Agus Widjojo
Agus Widjojo
Duta Besar Indonesia untuk Filipina
Masa jabatan
12 Januari 2022 – 8 Februari 2026
PresidenJoko Widodo
Prabowo Subianto
Sebelum
Pengganti
belum ada
Sebelum
Gubernur Lemhannas ke-16
Masa jabatan
15 April 2016 – 12 Januari 2022
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
Fraksi TNI & Polri
Masa jabatan
29 Oktober 2001 – 7 November 2002
Menjabat bersama
Periode 1999–2004
PresidenMegawati Soekarnoputri
Ketua MPRAmien Rais
Sebelum
Pendahulu
Hari Sabarno
Sebelum
Informasi pribadi
Lahir(1947-06-08)8 Juni 1947
Surakarta, Jawa Tengah
Meninggal9 Februari 2026(2026-02-09) (umur 78)
Jakarta Pusat, DKI Jakarta
Orang tua
AlmamaterAKABRI (1970)
PekerjaanTentara
Karier militer
Pihak Indonesia
Dinas/cabang TNI Angkatan Darat
Masa dinas1970–2003
Pangkat Letnan Jenderal TNI
SatuanInfanteri
Pertempuran/perang
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Bantuan penggunaan templat ini

Agus Widjojo (8 Juni 1947 – 8 Februari 2026)[1] adalah purnawirawan tentara berkebangsaan Indonesia. Ia pernah menjadi duta besar Indonesia untuk negara Filipina dari Januari 2022 hingga akhir hayatnya pada Februari 2026. Ia pernah menjabat sebagai Gubernur Lemhannas sejak 15 April 2016 hingga 12 Januari 2022.

Agus Widjojo merupakan mantan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat mewakili Fraksi TNI/Polri periode 2001–2003 menggantikan Hari Sabarno yang diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Gotong Royong.[2][3]

Karier

sunting

Agus merupakan lulusan dari AKABRI tahun 1970,[4] ia seangkatan dengan dua mantan KSAD, Subagyo Hadi Siswoyo dan Tyasno Sudarto. Agus adalah putra dari salah satu Pahlawan Revolusi yakni, Mayjen TNI (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo yang gugur pada peristiwa G30S.[5]

Selama pengangkatannya sebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI (SESKO TNI), sebuah wadah pemikir TNI, dia bertanggung jawab untuk restrukturisasi doktrin politik dan keamanan TNI. Agus Widjojo telah memainkan peran yang penting dalam pembaruan militer. Pada tahun 1998, ia bahkan pernah berpendapat bahwa militer seharusnya keluar dari politik dengan mengatakan, "Mereka yang melihat kebutuhan untuk menjadikan militer sebagai bagian dari sistem yang lebih demokratis adalah mereka yang telah terkena sistem demokrasi".[6]

Pada tahun 1998, Letjen Agus Widjojo dan Letjen Susilo Bambang Yudhoyono adalah jenderal bintang tiga semasa Wiranto waktu itu Panglima TNI, diminta menyiapkan konsep reformasi TNI.[7] Konsep tersebut dinamakan "Paradigma Baru TNI". Saat menjadi Wakil Ketua MPR pun, Beliau-lah yang memimpin Fraksi TNI/Polri untuk mundur dari parlemen dan fraksi tersebut dilikuidasi, yang di mana fakta sejarah yaitu MPR 1999-2004 ialah periode terakhir TNI/Polri berada di parlemen.[8]

Dalam peluncuran bukunya tahun 2015 mengenai Transformasi TNI, dia mengemukakan pada pemerintahan saat ini banyak peran di luar profesi kemiliteran yang “dititipkan” untuk dilaksanakan TNI, di antaranya mewujudkan swasembada pangan dan lain-lain. Menurut Widjojo, peran dan tugas utama TNI adalah pertahanan negara dan setelah disadari banyak peran di luar kemiliteran pada saat itu mengganggu kehidupan demokrasi Indonesia maka jangan lagi TNI ditarik ke wilayah itu. Dia tegaskan, kepercayaan diri kalangan elite dan pucuk pimpinan sipil negara ini dapat ditinggikan dengan lebih menumbuhkan kapasitas di antara mereka.[9] Tentara Nasional Indonesia perlu memusatkan perhatian pada tugas pokoknya menjaga pertahanan nasional, sehingga sebagai implikasinya mesti melepaskan tanggung jawab di sektor keamanan dalam negeri, seperti dalam kasus tumpang tindih TNI AL dengan Bakamla. “Masih ada salah pengertian bahwa keamanan laut dan keamanan maritim berada di tangan TNI Angkatan Laut. Perlu ditanamkan pengertian, fungsi keamanan maritim merupakan fungsi penegakan hukum di wilayah perairan nasional yang dilaksanakan oleh lembaga penegak hukum sipil,” kata Agus.[10]

