Infotaula de geografia políticaKeraton Surosowan
istana
Keraton Suntingan nilai di Wikidata
Gerbang menuju Keraton Surosowan pada tahun 2026 Suntingan nilai di Wikidata

Tempat
PetaKoordinat: 6°2′15.972″S 106°9′19.800″E / 6.03777000°S 106.15550000°E / -6.03777000; 106.15550000 
Negara berdaulatIndonesia
Provinsi di IndonesiaBanten
Kota di IndonesiaSerang Suntingan nilai di Wikidata
NegaraIndonesia Suntingan nilai di Wikidata


Salah satu sudut Keraton Surosowan pada tahun 2020

Keraton Surasowan adalah sebuah keraton dan sekaligus cagar budaya yang ada di di Kawasan Banten Lama,[1] Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten.[2] Keraton ini pertama dibangun sekitar tahun 1526 hingga tahun 1570[1] pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin, yang kemudian dikenal sebagai pendiri dari Kesultanan Banten.[3][4]

Sejarah pembuatan keraton ini terkait dengan pemberian wilayah yang diberikan oleh Sunan Gunung Djati kepada anaknya, yakni Sultan Maulana Hasanuddin.[1]

Selanjutnya pada masa penguasa Banten berikutnya bangunan keraton ini ditingkatkan bahkan konon juga melibatkan ahli bangunan asal Belanda, yaitu Hendrik Lucasz Cardeel, seorang arsitek berkebangsaan Belanda yang memeluk Islam yang bergelar Pangeran Wiraguna.[5] Dinding pembatas setinggi 2 meter mengitari area keraton sekitar kurang lebih 3 hektare. Surasowan mirip sebuah benteng Belanda yang kokoh dengan bastion (sudut benteng yang berbentuk intan) di empat sudut bangunannya. Sehingga pada masa jayanya Banten juga disebut dengan Kota Intan.

Saat ini bangunan di dalam dinding keraton tak ada lagi yang utuh. Hanya menyisakan runtuhan dinding dan pondasi kamar-kamar berdenah persegi empat yang jumlahnya puluhan.


Spesifikasi

sunting

Keraton Surasowan memiliki tiga pintu gerbang. Masing-masing terletak di sisi utara, timur, dan selatan. Pintu gerbang dibuat melengkung sebagai pencegahan bila terjadi penembakan langsung saat pintu dibuka.[6] Namun, pintu selatan telah ditutup dengan tembok, tidak diketahui apa sebabnya. Pada bagian tengah keraton terdapat sebuah bangunan kolam berisi air berwarna hijau, yang dipenuhi oleh ganggang dan lumut. Di keraton ini juga banyak ruang di dalam keraton yang berhubungan dengan air atau mandi-mandi (petirtaan). Salah satu yang terkenal adalah bekas kolam taman, bernama Bale Kambang Rara Denok. Ada pula pancuran untuk pemandian yang biasa disebut “pancuran mas”.

Di dalam Keraton Surosowan terdapat sebuah kolam bernama Kolam Rara Denok. Kolam ini berukuran 30 meter panjangnya dan 13 meter lebarnya. Kedalaman kolam adalah 4,5 meter. Kolam Rara Denok memiliki sumber mata air yang berasal dari Danau Tasikardi. Jarak danau ini dari Keraton Surosowan sekitar dua kilometer.[7]

Sejarah

sunting

Saat pemerintahan Banten dipimpin oleh Sultan Haji pada tahun 1672-1687, keraton ini sempat mengalami penghancuran pada tahun 1680. Lalu kemudian diperbaiki kembali dengan menambahkan dinding pada bagian sisi keraton yang berupa benteng setinggi 2 meter dan lebar 5 meter untuk menghalau serangan dari Belanda.[1]

Peghancuran berikutnya pun terjadi pada tahun 1808 karena pertikaian antara sultan Banten dengan pemerintah kolonial Belanda, dan kerusakan keraton tersebut terus berlangsung hngga tahun 1832.[2]

