Kerang mata tujuh,[1] disebut juga abalone (pelafalan dalam bahasa Indonesia: [a.ba.lo.nรช]),[2] ngarun, atau lapar kenyang (bahasa Inggris: abalone) ialah suatu spesies kerang-kerangan (moluska) dari famili Haliotidae dan genus Haliotis.[3] Ia dikenal pula sebagai ormer di Jersey dan Guernsey, perlemoen di Afrika Selatan, dan pฤua di Selandia Baru.
Kerang mata tujuh tergolong dalam kelas Gastropoda yang besar. Terdapat hanya satu genus dalam famili Haliotidae dan kira-kira 4 - 7 subgenus. Taksonominya agak membingungkan. Spesiesnya berjumlah antara kira-kira 100 hingga 130 (karena adanya kacukan).
Kerang mata tujuh memiliki ciri-ciri permukaan kulit sebelah dalam yang berwarna-warni yang terbuat dari nakre. Daging moluska ini dianggap sebagai salah satu makanan istimewa di sebagian Amerika Latin (khususnya Chili), Asia Tenggara, dan Asia Timur (khususnya di Republik Rakyat Tiongkok, Jepang, dan Korea).[4]
| Moluska bermanfaat |
|---|
| Hasil laut ("seafood") |
| Abalon |
| Remis |
| Kerang |
| Periwinkel |
| Kupang |
| Tiram |
| Simping |
|
|
| Cumi-cumi |
| Gurita |
| Sotong |
|
|
| Industri perikanan |
| Budi daya perairan |
|
|
Spesies
sunting-
Sekeping kulit kerang ngarun.
-
Permukaan kulit kerang ngarun bagian dalam yang berwarna-warni.
-
Daging mentah kerang ngarun.
-
Abalon putih, Haliotis sorenseni
-
Abalon jingga, Haliotis corrugata
Referensi
sunting- ^ "Arti kata kerang mata tujuh". Kamus Besar Bahasa Indonesia. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.
- ^ "Arti kata abalone". Kamus Besar Bahasa Indonesia. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.
- ^ Parker, Sybil P (1985). McGraw-Hill dictionary of biology. McGraw-Hill Book Company. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Anggraini, Dina; Sudaryadi, Ignatius (2023-08-30). "PENGARUH RADIASI SINAR ULTRAVIOLET DAN PEMBERIAN PAKAN EKSTRAK RUMPUT LAUT MERAH (Eucheuma sp.) TERHADAP SINTASAN LALAT BUAH (Drosophila melanogaster)". Biogenesis. 19 (2): 84. doi:10.31258/biogenesis.19.2.84-100. ISSNย 2776-1924.
Pranala luar
sunting
