Lelaki suku Dera dengan pakaian adat untuk upacara Heru | |
| Jumlah populasi | |
|---|---|
| 1,000 (Indonesia) 680 (PNG) | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
| Keerom, Papua dan Papua Nugini | |
| Bahasa | |
| Bahasa Dera | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Emem |
Suku Dera atau disebut juga Draa, Dra, Ndra merupakan suku bangsa yang mendiami perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini. Lebih tepatnya seperti Distrik Web atau Distrik Yaffi dan sekitarnya di Kabupaten Keerom, Provinsi Papua, Indonesia.
Dalam buku Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia oleh Zulyani Hidayah, tercatat jumlah populasinya di wilayah Indonesia sekitar 1.000 jiwa, dan di wilayah Papua Nugini sekitar 680 jiwa.[1] Mereka menggunakan bahasa Dera yang merupakan anggota rumpun bahasa Senagi (bukan bahasa Senggi). Bahasa ini memiliki dua dialek Menggwa Dla dan Dla sebenarnya.[2]
Tarian adat
sunting
Orang-orang Web (suku Dera dan suku Emem) mempunyai tradisi tari-tarian yang disebut upacara heru berupa Tarian Kepala Panjang dan Tarian Kepala Pendek. Motif-motif untuk hiasan pada tarian kepala panjang dan tubuh diambil dari motif yang gambar cadas prasejarah pada dinding gua-gua di Keerom seperti Gua Triffi, Gua Yembi Aharambru, Gua Kwarpei, Gua Kefai Ambea, Gua Yakumbru, dan lain-lain. Upacara heru terdiri dari tiga bagian, penyembuhan, kesuburan, dan kematian. Motif yang paling sering digunakan adalah kura-kura dan kadal pada pelepah sagu yang dihias bulu cendrawasih, upacara itu dilakukan agar roh binatang tersebut senang sehingga tidak mengganggu orang lagi dan menyebabkan sakit. [3][4]

Beberapa motif lain dan maknanya bagi orang web (Dera dan Emem):[3]
- ikan: bermakna janji kepada leluhur untuk hasil yang maksimal
- kura-kura: lambang penyembuhan, dipercaya digambar oleh orang yang sakit untuk menandakan bahwa wilayah tersebut terdapat jin/soanggi yang menyebabkan sakit.
- Kadal: lambang kesuburan dan penyembuhan, dipercaya sebagai janji leluhur bahwa wilayah tersebut subur dan hasil kebun yang melimpah
- noken: disebut pula noken 8, berbentuk segiempat dengan garis memanjang, lambang kesuburan dan kematian. Karna noken bisa diisi oleh hasil kebun yang melimpah atau tulang belulang orang mati yang diantar ke gua.
- anak panah: lambang perdamaian dan keberhasilan dalam berburu
- lingkaran: Lingkaran dengan titik ditengah melambangkan keret-keret. Lingkaran dengan belah ketupat merupakan simbol batas tanah adat.
Referensi
sunting- ^ Hidayah, Zulyani (April 2015). Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. hlm.ย 112. ISBNย 978-979-461-929-2. Pemeliharaan CS1: Tahun (link)
- ^ de Sousa, Hilรกrio (2006). The Menggwa Dla language of New Guinea (Doctoral dissertation). University of Sydney.
- ^ a b Mutiara dari Keerom, Tinjauan Makna dan Budayanya. Jayapura: Balai Arkeologi Papua-Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2019.
- ^ Fairyo, Klementin (2016). "Lukisan Dinding Gua Prasejarah di Perbatasan Indonesia-Papua Nugini". Kalpataru. 25 (2): 117โ130.