi Trench). Dengan adanya peregangan kerak di Teluk Tomini tersebut, artinya kerak di bawah Teluk Tomini tersebut semakin menipis. Peregangan ini sendiri terjadi pada Pliosen hingga Pleistosen. Dahulunya, cekungan Gorontalo di Teluk Tomini tidak sedalam sekarang. Cekungan ini mulai mendalam pada Miosen hingga Pliosen (7-5 juta tahun yang lalu) seiring tekukan lempeng yang menunjam ke arah selatan di Laut Sulawesi.

Akibat penipisan kerak tersebut, terjadi rifting atau pemekaran di wilayah Teluk Tomini. Rifting ini terbentuk akibat kerak bumi yang memiliki elastisitas rendah, sehingga bila ditarik maka akan meregang dan sedikit mekar, tidak seperti karet tentunya. Peregangan ini terbukti dari data GPS yang menunjukkan bahwa Lengan Utara Sulawesi bergerak menjauh relatif terhadap Lengan Timur Sulawesi. Peregangan atau pemekaran ini tentunya menjadi zona lemah pada batuan, sehingga dapat diterobos oleh magma atau material mantel bumi. Gunung Colo diprediksi terbentuk akibat hal tersebut, terjadi penipisan atau peregangan kerak bumi pada wilayah Teluk Tomini lalu ada material magmatik yang menerobos batuan pada kerak bumi lalu muncul ke permukaan membentuk tubuh gunungapi di atas permukaan laut.

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ "Colo (Una-Una)". Global Volcanism Program. Institusi Smithsonian. Diakses tanggal 2006-12-17.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Gempa bumi Sanriku 2026

Hirasawa T. & Miyazaki S. (2000). "Distribution of seismic coupling on the subducting plate boundary in northeastern Japan inferred from GPS observations".

Tsunami Laut Jepang 1741

"Contrasting volcano spacing along SW Japan arc caused by difference in age of subducting lithosphere". Scientific Reports. 10 (15005): 15005. doi:10.1038/s41598-020-72173-6

Gempa bumi Sanriku 2025

Hirasawa T. & Miyazaki S. (2000). "Distribution of seismic coupling on the subducting plate boundary in northeastern Japan inferred from GPS observations".

Busur Banda

melalui ke Pulau Watubela, Pulau Seram dan Buru. Kontur kedalaman lempeng subducting juga akan melengkung seperti permukaan sebuah sendok. Dua ridge tersebut

Letusan dan tsunami Hunga Tonga 2022

Draut, Amy E.; and Regelous, Marcel. "Tracing the Evolving Flux From the Subducting Plate in the Tonga-Kermadec Arc System Using Boron in Volcanic Glass."

Mekanisme fokal

1029/RG009i001p00103. Vassiliou, Marius S. (1984). "The state of stress in subducting slabs as revealed by earthquakes analysed by moment tensor inversion"

Region Antofagasta

Rodrigo; Velasco, Francisco; Galindo, Carmen (2020). "The role of the subducting slab and melt crystallization in the formation of magnetite-(apatite)

Letusan Gunung Asama pada Masa Tenmei

"Contrasting volcano spacing along SW Japan arc caused by difference in age of subducting lithosphere". Scientific Reports. 10 (15005): 15005. doi:10.1038/s41598-020-72173-6