Mangrove merupakan jenis tumbuhan perdu atau pohon besar yang tumbuh subur di kawasan air asin dan mampu beradaptasi secara khusus terhadap ketersediaan energi yang cepat berubah di zona intertidal di sepanjang pesisir laut.

Mangrove adalah tumbuhan perdu (semak) atau pohon yang umumnya tumbuh di kawasan air asin atau air payau di pesisir laut. Mangrove umumnya berada di daerah beriklim khatulistiwa, dan biasanya tumbuh di daerah sepanjang garis pesisir dan pinggiran sungai pasang surut yang memiliki kadar oksigen minim dan garam yang berlimpah. Tumbuhan mangrove memiliki kemampuan adaptasi khusus dalam mengambil oksigen ekstra di udara dan menghilangkan garam berlebih dari sistemnya, sehingga tumbuhan ini mampu bertahan hidup dalam kondisi tersebut yang mampu membunuh sebagian besar tumbuhan normal. Istilah "mangrove" juga dapat digunakan untuk vegetasi (kumpulan tumbuhan) mangrove tersebut. Vegetasi mangrove terdiri dari beraneka ragam spesies tumbuhan yang sering kali berkerabat jauh menurut taksonomi, tetapi memiliki kemampuan adaptasi yang mirip oleh karena evolusi konvergen. Tumbuhan mangrove dapat dijumpai di seluruh dunia di daerah tropis dan daerah subtropis dan bahkan di beberapa daerah pesisir beriklim sedang, terutama di antara garis lintang 30ยฐย LU dan 30ยฐย LS, dengan kawasan mangrove terluas berada pada daerah di antara 5ยฐย LU dan 5ยฐย LS.[1][2] Vegetasi tumbuhan mangrove diperkirakan pertama kali muncul pada antara Kala Kapur Akhir hingga Kala Paleosen, dan kemudan tersebar ke berbagai belahan dunia, salah satunya akibat pergerakan lempeng tektonik. Fosil palem mangrove tertua yang pernah diketahui berasal dari 75 juta tahun yang lalu.[2]

Mangrove merupakan tumbuhan yang toleran terhadap garam (yang disebut juga halofita), serta mampu beradaptasi dalam kondisi pesisir yang sangat sulit bagi tumbuhan normal. Mangrove memiliki sistem penyaringan garam dan sistem perakaran yang kompleks untuk mencegah bagian atas tumbuhan terendam dalam air asin dan juga mencegah terpaan gelombang yang kuat. Mangrove mampu hidup pada media lumpur tergenang yang memiliki kadar oksigen yang rendah,[3] tetapi mangrove lebih sanggup bertumbuh dengan subur pada bagian atas zona intertidal.[4]

Bioma mangrove, disebut juga hutan mangrove, merupakan habitat padang tiah atau belukar asin yang dicirikan oleh lingkungan endapan pesisir, tempat sedimen-sedimen halus (sering kali dengan kandungan organik tinggi) berkumpul di kawasan yang terlindung dari pengaruh gelombang berenergi tinggi. Hutan mangrove berfungsi sebagai habitat yang sangat penting bagi beragam spesies perairan, serta menawarkan ekosistem unik yang mendukung interaksi yang rumit antara kehidupan laut dan vegetasi darat. Keadaan salinitas yang dapat ditoleransi oleh vegetasi mangrove berkisar dari air payau, air laut murni (salinitas 3 hingga 4%), hingga perairan yang memiliki tingkat salinitas dua kali lipat salinitas air laut akibat penguapan berlebih (salinitas hingga 9%).[5][6]

