Yupa
Yupa, dengan nomor identifikasi D.175
JenisPrasasti
Bahan bakuBatu bongkah
Sistem penulisanAksara Pallawa
DibuatAbad ke-5
PeriodeKerajaan Kutai
Lokasi sekarangMuseum Nasional Indonesia
KlasifikasiNasional
BahasaBahasa Sanskerta

Prasasti Yupa adalah sebuah prasasti yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Kutai. Terdapat tujuh buah yupa yang memuat prasasti, tetapi baru 4 yang berhasil dibaca dan diterjemahkan. Prasasti ini menggunakan huruf Pallawa Pra-Nagari dan dalam bahasa Sanskerta, yang diperkirakan dari bentuk dan jenisnya berasal dari sekitar Abad ke-5 Masehi. Prasasti ini ditulis dalam bentuk puisi anustub.[1]

Isi

sunting

Isinya menceritakan Raja Mulawarman yang memberikan sumbangan kepada para kaum Brahmana berupa sapi yang banyak. Mulawarman disebutkan sebagai cucu dari Kundungga, dan anak dari Aswawarman. Prasasti ini merupakan bukti peninggalan tertua dari kerajaan yang beragama Hindu di Indonesia. Nama Kutai umumnya digunakan sebagai nama kerajaan ini meskipun tidak disebutkan dalam prasasti, sebab prasasti ditemukan di Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu Sungai Mahakam.[butuh rujukan]

Dalam salah satu Yupa tersebut juga telah dikatakan bahwa pada Raja Mulawarman telah melakukan sebuah upacara korban emas yang sangat banyak. Kemajuan dari Kerajaan Kutai ini juga terlihat dari tanda adanya golongan terdidik, yang terdiri dari para golongan ksatria dan brahmana. Masyarakat tersebut mendapat kedudukan yang terhormat dalam Kerajaan Kutai.[butuh rujukan]

Teks

sunting

Alih aksara prasasti pada yupa-yupa tersebut adalah sebagai berikut:

Terjemahan bebas

sunting

Terjemahan teks yupa-yupa tersebut adalah sebagai berikut:[1]

Informasi yang ada diperoleh dari Prasasti Yupa dalam upacara pengorbanan yang berasal dari abad ke-4. Yupa merupakan sebuah monumen yang terbuat dari batu berisi tulisan-tulisan mengenai Raja Mulawarman. Terdapat tujuh buah yupa yang menjadi sumber utama bagi para ahli dalam menginterpretasikan sejarah Kerajaan Kutai. Yupa dibuat oleh para brahman atas kedermawanan Raja Mulawarman. Dalam agama hindu sapi tidak disembelih seperti kurban yang dilakukan umat islam. Dari salah satu yupa tersebut diketahui bahwa raja yang memerintah kerajaan Kutai saat itu adalah Mulawarman. Namanya dicatat dalam yupa karena kedermawanannya menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana.[5]

Ditemukannya tujuh rasasti Yupa,[6] diawali dengan penemuan empat prasasti di bukit Brubus, Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur pada tahun 1879, keempat prasasti terseut terbuat dari batu andesit, ditulis dengan aksara Pallawa dan Bahasa Sanskerta dan diinvetarisasi dengan sebutan D.2a, D.2b, D.2c, dan D.2d kemudian ditempatkan di Museum Nasional (pada saat itu bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen). Kemudian pada tahun 1940, tiga prasasti lainnya ditemukan pada situs yang sama dan diinventarisasi dengan nama D.175, D.176, dan D.177 lalu disimpan di Museum Nasional.[7]

Informasi lengkap mengenai tujuh Yupa di antaranya:

Muarakaman I (D.2a)

sunting
Prasasti Yupa Koleksi Museum Nasional Nomor Inventaris D.2a
Nama sebagaimana tercantum dalam
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya
Cagar budaya Indonesia
PeringkatNasional
KategoriBenda
No. RegnasCB.20
Lokasi
keberadaan
DKI Jakarta
No. SK279/M/2014
Tanggal SK13 Oktober 2014
Tingkat SKMenteri
PetaKoordinat: 27ยฐ30โ€ฒ41.4โ€ณN 77ยฐ41โ€ฒ21.5โ€ณE๏ปฟ / ๏ปฟ27.511500ยฐN 77.689306ยฐE๏ปฟ / 27.511500; 77.689306

