Di Minangkabau, letak masjid biasanya berdampingan dengan surau. Lokasi foto diambil berada di Padang Lua, Banuhampu, Agam sekitar tahun 1900-an.

Di beberapa daerah di Sumatra dan Semenanjung Malaya, surau merujuk pada bangunan tempat ibadah umat Islam. Surau menempati bangunan terpisah alih-alih ruangan pada sebuah bangunan.

Fungsi surau hampir sama dengan masjid yakni sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat dan pendidikan dasar keislaman. Akan tetapi, karena bangunannya relatif lebih kecil dari masjid, surau biasanya tidak digunakan untuk pelaksanaan salat Jumat dan salat Ied.

Di Minangkabau, surau kebanyakan lebih dikhususkan sebagai lembaga pendidikan dikarenakan letaknya yang berdampingan dengan masjid.[1]

Defenisi

sunting

Istilah surau sudah dikenal di Minangkabau jauh sebelum kedatangan Islam.[2] A.A. Navis menggambarkan, surau merupakan tempat berkumpulnya anak laki-laki yang sudah akil baligh untuk tidur di malam hari[a] serta menekuni bermacam ilmu dan keterampilan.[3][4][5] Fungsi ini tidak berubah setelah kedatangan Islam, tetapi diperluas menjadi tempat ibadah dan penyebaran ilmu keislaman.[6] Menurut cendekiawan Islam Azyumardi Azra, kedudukan surau di Minangkabau serupa dengan pesantren di Jawa. Namun, setelah kemerdekaan eksistensi surau di Minangkabau berangsur surut karena lembaga pendidikan Islam di Indonesia harus tunduk pada aturan pemerintah.[7]

Di Malaysia, perbedaan fungsi antara surau dengan masjid tidak begitu jelas. Untuk tujuan administratif, surau dibedakan menjadi surau besar dan surau kecil. Meskipun fungsinya hampir sama dengan masjid di Indonesia, surau besar biasanya mempunyai fungsionaris keagamaan lebih lengkap. Akan tetapi, surau besar pada umumnya tidak dimaksudkan sebagai lembaga pendidikan Islam. Sebaliknya, surau kecil biasanya juga difungsikan sebagai tempat memberikan pelajaran dasar agama.

Surau di Minangkabau

sunting
Masjid Asasi Padang Panjang, dahulu merupakan surau gadang.

Dilihat dari bentuk bangunannya, surau terbagi dalam dua bagian yakni surau gadang (surau besar) dan surau ketek (surau kecil). Surau gadang adalah surau yang menjadi pusat dari surau-surau ketek di sekitarnya dengan daya tampung yang lebih luas. Surau gadang menyelenggarakan pengajian secara berkala oleh seorang syekh yang murid-muridnya adalah para guru yang berasal dari surau-surau ketek. Pemberian nama surau gadang biasanya dinisbatkan oleh nama syekh yang mengasuh pengajian di surau tersebut atau sering disamakan dengan daerah tempat surau berdiri. Pada akhirnya, banyak surau gadang bertransformasi menjadi masjid atau madrasah/pesantren.[8]

AWP. Verkerk Pistorius dalam artikelnya di Tijdschrift voor Nederlandsch-Indiรซ pada tahun 1868 memberikan gambaran sejumlah surau besar di Minangkabau. Di antara surau tersebut yakni: Surau Taram, Surau Koto Tuo, Surau Cangkiang, Surau Pasir, Surau Laboh (Tanah Datar), Surau Padang Gantiang, Surau Simabur, Surau Pangian, Surau Piei, Surau Muara Panas, Surau Kota Anau, Surau Kasih, Surau Singkarak, Surau Calau, dan Surau Padang Sibusuk.[9]

Mahmud Yunus juga menambahkan sejumlah surau besar lainnya, yakni Surau Syekh Abdullah Khatib Ladang Lawas Bukittinggi, Surau Syekh Muhammad Jamil Tungkar, Surau Syekh Tuanku Kolok (Syekh Muhammad Ali) di Sungayang, Surau Syekh Abdul Manan (Tuanku Talao), Surau Syekh Muhammad Shaleh Padang Kandis, Surau Syekh Abdullah (Padang Japang), Surau Syekh Ahmad Alang Lawas, dan Surau Syekh Amarullah.[10]

