| Tamo | |
|---|---|
| Tempat asal | Indonesia |
| Daerah | Kepulauan Nusa Utara (Sangihe, Talaud, Sitaro) |
Tamo adalah kue adat masyarakat Kepulauan Nusa Utara yang meliputi wilayah Sangihe, Talaud, dan Sitaro. Istilah tamo dimaknai sebagai โyang diperhadapkanโ. Dalam pemaknaan tradisional, kata TAMO juga diuraikan sebagai akronim: Tundu (kebiasaan, adat, budaya), Aha (ajaran atau panduan), Mehengken Nusa (pemimpin atau tetua negeri), dan Onto/olohiwu (tanaman atau warisan yang ditanam).[1]
Selain itu, dikenal pula istilah tamonde atau tetamondeang yang berarti โdiistimewakanโ atau โdiagungkanโ. Dalam tradisi masyarakat setempat, tamo memiliki makna kebersamaan dan kekeluargaan serta berfungsi sebagai simbol pelengkap dalam upacara adat Tulude.[1] Selain itu, kue tamo berfungsi sebagai lambang kebersamaan atau dalam bahasa Sangir dikenal sebagai Maka Sembau Komorang, serta sebagai Salimangu Kawanua atau jamuan makanan tradisional.[2]
Peran dalam Upacara Tulude
suntingKue tamo senantiasa hadir dalam pelaksanaan upacara adat Tulude dan menjadi salah satu unsur terpenting dalam rangkaian prosesi tersebut. Bagian utama dari upacara ini adalah pemotongan dan pembagian kue tamo, yang mengandung makna simbolis bagi masyarakat setempat. Dalam tradisi lisan, kue ini disebut telah ada sejak masa perkawinan adat leluhur masyarakat Sangihe, yakni Mangulung Dagho dan Bansan Peliang.[1]
Secara harfiah, dalam bahasa daerah Sangihe dikenal ungkapan โTundu aha i mehengkeng nusa, onto i olohiwu,โ yang merujuk pada tamo sebagai kue adat yang dibuat oleh leluhur dan diwariskan secara turun-temurun kepada generasi berikutnya. Karena kedudukannya yang dianggap luhur dan bermartabat dalam tradisi, tamo juga disebut sebagai Datung Kaeng atau โRaja Makananโ.[1]
Bahan yang digunakan
suntingKue tamo merupakan penganan tradisional yang serupa dengan dodol dan dibuat mengikuti tata cara pembuatannya sebagaimana tradisi tua yang masih dipertahankan hingga kini. Bahan-bahan yang digunakan terdiri atas bogase pulo (beras ketan), gula mahamu (gula merah), lanang bango (minyak kelapa), kapala masasa su kalune (pepaya matang di pohon), pulingka (kelapa muda), busa datu masasa su kalune (pisang raja yang matang di pohon), serta kalu manise (kayu manis).[1]
Proses tradisional
suntingTamo merupakan simbol yang digunakan masyarakat dalam prosesi adat untuk memohon kebaikan bagi daerah dan komunitas, yang disertai doa kepada I Gengghona (Tuhan) sebagai sumber kehidupan. Kue ini juga dipandang sebagai penanda atas kemungkinan terjadinya hal yang kurang baik karena sifatnya yang dianggap sakral. Kesakralan tersebut tercermin dari tradisi bahwa pembuatan tamo hanya dapat dilakukan oleh keturunan pelaku adat, tetapi dalam proses pembuatannya dapat melibatkan masyarakat yang dinilai mampu dan bertanggung jawab dalam proses pembuatan Tamotersebut.[3]
Pembuatan kue tamo diawali dengan memasak beras hingga matang serta mencairkan gula merah dengan air. Buah pepaya, pisang, dan kelapa muda kemudian dikeruk, lalu seluruh bahan dicampur dengan tambahan minyak kelapa dan bubuk kayu manis. Adonan tersebut dimasak kembali dalam tahap yang disebut mangongke, yakni proses pengadukan terus-menerus selama sekitar 2โ3 jam hingga matang.[1]
Setelah itu, adonan dimasukkan ke dalam pestaka (cetakan) dan ditiriskan selama 3โ7 hari hingga mengeras dan dapat dikeluarkan untuk ditempatkan di atas dulang. Kue kemudian dihias dengan telur rebus, udang matang, rica, ketupat, bendera, serta aneka buah dan ornamen lainnya. Selama proses tradisi โmangongkeโ, para pembuat hanya boleh bicara dalam bahasa isyarat (tidak boleh ada suara) dan suasana dapur harus benar-benar hening. Kayu bakar yang digunakan pun khusus, yakni kayu leluhang atau pawa (marong kelapa).[1]
Penyajian dan Tata Upacara
suntingDalam penyajiannya, kue tamo dihias dengan bendera dan telur pada bagian pucuk yang dimaknai sebagai simbol keberhasilan dan kesejahteraan. Bagian bawahnya umumnya dilengkapi dengan aneka hasil bumi dari sektor pertanian dan perikanan, yang melambangkan keterikatan serta kebersamaan antara petani dan nelayan sebagai mata pencaharian utama masyarakat Sangihe.[2]
Dalam pelaksanaan upacara adat, terdapat sejumlah ketentuan yang menyertai penggunaan kue tamo. Kue ini diarak menuju lokasi upacara dalam suatu prosesi yang diiringi musik tagonggong, tarian gunde, serta pengucapan kata-kata adat. Setibanya di tempat pelaksanaan, kue tamo diletakkan di ruang terbuka di tengah khalayak. Selanjutnya, kue dipotong menurut tata cara tertentu sebelum dibagikan kepada masyarakat yang hadir.[2]
Referensi
sunting- ^ a b c d e f g Matantu, Femmy Glory Euanggelia; Tumengkol, Selvie; Lesawengen, Lisbeth (2023-07-18). "Makna Kue Tamo Dalam Upacara Tulude Bagi Masyarakat Sangihe Di Desa Tariang Lama Kecamatan Kendahe". Jurnal Ilmiah Society (dalam bahasa Inggris). 3 (3). ISSNย 2337-4004.
- ^ a b c "Mengenal Tradisi Keakraban dalam Kuliner Kue Tamo Khas Sangir". Good News from Indonesia. 9 Agustus 2024. Diakses tanggal 22 Februari 2026.
- ^ Mangudis, Ivana Christin; Kaunang, Derel F.; Regar, Vivian E. (2024-07-19). "Eksplorasi Etnomatematika Pada Kue Adat Tamo Kabupaten Kepulauan Sangihe". Jurnal Cendekiaย : Jurnal Pendidikan Matematika (dalam bahasa Inggris). 8 (2): 1608โ1619. doi:10.31004/cendekia.v8i2.3377. ISSNย 2579-9258.

