Tyarka adalah nyanyian tradisional yang berisi doa, sumpah, atau penghormatan yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Lawawang, Pulau Masela, Maluku.[1] Tidak hanya terbatas di Pulau Masela, Tyarka juga dilestarikan di Kepulauan Babar.[2] Tradisi ini diwariskan dari generasi ke generasi dan melekat dalam kepercayaan mereka, sehingga sulit dipisahkan dari budaya dan cara hidup yang ada.
Tyarka merupakan budaya masyarakat yang mengandung makna religius, yang menjadi sarana penghubung antara masyarakat dengan Tuhan serta para leluhur. Selama ini, Tyarka sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat Lawawang kurang dikenal oleh masyarakat Maluku secara luas, apalagi jika dibandingkan dengan budaya Maluku Tengah.
Tyarka umumnya dilantunkan dalam berbagai momen penting, seperti saat upacara di pernikahan adat, penyelesaian konflik antar pihak, atau ketika masyarakat menghadapi situasi sulit yang merupakan respon spiritual terhadap peristiwa kehidupan. Tyarka biasanya ditutup dengan doa kepada Sang Mahakuasa. Isi Tyarka disesuaikan dengan situasi yang sedang dihadapi dan hanya boleh dinyanyikan oleh tokoh adat, pemimpin negeri, atau tuan tanah. Karena itulah, Tyarka dipandang sebagai nyanyian sakral yang religius bagi masyarakat Negeri Lawawang.[1][3][4]
Asal muasal
suntingOrang Babar meyakini bahwa tradisi lisan Tyarka sudah ada sejak zaman leluhur mereka dan diwariskan turun temurun.[5] Tidak ada catatan resmi yang menjelaskan sejak kapan Tyarka dilantunkan. Masyarakat hanya mengetahui bahwa Tyarka sudah ada sejak tete nene moyang (leluhur) mereka dan diwariskan turun temurun. Sehingga membuat memori kolektif pemilik tradisi pun sulit untuk melacak secara pasti sejarah asal mula diciptakannya Tyarka. Ada anggapan bahwa Tyarka sudah ada sejak orang mulai mendiami tanah Babar.[6][7]
Kedudukan Tyarka sebagai nyanyian adat
suntingDalam kedudukan sebagai nyanyian adat tertinggi di antara nyanyian-nyanyian adat lainnya, Tyarka dinyatakan juga sebagai nyanyian kebesaran adat. Tyarka dinyanyikan secara perorangan, tanpa iringan musik, dan memiliki melodi dasar. Media penyampaian Tyarka adalah bahasa tanah yang plural dari percampuran bahasa-bahasa tanah di Babar, bahkan juga dari bahasa tanah di wilayah Maluku Barat Daya lainnya. Misalnya, Tyarka dari Pulau Masela ketika dinyanyikan di Pulau Wetang dapat dipahami, khususnya oleh para tetua adat dan orang-orang yang mengetahui bahasa tanah Babar. Tradisi ini selalu dilaksanakan pada awal rangkaian upacara atau prosesi adat yang menandakan bahwa Tyarka menjadi semacam pembuka jalan atau pengukuhan atas pelaksanaan suatu peristiwa adat.[6]
Isi Tyarka dapat berupa doa adat dan pantun adat. Tyarka dinyatakan sebagai doa adat karena umumnya diakhiri dengan permohonan kepada Sang Mahakuasa (Uplera: Tuhan Matahari/ Wulyo: Tuhan Allah), sedangkan dinyatakan sebagai pantun karena merupakan suatu ungkapan perasaan dan pikiran masyarakat yang terwujud dalam paduan kata yang ditata selaras. Orang Babar menamakan pantun timur untuk nyanyian-nyanyian adat mereka.[8]
Syair Tyarka menggunakan bahasa tua. Masyarakat setempat juga menyebutnya sebagai bahasa tanah, bahasa asli, atau bahasa leluhur. Bahasa ini bersifat sakral dan diyakini memiliki daya magis sehingga hanya digunakan dalam acara adat. Menurut Lewier, kosakata dalam syair Tyarka haruslah gabungan dari beberapa bahasa tua dari Kepulauan Babar, atau bisa juga diambil dari pulau-pulau sekitar. Namun, saat ini tidak banyak lagi orang yang mampu berbahasa tua dan mampu menggubah Tyarka berdasarkan aturan pluralitas bahasa tua.[7]
Penyanyi Tyarka
