Tetanus
Nama lainRahang terkunci (lockjaw)
Spasme otot (secara spesifik opistotonus) pada penderita tetanus. Lukisan oleh Sir Charles Bell, 1809.
SpesialisasiPenyakit menular, neurologi, kedokteran perawatan kritis
GejalaDemam, rahang kaku, spasme otot, sakit kepala, kejang, berkeringat, dan kesulitan menelan
KomplikasiLaringospasme, gagal napas, patah tulang
Awitan umum3โ€“21 hari setelah paparan
DurasiBerbulan-bulan
PenyebabClostridium tetani
Faktor risikoLuka pada kulit, belum divaksinasi
Metode diagnostikBerdasarkan gejala
PencegahanVaksin tetanus
PengobatanImunoglobulin tetanus, pelemas otot, ventilasi mekanis
ObatDiazepam dan metokarbamol
PrognosisRisiko kematian sebesar 6,4%
Frekuensi209.000 (2015)
Kematian56.700 (2015)

Tetanus yang juga dikenal dengan lockjaw,[1] merupakan penyakit yang disebakan oleh tetanospasmin, yaitu sejenis neurotoksin yang diproduksi oleh Clostridium tetani yang menginfeksi sistem urat saraf dan otot sehingga saraf dan otot menjadi kaku (rigid).[1] Kitasato merupakan orang pertama yang berhasil mengisolasi organisme dari korban manusia yang terkena tetanus dan juga melaporkan bahwa toksinnya dapat dinetralisasi dengan antibodi yang spesifik.[1] Kata tetanus diambil dari bahasa Yunani yaitu tetanos dari teinein yang berarti menegang.[2] Penyakit ini adalah penyakit infeksi pada saat spasme otot tonik dan hiperrefleksia menyebabkan trismus (lockjaw), spasme otot umum, melengkungnya punggung (opistotonus), spasme glotal, kejang, dan paralisis pernapasan.[3]

Karakteristik Clostridium tetani

sunting
Clostridium tetani

C. tetani termasuk dalam bakteri Gram positif, anaerob obligat, dapat membentuk spora, dan berbentuk drumstick.[4] Spora yang dibentuk oleh C. tetani ini sangat resisten terhadap panas dan antiseptik.[3] Ia dapat tahan walaupun telah diautoklaf (1210C, 10โ€“15 menit) dan juga resisten terhadap fenol dan agen kimia lainnya.[3] Bakteri Clostridium tetani ini banyak ditemukan di tanah, kotoran manusia dan hewan peliharaan, dan di daerah pertanian.[1][5] Umumnya, spora bakteri ini terdistribusi pada tanah dan saluran penceranaan serta feses dari kuda, domba, anjing, kucing, tikus, babi, dan ayam.[3] Ketika bakteri tersebut berada di dalam tubuh, ia akan menghasilkan neurotoksin (sejenis protein yang bertindak sebagai racun yang menyerang bagian sistem saraf).[1] C. tetani menghasilkan dua buah eksotoksin, yaitu tetanolysin dan tetanospasmin.[6] Fungsi dari tetanolysin tidak diketahui dengan pasti, tetapi juga dapat memengaruhi tetanus.[1] Tetanospasmin merupakan toksin yang cukup kuat.[6]

Patogenesis dan patofisiologi

sunting

Tetanus disebabkan neurotoksin (tetanospasmin) dari bakteri Gram positif anaerob, Clostridium tetani, dengan mula-mula 1 hingga 2 minggu setelah inokulasi bentuk spora ke dalam darah tubuh yang mengalami cedera (periode inkubasi).[4][7] Penyakit ini merupakan 1 dari 4 penyakit penting yang manifestasi klinis utamanya adalah hasil dari pengaruh kekuatan eksotoksin (tetanus, gas ganggren, dipteri, botulisme).[2] Tempat masuknya kuman penyakit ini bisa berupa luka yang dalam yang berhubungan dengan kerusakan jaringan lokal, tertanamnya benda asing atau sepsis dengan kontaminasi tanah, lecet yang dangkal dan kecil atau luka geser yang terkontaminasi tanah, trauma pada jari tangan atau jari kaki yang berhubungan dengan patah tulang jari, dan luka pada pembedahan.[5]

