| Daerah dengan populasi signifikan | |
|---|---|
| Bahasa | |
| Wanggom, Indonesia | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Kombai, Korowai, Wambon |
Suku Wanggom adalah suku yang mendiami sebagian wilayah Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan, seperti Distrik Firiwage, Kawagit dan sekitarnya. Wilayah suku Wanggom dibatasi oleh suku Korowai dan Tsakwambo di utara, suku Wambon dan Mandobo di sebelah timur, dan suku Kombai di sebelah barat dan selatan. Suku Wanggom sendiri dianggap merupakan sub-suku dari suku Kombai, dan berbahasa dengan dialek Wanggom yang terkadang diklasifikasi sebagai bahasa sendiri.[1]
Etimologi
suntingKata wanggom berasal dari bahasa wanggom yang berarti "anak saya". Maknanya berkaitan dengan asal-usul suku Wanggom yang dianggap keturunan termuda dan terkecil yang diciptakan terakhir dari gumpalan tanah setelah Kolufo (Korowai) dan Wambon.[2]
Adat
suntingWilayah adat
suntingSama dengan suku Kombai dan Korowai, suku Wanggom memiliki wilayah klan, yang dimanfaatkan oleh setiap klan/marga untuk keperluan hidupnya. Wilayah tersebut dibagi menjadi:[2]
- Arato : Merupakan area untuk lindung, tempat keramat, tempat tersebut ada yang benar-benar dilarang untuk orang beraktivitas, dan ada pula yang hanya orang tertentu.
- Yauto : Merupakan areal hutan yang digunakan untuk berburu babi, tikus tanah, rusa, dan berburu terbatas pada batas wilayah adat setiap marga.
- Hohundo : Merupakan hutan sekunder yang difungsikan untuk berburu, berkebun dan tempat untuk meramu.
- Yuno Hohundo : Merupakan areal bekas kebun yang di persiapkan untuk keturunan dari pemilik kebun.
- Hambo : Merupakan areal pemukiman yang difungsikan untuk membangun fasilitas umum, fasilitas sosial, dan rumah pribadi, maupun pemanfaatan lahan.
- Dete : Areal yang difungsikan sebagai kebun campur.
- Duwalio : merupakan areal dusun sagu, budidaya sagu, dan tempat berburu.
- Ehaluk : Merupakan areal sungai besar (seperti Sungai Digoel) yang difungsikan sebagai jalur transportasi, mencari ikan, dan sebagainya.
Organisasi adat
suntingLembaga atau organisasi pada suku Wanggom setingkat marga yang disebut Namua La Hambia, yang didalamnya terdapat beberapa pemangku adat yaitu:[2]
- Hambia : Orang yang dihormati
- Wondorome : Kaka tertua dari turunan tertua dalam marga atau klan.
- Wambu : pengeksekusi sanksi adat dalam kelompok marga.
- Khanduri : Orang kaya
- Honggi : Panglima perang atau pengeksekusi sanksi adat.
Budaya
suntingBusana
suntingLelaki suku Wanggom menggunakan koteka yang dibuat dari paruh burung taon-taon (syau) dan ikat pinggang rotan, sedangkan perempuan menggunakan rok rumbai yang dibuat dari pintalan kulit pohon melinjo (relika) dan daun pandan hutan (kaiwa). Selain itu daun tersebut juga dibuat menjadi perhiasan lainnya. Kalung (jinaw) dapat terbuat dari taring babi (hayimbia), sedangkan bahan lain berupa tali rotan dan taring anjing (mai) yang selain dibuat menjadi kalung juga dibuat sebagai gelang. Untuk perhiasan kepala laki-laki digunakan kepala dan bulu burung cendrawasih (fondo) dan bulu kasuari (firi).[2]
Rumah adat
suntingRumah adat suku Wanggom dibagi menjadi dua jenis yaitu anggulu dan juro. Keduanya merupakan sejenis rumah panggung, yang membedakan adalah tingginya. Anggulu adalah rumah tinggi atau rumah pohon suku Wanggom yang terletak di atas batang pohon, seperti rumah suku Korowai, Kombai, Momuna, Muyu dan suku-suku lainnya. Sedangkan juro adalah rumah panggung yang dibangun lebih rendah.[2]
Struktur balok dan kolomnya terbuat dari pohon damar (ndalu), kayu cina (ura), dan bambu (holu). Untuk mengikatnya menggunakan tali dari rotan (wangri) atau tali mangkok/merah (raku) yang dibuat dari tumbuhan tertentu yang saat basah berwarna putih gading dan saat kering berubah menjadi merah. Sedangkan lantainya terbuat dari batangan pohon nibung atau pelepah sagu. Atap rumah dibuat dari daun sagu yang dianyam atau diselipkan pada struktur rumah.[2]
Referensi
sunting- ^ Vries, Lourens de (1993). Forms and functions in Kombai, an Awyu language of Irian Jaya. Dept. of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University. ISSN 0078-754X. Diakses tanggal 2025-05-31.
- ^ a b c d e f "Kampung Firiwage". Badan Registrasi Wilayah Adat. 2025-05-31. Diakses tanggal 2025-05-31.