| Ubur-ubur | |
|---|---|
| Chrysaora colorata | |
| Klasifikasi ilmiah (Kelompok parafiletik) | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Cnidaria |
| Subfilum: | Medusozoa |
| Kelompok yang disertakan | |


Ubur-ubur, juga dikenal sebagai jeli laut atau hanya "jeli", adalah fase medusa dari anggota gelatin tertentu dari subfilum Medusozoa, yang merupakan bagian utama dari filum Cnidaria. Ubur-ubur sebagian besar adalah hewan laut yang berenang bebas, meskipun beberapa di antaranya tertambat ke dasar laut dengan tangkai daripada bergerak. Mereka terdiri dari tubuh utama berbentuk payung yang terbuat dari mesoglea, yang dikenal sebagai lonceng, dan kumpulan tentakel yang menjuntai di bagian bawahnya.
Melalui kontraksi berdenyut, lonceng dapat memberikan daya dorong untuk bergerak di perairan terbuka. Tentakelnya dilengkapi dengan sel penyengat dan dapat digunakan untuk menangkap mangsa atau untuk mempertahankan diri dari predator. Ubur-ubur memiliki siklus hidup yang kompleks, dan medusa biasanya merupakan fase seksual, yang menghasilkan larva planula. Larva ini kemudian menyebar luas dan memasuki fase polip yang menetap yang mungkin termasuk pertunasan aseksual sebelum mencapai kematangan seksual.
Ubur-ubur ditemukan di seluruh dunia, dari perairan permukaan hingga laut dalam. Scyphozoa ("ubur-ubur sejati") secara eksklusif hidup di laut, tetapi beberapa hydrozoa dengan penampilan serupa hidup di air tawar. Ubur-ubur besar, seringkali berwarna-warni, umum ditemukan di zona pesisir di seluruh dunia. Medusa dari sebagian besar spesies tumbuh cepat, dan matang dalam beberapa bulan kemudian mati segera setelah berkembang biak; tetapi tahap polip, yang menempel pada dasar laut, mungkin jauh lebih lama umurnya. Ubur-ubur telah ada setidaknya selama 500 juta tahun,[1] dan mungkin 700 juta tahun atau lebih, menjadikannya kelompok hewan multi-organ tertua.[2]
Ubur-ubur dimakan oleh manusia di beberapa budaya. Mereka dianggap sebagai makanan lezat di beberapa negara Asia, di mana spesies dalam ordo Rhizostomeae ditekan dan diasinkan untuk menghilangkan kelebihan air. Peneliti Australia menggambarkannya sebagai "makanan sempurna": berkelanjutan dan kaya protein tetapi relatif rendah energi makanan.[3]
Mereka juga digunakan dalam penelitian biologi sel dan biologi molekuler, terutama protein fluoresen hijau yang digunakan oleh beberapa spesies untuk bioluminesensi. Protein ini telah diadaptasi sebagai reporter fluoresen untuk gen yang disisipkan dan telah memberikan dampak besar pada mikroskopi fluoresensi.
Sel penyengat, yang digunakan oleh ubur-ubur untuk menaklukkan mangsanya, dapat melukai manusia. Ribuan perenang di seluruh dunia tersengat ubur-ubur setiap tahun, dengan efek mulai dari ketidaknyamanan ringan hingga cedera serius atau bahkan kematian. Ketika kondisi menguntungkan, ubur-ubur dapat membentuk kawanan besar, yang dapat merusak alat tangkap ikan dengan memenuhi jaring ikan, dan terkadang menyumbat sistem pendingin pembangkit listrik dan pabrik desalinasi yang mengambil air dari laut.
Ciri-ciri
suntingUmumnya mereka berukuran 2 sampai 40ย cm, tetapi ubur-ubur yang lebih besar bisa mencapai 1โ2 meter, misalnya spesies terbesarnya Cyanea capillata atau lebih dikenal dengan Surai singa. Schypozoa dapat ditemukan di lautan seluruh dunia, dari permukaan sampai laut dalam. Schypozoa tidak ditemukan di air tawar. Schypozoa memakan beragam makanan seperti Krustasea atau Ikan yang mereka buru menggunakan organel nematosista yang terdapat di tentakelnya. Nematosista sendiri adalah ciri khas filum Cnidaria, berupa sel berbentuk jarum yang berfungsi menusuk dan menyuntikkan racun ke mangsanya.