Pada keadaan anaerobik, spora bakteri ini akan bergerminasi menjadi sel vegetatif.[3] Selanjutnya, toksin akan diproduksi dan menyebar ke seluruh bagian tubuh melalui peredaran darah dan sistem limpa.[3] Toksin tersebut akan beraktivitas pada tempat-tempat tertentu seperti pusat sistem saraf termasuk otak.[3] Gejala kronis yang ditimbulkan dari toksin tersebut adalah dengan memblok pelepasan dari neurotransmiter sehingga terjadi kontraksi otot yang tidak terkontrol.[3] Akibat dari tetanus adalah rigid paralysis (kehilangan kemampuan untuk bergerak) pada voluntary muscles (otot yang geraknya dapat dikontrol), sering disebut lockjaw karena biasanya pertama kali muncul pada otot rahang dan wajah.[8] Kematian biasanya disebabkan oleh kegagalan pernapasan dan rasio kematian sangatlah tinggi.[3]

Pengobatan

sunting

Untuk menetralisasi racun, diberikan immunoglobulin tetanus.[7] Antibiotik tetrasiklin dan penisilin diberikan untuk mencegah pembentukan racun lebih lanjut, supaya racun yang ada mati.[7]

Obat lainnya bisa diberikan untuk menenangkan penderita, mengendalikan kejang dan mengendurkan otot-otot.[7] Penderita biasanya dirawat di rumah sakit dan ditempatkan dalam ruangan yang tenang.[7] Untuk infeksi menengah sampai berat, mungkin perlu dipasang ventilator untuk membantu pernapasan.[7]

Makanan diberikan melalui infus atau selang nasogastrik.[9] Untuk membuang kotoran, dipasang kateter.[9] Penderita sebaiknya berbaring bergantian miring ke kiri atau ke kanan dan dipaksa untuk batuk guna mencegah terjadinya pneumonia.[9]

Untuk mengurangi nyeri diberikan kodein.[9] Obat lainnya bisa diberikan untuk mengendalikan tekanan darah dan denyut jantung. Setelah sembuh, harus diberikan vaksinasi lengkap karena infeksi tetanus tidak memberikan kekebalan terhadap infeksi berikutnya.

Prognosis

sunting

Tetanus memiliki angka kematian sampai 50%.[2] Kematian biasanya terjadi pada penderita yang sangat muda, sangat tua, dan pemakai obat suntik.[2] Jika gejalanya memburuk dengan segera atau jika pengobatan tertunda maka prognosisnya akan menjadi buruk.[2]

Pencegahan

sunting

Mencegah tetanus melalui vaksinasi adalah jauh lebih baik daripada mengobatinya.[10] Pada anak-anak, vaksin tetanus diberikan sebagai bagian dari vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus).[10] Bagi yang sudah dewasa sebaiknya menerima booster.[10]

Pada seseorang yang memiliki luka, jika:[10]

  1. Telah menerima booster tetanus dalam waktu 5 tahun terakhir, tidak perlu menjalani vaksinasi lebih lanjut
  2. Belum pernah menerima booster dalam waktu 5 tahun terakhir, segera diberikan vaksinasi
  3. Belum pernah menjalani vaksinasi atau vaksinasinya tidak lengkap, diberikan suntikan immunoglobulin tetanus dan suntikan pertama dari vaksinasi 3 bulanan.

Setiap luka (terutama luka tusukan yang dalam) harus dibersihkan secara saksama karena kotoran dan jaringan mati akan mempermudah pertumbuhan bakteri Clostridium tetani.[10] Bagi orang yang rentan terhadap luka (luka tertutup, misalnya tertusuk paku dan bukannya luka terbuka yang mengeluarkan darah mengalir) perlu dilakukan vaksinasi toksoid.

