Sanghyang Tiling-tiling merupakan salah satu bentuk tari ritual dalam tradisi daerah Bali yang termasuk ke dalam kelompok pertunjukan sanghyang, yaitu tarian sakral yang berfungsi sebagai media pemanggilan kekuatan adikodrati untuk tujuan perlindungan, penyucian, dan penolak bala. Tarian ini diwariskan secara turun-temurun di beberapa desa adat di Bali dan dipertunjukkan dalam konteks keagamaan yang sangat terbatas. Sebagaimana varian sanghyang lainnya, Sanghyang Tiling-tiling hanya dapat dipentaskan ketika masyarakat adat menilai adanya kebutuhan spiritual tertentu, terutama terkait keseimbangan kosmis dan keselamatan kolektif.[1]
Sanghyang Tiling-tiling ditandai oleh kemunculan penari yang berada dalam kondisi trans atau kesurupan, diyakini sebagai medium kehadiran roh suci (hyang). Para penari biasanya adalah perempuan yang dipilih melalui mekanisme adat, dengan mempertimbangkan kesiapan fisik dan spiritual. Ketika memasuki keadaan trans, penari akan menampilkan gerak-gerak khas yang tidak dipelajari secara formal, melainkan dianggap sebagai manifestasi dari kekuatan gaib yang “menuntun” tubuh mereka. Gerakan tersebut berpola repetitif, disertai hentakan ritmis yang menyerupai getaran atau “tiling-tiling”, istilah yang menjadi sumber penamaannya.[2]
Iringan musik dalam Sanghyang Tiling-tiling umumnya terdiri atas vokal kidung, tabuhan sederhana, dan alunan ritmis yang diciptakan untuk menjaga kondisi spiritual penari. Masyarakat adat yang hadir berperan sebagai penjaga ritus, memastikan bahwa prosesi berlangsung sesuai aturan sakral. Upacara ini biasanya dilakukan di halaman pura atau ruang terbuka desa adat yang telah disucikan. Kehadiran pemangku adat dan pemimpin ritual menjadi unsur wajib, karena mereka mengatur tahapan pemanggilan hyang, menjaga kesucian ruang, dan memimpin prosesi penutupan.[1][2]
Fungsi
suntingSecara sosial, Sanghyang Tiling-tiling memegang fungsi penting dalam menjaga kohesi komunitas. Pertunjukan ini merefleksikan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan dunia niskala. Selain itu, sanghyang menjadi bukti warisan budaya Bali yang menunjukkan bagaimana ritus-ritus kuno tetap bertahan di tengah modernisasi. Dalam konteks kajian kebudayaan, Sanghyang Tiling-tiling dipandang sebagai bentuk seni pertunjukan yang memadukan fungsi estetis dan religius, serta merupakan representasi autentik dari sistem kepercayaan lokal yang menempatkan kesucian dan keselamatan sebagai inti praktik budaya.[3]
Referensi
sunting- ^ a b Lodra, I. Nyoman (2017). "TARI SANGHYANG: MEDIA KOMUNIKASI SPIRITUAL MANUSIA DENGAN ROH". Harmoni (dalam bahasa Inggris). 16 (2): 241–253. doi:10.32488/harmoni.v16i2.19. ISSN 2502-8472.
- ^ a b Niluh Herawati, Author (1998). "Tari Sanghyang Dedari di Gianyar, Bali Selatan, 1930-1973". Universitas Indonesia Library (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-16.
- ^ Prihatini, Nanik Sri (2000). "TARI KERAWUHAN DI BALI : SANGHYANG DEDARI SEBUAH KAJIAN SOSIAL". Greget: Jurnal Kreativitas dan Studi Tari (dalam bahasa Inggris). 2 (2). doi:10.33153/grt.v2i2.271. ISSN 2716-067X.