Sebagai perbandingan, lihat: sejarah kontrafaktual dan pemikiran kontrafaktual.

What If?, dengan subjudul The World's Foremost Military Historians Imagine What Might Have Been dan juga dikenal sebagai What If? The World's Foremost Historians Imagine What Might Have Been, adalah sebuah antologi yang memuat dua puluh esai dan empat belas sidebar yang membahas sejarah kontrafaktual (counterfactual history).[1] Buku ini diterbitkan oleh G.P. Putnam's Sons pada tahun 1999 dengan ISBN 0-399-14576-1. Selain buku ini, terdapat dua sekuel yang diterbitkan kemudian, yaitu What If? 2 dan What Ifs? of American History, yang semuanya disunting oleh Robert Cowley. Kedua buku pertama kemudian digabungkan untuk membentuk edisi kompilasi yang berjudul The Collected What If?.[2]

Ide pembuatan buku ini muncul setelah beberapa artikel bertema “What if?” dipublikasikan dalam Military History Quarterly, sebuah majalah yang juga disunting oleh Cowley, dan mendapatkan perhatian luas dari pembaca.[3] Konsep buku ini adalah untuk mengeksplorasi berbagai peristiwa sejarah dari perspektif kontrafaktual, dengan membayangkan bagaimana dunia mungkin berbeda seandainya keputusan, strategi, atau peristiwa tertentu terjadi secara berbeda. Dengan pendekatan ini, para sejarawan terkemuka dunia mencoba menganalisis konsekuensi hipotetis dari berbagai peristiwa militer dan sejarah penting, memberikan wawasan unik tentang dinamika sejarah serta implikasinya terhadap dunia modern.[2]

Relevansi dengan pemikiran kontrafaktual

sunting

Buku What If? berfokus pada konsep sejarah kontrafaktual, yaitu suatu pendekatan dalam historiografi di mana sejarawan membayangkan bagaimana peristiwa sejarah bisa berbeda seandainya kondisi atau keputusan tertentu di masa lalu berubah. Pendekatan ini memiliki hubungan langsung dengan pemikiran kontrafaktual (counterfactual thinking) yang dipelajari dalam psikologi kognitif, di mana seseorang membayangkan skenario alternatif dari suatu peristiwa yang sebenarnya terjadi untuk mengevaluasi konsekuensi potensialnya.

Dalam konteks What If?, para penulis—yang merupakan sejarawan militer terkemuka—menggunakan pertanyaan “What if?” untuk mengeksplorasi kemungkinan sejarah alternatif. Misalnya, mereka menganalisis bagaimana hasil perang, kebijakan politik, atau keputusan strategis militer tertentu bisa menghasilkan dunia yang berbeda jika tindakan-tindakan lain diambil. Dengan kata lain, buku ini menerapkan pendekatan kontrafaktual secara historiografis, yang memungkinkan pembaca melihat sejarah bukan hanya sebagai rangkaian fakta yang tak berubah, tetapi sebagai sistem yang dipengaruhi oleh pilihan, kebetulan, dan konteks yang kompleks.[4]

Relevansi pemikiran kontrafaktual dalam buku ini meliputi beberapa aspek:

  1. Analisis sebab-akibat: Dengan memeriksa skenario alternatif, pembaca dapat memahami hubungan kausal antara tindakan dan akibatnya, serta dampak keputusan strategis yang mungkin tidak terlihat dari sejarah faktual semata.
  2. Pemahaman probabilitas sejarah: Kontrafaktual membantu menilai sejauh mana sejarah “tidak dapat dihindari” dan bagaimana peristiwa-peristiwa tertentu sangat bergantung pada faktor-faktor yang bisa berubah.
  3. Pembelajaran kritis: Dengan mengeksplorasi skenario hipotetis, buku ini mendorong pembaca dan sejarawan untuk berpikir lebih kritis tentang keputusan manusia, moralitas strategi, dan konsekuensi jangka panjang dari tindakan politik dan militer.
  4. Hubungan psikologi dan historiografi: Pendekatan ini memperlihatkan bahwa cara manusia memikirkan alternatif masa lalu, yang merupakan inti pemikiran kontrafaktual dalam psikologi, juga dapat digunakan sebagai alat metodologis dalam studi sejarah, memperluas wawasan akademis dan pendidikan sejarah.