Referensi

sunting
  1. ^ a b c d e f (Inggris) Klein J. 2007. Infections tetanus. [terhubung berkala]. http://www.kidshealth.org/parent/infections/bacterial_viral/tetanus.html [31 Mei 2008].
  2. ^ a b c d e (Inggris) Farrar JJ, Yen LM, Cook T, Fairweather N, Binh N, Parry J, Parry CM. 2009. Tetamus. J Neurol, Neurosurg, and Psychia 69 (3): 292โ€“301
  3. ^ a b c d e f g h i (Inggris) Madigan MT, Martinko JM. 2006. Brock Biology of Microorganisms 11th ed. New Jersey: Pearson Education.Hal. 233-245
  4. ^ a b Brennen U. 2008. Clostridium tetani. [terhubung berkala] http://bioweb.uwlax.edu/bio203/s2008/unrein_bren/ [12 Mei 2010].
  5. ^ a b (Inggris) [CDC]. 2002. Clostridium tetani (tetanus). [terhubung berkala] http://microbes.historique.net/tetani.html [13 Mei 2010].
  6. ^ a b (Inggris) [CDC]. 2008. Tetanus. [terhubung berkala] http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/downloads/tetanus.pdf [31 Mei 2008].
  7. ^ a b c d e f (Inggris) Perlstein D. 2010. Tetanus (Lockjaw & Tetanus Vaccinations). [terhubung berkala] http://www.medicinenet.com/tetanus/article.htm [13 Mei 2010].
  8. ^ (Inggris) Schiavo G, Benfenati F, Poulain B, Rossetto O, Polverino DLP, DasGupta BR, Montecucco C. 1992. Tetanus and botulinum-B neurotoxins block neurotransmitter release by proteolytic cleavage of synaptobrevin. Nature 359 (6398): 832โ€“5.
  9. ^ a b c d (Inggris) Hopkins A. 1991. Diphtheria, tetanus, and pertussis: recommendations for vaccine use and other preventive measures. Recommendations of the Immunization Practices Advisory committee (ACIP). MMWR Recomm Rep 40 (10): 1โ€“28
  10. ^ a b c d e (Inggris) [WHO]. 1996. The โ€œhigh-riskโ€ approach: the WHO-recommended strategy to accelerate elimination of neonatal tetanus. Wlky Epidemiol Rec 71:33โ€“36.

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Vaksin tetanus

Vaksin tetanus, juga dikenal dengan nama toksoid tetanus (TT), adalah vaksin yang diberikan untuk mencegah penyakit tetanus. sebelum menikah diwajibkan

Achmad Mochtar

Lembaga Eijkman ditangkap oleh militer Jepang atas tuduhan pencemaran vaksin tetanus. Meski tuduhan tersebut tidak pernah terbukti, Achmad Mochtar menyerahkan

Imunoglobulin anti-tetanus

Imunoglobulin anti-tetanus adalah obat yang terbuat dari antibodi untuk melawan racun tetanus. Obat ini digunakan untuk mencegah tetanus pada mereka yang

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan

DPT-HB-Hib Vaksin hepatitis B rekombinan Vaksin jerap difteri tetanus (DT) Vaksin jerap tetanus difteri (Td) Vaksin measles rubella (MR) Vaksin polio (IPV

SMA Taruna Nusantara Magelang

Band (GBNMB), Paduan Suara (Nusantara Voice), Teater Taruna Nusantara (Tetanus), Gendang Rampak, Tari dan Karawitan, Band (Dream Band), Buletin Prasasti

Dawas

dawas tetanus untuk mengembangkan orang yang memiliki kekebalan tinggi untuk memproduksi imunoglobulin anti-tetanus manusia (imunoglobulin tetanus (TIG)

Tetanospasmin

Tetanospasmin atau racun tetanus adalah neurotoksin yang sangat beracun yang dihasilkan oleh bakteri Clostridium tetani dalam kondisi anaerobik. Racun

SMA Taruna Nusantara Kampus Cimahi

Band (GBNMB), Paduan Suara (Nusantara Voice), Teater Taruna Nusantara (Tetanus), Rampak Gendang, Angklung, Tari dan Karawitan, Band (Dream Band), Buletin