Tektekan adalah seni pertunjukan musik tradisional dari Kerambitan, Tabanan, Bali, yang didominasi oleh suara ketukan dari alat musik bambu seperti kulkul. Awalnya merupakan tradisi spontan masyarakat untuk mengusir bala atau roh jahat, terutama saat Hari Raya Pengrupukan (sebelum Nyepi), tetapi kini telah berkembang menjadi pertunjukan yang dipentaskan dengan kolaborasi berbagai alat musik tradisional dan sering digunakan untuk mengiringi dramatari seperti Calonarang atau. Kesenian ini menjadi warisan budaya takbenda Indonesia pada tahun 2013 dan kini menjadi daya tarik wisata.

Asal-usul dan perkembangan

sunting
  • Asal kata: Berasal dari kata "tek" yang menjadi "tektek" dan ditambahkan akhiran "-an" menjadi tektekan.
  • Awal mulanya: Muncul sebagai kegiatan spontan masyarakat Kerambitan untuk memohon keselamatan, terutama pada malam Pengrupukan, untuk mengusir roh jahat.
  • Evolusi: Seiring waktu, kesenian ini mengalami perkembangan dan kreativitas, sehingga alat-alat musiknya lebih variatif dan mulai dipadukan dengan unsur-unsur dramatari.

Ciri-ciri

sunting
  • Instrumen utama: Mayoritas instrumennya terbuat dari bambu, seperti kulkul atau kentongan, dan dimainkan dengan suara "tek...tek...tek...".
  • Instrumen pendukung: Sering kali dipadukan dengan alat musik tradisional Bali lainnya seperti kendang, cengceng, kempur, suling, dan kemong.
  • Jumlah penabuh: Dimainkan oleh sekitar 30-40 orang dengan ritme yang terkadang mirip dengan suara pertunjukan Kecak.
  • Komposisi: Komposisi, teknik permainan, dan melodi dibuat untuk mengiringi lakon dramatari.

Fungsi dan makna

sunting
  • Religius: Secara tradisional berkaitan dengan upacara Bhuta Yadnya dan memiliki makna religius untuk mengusir roh jahat.
  • Sosial: Dapat mengukuhkan nilai solidaritas dan kebersamaan di antara masyarakat pendukungnya, seperti melalui Sekaa Taruna Patria di Banjar Tengah Kerambitan.
  • Wisata: Kini telah dikembangkan menjadi seni pertunjukan wisata dan dikenal hingga ke mancanegara.

Pementasan

sunting
  • Pengrupukan: Sering ditampilkan pada Hari Raya Pengrupukan, terutama untuk mengiringi arak-arakan ogoh-ogoh.
  • Dramatari: Digunakan sebagai pengiring pertunjukan dramatari seperti Calonarang dan fragmentari Puputan Margarana.
  • Pesta Kesenian Bali: Pernah ditampilkan dalam acara Pesta Kesenian Bali.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Daftar kecelakaan dan insiden pesawat penumpang di Indonesia

Palembang menuju Medan dipiloti Kepten A.E. Lontoh menabrak dinding Gunung Pertektekan, anak Gunung Sibayak dalam pendekatan untuk mendarat di Bandara Polonia

Lau Sidebukdebuk

berendam di kolam air panas, pengunjung dapat melihat Bukit Singkut, Bukit Pertektekan, dan puncak Gunung Sibayak dengan ketinggian 2.172 meter di atas permukaan

Garuda Indonesia

11 Juli 1979 - Fokker F-28 Garuda Indonesia menabrak lereng Gunung Pertektekan menewaskan 57 penumpang beserta 4 orang awaknya. 20 Maret 1982 - Fokker

Daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia

dan Rangda Tari tenun Tari Trunajaya Genggong - Bali Mandolin Penting Tektekan Daluman Jaja Kelepon Jaja Laklak Jaja Uli Jakut Pelecing Lawar Sate Lembat

Pangkalan Udara Soewondo

11 Juli 1979 - Fokker F28-100 milik Garuda Indonesia menabrak Gunung Pertektekan; 64 orang tewas. 4 April 1987 - Sebuah pesawat DC-9 milik Garuda Indonesia

Gamelan Bali

Pinara Pitu Kendang Mabarung Gong Kebyar Okakan atau Grumbungan Janger Tektekan Joged Bumbung Alat musik dalam gamelan bali disebut juga dengan rincikan

Kulkul

pagelaran atau pertunjukan seni, mulai dari pertunjukkan Gamelan Anyar, Tektekan, sampai pada seni Karawitan, semuanya menggunakan kulkul sebagai pelengkap

Musibah Fokker F28 Garuda Indonesia 1979

Palembang menuju Medan dipiloti Kepten A.E. Lontoh menabrak dinding Gunung Pertektekan, anak Gunung Sibayak dalam pendekatan untuk mendarat di Bandara Polonia