Konferensi Yalta
Konferensi Krimea
"Tiga Besar" saat Konferensi Yalta, Winston Churchill, Franklin D. Roosevelt and Joseph Stalin. Di belakang mereka berdiri, dari kiri. Marsekal Lapangan Sir Alan Brooke, Laksamana Armada Ernest King, Laksamana Armada William D. Leahy, Jenderal George Marshall, Mayor Jenderal Laurence S. Kuter, Jenderal Aleksei Antanov, Laksamana Madya Stepan Kucherov, dan Laksamana Armada Nikolay Kuznetsov.
Tuan rumahย Uni Soviet
Tanggal4โ€“11 Februari 1945
TempatIstana Livadia
KotaYalta, Krimea, RSFS Rusia, Uni Soviet
PesertaUni Soviet Josef Stalin
Britania Raya Winston Churchill
Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt
SebelumnyaKonferensi Teheran
SelanjutnyaKonferensi Potsdam

Konferensi Yalta (bahasa Rusia: ะฏะปั‚ะธะฝัะบะฐั ะบะพะฝั„ะตั€ะตะฝั†ะธั, translit.ย Yaltinskaya konferentsiya), yang diselenggarakan pada 4โ€“11 Februari 1945, adalah pertemuan para kepala pemerintahan Amerika Serikat, Britania Raya, dan Uni Soviet pada masa Perang Dunia II untuk membahas reorganisasi Jerman dan Eropa pascaperang. Ketiga negara diwakili oleh Presiden Franklin D. Roosevelt, Perdana Menteri Winston Churchill, dan Sekretaris Jenderal Josef Stalin. Konferensi ini diadakan di dekat Yalta, Krimea, Uni Soviet, di dalam Istana Livadia, Yusupov, dan Vorontsov.[1]

Tujuan dari konferensi ini adalah untuk membentuk perdamaian pascaperang yang tidak hanya mewakili tatanan keamanan kolektif, tetapi juga rencana untuk memberikan hak menentukan nasib sendiri kepada bangsa-bangsa Eropa yang telah merdeka. Konferensi yang terutama ditujukan untuk membahas pemulihan negara-negara di Eropa yang dilanda perang dalam beberapa tahun, dengan pecahnya Perang Dingin di benua tersebut, menjadi subjek kontroversi yang sengit.

Yalta adalah konferensi kedua dari tiga konferensi besar pada masa perang di antara Tiga Besar. Konferensi ini didahului oleh Konferensi Teheran pada November 1943 dan diikuti oleh Konferensi Potsdam pada Juli 1945. Konferensi ini juga didahului oleh sebuah konferensi di Moskow pada Oktober 1944, yang tidak dihadiri oleh Roosevelt, di mana Churchill dan Stalin mencapai kesepakatan informal mengenai lingkup pengaruh Barat dan Soviet di Eropa.[2]

Latar Belakang

sunting

Pada awal 1945, Sekutu telah mendekati kemenangan dalam Perang Dunia II. Tentara Uni Soviet telah mendesak pasukan Jerman mundur ke Eropa Timur, sementara pasukan Amerika dan Inggris telah berhasil mendarat di Prancis dan mendesak Jerman dari barat. Ketiga pemimpin Sekutu sepakat untuk bertemu guna merencanakan strategi terakhir melawan Jerman serta membahas masa depan Eropa setelah perang.

Lokasi konferensi dipilih di Yalta, wilayah yang berada di bawah kendali Uni Soviet, karena kondisi kesehatan Roosevelt dan kebutuhan Stalin untuk tetap dekat dengan Moskow.

Peserta Konferensi

sunting

Peserta utama konferensi adalah:

  1. Franklin D. Roosevelt, Presiden Amerika Serikat, yang mewakili kepentingan Amerika dalam membangun tatanan dunia yang damai dan menciptakan PBB.
  2. Winston Churchill, Perdana Menteri Britania Raya, yang ingin memastikan perlindungan terhadap Eropa Barat dan negara-negara kecil dari pengaruh Uni Soviet.
  3. Josef Stalin, Pemimpin Uni Soviet, yang ingin mengamankan kendali atas wilayah Eropa Timur untuk melindungi negaranya dari ancaman pada masa depan.

Selain ketiga pemimpin utama, hadir pula penasihat militer dan diplomat dari masing-masing negara.

Agenda dan Topik Diskusi

sunting

Konferensi Yalta membahas beberapa topik utama, yaitu:

Pembagian Wilayah Jerman

sunting

Jerman akan dibagi menjadi empat zona pendudukan yang dikelola oleh Amerika Serikat, Britania Raya, Uni Soviet, dan Prancis. Kota Berlin juga akan dibagi meskipun berada di dalam zona pendudukan Soviet.

