Zaman Tengen (天元) adalah nama zaman di Jepang setelah zaman Jōgen, sebelum zaman Eikan dan berlangsung dari tahun 978 hingga tahun 982. Pada masa pemerintahan Kaisar En'yū.

Pergantian zaman

sunting
  • Nama zaman perlu diganti pada zaman Jōgen tahun 3 bulan 11 hari 29 (31 Desember 978 kalender Julian) menjadi zaman Tengen, karena tahunnya berikutnya merupakan tahun sial.
  • Nama zaman diganti menjadi zaman Eikan pada Tengen tahun 6 bulan 4 hari 15 (29 Mei 983 kalender Julian).

Tabel

sunting
Tengen123456
Gregorian978979980981982983


Didahului oleh:
Jōgen
Nama zaman di JepangDiteruskan oleh:
Eikan

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Kesultanan Mataram

terdiri dari Wedana Gedong Kiwa, Wedana Gedong Tengen, Wedana Keparak Kiwa, dan Wedana Keparak Tengen. Para wedana tersebut dikepalai oleh Patih Lebet

Katsuyuki Konishi

penggemarnya dan mengungkapkan bahwa karakter anime favoritnya adalah Kamina dari Tengen Toppa Gurren Lagann; juga menambahkan bahwa setiap karakter yang dia suarakan

Joglo

harta keluarga atau pusaka semacam keris, dan lain sebagainya Sênthong-têngên. Bagian ini sama seperti Senthong kiwa, baik fungsinya maupun pembagian

Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba – The Movie: Infinity Castle

bersama para gagak Kasugai dan menemukan penghuninya, dengan mantan Hashira Tengen Uzui dan Shinjuro Rengoku yang berjaga. Shinobu Kocho berhadapan dengan

Keraton Surakarta Hadiningrat

Sewayana dan Witana, terdapat dua bangunan bangsal, yaitu Bangsal Gandekan Tengen di bagian utara dan Bangsal Angun-Angun di bagian selatan. Sementara di

Joko Sugeng Sriyanto

Satyalancana GOM VII (Aceh) dan Satyalancana Dwidya Sistha. SD Kristen Gandekan Tengen II Solo (1982) SMPN 8 Solo (1985) SMA 1 Kristen Solo (1988) S-1 ITB (Aeronautika)

Semar Mèsem

semar mèsem... mut-mutanku inten... cahyané manjing pilinganku kiwa lan tengen... sing nyawang kegiwang... apa manèh yèn sing nyawang kang tumancep kumanthil

Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

Kanayakan Keparak Tengen, yang keduanya mengurusi bangunan dan pekerjaan umum; (3) Kanayakan Gedhong Kiwa, dan (4) Kanayakan Gedhong Tengen, yang keduanya