Catatan kaki

sunting
  1. ^ a b c d "Sisa-Sisa Kejayaan Banten di Reruntuhan Keraton Surosowan". Indonesia Kaya. Diakses tanggal 2026-03-03.
  2. ^ a b Asya, Heri (25 April 2025). "Keraton Surosowan, Peninggalan Masa Kejayaan Kesultanan Banten". Diakses tanggal 3 Maret 2026.
  3. ^ Titik Pudjiastuti, (2000), Sadjarah Banten: suntingan teks dan terjemahan disertai tinjauan aksara dan amanat.
  4. ^ Mapata, Dg (2017-10-26). Buku Penunjang Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Pengembangan Silabus Kurikulum 2013 Versi 2016 Peserta Didik Kelas Vii Satuan Pendidikan SMP/MTS, dan Atau Sederajat. Deepublish. ISBN 978-602-453-610-7.
  5. ^ Situs mengenai seseorang yang bernama pangeran wiraguna adapun terdapat di Wilayah jakarta selatan, yang dengan situs itu pula akan menjadi nama suatu wilayah bernama Ragunan yang di percaya oleh masyarakat setempat sebagai awal dari cikal bakal nama daerah ragunan.
  6. ^ Sulaiman, F., dan Ridwan, A. (Agustus 2019). Saputra, Desma Yuliadi (ed.). Studi Kebantenan dalam Perspektif Budaya dan Teknologi (PDF). Serang: Untirta Press. hlm. 74. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ^ Argadia, Yosep Riva (November 2019). Permanawiyat, Widhi (ed.). Profil Budaya dan Bahasa Kota Serang Provinsi Banten (PDF). Jakarta: Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 8. ISBN 978-602-8449-19-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Bibliografi

sunting
  • Juliadi. 2007. Masjid Agung Banten: Nafas Sejarah dan Budaya. Yogyakarta: Ombak.
  • Michrob, Halwany. 1993. Sejarah Perkembangan Arsitektur Kota Islam Banten: Suatu Kajian Arsitektural Kota Lama Banten Menjelang Abad XVI sampai Dengan Abad XX. Jakarta: Yayasan Baluwarti.

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Kesultanan Banten

Wahanten Girang ke pesisir di kompleks Surosowan sekaligus membangun kota pesisir. Kompleks istana Surosowan tersebut akhirnya selesai pada tahun 1526

Maulana Hasanuddin dari Banten

[butuh rujukan] Ia juga dikenal sebagai Pangeran Surosowan karena telah mendirikan Keraton Surosowan. BPS Provinsi Banten (2019). Pariwisata Banten dalam

Pengepungan Surosowan (1808)

sangat murka dan langsung menyerang Surosowan untuk. yang kedua kalinya, kali ini ia dapat menumpas semua itu. Surosowan dapat direbutnya, dibakar dan dihancurkan

Peperangan Banten–Belanda

depan kota Surosowan, datang 11 kapal perang kompeni, dalam formasi mengepung dari Pulau Lima di timur sampai ke Pulau Dua. Di Surosowan, pasukan meriam

Palangka Sriman Sriwacana

raja pada tradisi jawa ,saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surosowan di Banten. Karena mengkilap, orang Banten menyebutnya watu gigilang. Kata

Kesultanan Cirebon

(Pangeran Sabakingkin: nama pemberian dari kakeknya Sang Surosowan) yang lahir pada 1478 M. Sang Surosowan walaupun tidak memeluk agama Islam tetapi sangat toleran

Pemberontakan Besar Banten (1750)

Buang yang akan menyerbu Surosowan dan Ki Tapa akan mencegat pasukan Belanda yang akan membantu Ratu Fatima. Penyerbuan ke Surosowan pun dilakukan oleh Ratu

Pakuan Pajajaran

dibandingkan dengan nama-nama keraton lain, yaitu Surawisesa di Kawali, Surosowan di Banten dan Surakarta di Jayakarta pada masa silam. Karena nama yang