Reparasi Perang Jerman

sunting

Stalin mengusulkan agar Jerman membayar reparasi besar untuk membangun kembali negara-negara yang hancur. Kesepakatan awal menyebutkan bahwa reparasi akan dibayar sebagian dalam bentuk barang dan tenaga kerja.

Polandia

sunting

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)

sunting

Ketiga pemimpin menyepakati pembentukan PBB untuk mencegah perang dunia pada masa depan. Dewan Keamanan PBB akan memiliki lima anggota tetap, yaitu Amerika Serikat, Uni Soviet, Britania Raya, Prancis, dan Tiongkok, yang memiliki hak veto.

Deklarasi Eropa yang Dibebaskan

sunting

Para pemimpin setuju bahwa negara-negara Eropa yang dibebaskan dari pendudukan Jerman akan diizinkan untuk menentukan masa depan politik mereka melalui pemilihan umum yang bebas dan adil.

Perang Melawan Jepang

sunting

Stalin sepakat untuk bergabung dalam perang melawan Jepang tiga bulan setelah kekalahan Jerman, dengan imbalan wilayah-wilayah tertentu di Asia, termasuk Sakhalin selatan dan Kepulauan Kuril.

Hasil dan Dampak

sunting

Hasil dari Konferensi Yalta memengaruhi peta politik dunia pasca-Perang Dunia II. Namun, beberapa keputusan yang diambil menimbulkan kontroversi dan ketegangan antara Sekutu Barat dan Uni Soviet, yang menjadi awal dari Perang Dingin.

  • Pembagian Jerman dan Eropa Timur: Pembagian wilayah Jerman dan Eropa Timur menempatkan sebagian besar Eropa Timur di bawah kendali Soviet, menciptakan blok komunis.
  • Polandia: Konflik tentang pemerintahan Polandia memunculkan kekecewaan di kalangan Sekutu Barat, karena Uni Soviet tidak memenuhi janji tentang pemilu bebas.
  • Pembentukan PBB: Keberhasilan pembentukan PBB menjadi salah satu pencapaian terbesar Konferensi Yalta dan berfungsi sebagai forum perdamaian internasional hingga saat ini.

Kontroversi

sunting

Banyak kritikus berpendapat bahwa Roosevelt dan Churchill terlalu banyak mengalah kepada Stalin, yang memungkinkan Uni Soviet memperluas pengaruhnya di Eropa Timur. Namun, pembela Roosevelt dan Churchill menyatakan bahwa kompromi tersebut diperlukan untuk memastikan kerja sama Stalin dalam perang melawan Jepang dan pembentukan PBB.

Referensi

sunting
  1. ^ "Yalta Conference". Encyclopรฆdia Britannica. Diakses tanggal November 7, 2022.
  2. ^ Melvyn Leffler, Cambridge History of the Cold War, Volume 1 (Cambridge University Press, 2012), p. 175

Daftar pustaka

sunting
  • Gilbert, M. The Second World War: A Complete History.
  • Roberts, G. Stalin's Wars: From World War to Cold War, 1939-1953.

Lihat pula

sunting

Pranala luar

sunting


๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Konferensi Teheran

Yalta Conference. Funk and Wagnells New Encyclopedia. World Almanac Education Group, 2003. SIRS DISCOVER. Philadelphia. 2 April 2006. Keyword: Yalta Conference

Konferensi Asiaโ€“Afrika

Asian-African conference of Bandung (24 April 1955)" (PDF). Centre Virtuel de la Connaissance sur l'Europe. 3 January 2017. Bandung Conference of 1955 and

Alger Hiss

selama perang dunia I. Pada 1945, Hiss adalah anggota utusan AS ke Yalta conference, di mana Franklin D. Roosevelt, Joseph Stalin, dan Winston Churchill

Konferensi Malta (1945)

front persatuan melawan Stalin dalam Konferensi Yalta beberapa hari kemudian. Itu tidak terjadi setelah Yalta dimulai, yang membuat Churchill kecewa. Kedua

Amerika Serikat

kaya lagiโ€“setelah perang berakhir. Konferensi Sekutu di Bretton Woods dan Yalta menghasilkan sebuah kesepakatan mengenai pembentukan sistem organisasi internasional

James F. Byrnes

Byrnes. Excerpts from Speaking Frankly on the subjects of: (Yalta Conference), (Potsdam Conference) ("Flash Player" is required) James Francis Byrnes and U

Konferensi Casablanca (1943)

kemudian diikuti oleh Konferensi Kairo, Konferensi Teheran, Konferensi Yalta, dan Konferensi Potsdam. Susilo, Taufik Adi. Ensiklopedia Pengetahuan Dunia

UNESCO

site: Previous Sessions of the General Conference Diarsipkan 25 October 2011 di Wayback Machine. "General Conference 37th". United Nations Educational, Scientific