Sejak tahun 2010, teknologi pengindraan jauh dan data-data global telah digunakan untuk menilai wilayah, kondisi, dan laju deforestasi hutan mangrove di seluruh dunia.[1][2][7] Pada tahun 2018, Global Mangrove Watch Initiative merilis data global baru yang memperkirakan total luas hutan bakau di dunia pada tahun 2010 adalah 137.600ย km2 (53.100ย sqย mi), mencakup 118 negara dan teritori.[2][7] Sebuah studi pada tahun 2022 tentang peningkatan dan penurunan lahan basah pasang surut memperkirakan bahwa terjadi penurunan luas hutan mangrove global sebesar 3.700ย km2 (1.400ย sqย mi) antara tahun 1999 hingga 2019.[8] Hilangnya hutan mangrove akan terus berlanjut karena aktivitas manusia, dengan laju deforestasi global tahunan diperkirakan sebesar 0,16%, dan laju deforestasi per negara sebesar 0,70%. Penurunan kualitas hutan mangrove yang tersisa juga menjadi perhatian penting dunia.[2]

Minat terhadap restorasi hutan mangrove semakin meningkat dengan beberapa alasan, salah satunya adalah karena mangrove mendukung ekosistem pesisir dan laut yang berkelanjutan. Vegetasi mangrove melindungi daerah sekitar pesisir dari tsunami dan insiden cuaca ekstrem. Hutan mangrove juga efektif dalam sekuestrasi karbon (penyerapan dan penyimpanan karbon).[2][9][10] Keberhasilan restorasi mangrove mungkin sangat bergantung pada keterlibatan pemangku kepentingan lokal, dan penilaian yang cermat agar spesies-spesies mangrove yang akan ditanam sesuai dengan kondisi lingkungannya.[4]

Hari Internasional untuk Konservasi Ekosistem Mangrove diperingati setiap tahun pada tanggal 26 Juli.[11]

Taksonomi dan evolusi

sunting

Daftar berikut, berdasarkan Tomlinson, 2016, menampilkan spesies-spesies mangrove dari setiap genus dan famili tumbuhan yang terdaftar.[12] Lingkungan hutan mangrove di Belahan Bumi Timur memiliki jumlah spesies mangrove yang enam kali lebih banyak dibandingkan hutan mangrove di Dunia Baru. Divergensi genetis atas garis silsilah mangrove dari tumbuhan-tumbuhan kerabatnya di darat, ditambah dengan bukti-bukti fosil yang ada, menunjukkan bahwa keanekaragaman mangrove telah dibatasi oleh transisi evolusioner ke dalam lingkungan laut yang penuh tekanan, dan jumlah silsilah mangrove terus meningkat selama periode Tersier dengan sedikit kepunahan global.[13]

Mangrove sejati

sunting
Mangrove sejati (komponen utama)
Menurut Tomlinson, 2016, 35 spesies berikut adalah mangrove sejati, yang termasuk dalam 5 famili dan 9 genus[12]:โ€Š29โ€“30โ€Š
Kolom berlatar hijam adalah penjelasan mengenai genus mangrove yang ditulis oleh Tomlinson
FamiliGenusSpesies mangroveNama umum
ArecaceaeSubfamili monotipik dalam famili ini
NypaNypa fruticansNipah
Avicenniaceae
(diperdebatkan)
Famili monogenerik kuno, sekarang termasuk dalam Acanthaceae, tetapi jelas terisolasi
Avicennia
(Api-api)
Avicennia albaApi-api boak
Avicennia balanophora
Avicennia bicolorApi-api hiitam
Avicennia integra
Avicennia marinaApi-api putih
(subspesies: australasica,
eucalyptifolia, rumphiana)
Avicennia officinalisApi-api ludat
Avicennia germinans
Avicennia schaueriana
Avicennia tonduziiApi-api hitam
CombretaceaeTribus Lagunculariae (mencakup Macropteranthes = nonmangrove)
LagunculariaLaguncularia racemosa
Lumnitzera
(Teruntum)
Lumnitzera racemosaTeruntum putih
Lumnitzera littoreaTeruntum merah
RhizophoraceaeRhizophoraceae secara kolektif membentuk tribus Rhizophorae, yaitu suatu kelompok monotipik, bersama-sama dengan famili (tumbuhan) terestrial lain
BruguieraBruguiera cylindricaTanjang
Bruguiera exaristataBaco-baco
Bruguiera gymnorhizaPutut
Bruguiera hainesiiBerus mata buaya
Bruguiera parvifloraLenggadai
Bruguiera sexangulaBakau cina
Ceriops
(Tengar)
Ceriops australis
Ceriops tagalSoga tingi
KandeliaKandelia candel
Kandelia obovata
Rhizophora
(Bakau "sejati")
Rhizophora apiculataBakau minyak
Rhizophora harrisonii
Rhizophora mangleBakau merah
Rhizophora mucronataBakau kurap
Rhizophora racemosaBakau bunga
Rhizophora samoensis
Rhizophora stylosaBakau kecil
Rhizophora x lamarckii
LythraceaeSonneratia
(Pidada)
Sonneratia albaPerepat
Sonneratia apetala
Sonneratia caseolarisPidada merah
Sonneratia ovata
Sonneratia griffithii

