Dyah Wawa
Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga
Raja Medang Ke-16
Berkuasa( 14 Februari 928 - 24 Maret 929 M )
PendahuluDyah Tulodhong
PenerusMpu Sindok
WangsaSanjaya
AgamaHindu
Prasasti Sangguran, dengan tinggi 2 meter dan berat 3,8 ton, ditemukan di Ngendat dan sempat diuraikan Colin Mackenzie pada tahun 1811-14

Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga adalah raja terakhir yang memerintah Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno) yang berkuasa antara sekitar tahun 927โ€“929.

Asal-Usul

sunting

Dyah Wawa naik takhta menggantikan Sri Maharaja Pu Wagiswara. Nama Rakai Sumba tercatat dalam Prasasti Sukabumi tanggal 7 Maret 927, menjabat menjabat sebagai Sang Pamgat Momahumah, yaitu semacam pegawai pengadilan. Selain bergelar Rakai Sumba, Dyah Wawa juga bergelar Rakai Pangkaja.

Dalam Prasasti Wulakan tanggal 14 Februari 928, Dyah Wawa mengaku sebagai anak Kryan Landheyan sang Lumah ri Alas (putra Kryan Landheyan yang dimakamkan di hutan). Nama ayahnya ini mirip dengan Rakryan Landhayan, yaitu ipar Rakai Kayuwangi yang melakukan penculikan dalam peristiwa Wuatan Tija.

Saudara perempuan Rakryan Landhayan yang menjadi istri Rakai Kayuwangi bernama Rakryan Manak, yang melahirkan Dyah Bhumijaya. Ibu dan anak itu suatu hari diculik Rakryan Landhayan, tetapi keduanya berhasil meloloskan diri di desa Tangar. Anehnya, Rakryan Manak memilih bunuh diri di desa Taas, sedangkan Dyah Bhumijaya ditemukan para pemuka desa Wuatan Tija dan diantarkan pulang ke hadapan Rakai Kayuwangi.

Riwayat pemerintahan

sunting

Catatan kepemimpinan Dyah Wawa diketahui antara lain adalah Prasasti Wulakan Februari (928 M) berisi informasi anugerah sima di Wulakan, Prasasti Kinawe (928 M) mengenai anugerah sima di Kinawe, dan Prasasti Sangguran tanggal 2 Agustus 928 tentang penetapan Sangguran sebagai sima swatantra (daerah otonom) agar penduduknya ikut serta merawat bangunan suci Kajurugusalyan.

Pemindahan pusat pemerintahan Medang

sunting

Raja sesudah Dyah Wawa adalah Mpu Sindok yang membangun istana Kerajaan Medang baru di daerah Tamwlang, dan kemudian dipindahkan ke Watugaluh. Kedua tempat tersebut diperkirakan saat ini masuk wilayah Jombang Jawa Timur karena masih ada desa dengan nama yang bermiripan (Tembelang dan Watugaluh). Mpu Sindok mengaku bahwa Kerajaan Medang di Watugaluh adalah kelanjutan dari Kerajaan Medang di Bhumi Mataram.

Perpindahan istana Medang dari Mataram menuju Tamwlang menurut teori van Bammelen terjadi karena letusan Gunung Merapi yang sangat dahsyat. Konon sebagian puncak Merapi hancur. Kemudian lapisan tanah begeser ke arah barat daya sehingga terjadi lipatan, yang antara lain, membentuk Gunung Gendol dan lempengan Pegunungan Menoreh di Kabupaten Magelang. Namun, hal ini terbantahkan oleh penelitian di tahun 2016, yang menyebutkan kalau Perbukitan Gendol merupakan vulkanisme purba insitu, bukan hasil dari debris avalanche Gunungapi Merapi.[1]

Letusan Gunung Merapi tersebut disertai gempa bumi dan hujan material vulkanik berupa abu dan batu. Konon, istana Kerajaan Medang di Mataram (dekat Yogyakarta sekarang) sampai mengalami kehancuran akibat bencana alam tersebut.

Sejarawan Boechari berpendapat bahwa bencana alam Gunung Merapi tersebut terjadi sebagai hukuman Tuhan atas perebutan takhta yang sering terjadi di antara keluarga Kerajaan Medang sejak zaman pemerintahan Rakai Pikatan.[butuh rujukan]

Prasasti tertua atas nama Mpu Sindok yang sudah ditemukan ditulis tahun 929, sedangkan prasasti Dyah Wawa ditulis tahun 928. Perpindahan istana Kerajaan Medang dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur dipastikan terjadi pada salah satu tahun tersebut.

Referensi

sunting
  1. ^ Kurniawan, Alva (2016). "Kajian Genesis Perbukitan Gendol di Daerah Muntilan-Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah". Universitas Gadjah Mada.

Kepustakaan

sunting
  • Marwati Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka
  • Slamet Muljana. 2005. Menuju Puncak Kemegahan (terbitan ulang 1965). Yogyakarta: LKIS
Didahului oleh:
Dyah Tulodhong
Raja Kerajaan Medang
928?โ€“929?
Diteruskanย oleh:
Mpu Sindok

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Wawa

Dipodium, umumnya dikenal sebagai wawa atau anggrek wawa, adalah genus sekitar empat puluh spesies anggrek asli daerah tropis, subtropis dan beriklim sedang

Medang

Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga (Dyah Wawa), yang kemudian memerintah wilayah Malang. Ini menunjukkan bahwa bahkan pada masa pemerintahan Dyah Wawa, wilayah

Wawa Marisa

Wawa Marisa (lahir 16 November 1985) adalah penyanyi Indonesia. Ia mulai terkenal saat dirilisnya album Harta dan Surga, Terlambat, dan Mengejar Badai

Wawa Zainal

Nur Hawa "Wawa" Zainal Abidin (lahir 12 Maret 1991) adalah seorang aktris sekaligus model berkebangsaan Malaysia. Dia terkenal karena memerankan Bunga

Mpu Sindok

salah satunya, Sri Parameswari Dyah Kbi, kemungkinan adalah putri Dyah Wawa, raja Mataram sebelumnya. Dengan demikian, Sindok berhasil naik takhta Mataram

Daftar penyanyi solo perempuan Indonesia

Talisa Vita Datau Vivi Sumanti Vonny Sumlang Wafiq Azizah Wangi Gitaswara Wawa Marisa Waldjinah Widyawati Wina (l. 1992) Wina (l. 1988) Witsqa Wiwiek Abidin

Puteri Indonesia 2026

(2026-02-17). "Profil Agita Nazara, Puteri Indonesia Lampung 2026 Berprestasi". WawaiNews.id. Diakses tanggal 2026-02-26. Andini, Dewi (2026-02-26). Kurniawan

D'Academy (musim 7)

Lolos Arbil Asahan 5 "Lagi Lagi Cinta" - Rhoma Irama 3 6 "Mengejar Badai" - Wawa Marisa 3 Lolos Kayla Luwu 7 "Terkesima" - Rhoma Irama 0 8 "Cinta Segitiga"