Yupa Muarakaman I tertulis 12 baris, menceritakan silsilah Raja Mulawarman, Raja Mulawarman yang kuat dan peradaban amat baik, dan kuasa sekaligus cucu dari Sri Maharaja Kundungga, anak dari Aswawarman. Aswawarman (ibarat dewa Matahari) memiliki tiga orang putra yang sangat mulia seperti api suci dan Raja Mulawarman yang paling terdepan. Prasasti Yupa tertulis dengan bahasa sanskerta dengan huruf yang tergolong Early Pallawa (Pallawa dimasa awal) dengan khas box-heads (kepala aksara yang berbentu segi empat). Kemungkinan besar aksara Pallawa merupakan aksara semi silabik dari aksara Brahmi yang berasal dari India, dalam Prasasti Yupa tidak tertulis secara pasti tahun dibuatnya tetapi diperkirakan dibuat pada abad ke-4 sampai 5 masehi. Alih aksara Muarakaman I di antaranya:[8][9]

srimatah srinarendrasya

kundunggasya mahatmanah

putro โ€˜svavarmmo vikhyatah

vansakartta yathangsuman

tasya putra mahatmanah

trayas traya ivagnayah

tesan trayanam pravarah

tapo bala damanvitah

sri mulavarmma rajendro

yastva bahusuvarnnakam

tasya yajรฑasya yupo โ€˜yam

dvijendrais samprakalpitah.[7]

Artinya:

Sang Mahฤrฤja Kundungga, yang amat mulia, mempunyai putra yang mashur, Sang Aล›wawarman namanya, yang seperti Angล›uman (dewa Matahari) menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aล›wawarmman mempunyai putra tiga, seperti api (yang suci). Yang terkemuka dari ketiga putra itu ialah Sang Mลซlawarmman, raja yang berperadaban baik, kuat, dan kuasa. Sang Mลซlawarmman telah mengadakan kenduri (selamatan yang dinamakan) emas-amat-banyak. Untuk peringatan kenduri (selamatan) itulah tugu batu ini didirikan oleh para brahmana.[7]

Muarakaman II (D.2b)

sunting
Prasasti Yupa Koleksi Museum Nasional Nomor Inventaris D.2b
Nama sebagaimana tercantum dalam
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya
Cagar budaya Indonesia
PeringkatNasional
KategoriBenda
No. RegnasCB.21
Lokasi
keberadaan
DKI Jakarta
No. SK279/M/2014
Tanggal SK13 Oktober 2014
Tingkat SKMenteri

Yupa Muarakaman II merupakan Yupa tertinggi di antara tujuh Yupa yang ditemukan, terdiri 8 baris, menceritakan tentang Sri Mulawarman sebagai raja mulia dan terkemuka yang telah menyedekahkan 20.000 ekor sapi untuk kaum Brahmana, Yupa ini dibuat oleh kaum Brahmana sebagai peringatan akan kebajikan Raja Mulawarman. Keadaan Muarakaman III masih terjaga dengan baik dan tulisannya masih terbaca, tetapi pada baris keenam dan ketujuh dan bagian belakang terdapat bercak putih. Alih aksara Muarakaman II di antaranya:[7]

srimato nrpamukhyasya

rajรฑah sri mulavarmmanah

danam punyatame ksetre

yad dattam vaprakesvare

dvijatibhyo โ€˜gnikalpebhyah

vinsatir ggosahasrikam

tasya punyasya yupo โ€˜yam

krto viprair=ihagataih.[7]

Artinya:

Dengarkanlah oleh kamu sekalian, Brahmana yang tekemuka, dan sekalian orang baik lain-lainnya, tentang kebaikan budi Sang Mulawarman, raja besar yang sangat mulia. Kebaikan budi ini ialah berwujud sedekah banyak sekali, seolah-olah sedekah kehidupan atau semata-mata pohon kalpa (yang memberi segala keinginan), dengan sedekah tanah (yang dihadiahkan). Berhubung dengan kebaikan itulah maka tugu ini didirikan oleh para Brahmana (buat peringatan).[10]

Muarakaman III (D.2c)

sunting
Prasasti Yupa Koleksi Museum Nasional Nomor Inventaris D.2c
Nama sebagaimana tercantum dalam
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya
Cagar budaya Indonesia
PeringkatNasional
KategoriBenda
No. RegnasCB.22
Lokasi
keberadaan
DKI Jakarta
No. SK279/M/2014
Tanggal SK13 Oktober 2014
Tingkat SKMenteri

Yupa Muarakaman III menceritakan tentang kebesaran Raja Mulawarman, raja besar yang sangat baik budinya dan sangat mulia. Yupa ini dibuat oleh pra Brahmana sebagai peringatan akan kebaikan Raja Mulawarman. Alih aksara Muarakaman III di antaranya:[7]

sri-mulavarmmano rajnah yad dattan tilla-parvvatam sadipa-malaya sarddham yupo โ€žyam likhitas tayoh.[10]