Komponen tambahan

sunting
Komponen tambahan
Tomlinson, 2016, mendaftar sekitar 19 spesies sebagai komponen mangrove tambahan, yang termasuk dalam 10 famili dan 11 genus[12]:โ€Š29โ€“30โ€Š
Kolom berlatar hijam adalah penjelasan mengenai genus mangrove yang ditulis oleh Tomlinson
FamiliGenusSpesiesNama umum
EuphorbiaceaeGenus ini mencakup sekitar 35 takson nonmangrove
ExcoecariaExcoecaria agallochaKayu buta-buta
LythraceaeGenus yang jelas terpisah (dengan genus lainnya) dalam famili ini
PemphisPemphis acidulaDrini
MalvaceaeDahulu dalam Bombacaceae, sekarang menjadi genus terisolasi di subfamili Bombacoideeae
CamptostemonCamptostemon schultzii
Camptostemon philippinense
MeliaceaeGenus yang terdiri dari 3 spesies, satu di antaranya merupakan nonmangrove, yang membentuk tribus Xylocarpaeae dengan Carapa, (genus) nonmangrove
Xylocarpus
(Nyiri)
Xylocarpus granatum Nyiri abang
Xylocarpus moluccensis Nyiri batu
MyrtaceaeGenus terisolasi dalam famili ini
OsborniaOsbornia octodonta
PellicieraceaeGenus monotipe dan famili dengan posisi filogenetik yang tidak pasti
PellicieraPelliciera rhizophorae
PlumbaginaceaeGenus terisolasi, terkadang dipisahkan menjadi famili Aegialitidaceae
AegialitisAegialitis annulata
Aegialitis rotundifolia
PrimulaceaeDahulu merupakan genus terisolasi dalam Myrsinaceae
AegicerasAegiceras corniculatum Gigi gajah
Aegiceras floridum
PteridaceaeTanaman pakis yang agak terisolasi dalam famili ini
AcrostichumAcrostichum aureumPaku laut
Acrostichum speciosum
RubiaceaeGenus terisolasi dalam famili ini
ScyphiphoraScyphiphora hydrophylacea

Bentuk-bentuk adaptasi

sunting
Tegakan api-api Avicennia di tepi laut. Perhatikan akar napas yang muncul ke atas lumpur pantai.

Menghadapi lingkungan yang ekstrem di hutan mangrove, tumbuhan mangrove beradaptasi dengan berbagai cara. Secara fisik, kebanyakan vegetasi bakau menumbuhkan organ khas untuk bertahan hidup. Seperti aneka bentuk akar dan kelenjar garam di daun. Namun ada pula bentuk-bentuk adaptasi fisiologis.

Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp.), yang biasanya tumbuh di zona terluar, mengembangkan akar tunjang (stilt root) untuk bertahan dari ganasnya gelombang. Jenis-jenis api-api (Avicennia spp.) dan pidada (Sonneratia spp.) menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang muncul dari pekatnya lumpur untuk mengambil oksigen dari udara. Pohon kendeka (Bruguiera spp.) mempunyai akar lutut (knee root), sementara pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp.) berakar papan yang memanjang berkelok-kelok; keduanya untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur, sambil pula mendapatkan udara bagi pernapasannya. Ditambah pula kebanyakan jenis-jenis vegetasi bakau memiliki lentisel, lubang pori pada pepagan untuk bernapas.

