Tenun Terfo dari Kampung Sawar | |
| Jenis | Tenun ikat |
|---|---|
| Bahan | nibung, nipah |
| Tempat asal | Sarmi, Papua, Indonesia |
Terfo adalah sejenis kain tenun ikat dari benang yang terbuat dari daun pohon pe'a (nibung) atau pohon kara (nipah) buatan wanita Suku Sobey. Umumnya, Terfo berwarna putih, kuning, merah, hitam atau biru dengan pola kotak-kotak (sudah jarang) atau pola tiga garis. Pembuatannya memerlukan waktu seminggu. Terfo digunakan sebagai pakaian wanita pada upacara adat, sebagai selendang, atau sebagai handuk.[1]
Bahan
suntingBahan benang
suntingBahan dasar pembuatan Terfo diperoleh dari pohon nipah. Bahan ini diperoleh di Sawar dan Kasukwe. Rangka Terfo terbuat dari pelepah nipah. Peralatan yang digunakan yaitu alat tenun, pisau pemukul, dan kayu pelingkar benang.
Bahan pewarna
suntingWarna yang digunakan pada kain tenunan terfo yaitu warna putih, merah, merah muda, hitam, biru, hijau tua, kuning tua, atau kuning muda.[2]
Penggunaan
suntingPembuatan Terfo dimulai dari mempersiapkan bahan baku, membuat motif, mewarnai benang, dan menenun. Bahan dari daun nipah dirajut lalu dijadikan pakaian atau selendang oleh masyarakat Suku Sobey di Kabupaten Sarmi.[3] Pada awalnya, Terfo dibuat sebagai pakaian yang wajib dikenakan oleh setiap wanita dari Suku Sobey, khususnya yang tinggal di Sawar. Selanjutnya, pembuatan Terfo hanya untuk mengisi waktu luang saat tidak ada kegiatan bertani.
Referensi
sunting- ^ Wildan, Mohammad. "Terfo, Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2016". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-09-16. Diakses tanggal 2020-09-16.
- ^ "TENUN TERFO | PUSTAKA". www.pustaka-bpnbkalbar.org. Diakses tanggal 2020-09-16.
- ^ "Budaya Tenun Terfo di Sarmi Terancam "Punah"". Kabupaten Sarmi. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-09-16. Diakses tanggal 2020-09-16.