Artinya:

Tugu ini ditulis buat (peringatan) dua (perkara) yang telah disedekahkan oleh Sang Raja Mulawarman, yakni segunung minyak (kental), dengan lampu serta malai bunga.[10]

Muarakaman IV (D.2d)

sunting
Prasasti Yupa Koleksi Museum Nasional Nomor Inventaris D.2d
Nama sebagaimana tercantum dalam
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya
Cagar budaya Indonesia
PeringkatNasional
KategoriBenda
No. RegnasCB.23
Lokasi
keberadaan
DKI Jakarta
No. SK279/M/2014
Tanggal SK13 Oktober 2014
Tingkat SKMenteri

Yupa Muarakaman IV terdiri atas 11 baris pahatan, namun aksaranya telah aus sehingga sulit untuk dibaca isinya.[11]

Muarakaman V

sunting

Yupa Muarakaman V tediri atas 4 baris pahatan, isi dari yupa ini mengenai peringatan sedekah

Referensi

sunting
  1. ^ a b Sumantri, Yeni Kurniawati. Rangkuman Materi Perkuliahan: Sejarah Indonesia Kuno. Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia.
  2. ^ R.M. Poerbatjaraka, Riwayat Indonesia, I, 1952, hal. 9.
  3. ^ a b R. M. Poerbatjaraka, Ibid., hal. 10.
  4. ^ R. M. Poerbatjaraka, Ibid., hal. 11.
  5. ^ "โˆš Sejarah Kerajaan Kutai: Berdiri, Peninggalan, Kejayaan". www.cryptowi.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-09-18. Diakses tanggal 2020-08-11.
  6. ^ citypost.id https://citypost.id/18594-berita-prasasti-yupa-bukti-keberadaan-kerajaan-kutai-mulawarman. Diakses tanggal 2020-08-16.
  7. ^ a b c d e f Kebudayaan, Direktorat Pelindungan (2019-03-14). "Yupa, Bukti Awal Zaman Sejarah di Indonesia". Direktorat Pelindungan Kebudayaan. Diakses tanggal 2020-08-11.
  8. ^ MNI (2019-08-21). "Prasasti Muara Kaman". Museum Nasional (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2020-08-11.
  9. ^ "ASEAN Cultural Heritage Digital Archive". heritage.asean.org. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-06-13. Diakses tanggal 2020-08-16.
  10. ^ a b c Sumantri, Yeni Kurniawati. "Rangkuman Materi Perkuliahan: Sejarah Indonesia Kuno" (PDF). Diakses tanggal 11 Agustus 2020.
  11. ^ Team, Matakota. "Prasasti Mulawarman; Prasasti Tertua di Indonesia | Matakota News". Matakota. Diakses tanggal 2020-08-14.

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Kerajaan Kutai Martapura

bercorak Hindu di Nusantara yang memiliki bukti sejarah tertua berupa prasasti Yupa dan berdiri sekitar abad ke-4 Masehi. Pusat kerajaan ini terletak di Muara

Daftar kata serapan dari bahasa Sanskerta dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia modern

yang datang dari India. Bukti tertua yang sekarang masih ada ialah prasasti Yupa yang ada di Kutai, Kalimantan Timur dan kurang lebih berasal dari abad ke-4

Mulawarman

Kundungga yang merupakan pendiri Kerajaan Kutai Martapura. Dalam prasasti Yupa, disebutkan bahwa Mulawarman pernah menyumbangkan 20.000 ekor sapi kepada

Pulau Yupa

Pulau Yupa adalah sebuah pulau kecil yang berada di daerah Telukladang, selat Makassar dan secara administratif terletak pada wilayah Kecamatan Tenggarong

Kundungga

yupa. Jumlah yupa yang ditemukan di Muara Kaman adalah sebanyak 7 buah. Menurut hasil kajian yang dilakukan oleh J.G. de Casparis (1949), yupa-yupa di

Sejarah Indonesia

Kalimantan Timur berdiri kerajaan pertama yang mewariskan aksara pada tiang batu yupa. Kerajaan ini didirikan dirintis oleh Kundungga, seorang penduduk asli Pulau

Indonesia

2022-09-13. Diakses tanggal 26 November 2020. Vogel, J. Ph. (1918). "The Yupa Inscription of King Mulawarman, from Koetei (East Borneo)". BKI. 74. Aris

Candi Prambanan

Kal-bar Negeri Baru Kal-sel Agung *Laras Kal-tim Lesong Batu Kombeng Prasasti Yupa Nusa Tenggara NTB Batu Bolong Gunung Sari Lingsar Meru Wetu Telu NTT Giri