Propagul Bruguiera gymnorhiza

Untuk mengatasi salinitas yang tinggi, api-api mengeluarkan kelebihan garam melalui kelenjar di bawah daunnya. Sementara jenis yang lain, seperti Rhizophora mangle, mengembangkan sistem perakaran yang hampir tak tertembus air garam. Air yang terserap telah hampir-hampir tawar, sekitar 90-97% dari kandungan garam di air laut tak mampu melewati saringan akar ini. Garam yang sempat terkandung di tubuh tumbuhan, diakumulasikan di daun tua dan akan terbuang bersama gugurnya daun.

Pada pihak yang lain, mengingat sukarnya memperoleh air tawar, vegetasi bakau harus berupaya mempertahankan kandungan air di dalam tubuhnya. Padahal lingkungan lautan tropika yang panas mendorong tingginya penguapan. Beberapa jenis tumbuhan mangrove mampu mengatur bukaan mulut daun (stomata) dan arah hadap permukaan daun di siang hari terik, sehingga mengurangi evaporasi dari daun.

Perkembangbiakan

sunting
Propagul Rhizophora mucronata

Adaptasi lain yang penting diperlihatkan dalam hal perkembang biakan jenis. Lingkungan yang keras di hutan mangrove hampir tidak memungkinkan jenis biji-bijian berkecambah dengan normal di atas lumpurnya. Selain kondisi kimiawinya yang ekstrem, kondisi fisik berupa lumpur dan pasang-surut air laut membuat biji sukar mempertahankan daya hidupnya.

Hampir semua jenis flora hutan mangrove memiliki biji atau buah yang dapat mengapung, sehingga dapat tersebar dengan mengikuti arus air. Selain itu, banyak dari jenis-jenis bakau yang bersifat vivipar: yakni biji atau benihnya telah berkecambah sebelum buahnya gugur dari pohon.

Contoh yang paling dikenal barangkali adalah perkecambahan buah-buah bakau (Rhizophora), tengar (Ceriops) atau kendeka (Bruguiera). Buah pohon-pohon ini telah berkecambah dan mengeluarkan akar panjang serupa tombak manakala masih bergantung pada tangkainya. Ketika rontok dan jatuh, buah-buah ini dapat langsung menancap di lumpur di tempat jatuhnya, atau terbawa air pasang, tersangkut dan tumbuh pada bagian lain dari hutan. Kemungkinan lain, terbawa arus laut dan melancong ke tempat-tempat jauh.

Buah nipah (Nypa fruticans) telah muncul pucuknya sementara masih melekat di tandannya. Sementara buah api-api, kaboa (Aegiceras), jeruju (Acanthus) dan beberapa lainnya telah pula berkecambah di pohon, meski tak tampak dari sebelah luarnya. Keistimewaan-keistimewaan ini tak pelak lagi meningkatkan keberhasilan hidup dari anak-anak semai pohon-pohon itu. Anak semai semacam ini disebut dengan istilah propagul.

Propagul-propagul seperti ini dapat terbawa oleh arus dan ombak laut hingga berkilometer-kilometer jauhnya, bahkan mungkin menyeberangi laut atau selat bersama kumpulan sampah-sampah laut lainnya. Propagul dapat โ€˜tidurโ€™ (dormant) berhari-hari bahkan berbulan, selama perjalanan sampai tiba di lokasi yang cocok. Jika akan tumbuh menetap, beberapa jenis propagul dapat mengubah perbandingan bobot bagian-bagian tubuhnya, sehingga bagian akar mulai tenggelam dan propagul mengambang vertikal di air. Ini memudahkannya untuk tersangkut dan menancap di dasar air dangkal yang berlumpur.