Bentuk tubuh dasar
suntingUbur-ubur dewasa memiliki dua bentuk tubuh dasar: Medusa yang dapat berenang bebas (motil) dan Polip yang menempel pada substrat (sesil). Kedua bentuk tersebut memiliki simetri radial. Hewan ini tidak punya kepala dan mulut serta anusnya terletak di lubang yang sama, sisi yang dekat mulut disebut oral dan sebaliknya disebut aboral. Ubur-ubur memiliki tentakel yang dipenuhi nematosista di sisinya. Medusa memiliki mesoglea yang tebal dan elastis, sehingga medusa dapat meluncur di air dan bentuknya kembali seperti semula.[4]
Lapisan sel
suntingUbur-ubur adalah binatang diploblastik, dengan kata lain mereka mempunyai dua lapisan sel utama, sedangkan binatang yang lebih kompleks adalah triploblastik yang mempunyai tiga lapisan utama. Dua lapisan sel utama ubur-ubur adalah eksoderm di bagian luar dan gastroderm di dalam, di tengahnya adalah mesoglea yang berfungsi sebagai rangka.[5]
Nematosista
suntingNematosista adalah sel yang berfungsi menusuk dan menyuntikkan racun pada mangsanya. Nematosista terdiri atas organel knida atau knidosista yang berbentuk kapsul serta gulungan benang yang berisi racun, di ujung benang terdapat kait yang dapat menusuk mangsa. Untuk memicu tembakan, nematosista memiliki silia atau rambut halus yang disebut knidosil, terakhir adalah operkulum sebagai penutup knida.
Mekanisme penembakkan knidosit masih belum terpecahkan, terdapat beberapa hipotesis tentang hal ini:
- Benang tersebut mungkin adalah sebuah pegas, yang dapat meregang dengan cepat ketika operkulum terbuka
- Perubahan zat kimia di dalam sel ketika pemicu aktif, sehingga terjadi tekanan osmosis yang menyebabkan air masuk lewat membran dan memaksa benang untuk ditembakkan
- Saat pemicu aktif knida berkontraksi secara cepat sehingga tekanan di dalam kapsul meningkat
Nematosista hanya dapat digunakan sekali, tetapi dapat diganti dalam waktu 48 jam. Untuk menghindari tembakan yang sia-sia misalnya ke objek yang tak hidup atau terlalu jauh, digunakanlah kombinasi dua pemicu, sel indra untuk mendeteksi zat kimia di air dan silia untuk merespon kontak, nematosista biasanya terhubung oleh saraf, sehingga ketika salah satu ditembakkan yang lain juga akan terpicu. Nematosista adalah senjata yang sangat efektif. Satu nematosista mampu melumpuhkan arthropoda dan ikan kecil.
Pergerakan
suntingMedusa bergerak menggunakan otot yang menarik tubuhnya, sehingga air di dalam rongga tubuhnya akan keluar dan mendorongnya, mesoglea-nya yang elastis mengembalikan bentuknya seperti semula dan ubur-ubur dapat mengulangi gerakannya lagi. Sedangkan polip dapat bergerak lamban dengan merayap seperti siput.
Sistem saraf dan indra
suntingUbur-ubur tidak punya otak atau sistem saraf pusat. Akan tetapi mereka punya jaring saraf yang terdiri dari neuron yang dapat merespon pada berbagai rangsangan. Knidosit-nya memiliki silia yang dapat mendeteksi kontak fisik dan indra yang dapat mendeteksi zat kimia seperti bau, kombinasi ini memungkinkan knidosit menembak sasaran yang tepat. Knidosit juga terangsang dan ikut menembak apabila knidosit di dekatnya juga menembak.
Sistem pencernaan dan ekskresi
suntingSchypozoa mendapat makanan dengan berbagai cara: predasi atau berburu mangsa, menyerap zat organik yang larut di air, menyaring partikel makanan di air, dan mendapatkan nutrisi dari alga simbiotik di dalam selnya. Kebanyakan Cnidaria mendapatkan makanan lewat predasi, beberapa Cnidaria yang bersimbiosis dengan alga memberikan perlindungan, karbon dioksida, dan tempat yang terkena cahaya matahari bagi alganya.
Ubur-ubur menggunakan nematosista-nya untuk melumpuhkan mangsanya kemudian dimasukkan ke dalam mulut menggunakan tentakelnya, setelah masuk rongga pencernaan, sel kelenjar di gastroderm menyekresikan enzim untuk mencerna makanan, nutrisi yang didapat disalurkan ke seluruh tubuh menggunakan aliran air yang dikontrol silia di gastroderm atau gerakan otot. Nutrisi dikirimkan ke lapisan sel terluar lewat difusi. Sisa makanan yang tidak dapat dicerna dikeluarkan lewat mulut juga menggunakan aliran air.
Pernapasan
suntingSchypozoa tidak punya organ pernapasan, tetapi bernapas lewat kedua lapisan sel dengan menyerap oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida ke sekitarnya. Beberapa Cnidaria yang bersimbiosis dengan alga fotosintetik dapat mengalami kelebihan oksigen yang berakibat fatal, sehingga mereka memproduksi antioksidan untuk menetralisasi oksigen yang berlebih.

Regenerasi
suntingSemua Cnidaria mampu beregenerasi, mereka dapat menggunakan kemampuan ini untuk bereproduksi secara aseksual. Medusa memiliki kemampuan regenerasi terbatas, tetapi polip mampu melakukannya secara penuh. Sehingga polip seperti koral mampu tumbuh kembali walaupun dihancurkan predator.