Dalam bidang HAM, Agus Widjojo juga sempat menjabat sebagai anggota Komisi Kebenaran dan Persahabatan RI-Timtim yang menangani dugaan pelanggaran HAM Indonesia di Timor Timur. Meski ayahnya merupakan korban tragedi G30S, Agus memiliki perhatian mengenai tragedi politik Indonesia pada 1965. Agus Widjojo salah satu penasihat Forum Silaturahmi Anak Bangsa, forum yang didirikan pada 2003 yang mempertemukan anak-anak korban konflik politik 1965.[11] Terbaru, ia juga merupakan penggagas sekaligus Ketua Panitia Pengarah Simposium Nasional membedah Tragedi 1965 yang diadakan melalui Kemenkopolhukam pada 2016.[12]

Ia pernah menjabat sebagai Deputi Kepala Unit Kerja Presiden Pengelolaan Program dan Reformasi (UKP3R) pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode pertama. Dia adalah Senior Fellow dari Centre for Strategic and International Studies dan Visiting Fellow Senior dari Institut Pertahanan dan Studi Strategis di Singapura. Ia juga merupakan penasihat di Dewan Institut Perdamaian dan Demokrasi (IPD), Universitas Udayana, Bali yang menggagas Bali Democracy Forum. Ia telah menulis berbagai artikel tentang isu-isu keamanan di wilayah Asia-Pasifik.

Pada 15 April 2016, Presiden Joko Widodo resmi melantik Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo sebagai Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), di Istana Merdeka, Jakarta. Surat pengangkatan Agus tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 43/TPA/2016 Tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Gubernur Lemhannas.[13] Agus mengatakan, ke depan dia akan membawa Lemhannas lebih sering menyentuh kepada kegiatan masyarakat. Tujuannya agar kehadiran Lemhannas bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. "Ke depan saya sudah minta pengarahan dari Bapak Presiden agar Lemhannas tidak hanya dirasakan di dalam ruang-ruang Lemhannas, tetapi juga seluruh kegiatan sehari-hari masyarakat Indonesia pada seluruh wilayah," ujar Agus usai pelantikan dirinya di Istana Negara. Selain itu, Agus ingin agar Lemhannas bisa menangani hal-hal yang bersifat mendesak. "Tujuannya untuk membantu kebijakan yang diambil pemerintah," katanya.[14]

Publikasi

sunting
  1. Transformasi TNI Dari Pejuang Kemerdekaan Menuju Tentara Profesional dalam Demokrasi: Pergulatan TNI Mengukuhkan Kepribadian dan Jati Diri (Center for Strategic International Studies, 2015)

Penghargaan

sunting
Baris ke-1Bintang Mahaputera Adipradana (2024)[15]Bintang DharmaBintang Yudha Dharma Pratama
Baris ke-2Bintang Kartika Eka Paksi PratamaBintang Yudha Dharma NararyaBintang Kartika Eka Paksi Nararya
Baris ke-3Satyalancana Kesetiaan 24 TahunSatyalancana Kesetiaan 16 TahunSatyalancana Kesetiaan 8 Tahun
Baris ke-4Satyalancana Dwidya SisthaSatyalancana Raksaka DharmaSatyalancana Seroja (Ulangan Pertama)
Baris ke-5Satyalancana Santi DharmaSatyalancana Santi DharmaThe Second United Nations Emergency Force (UNEF II) Medal