Perakaran

sunting
Akar-akar pasak dari Sonneratia alba
Akar-akar lutut di sekeliling pohon Bruguiera gymnorhiza

Tipe perakaran mangrove ada beberapa macam. Sebenarnya, beranekanya jenis akar yang terdapat pada tumbuhan mangrove adalah sebagai bentuk usaha (daya adaptasi) untuk menghadapi kondisi habitatnya yang berupa substrat lumpur dan hampir selalu tergenang air (reaksi anaerob). Flora mangrove, beradaptasi dengan membentuk akar-akar khusus untuk dapat tumbuh dengan kuat dan membantu mendapatkan oksigen dari udara.[14]

Karena kekhasannya, bentuk-bentuk akar mangrove dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan mangrove. Ciri morfologi yang digunakan untuk mengenali sesuatu jenis atau spesies tumbuhan, biasanya, adalah bentuk dan susunan bunga, bentuk dan susunan daun, bentuk dan penampakan ranting dan batang, serta beberapa kelengkapan lain seperti adanya daun penumpu, sulur, kelenjar, duri, rambut atau sisik, dan sebagainya. Terutama untuk pohon-pohon di wilayah mangrove dan rawa-rawa, pengenalan bentuk dan jenis perakarannya sangat membantu untuk identifikasi.

Tumbuhan mangrove mengembangkan struktur perakaran yang khas yang disebut akar udara (aerial roots). Yalah akar yang terkena udara secara langsung selama beberapa waktu dalam sehari atau bahkan sepanjang hari. Struktur perakaran tersebut merupakan kunci yang penting untuk membedakan jenis-jenis mangrove. Banir sebenarnya bukan termasuk akar udara, tetapi biasa ditemukan bersamaan dengan akar udara lainnya dan merupakan salah satu karakteristik yang penting untuk jenis-jenis mangrove.

Bentuk-bentuk perakaran mangrove itu, di antaranya:

Akar-akar tunjang pada Rhizophora mucronata
Akar-akar gantung di pangkal batang Avicennia marina. Perhatikan pula akar pensil yang berjejal-jejal di sekitarnya.
Banir kecil di pangkal batang Bruguiera gymnorhiza
  1. Akar pasak/akar napas (pneumatophores). Akar pasak adalah akar yang muncul dari sistem akar kabel yang tumbuh secara horisontal, dan memanjang ke atas ke arah udara. Akar ini bentuknya seperti pasak, pensil atau kerucut yang menonjol ke atas substrat (lumpur, pasir, tanah), dan acap kali berjejal-jejal. Akar napas ini terdapat pada jenis-jenis Avicennia, Sonneratia, dan juga Xylocarpus moluccensis.
  2. Akar lutut (knee roots). Akar lutut merupakan modifikasi dari akar kabel yang pada awalnya tumbuh keluar ke arah permukaan substrat, tetapi kemudian berbelok ke bawah kembali ke substrat lagi. Oleh sebab itu bentuknya menyerupai lutut yang tertekuk di atas permukaan substrat. Akar lutut seperti ini terdapat pada jenis-jenis Bruguiera, seperti pada B. cylindrica, B. gymnorhiza dan B. parviflora.
  3. Akar tunjang (stilt roots). Akar tunjang merupakan bentuk perakaran yang keluar dari batang (di atas tanah) dan tumbuh miring atau melengkung ke bawah ke arah substrat, dan berfungsi untuk menunjang atau memperkuat berdirinya pohon. Akar ini mula-mula mencuat dari batang pohon dan dahan paling bawah, lalu memanjang ke luar dan menuju ke permukaan tanah. Akar semacam ini terdapat pada jenis-jenis bakau (Rhizophora spp.), seperti pada R. apiculata, R. mucronata dan R. stylosa.
  4. Akar gantung (aerial roots). Akar gantung adalah akar napas yang muncul dari batang atau cabang bagian bawah, tetapi biasanya tidak mencapai substrat; jadi menggantung begitu saja di sisi batang. Akar gantung terdapat pada Rhizophora, Avicennia dan Acanthus (jeruju).
  5. Akar papan (plank roots). Akar papan hampir sama dengan akar tunjang, tetapi akar ini melebar dan memipih tegak menjadi bentuk lempengan panjang, mirip dengan papan yang berkelok-kelok. Akar ini juga tumbuh secara horisontal, berbentuk seperti pita di atas permukaan tanah, bergelombang dan berliku-liku ke arah samping seperti ular. Akar ini, salah satunya, terdapat pada nyirih Xylocarpus granatum.
  6. Banir (buttress). Bentuk banir adalah seperti papan miring, memanjang secara radial dari pangkal batang. Akar banir di antaranya terdapat pada Bruguiera gymnorhiza, tengar (Ceriops spp.) dan juga dungun (Heritiera littoralis).
  7. Tanpa akar udara. Banyak pula jenis tumbuhan mangrove yang memiliki perakaran biasa, tidak memiliki akar udara. Beberapa contohnya adalah jenis-jenis kaboa (Aegiceras corniculatum), teruntum putih (Lumnitzera racemosa), dan Xylocarpus rumphii.