Dengan demikian, What If? tidak hanya merupakan antologi sejarah militer, tetapi juga ilustrasi nyata dari aplikasi pemikiran kontrafaktual di ranah historiografi. Buku ini menghubungkan teori kognitif tentang bagaimana manusia membayangkan “apa yang mungkin terjadi” dengan praktik sejarawan dalam menafsirkan dan menganalisis sejarah secara kreatif dan kritis.

Pemikiran kontrafaktual

sunting

Lihat: pemikiran kontrafaktual

Pemikiran kontrafaktual adalah konsep dalam psikologi yang melibatkan kecenderungan manusia untuk menciptakan kemungkinan alternatif terhadap peristiwa hidup yang telah terjadi; sesuatu yang bertentangan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Pemikiran kontrafaktual, sebagaimana namanya, berarti "bertentangan dengan fakta".[5] Pikiran-pikiran ini biasanya berupa pertanyaan "Bagaimana jika…?" atau pernyataan "Seandainya saja…" yang muncul ketika membayangkan bagaimana keadaan bisa berbeda. Pemikiran kontrafaktual mencakup hal-hal yang – pada masa kini – sebenarnya tidak bisa terjadi karena bergantung pada peristiwa yang tidak terjadi di masa lalu.[5]

Gambaran umum

sunting

Istilah counterfactual didefinisikan oleh Merriam-Webster Dictionary sebagai sesuatu yang “bertentangan dengan fakta” (contrary to fact). Pemikiran counterfactual terjadi ketika seseorang secara mental mengubah suatu peristiwa faktual yang telah terjadi, lalu mengevaluasi konsekuensi dari perubahan tersebut. Dengan kata lain, orang tersebut membayangkan bagaimana hasil dari suatu peristiwa bisa berbeda seandainya faktor-faktor pendahulu yang menyebabkan peristiwa itu berbeda.[6]

Sebagai contoh, seseorang mungkin merenungkan sebuah kecelakaan mobil dan membayangkan bagaimana hasilnya bisa berbeda jika beberapa faktor diubah, seperti: “Seandainya saya tidak sedang ngebut…” Dalam konteks ini, alternatif yang dibayangkan bisa lebih baik atau lebih buruk daripada keadaan sebenarnya, misalnya, “Seandainya saya tidak ngebut, mobil saya tidak akan hancur” atau “Seandainya saya tidak memakai sabuk pengaman, saya mungkin sudah meninggal.”

Penelitian menunjukkan bahwa pemikiran counterfactual dapat menimbulkan emosi negatif, seperti penyesalan atau rasa bersalah. Namun, jenis pemikiran ini juga dapat memiliki dampak fungsional atau bermanfaat, terutama dalam pembelajaran dari pengalaman.[5][6] Secara umum, terdapat dua jenis pemikiran counterfactual: downward dan upward.[7]

  1. Downward counterfactuals adalah pemikiran mengenai bagaimana situasi bisa lebih buruk daripada yang terjadi. Jenis pemikiran ini cenderung membuat individu memiliki pandangan lebih positif terhadap hasil yang sebenarnya, karena menyadari bahwa keadaan nyata masih lebih baik daripada skenario terburuk yang dibayangkan.
  2. Upward counterfactuals adalah pemikiran tentang bagaimana situasi bisa menjadi lebih baik. Pemikiran semacam ini biasanya menimbulkan ketidakpuasan atau perasaan tidak bahagia, karena individu menyadari bahwa hasil nyata kurang memuaskan dibandingkan dengan kemungkinan yang lebih baik. Meski demikian, upward counterfactuals memiliki fungsi adaptif, karena memungkinkan seseorang memikirkan strategi atau tindakan yang dapat dilakukan untuk mencapai hasil lebih baik di masa depan.