suntingTyarka hadir sebagai salah satu nyanyian adat yang menempati kedudukan tertinggi dan diyakini kesakralannya. Seorang penyanyi Tyarka harus berasal dari soa tertentu dengan keturunan marga tertentu pula.[9]
Istilah 'soa' berasal dari Tidore yang diambil dari nama bekas ibu kota (1960), yaitu Soa-Siu yang artinya sembilan soa. Sementara itu, menurut masyarakat Hutumuri, soa berasal dari kata 'sual' yang artinya terpisah atau terbagi. Tak semua tokoh adat dapat menyanyikan Tyarka. Selain enggan, mereka juga merasa tidak percaya diri. Terutama, hal tersebut dirasakan kalangan anak muda yang telah terpengaruh modernisasi, globalisasi, dan kemajuan teknologi. Pelantun Tyarka harus menguasai bahasa tanah dan kemampuan vokal yang baik.[10]
Adapun di Desa Letwurung, yang boleh menyanyikan Tyarka hanyalah orang-orang yang berasal dari soa tertentu saja. Dari tujuh soa yang ada, dua di antaranya dilarang melantunkan Tyarka, yakni Soa Uniwaly dan Soa Lakburlawal. Meski dibatasi, hingga saat ini lantunan Tyarka masih bergema di Maluku. Pada penelitian 2012 dan 2014, ditemukan penyanyi Tyarka di Pulau Babar (17 desa dan 4 dusun) berjumlah sekitar 17 orang.[11][12]
Pelantunan Tyarka
suntingTyarka sebagai nyanyian adat tanpa iringan musik menghendaki kemampuan para pencipta dan penyanyi untuk menyesuaikan antara melodi dan syair lagu. Selanjutnya, kemampuan menggubah secara spontan sesuai konteks peristiwa pada saat pertunjukan berlangsung juga dibutuhkan oleh penyanyi Tyarka. Kedudukan secara adat juga diperhitungkan untuk seorang penyanyi Tyarka, khususnya Tyarka pusaka.[6]
Saat pelaksanaan tradisi ini, penyanyi Tyarka secara personal bernyanyi tanpa iringan alat musik sambil memegang tangan orang yang menjadi tujuan atau sasaran. Misalnya, saat acara penyambutan tamu, penyanyi Tyarka akan berdiri di depan seluruh hadirin atau juga di depan barisan penari Seka, menghadap ke arah tamu untuk menyambut. Saat tamu sudah tiba di hadapan penyanyi Tyarka, maka sambil memegang tangan si tamu, sang penyanyi pun mulai bernyanyi. Selesai menyanyikan Tyarka, kegiatan biasanya ditutup dengan teriakan berupa salam. Salam yang diucapkan sesudah Tyarka dinyanyikan adalah twan. Salam ini berarti ’damai sejatera’.[1]
Penyanyi Tyarka harus mengetahui tingkatan kehalusan bahasa. Untuk keperluan ini, seorang penyanyi Tyarka dari Pulau Masela dapat mengambil kosakata yang lebih halus dari bahasa tanah dari Pulau Wetang atau Pulau Luang yang sama artinya sebagaimana dapat dilihat dalam salah satu contoh Tyarka berikut ini :
Tyarka Penyelesaian Konflik
Rueruro yane moruri (Babar Barat; Babar Timur/Masela)
Umene yane siswek (Pulau Dawelor)
Mkiane lire ul Ray (Seluruh Babar)
U otye ulye Lir Ray (Bahasa Babar Tenggara/ Letwurung)
Rayo nemetetety
Rune kolye namileteter
Terjemahan interpretatif
Janganlah emosi dan
janganlah marah-marah
Tapi peganglah Firman Tuhan
kita tinggal satu lingkungan
Kita hidup bersama-sama
Seorang penyanyi Tyarka dianggap bagus jika dapat menyanyikan satu frasa tanpa menarik nafas atau ‘harus bisa tahan nafas’. Selain itu, dinyatakan pula bahwa semakin tinggi nadanya maka semakin bagus.
Suara penyanyi yang semakin menghilang seperti alunan ombak atau angin yang semakin halus dan sayup di ujung baris ucapan itulah yang dikatakan ‘bagus’. Masyarakat kepulauan memiliki kedekatan dengan alam laut. Keindahan alam laut diselaraskan dalam seni tradisi mereka.
Seorang penyanyi Tyarka tidak boleh dalam keadaan marah ketika sedang menyanyikan Tyarka melainkan harus dalam keadaan hati yang damai. Pengertian ’hati yang damai’ menurut para narasumber berarti hati yang tenang dan bersih. Sebab, Tyarka dinyanyikan untuk menciptakan suasana yang damai, harmonis, dan menjadi alat untuk menyampaikan pesan-pesan kehidupan.