Sebagai catatan, beberapa jenis pohon mangrove dapat memiliki lebih dari satu macam bentuk akar udara secara bersamaan, seperti pada nyirih batu (Xylocarpus moluccensis).

Hutan mangrove

sunting
Hutan mangrove di Muara Angke, Jakarta (2007)

Perdu-perdu dan pohon-pohon mangrove tersebut umumnya berkumpul untuk membentuk suatu ekosistem yang disebut hutan mangrove. Hutan mangrove umumnya terbentuk di zona intertidal di pesisir laut, khususnya di tempat-tempat terjadinya pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai tempat air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.[15]

Lihat juga

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ a b Giri, C.; Ochieng, E.; Tieszen, L. L.; Zhu, Z.; Singh, A.; Loveland, T.; Masek, J.; Duke, N. (2011). "Status and distribution of mangrove forests of the world using earth observation satellite data: Status and distributions of global mangroves". Global Ecology and Biogeography. 20 (1): 154โ€“159. doi:10.1111/j.1466-8238.2010.00584.x.
  2. ^ a b c d e f Friess, D. A.; Rogers, K.; Lovelock, C. E.; Krauss, K. W.; Hamilton, S. E.; Lee, S. Y.; Lucas, R.; Primavera, J.; Rajkaran, A. (2019). "The State of the World's Mangrove Forests: Past, Present, and Future". Annual Review of Environment and Resources. 44 (1): 89โ€“115. doi:10.1146/annurev-environ-101718-033302.
  3. ^ Flowers, T. J.; Colmer, T. D. (2015). "Plant salt tolerance: adaptations in halophytes". Annals of Botany. 115 (3): 327โ€“331. doi:10.1093/aob/mcu267. PMCย 4332615. PMIDย 25844430.
  4. ^ a b Zimmer, Katarina (22 July 2021). "Many mangrove restorations fail. Is there a better way?". Knowable Magazine. doi:10.1146/knowable-072221-1. Diakses tanggal 11 August 2021.
  5. ^ "Morphological and Physiological Adaptations: Florida mangrove website". Nhmi.org. Diarsipkan dari asli tanggal 4 February 2012. Diakses tanggal 8 February 2012.
  6. ^ Primavera, J. H.; Savaris, J. P.; Bajoyo, B. E.; Coching, J. D.; Curnick, D. J.; Golbeque, R. L.; Guzman, A. T.; Henderin, J. Q.; Joven, R. V. (2012). Manual on community-based mangrove rehabilitation (PDF). Mangrove Manual. The Zoological Society of London ZSL. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 1 January 2016. Diakses tanggal 15 August 2021.
  7. ^ a b Bunting, P.; Rosenqvist, A.; Lucas, R.; Rebelo, L.-M.; Hilarides, L.; Thomas, N.; Hardy, A.; Itoh, T.; Shimada, M. (2018). "The Global Mangrove Watchโ€”A New 2010 Global Baseline of Mangrove Extent". Remote Sensing. 10 (10): 1669. Bibcode:2018RemS...10.1669B. doi:10.3390/rs10101669. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  8. ^ Murray, N. J.; Worthington, T. A.; Bunting, P.; Duce, S.; Hagger, V.; Lovelock, C. E.; Lucas, R.; Saunders, M. I.; Sheaves, M. (2022). "High-resolution mapping of losses and gains of Earth's tidal wetlands". Science. 376 (6594): 744โ€“749. Bibcode:2022Sci...376..744M. doi:10.1126/science.abm9583. PMIDย 35549414.
  9. ^ R., Carol; Carlowicz, M. (2019). "New Satellite-Based maps of Mangrove heights". Diakses tanggal 15 May 2019.
  10. ^ Simard, M.; Fatoyinbo, L.; Smetanka, C.; Rivera-Monroy, V. H.; Castaรฑeda-Moya, E.; Thomas, N.; Van der Stocken, T. (2018). "Mangrove canopy height globally related to precipitation, temperature and cyclone frequency". Nature Geoscience. 12 (1): 40โ€“45. doi:10.1038/s41561-018-0279-1.
  11. ^ "International Day for the Conservation of the Mangrove Ecosystem". UNESCO. Diakses tanggal 9 June 2023.
  12. ^ a b c Tomlinson, P. B. (2016). The botany of mangroves. Cambridge, United Kingdom: Cambridge University Press. ISBNย 978-1-107-08067-6. OCLCย 946579968.
  13. ^ Ricklefs, R. E.; A. Schwarzbach; S. S. Renner (2006). "Rate of lineage origin explains the diversity anomaly in the world's mangrove vegetation" (PDF). American Naturalist. 168 (6): 805โ€“810. doi:10.1086/508711. PMIDย 17109322. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 16 June 2013.
  14. ^ https://mangrovemagz.com/2017/03/03/tujuh-tipe-akar-mangrove-yang-wajib-anda-ketahui/
  15. ^ Wibowo, Dwi Mukti; ekonomi, Pemerhati masalah; Sosial; Kemanusiaan, Dan. "Save Our Sea: Melestarikan Mangrove, Mencegah Abrasi Pantai". Warta Ekonomi. Diakses tanggal 12 Juni 2020.

