Aksiden adalah sesuatu yang bertempat karena bertempatnya sesuatu yang lain yang merupakan substansi. Sifat dari aksiden tidak memiliki esensi.[1]

Pengertian

sunting

Aksiden hanyalah sebuah konsep yang berlaku dalam konteks individu. Namun, aksiden tidak memiliki esensi yang diperlukan oleh individu. Aksiden menjadi sebuah konsep universal sekunder yang didahului oleh konsep universal primer yaitu substansi. Konsep ini termasuk bagian dari konsep universal dalam filsafat. Konsep aksiden berlaku di dalam penalaran, sedangkan sifatnya terwujud di kenyataan.[2]

Referensi

sunting

Catatan kaki

sunting
  1. ^ Nuruddin 2021, hlm.ย 80.
  2. ^ Nuruddin 2021, hlm.ย 81-82.

Daftar pustaka

sunting
  • Nuruddin, Muhammad (2021). Ilmu Maqulat dan Esai-Esai Pilihan Seputar Logika, Kalam dan FIlsafat. Depok: Keira. ISBNย 978-623-7754-24-4. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Ilmu makulat

berkaitan dengan ilmu logika. Kajian dalam ilmu makulat meliputi substansi dan aksiden yang ada pada segala sesuatu yang memiliki wujud di alam semesta. Ilmu

Kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi

pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan konsep realisme dalam konteks aksiden (accidere) dan substansi Platonis. Upaya-upaya untuk mencapai saling pengertian

Ekaristi dalam Gereja Katolik

itu sendiri. Kendati tampilannya, yang disebut dengan istilah filosofis aksiden, dapat dicerna oleh pancaindra, substansinya tidak. Dalam Perjamuan Malam

Seyyed Hossein Nasr

adalah jamak. Ia adalah substansi tertinggi, sementara yang lain hanyalah aksiden. Ia adalah esensi, sedangkan segala sesuatu lainnya hanyalah bentuk. Ia

Relatif

yang memiliki eksistensi hanya dengan acuan pada sesuatu lainnya semisal aksiden dan 2) sesuatu yang ada, yang eksistensinya merupakan dasar hubungan nyata

Definisi

tertawa; Terakhir, deskripsi tidak sempurna, definisi yang hanya menggunakan aksiden khusus. Contoh, manusia adalah yang tertawa. Membuat definisi yang baik

Ibnu Rusyd

tidak setuju dengan pendapat Ibnu Sina bahwa keberadaan (wujud) hanyalah aksiden ('ard) dari esensi (dzat). Ibnu Rusyd berpendapat sebaliknya, bahwa sesuatu

Transubstansiasi

dirujuk oleh istilah 'aksiden' โ€” dapat dicerna oleh indra manusia, tetapi substansinya tidak. Pembedaan "substansi" dengan "aksiden" sebenarnya berasal