Pemikiran counterfactual tidak hanya memengaruhi emosi individu, seperti penyesalan, rasa bersalah, kelegaan, atau kepuasan, tetapi juga memengaruhi cara orang menilai situasi sosial. Misalnya, individu dapat menggunakan skenario counterfactual untuk menentukan siapa yang pantas mendapatkan pujian atau disalahkan, serta bagaimana tanggung jawab atas suatu peristiwa dibagi. Dengan demikian, pemikiran counterfactual memainkan peran penting dalam pembentukan persepsi sosial, pengambilan keputusan, dan pengelolaan emosi manusia.[8]

Referensi

sunting
  1. ^ Cowley, Robert; Ambrose, Stephen E. (2000). What if? : the world's foremost military historians imagine what might have been : essays. Internet Archive. New York : Berkley Books. ISBN 978-0-425-17642-9. Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)
  2. ^ a b N; P; R (1998-03-09). "What If?". NPR (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-09.
  3. ^ "Military History Quarterly Archives". HistoryNet (dalam bahasa American English). 2024-06-21. Diakses tanggal 2025-11-09.
  4. ^ Shapiro, Adam (2022-05-05). "What If… Historians Were Honest About Counterfactuals?". CONTINGENT (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-09.
  5. ^ a b c Roese, Neal J. (1997). "Counterfactual thinking". Psychological Bulletin (dalam bahasa Inggris). 121 (1): 133–148. doi:10.1037/0033-2909.121.1.133. ISSN 1939-1455.
  6. ^ a b "Definition of COUNTERFACTUAL". www.merriam-webster.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-09.
  7. ^ Morris, Michael W.; Moore, Paul C. (2000). "The Lessons We (Don't) Learn: Counterfactual Thinking and Organizational Accountability after a Close Call". Administrative Science Quarterly. 45 (4): 737–765. doi:10.2307/2667018. ISSN 0001-8392.
  8. ^ Markman, Keith D.; Klein, William M. P.; Suhr, Julie A., ed. (2012-09-10). "Handbook of Imagination and Mental Simulation". doi:10.4324/9780203809846.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

What If...? (seri televisi)

What If...? (Bahasa Indonesia: Seandainya...?) adalah sebuah seri antologi animasi yang dibuat oleh A.C. Bradley untuk layanan video sesuai permintaan

What If...? (musim 2)

Musim kedua dari serial antologi animasi Amerika yang berjudul What If...?, yang dibuat berdasarkan serial Marvel Comics dengan nama yang sama, musim

Mr. Big

Hold Your Head Up". Mr. Big merilis album baru mereka tahun 2011 bertitel What If dengan single pertamanya "Undertow" Mr. Big (1989) Lean Into It (1991)

Daftar film Marvel Cinematic Universe

sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama WhatIfS3Release Johnston, Dais (December 30, 2023). "What If...? Season 2 Might Be the Final Nail in the Coffin

Frank Grillo

America: Civil War (2016), Avengers: Endgame (2019), dan serial animasi What If...? (2021). Grillo lahir di New York City dari keluarga kelas pekerja keturunan

Jagat Sinematik Marvel

Loki dan What If...? dikeluarkan dari diagram karena terjadi di luar garis waktu utama. Disney+ menempatkan urutan garis waktu Loki dan What If...? diantara

What Would Happen If..?

What Would Happen If..? (Apa yang Akan Terjadi Apabila .. ?) adalah program di National Geographic yand berisikan eksperimen-eksperimen aneh. Episod #1

Fifty Fifty

2023. "WHAT IF" - ARAN's CONCEPT FILM | FIFTY FIFTY. December 5, 2022. "WHAT IF" - KEENA's CONCEPT FILM | FIFTY FIFTY. December 6, 2022. "WHAT IF" - SIO's