Dalam nyanyian adat Tyarka dikenal istilah ‘pohon’ dan ‘ujung’. Kedua istilah ini disebutkan oleh para narasumber sebagai alat pengingat (mnemonic devices) yang membantu si penyanyi mengurutkan bagian awal, tengah dan akhir nyanyian.
Larik pertama dan kedua Tyarka disebut ‘pohon’ Larik-larik selanjutnya disebut ‘ujung’. Ketika penyanyi mengulang larik pertama dan larik kedua (pohon) maka akan menandai akhir dari suatu nyanyian Tyarka.
Berikut ini disajikan salah satu contoh Tyarka empat larik dalam rangka penyambutan tamu oleh Bapak Josafat Unitly dari Desa Wakpapapi :
Pa lililyo inu patasiwa (pohon)
Myamayo amo Ilikyo
myoktitimyo liwyolilikyo (ujung)
myopowklawyer tarye wakmyer
Pa lililyo inu patasiwa/ myamayo amo Ilikyo (pohon)
Terjemahan interpretatif
Selamat datang kami ucapkan kepada para tamu dari Ambon
Selamat datang Bapak Ibu di Kampung Wakpapapi
Selamat datang di kampung kami di Babar Timur
Kami semua berkumpul di sini menyambut kedatangan bapak ibu [6]
Referensi
sunting- ^ a b c Tiwery, Weldemina Yudit; Tiwery, Petrosina (2022-11). "10". Research gate. Diakses tanggal 2025-04-30.
- ^ Maluku Barat Daya dalam Angka 2011. Saumlaki: Badan Pusat Statistik Kabupaten Maluku Tenggara Barat
- ^ Watloly, Aholiab. Kosmologi Pulau Kecil Masela dengan Isu Besar Blok Masela di Bibir Perbatasan Negara: Menyingkap Misteri Batin, Sensualitas, serta Otoritas Kosmos Pulau Kecil Masela di Kabupaten Maluku Barat Daya. PT Kanisius. hlm. 51. ISBN 978-979-21-7261-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Paluseri, Dais Dharmawan; Murdiartono, Dwi; Syahdenal, Lintang Maraya (2013). Warisan budaya takbenda Indonesia: penetapan tahun 2013. Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
- ^ Lewier, Mariana (2017). "HARMONI DAN KETAHANAN KULTURAL DALAM TRADISI LISAN TYARKA DI KEPULAUAN BABAR, MALUKU BARAT DAYA". Masyarakat Indonesia (dalam bahasa Inggris). 43 (2): 255–268. doi:10.14203/jmi.v43i2.742. ISSN 2502-5694.
- ^ a b c d https://ejournal.brin.go.id/jmi/article/download/8312/6362/22443
- ^ a b https://1001indonesia.net/tyarka-nyanyian-adat-masyarakat-kepulauan-babar/
- ^ r.search.yahoo.com https://r.search.yahoo.com/_ylt=AwrKAzwZq4RpMAIAiebLQwx.;_ylu=Y29sbwNzZzMEcG9zAzIEdnRpZAMEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1771511833/RO=10/RU=https://1001indonesia.net/tyarka-nyanyian-adat-masyarakat-kepulauan-babar//RK=2/RS=rYDAbdAlwzbV_.HKGrlyfT2E6ms-. Diakses tanggal 2026-02-05.
- ^ r.search.yahoo.com https://r.search.yahoo.com/_ylt=AwrKAzwZq4RpMAIAkObLQwx.;_ylu=Y29sbwNzZzMEcG9zAzQEdnRpZAMEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1771511833/RO=10/RU=https://www.liputan6.com/regional/read/5142054/sakralnya-tyarka-di-maluku-bahasa-tutur-serupa-nyanyian-adat/RK=2/RS=px3Uv4RRKDYVvjyFPiE3JxkzyTw-. Diakses tanggal 2026-02-05.
- ^ r.search.yahoo.com https://r.search.yahoo.com/_ylt=AwrKAzwZq4RpMAIAj.bLQwx.;_ylu=Y29sbwNzZzMEcG9zAzMEdnRpZAMEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1771511833/RO=10/RU=https://ejournal.brin.go.id/jmi/article/download/8312/6362/22443/RK=2/RS=W8EOqiL65n0af1D7yTWEV06IC2I-. Diakses tanggal 2026-02-05.
- ^ "Prosiding BBS 2020 | PDF | Perjalanan | Kajian Bahasa Asing". Scribd. Diakses tanggal 2025-06-19.
- ^ Liputan6.com (2022-12-04). "Sakralnya Tyarka di Maluku, Bahasa Tutur Serupa Nyanyian Adat". liputan6.com. Diakses tanggal 2025-06-19. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)