Dante memperhatikan Beatrice Portinari (baju kuning) ketika ia berjalan melewatinya bersama Lady Vanna (baju merah) dalam lukisan Dante and Beatrice, karya Henry Holiday

Cinta tak berbalas atau cinta bertepuk sebelah tangan adalah cinta yang tidak dibalas secara terbuka, tidak ditanggapi, atau tidak dipahami begitu saja, meski si pihak yang mencintai biasanya ingin sekali cintanya dibalas oleh pihak yang dicintai. Pihak yang dicintai mungkin tidak menyadari afeksi yang dalam dan murni dari pihak yang mencintainya atau mungkin saja secara sadar menolaknya. Merriam Webster Online Dictionary mendefinisikan kata unrequited sebagai "tidak berbalas atau dikembalikan."[1]

Psikiater Eric Berne menyatakan dalam bukunya, Sex in Human Loving, bahwa, "sejumlah orang berkata bahwa cinta sebelah tangan lebih baik daripada tidak ada, namun seperti setengah bantal roti, cinta sebelah tangan tumbuh semakin keras dan cepat berjamur."[2] Namun, filsuf Nietzsche malah berkata bahwa "sesuatu yang tak dapat dilepaskan oleh orang yang mencintai adalah cintanya yang tak terbalaskan, yang tak akan pernah ia lepaskan karena ia masih peduli."[3]

Analisis

sunting

Ketidakmampuan pelaku untuk mengekspresikan dan memenuhi kebutuhan emosionalnya dapat mendorong munculnya perasaan seperti depresi, kurang menghargai diri, gelisah dan perubahan suasana hati cepat antara depresi dan euforia. Sebagai sebuah perasaan yang universal, dengan perkiraan 98% manusia pernah mengalaminya,[4] cinta tak berbalas alaminya sering dijadikan subjek budaya masyarakat. Sayangnya, film, buku, dan lagu sering memperlihatkan keteguhan pelaku hancur begitu saja ketika orang yang dicintai muncul dalam pikirannya. Keberadaan naskah seperti ini memudahkan pemahaman mengenai sebab seorang pelaku yang cintanya tidak terbalaskan tetap bertahan meski ditolak'.[5]

Persahabatan platonik memberikan lahan subur untuk cinta tak berbalas.[6] Objek cinta tak berbalas biasanya adalah seorang teman atau sahabat, seseorang yang sering dijumpai di tempat kerja sepanjang masa kerja, atau aktivitas lain yang melibatkan banyak orang. Hal seperti ini menciptakan situasi canggung ketika si penyuka kesulitan mengekspresikan perasaannya yang sebenarnya, khawatir bahwa pengungkapannya akan menimbulkan penolakan, memunculkan rasa malu, atau mengakhiri segala komunikasi dengan orang yang dicintai, karena hubungan romantis bisa saja tidak konsisten dengan hubungan pertemanan yang terjadi saat itu.

Dalam hal perasaan orang yang diharapkan, bisa dikatakan bahwa mereka mengalami sakit yang sama seperti orang yang mengalami putus hubungan romantis tanpa merasakan manfaat melakukan hubungan seperti itu.[butuh rujukan]

Keuntungan

sunting

Cinta tak berbalas sudah lama digambarkan sebagai sebuah keinginan yang mulia, tidak egois dan sangat tabah untuk menghadapi penderitaan. Penggambaran sastra dan seni mengenai cinta tak berbalas ini dapat bergantung pada asumsi jarak sosial yang memiliki sedikit relevansi dalam masyarakat demokratis dengan mobilitas sosial yang relatif tinggi, atau sedikit tanda kesetiaan seksual yang kuat.[7]

Cara mengatasi

sunting

Ovid dalam tulisannya, Remedia Amoris, memberikan saran mengenai cara untuk mengatasi cinta tak berbalas. Solusi yang diberikan meliputi jalan-jalan, teetotalisme, turun ke desa, dan (ironisnya) menghindari puisi-puisi cinta'.[8]

Dorothy Tennov (1979) menyarankan bahwa satu-satunya obat ketika sedang jatuh cinta adalah mendapatkan bukti bahwa orang yang dicintainya tidak tertarik dengannya.[9]

Lihat pula

sunting

Catatan kaki

sunting
  1. ^ http://www.merriam-webster.com/dictionary/unrequited
  2. ^ Eric Berne, Sex in Human Loving (Penguin 1970) hlm. 130
  3. ^ Ini adalah bagaimana R. B. Pippin mendeskripsikan pandangan Nietzsche dalam The Persistence of Subjectivity (2005) hlm. 326.
  4. ^ Goleman, Daniel (1993-02-09). "Pain of Unrequited Love Afflicts the Rejecter, Too - NYTimes.com". New York Times. Diakses tanggal 2010-03-31.
  5. ^ B. H. Spitzberg/W. R. Cupach, The Dark Side of Close Relationships (1998) p. 251
  6. ^ Spitzberg, p. 311
  7. ^ Mary Ward, The Literature of Love (2009) p. 45-6
  8. ^ A. Grafton et al, The Classical Tradition (2010) p. 664
  9. ^ R. F. Baumeister/S. R. Wotman, Breaking Hearts (1994) p. 150

Bahan bacaan

sunting
  • Robert Burton, The Anatomy of Melancholy (New York 1951) THE THIRD PARTITION: LOVE-MELANCHOLY
  • J. Reid Meloy, Violent Attachments (1997)
  • Peabody, Susan 1989, 1994, 2005, "Addiction to Love: Overcoming Obsession and Dependency in Relationships."

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Judith Herrin

Commentary, edited with Averil Cameron. Columbia Studies in the Classical Tradition, vol. X (Leiden, 1984). ISBN 90-04-07010-9. Iconoclasm, edited with

Agata

history of first names); Jacobus de Voragine, taking etymology in the Classical tradition, as a text for a creative excursus, made of Agatha one symbolic origin

Bahasa Suryani

Suryani". www.ethnologue.com (dalam bahasa Inggris). SIL Ethnologue. "Tradition and Modernity in Arabic Language And Literature". J R Smart, J. R. Smart

Anak-anak Muhammad

Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Soufi, D.L. (1997). The Image of Fatima in Classical Muslim Thought (PhD thesis). Princeton University. ProQuestย 304390529

Movses Khorenatsi

ยซิดีกีฝีกีฏีกีถยป ิฑีพีกีถีคีธึ‚ีฉีตีกีถ ี€ีกีตีธึ ีŠีกีฟีดีธึ‚ีฉีตีกีถ ิฑ ีฃึ€ึ„ีซ 5-ึ€ีค ีฃีฌีธึ‚ีญีซีถ ีดีฅีป" ("The 'Classical' Tradition of Movses Khorenatsi in Chapter 5 of Book I in the History of Armenians")

Helenisme (neoklasisisme)

dan kesembilan belas. Anderson, Warren D. Matthew Arnold and the Classical Tradition. Ann Arbor: University of Michigan Press, 1965. Aske, Martin. Keats

Etymologiae

Dalam Grafton, Anthony; Most, Glenn W.; Settis, Salvatore (ed.). The Classical Tradition. Harvard University Press. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan

Mitologi klasik

nama dewa tertinggi pantheon klasik. Entry on "mythology" in The Classical Tradition, edited by Anthony Grafton, Glenn W. Most, and Salvatore Settis (Harvard