Lihat pula

sunting

Catatan kaki

sunting
Keterangan
  1. ^ Menurut ketentuan adat di Minangkabau, laki-laki dianggap memalukan bila masih tidur di rumah orang tua mereka atau istri yang ia ceraikan sehingga mereka diharuskan tidur di surau.
Daftar pustaka
  1. ^ http://www.lib.ui.ac.id/file?file=digital/20393920-Geschiedenis%20van%20het%20onderwijs%20in%20nederlansch-indie,%201938.pdf
  2. ^ Dobbin, Cristine (1971). Islam Revivalism In Minangkabau At The Turn Of The 19th Century. Cambrage university Press. Hal. 120.
  3. ^ Sidi, Gazalba (1982). Masjid Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Ummirda. Hal. 314.
  4. ^ Dobbin, Cristine (1992). Kebangkitan Islam Dalam Ekonomi Petani yang Sedang Berubah: Sumatra Tengah 1784-1847. Terj. Lilian D. Tedjasukandhana. Jakarta: INIS. Hal. 142.
  5. ^ https://books.google.co.id/books?id=CgdnDwAAQBAJ&pg=PA109&dq=%22TUANKU+MANSIANGAN%22&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwjhkODyx-XoAhXu7XMBHYMRCXMQ6AEIQDAC#v=onepage&q=%22TUANKU%20MANSIANGAN%22&f=false
  6. ^ Azra, Azyumardi (1985). Surau Di Tengah Krisis: Pesantren Dalam Prespektif Masyarakat. Jakarta: PM3. Hal. 156.
  7. ^ Azra, Azyumardi (1999). Pemikiran Islam Tradisi dan Modernitas Menuju Milinium Baru. Ciputat: Logos.
  8. ^ https://onesearch.id/Record/IOS3796.123456789-36460
  9. ^ Tijdschrift voor Nederlandsch Indiรซ (dalam bahasa Belanda). Ter Lands-drukkerij. 1869. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  10. ^ Yunus, Mahmud (2008). Sejarah pendidikan Islam di Indonesia. Mahmud Yunus Wadzurriyyah. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Robohnya Surau Kami

Robohnya Surau Kami adalah sebuah kumpulan cerpen sosial-agamawi karya A.A. Navis. Cerpen ini pertama kali terbit pada tahun 1956, yang menceritakan dialog

Surau Menara

Surau Menara atau Surau Syekh Mustafa terletak di Jorong Lubuk Jaya, Nagari Koto Baru, Kecamatan Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat

Surau Bulian

1ยฐ24โ€ฒ47โ€ณS 101ยฐ21โ€ฒ31โ€ณE๏ปฟ / ๏ปฟ1.413099ยฐS 101.358632ยฐE๏ปฟ / -1.413099; 101.358632 Surau Bulian adalah bekas stasiun radio PHB Angkatan Udara Republik Indonesia

Mohammad Hatta

ayah, Abdurrahman Batuhampar dikenal sebagai ulama pendiri Surau Batuhampar, sedikit dari surau yang bertahan pasca-Perang Padri. Sementara itu, ibunya berasal

Surau Bintungan Tinggi

Surau Bintungan Tinggi terletak di Nagari Padang Bintungan, Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman. Surau ini didirikan oleh Syekh Abdurrahman

Surau Latiah

Surau Latiah terletak di Kampai Tabu Karambia, Lubuk Sikarah, Kota Solok, Sumatera Barat, Indonesia. Surau ini didirikan pada akhir abad ke-19 oleh Syekh

Musala

Musala (takbaku: mushola, mushala), langgar atau surau (bahasa Arab: ู…ุตู„ู‰code: ar is deprecated , translit.ย muแนฃallรก) adalah ruang selain masjid, terutama

Surau Tarok

Surau Tarok terletak di Jalan Tui, Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Surau ini diperkirakan dibangun pada akhir abad ke-19. Bangunannya