Bacaan lebih lanjut

sunting

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Pohon

Solis-Magallanes, J. Arturo (March 1990). "Phenology of canopy trees of a tropical deciduous forest in Mexico". Biotropica. 22 (1): 22โ€“35. Bibcode:1990Biotr

Semut penenun

Oecophylla smaragdina, homopterans, trees and lianas in an Australian rain forest canopy". Journal of Animal Ecology. 71 (5): 793โ€“801. doi:10.1046/j.1365-2656

Philippe Cuรฉnoud

terlibat dalam proyek Ibisca ("Investigating the Biodiversity of Soil and Canopy Arthropods"), yang dipimpin oleh Bruno Corbara, Maurice Leponce, Hector

Jewel Changi Airport

yang mana tiap beberapa saat kabut tipis akan keluar melingkupi arena ini. Canopy Maze merupakan labirin yang didesain oleh Adrian Fisher, yang mana telah

Zona riparian

(PDF). Media Konservasi. IX (2): 69โ€“76. "Riparian zone planting | Canopy". canopy.govt.nz (dalam bahasa New Zealand English). Diakses tanggal 2025-02-02

Indeks Vegetasi Perbedaan Ternormalisasi

doi:10.1016/0034-4257(90)90085-Z. ISSNย 0034-4257. SELLERS, P. J. (1985-08). "Canopy reflectance, photosynthesis and transpiration". International Journal of

Na Uyana Aranya

Buddhist Forest Monasteries and Meditation Centres in Sri Lanka, Buddhist Publication Society Ranatunga, D. C. (22 Mei 2005). "Serenity amidst a canopy of green"

Wi-Fi

Teknologi nirkabel lainnya yang ditujukan untuk titik tetap, termasuk Motorola Canopy, merupakan jaringan nirkabel tetap. Teknologi nirkabel alternatif meliputi