Tenun
Salah satu kain tenun Nusantara yang berasal dari Lombok
JenisKain tenun
BahanSutra, Kapas, Emas, Perak
Tempat asalSumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara
PemanufakturIndonesia

Tenun adalah teknik dalam pembuatan kain yang dibuat dengan prinsip yang sederhana, yaitu dengan menggabungkan benang secara memanjang dan melintang.[1]

Dengan kata lain, bersilangnya antara benang lusi dan pakan secara bergantian.[1] Kain tenun biasanya terbuat dari serat kayu, kapas, sutra, dan lainnya.[2]

Sejarah

sunting

Kain tenun biasanya terbuat dari serat kayu, kapas, sutra, benang perak, benang emas dan lainnya. Para ahli antropologi menyatakan bahwa kegiatan menenun sudah ada sejak tahun 500SM, terutama di daerah Mesopotamia, Mesir, India, dan Turki.[3]

Keberadaan kain tenun tradisional Indonesia diperkirakan berkembang sejak masa Neolitikum (Prasejarah). Ini dibuktikan dengan ditemukannya benda-benda prasejarah, seperti tenunan, alat untuk memintal, dan bahan yang terlihat jelas adanya tenunan pada kain yang terbuat dari kapas. Ditemukan lebih dari 3.000 tahun yang lalu pada situs Sumba Timur, Gunung Wingko, Yogyakarta, Gilimanuk, Melolo.[4]

Kain tenun dan tradisi menenun dengan alat tradisional merupakan pengetahuan turun-temurun dari nenek moyang ke generasi berikutnya hingga kini.

Ragam Tenun Nusantara

sunting

Pembuatan kain tenun ini umum dilakukan di Indonesia, khususnya di daerah Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara (NTT dan NTB).[1] Biasanya produksi kain tenun dibuat dalam skala rumah tangga.[1]

Beberapa daerah yang terkenal dengan produksi kain tenunnya adalah Sumatera Barat, Palembang, dan Jawa Barat.[1] Di Palembang ada dua kerajinan tenun yaitu Kain Tajung dan Songket, biasanya songket Palembang ditenun dengan menggunakan benang perak dan emas, sedangkan kain Tajung atau Sewet Tajung Gebeng ditenun dengan benang sutera, selain Palembang, penghasil tenun songket bisa ditemukan di Sumatera Barat, Sambas, Bali dll.[5]

Adapun kain tenun nusantara yang sangat populer adalah songket, jumputan dan tenun ikat.

Bali

sunting

Jawa

sunting

Kalimantan

sunting

Maluku

sunting

Nusa Tenggara

sunting

Sulawesi

sunting

Sumatera

sunting

Nilai Filosofis

sunting

Seni tenun berkaitan erat dengan sistem pengetahuan, budaya, kepercayaan, lingkungan alam, dan sistem organisasi sosial dalam masyarakat.[2] Karena kultur sosial dalam masyarakat beragam, maka seni tenun pada masing-masing daerah memiliki perbedaan.[2]

Seni tenun dalam masyarakat selalu bersifat partikular atau memiliki ciri khas, dan merupakan bagian dari representasi budaya masyarakat tersebut.[2] Kualitas tenunan biasanya dilihat dari mutu bahan, keindahan tata warna, motif, pola dan ragam hiasannya.[2]

Kain tenun nusantara yang sangat beragam dan sarat akan kearifan lokal tentu saja sangat berpotensi menjadi warisan budaya tak benda yang akan diakui dunia. Kain tenun tersebut dinilai sebagai simbol keragaman budaya karena setiap daerah memiliki motif, warna, dan filosofi yang berbeda-beda. Letak geografis dan kondisi alam masing-masing daerah pun dapat memengaruhi teknik pewarnaan kain tenun.

Hari Tenun Nasional

sunting

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) menetapkan tanggal 7 September sebagai Hari Tenun dan Songket Nasional. Penetapannya memiliki landasan atau dasar hukum berupa Keputusan Presiden RI pada 16 Agustus 2021.

Ditetapkannya Hari Tenun Nasional pada tanggal 7 September berkaitan dengan sejarah diresmikannya Sekolah Tenun pertama di Indonesia, pada tanggal 7 September tahun 1929 oleh dr. Soetomo di Surabaya.

Galeri

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d e "Pengertian tenun". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-06-02. Diakses tanggal 2014-06-02.
  2. ^ a b c d e "Seni tenun". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-07-10. Diakses tanggal 2014-06-02.
  3. ^ Schoeser, M., 2022. World textiles. Thames & Hudson.
  4. ^ Nuraini, S. and Falah, A.M., 2022. Eksistensi Kain Tenun di Era Modern. ATRAT: Jurnal Seni Rupa, 10(2), pp.162-169.
  5. ^ "Songket Palembang Warisan Budaya Takbenda Indonesia". Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ^ Mulyadi, Ujang (2019-01-29). "MAHAKARYA DARI MINAHASA - Museum Nasional Indonesia". Diakses tanggal 2023-10-04.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Tenun Ikat Troso, Jepara

Alat tenun bukan mesin (ATBM) Troso. Proses menenun menggunakan ATBM. Tenun ikat Troso merupakan salah satu sentra industri tenun terbesar di Kabupaten

Tenun Gorontalo

Tenun Gorontalo atau Tenun Hulontalo merupakan salah satu ragam wastra atau kain tradisional nusantara yang berasal dari Gorontalo, Pulau Sulawesi. Kain

Tenun Dayak

Tenun Dayak atau Tenun Ikat Dayak Sintang adalah kain hasil tenunan yang proses pembuatannya secara tradisional dengan berbagai ketentuan adat dari suku

Tenun Toraja

Tenun Toraja adalah kain tenun tradisional khas suku Toraja dari Sulawesi Selatan yang memiliki nilai seni, filosofi, dan budaya tinggi. Kain ini dibuat

Endek

Endek adalah kain tenun yang berasal dari Bali. Kain endek merupakan hasil dari karya seni rupa terapan, yang berarti karya seni yang dapat diterapkan

Sumatera Utara

menikah dan khitanan. Selain arsitektur, tenunan merupakan seni kerajinan yang menarik dari suku Batak. Contoh tenunan ini adalah kain ulos dan kain songket

Tenun ikat

Tenun ikat atau kain ikat adalah kriya tenun Indonesia berupa kain yang ditenun dari helaian benang pakan atau benang lungsin yang sebelumnya diikat dan

Tenun Siak

Tenun Siak atau Songket Siak merupakan tenun yang berasal dari Kabupaten Siak, Riau. Pada awalnya kain ini hanya dipakai oleh lingkungan Kerajaan Siak