Reproduksi
suntingCnidaria mengalami reproduksi dengan daur hidup antara bentuk polip dan medusa. Pada Schypozoa (Ubur-ubur) dan Cubozoa (Ubur-ubur kotak), larvanya berenang sampai mendapatkan tempat yang cocok untuk menempel, kemudian larva tumbuh menjadi polip. Polip tumbuh besar sampai dewasa kemudian menarik tentakelnya serta memotong tubuhnya secara horizontal, proses ini disebut strobilasi. Bagian yang terpotong berenang bebas sebagai medusa muda. Medusa tumbuh sampai dewasa sedangkan polip melanjutkan proses strobilasi. Medusa dewasa memiliki kelenjar reproduksi di gastroderm-nya, kelenjar ini dapat menghasilkan sel telur atau sperma yang dapat dikeluarkan saat musim kawin tiba. Telur yang dibuahi menjadi larva dan memulai daur hidupnya lagi.[4]
Peristiwa bergantinya cara reproduksi dari seksual (tahap medusa) ke aseksual (tahap polip) atau sebaliknya disebut metagenesis, proses ini juga dapat ditemukan pada beberapa tumbuhan misalnya lumut, yang cara reproduksinya berganti dari pembuatan spora yang aseksual ke pembuatan gamet yang seksual.
Taksonomi
suntingUbur-ubur terdiri dari sekitar 200 spesies yang dibagi dalam beberapa ordo:
Coronatae
sunting
Coronatae disebut juga ubur-ubur mahkota. Mereka dibedakan dengan ubur-ubur lainnya karena lekukan di payungnya yang membuat hewan ini mirip seperti mahkota. Kebanyakan spesies tinggal di laut dalam sehingga mereka memiliki kemampuan bioluminesen atau menghasilkan cahaya sendiri. Kemampuannya akan aktif jika hewan ini disentuh. Kemampuannya dapat ia gunakan untuk mengejutkan dan menipu predator yang mencoba memangsanya, bioluminesen juga dapat digunakan untuk menarik perhatian mangsa. Terdapat sekitar 54 spesies yang telah teridentifikasi pada tahun 2016 dan terbagi dalam enam famili.[6]
Rhizostomae
sunting
Rhizostomae atau Rhizostomeae adalah ordo Schypozoa yang tidak punya tentakel, tetapi mereka memiliki delapan lengan bercabang dan penuh nematosista, lengan ini makin ke pusat makin menjadi satu, mereka juga memiliki mulut yang kecil yang berjumlah banyak tidak seperti Schypozoa lainnya.

Rhizostomae memiliki anggota yang dijadikan konsumsi oleh manusia (baik untuk makanan maupun pengobatan). Industri makanan dari ubur-ubur dapat ditemukan di Tiongkok dan Asia Tenggara, ubur-ubur untuk dimakan juga diimpor ke Jepang. Ubur-ubur yang dapat dimakan adalah dari ordo Rhizostomae, misalnya ubur-ubur meriam (Stomolophus meleagris) dan ubur-ubur api (Rhopilema esculentum). Ubur-ubur biasanya dikeringkan atau digarami sebelum dimasak.[7] Sekitar lebih dari 90 spesies telah teridentifikasi.[6]
Semaeostomeae
suntingSemaeostomeae adalah ubur-ubur yang paling dikenal masyarakat. Ciri khas mereka adalah memiliki empat tentakel oral (tentakel panjang yang menempel di mulut), tentakel ini juga memiliki sel penyengat nematosista. Tentakel lain menempel di sisi payung ubur-ubur.[4]
Semaeostomeae dapat ditemukan di lautan di seluruh dunia. Kelompok ini terdiri dari lima ordo: Cyaneidae, Drymonematidae, Pelagiidae, Phacellophoridae, dan Ulmaridae.
Referensi
sunting- ^ "Fossil Record Reveals Elusive Jellyfish More Than 500 Million Years Old". ScienceDaily (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-02-10.
- ^ Angier, Natalie (June 6, 2011). "So Much More Than Plasma and Poison". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 May 2013. Diakses tanggal 2 December 2011.
- ^ Isabelle Rodd (20 October 2020). "Why jellyfish could be a 'perfect food'". BBC News. Diakses tanggal 7 May 2023.
- ^ a b c Ruppert, E.E.; Fox, R.S. & Barnes, R.D. (2004). Invertebrate Zoology (7 ed.). Brooks / Cole.
- ^ Hinde, R.T., (1998). "The Cnidaria and Ctenophora". Di Anderson, D.T.,. Invertebrate Zoology. Oxford University Press
- ^ a b Daly, Brugler, Cartwright, Collins, Dawson, Fautin, France, McFadden, Opresko, Rodriguez, Romano & Stake (2007). The phylum Cnidaria: A review of phylogenetic patterns and diversity 300 years after Linnaeus.
- ^ Lรณpez-Martรญnez; and รlvarez-Tello (2013). The jellyfish fishery in Mexico. Agricultural Sciences 4(6A): 57-61.