Referensi

sunting
  1. ^ "Dubes RI untuk Filipina Agus Widjojo Meninggal Dunia". nasional. Diakses tanggal 2026-02-08.
  2. ^ Crouch, Harold (2010). Political Reform in Indonesia After Soeharto. Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 158. ISBN 978-981-230-920-4.
  3. ^ "AGUS WIDJOJO". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-08-19. Diakses tanggal 2014-08-18.
  4. ^ ALUMNI - 1970 lihat bagian infanteri no. 267
  5. ^ Anak yang Melampaui Karier Ayah? Diarsipkan 2014-08-19 di Wayback Machine. Tempo, 14 Juni 2011
  6. ^ ""Kemitraan: Agus Widjojo"". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-08-19. Diakses tanggal 2014-08-18.
  7. ^ "SBY-Kalau ada yang mau kudeta, Saya paling depan menolak!"
  8. ^ "Pricenton Interview: Lt. Gen Ret Agus Widjojo"
  9. ^ "Letjen Purn Agus Widjojo luncurkan Buku Transformasi TNI"
  10. ^ "Tumpang Tindih Aturan Penegakan Hukum Maritim"
  11. ^ "Jadi Gubernur Lemhanas, ini rekam jejak Agus Widjojo"
  12. ^ "Wawancara Penyelesaian Tragedi 65, Kenapa harus lewat Simposium?"
  13. ^ "Agus Widjojo resmi jabat Gubernur Lemhanas"
  14. ^ "Agus Widjojo: Saya ingin Lemhannas lebih Menyentuh Masyarakat"
  15. ^ Media, Kompas Cyber (2024-08-14). "Jokowi Berikan Gelar Tanda Kehormatan untuk 64 Tokoh, Ada Prabowo, Airlangga hingga Surya Paloh". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2024-08-14.

Pranala luar

sunting
Jabatan diplomatik
Didahului oleh:
Sinyo Harry Sarundajang
Duta Besar Indonesia untuk Filipina
2022–2026
Petahana
Jabatan pemerintahan
Didahului oleh:
Budi Susilo Soepandji
Gubernur Lemhannas
2016–2022
Diteruskan oleh:
Andi Widjajanto

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Lembaga Ketahanan Nasional

Ir. Budi Susilo Soepandji, CES, DEA (2011–2016) Letjen TNI (Purn.) Agus Widjojo (2016–2022) Andi Widjajanto, S.Sos., M.Sc., Ph.D. (2022–2023) Laksamana

Kematian tahun 2026

Ted Turner James Van Der Beek Wang Zijie James Whittaker Lucky Widja Agus Widjojo Yus Datuak Parpatiah Alex Zanardi Liamine Zéroual Berikut adalah daftar

Slamet Supriyadi

(Purn) Agus Widjojo Resmi Diganti". Kompas. 24 Oktober 2002. hlm. 6. Diakses tanggal 28 Desember 2021. "Slamet Supriadi Gantikan Agus Widjojo di MPR"

Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia

Johny J. Lumintang (1998-1999) Komandan Sesko TNI Letnan Jenderal TNI Agus Widjojo (1998-1999) Letnan Jenderal TNI Endriartono Sutarto (1999-2000) Letnan

Brigade Infanteri 17

Inf Dr. E.D. Bimo Prakoso, PSC., MPA., M.Sc. (1989–1990)⭐⭐ Kolonel Inf Agus Widjojo (1990–1992)⭐⭐⭐ Kolonel Inf Sugiono (1992–1993)⭐⭐⭐ Kolonel Inf Susilo

Daftar Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia

Jusuf Amir Feisal". Merdeka.com. Diakses tanggal 25 Desember 2014. "Agus Widjojo Dilantik Sebagai Wakil Ketua MPR". Tempo.co. 29 Oktober 2001. Diarsipkan

Kepala Staf Teritorial Tentara Nasional Indonesia

61 hari Angkatan Darat Wiranto Widodo A. S. 12 Letnan Jenderal Agus Widjojo (1947–2026) 9 November 1999 29 Oktober 2001 7002720000000000000♠1 tahun

Jusuf Amir Feisal

Djalil (1999–2001) Cholil Bisri (2002–2004) Hari Sabarno (1999–2001) Agus Widjojo (2001–2002) Slamet Supriyadi (2002–2004) Nazri Adlani Oesman Sapta Odang