Foto dua orang devadasi di Tamil Nadu, India Selatan yang diambil tahun 1920-an

Di India Selatan, devadasi (Sanskerta: pelayan dewa atau dewi) adalah gadis yang "mendedikasikan dirinya" untuk pemujaan dan pelayanan kepada dewa atau kuil sepanjang hidupnya. Dedikasi tersebut diwujudkan dalam upacara Pottukattu yang beberapa cara pelaksanaannya mirip dengan upacara pernikahan. Pada awalnya istilah itu mengacu kepada para perempuan dari kasta tinggi yang memberikan pelayanan pada kuil. Kemudian, di bawah pemerintahan Inggris, istilah itu digunakan untuk semua perempuan dari segala kasta yang dipersembahkan untuk pemujaan dan pelayanan kepada dewa-dewi.[1]

Secara tradisional, devadasi memiliki status tinggi dalam masyarakat. Setelah menikah dengan orang kaya, mereka menghabiskan waktunya untuk mengasah keterampilan mereka, bukan melaksanakan tugas sebagai ibu rumah tangga. Dari suaminya, mereka memperoleh anak yang juga diajarkan keterampilan bermusik atau menari. Sering terjadi, suaminya memiliki istri yang lain yang melaksanakan tugas sebagai ibu rumah tangga.

Selama Inggris memerintah, raja-raja yang menjadi pelindung kuil menjadi kurang berkuasa. Akibatnya, devadasi dibiarkan tanpa bantuan dan perlindungan. Para reformis mulai melarang tradisi devadasi dengan alasan devadasi merupakan bentuk prostitusi. Pendapat kolonial mengenai devadasi secara keras ditentang oleh beberapa kelompok dan organisasi di India dan oleh para akademisi barat, hal itu dianggap sebagai bentuk ketidakmampuan pihak Britania untuk membedakan gadis-gadis yang menari di jalanan untuk pelacuran dengan gadis-gadis yang menunjukkan bakti spiritualnya pada dewa-dewi sehingga terjadi perampasan sosioekonomi.[2][3][4][5]

Saat ini sistem devadasi telah hilang, dilarang di seluruh India sejak 1988.[6]

Devadasi juga disebut dalam beberapa istilah lokal lain, seperti jogini. Lebih jauh lagi, praktik devadasi dinamakan "basivi" dalam Kitab Karnataka dan "matangi" dalam Maharashtra. Istilah lain yang juga dikenal adalah venkatasani, nailis, muralis, dan theradiyan.[7] Di Eropa, terkadang digunakan istilah bayadere (dari bahasa Prancis: bayadรจre, yang berasal dari bahasa Portugis: balhadeira, secara harfiah berarti "penari").[8]

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ Beacher, Jeanne (2004). Perempuan, Agama, dan Seksualitas: studi tentang pengaruh berbagai ajaran agama terhadap perempuan. Indriani Bone (penerjemah). Jakarta: Gunung Mulia.
  2. ^ Crooke 1918, hlm.ย 406-408.
  3. ^ Iyer 1927, hlm.ย 41-45.
  4. ^ V., Jayaram. "Hinduism and prostitution". Hinduwebsite.com (dalam bahasa bahasa Inggris). Diakses tanggal 28-04-2013. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  5. ^ Dr. Daud Ali. "review of Donors, Devotees, and Daughters of God: Temple Women in Medieval Tamilnadu". Reviews in History (dalam bahasa bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2007-09-27. Diakses tanggal 02-03-2016. ; Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  6. ^ "Devadasi (Indian Society)" [Devadasi (Masyarakat India)]. Encyclopรฆdia Britannica (dalam bahasa bahasa Inggris). Diakses tanggal 02-03-2016. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  7. ^ Carroll, Robert Todd (05-12-2013). "devadasi". The Skeptic's Dictionary (dalam bahasa bahasa Inggris). Diakses tanggal 02-03-2016. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  8. ^ "bayadรจre". Oxford Dictionaries (dalam bahasa bahasa Inggris). Oxford University Press. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-07. Diakses tanggal 02-03-2016. ; Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)

Bacaan lanjutan

sunting
  • Altekar, A.S., The Position of Women in Hindu Civilization, Benaras: Motilal Banarasi Das, 1956.
  • Amrit Srinivasan, "Reform and Revival: The Devadasi and Her Dance", Economic and Political Weekly, Vol. XX, No. 44, 2 November 1985, pp.ย 1869โ€“1876.
  • Artal R.O., "Basavis in Peninsular India", Journal of Anthropological Society of Bombay, Vol. IX, No. 2, 1910.
  • Asha Ramesh, Impact of Legislative Prohibition of the Devadasi Practice in Karnataka: A Study, (Carried out under financial assistance from NORAD), May 1993.
  • Banerjee, G.R., Sex Delinquent Women and Their Rehabilitation, Bombay: Tata Institute of Social Sciences, 1953.
  • Basham, A.L., The Wonder That Was India, New York: Grove Press, 1954.
  • Chakrabothy, K. (2000). Women as Devadasis: Origin and Growth of the Devadasi Profession. Delhi, Deep & Deep Publications.
  • Chakrapani, C, "Jogin System: A Study in Religion and Society", Man in Asia, Vol. IV, No. II, 1991.
  • Crooke Williams, The Popular Religion and Folklore of Northern India, (Third Reprint), Delhi: Munshiram Manoharlal, 1968.
  • Crooke, William (1918). "Prostitution (Indian)" [Prostitusi (India)]. Dalam Hastings, James (ed.). Encyclopaedia of Religion and Ethics (dalam bahasa bahasa Inggris). Vol.ย X. Edinburg: T. & T. Clark. Diakses tanggal 02-03-2016. ; Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • Desai Neera, Women in India, Bombay: Vora Publishers, 1957.
  • Dubois Abbe J.A and Beachampes H.K., Hindu Manners, Customs and Ceremonies, Oxford: Clarendon Press, 1928
  • Dumont Louis, Religion, Politics and History in India, The Hague, Mouton and Co., 1970
  • Dumont Louis, Homo Hierarchius: The Caste System and Its Implications, Chicago: The University of Chicago Press, 1972.
  • Durrani, K.S., Religion and Society, New Delhi: Uppal, 1983.
  • Fuller Marcus B., The Wrongs of Indian Womanhood, Edinburgh: Oliphant Anderson and Ferrier, 1900.
  • Goswami, Kali Prasad., Devadฤsฤซ: dancing damsel, APH Publishing, 2000.
  • Gough Kathleen, "Female Initiation Rites on the Malabar Coast", Journal of the Royal Anthropological Institute, No. 85, 1952.
  • Gupta Giri Raj, Religion in Modern India, New Delhi: Vikas Publishing House, 1983.
  • Heggade Odeyar D., "A Socio-economic strategy for Rehabilitating Devadasis", Social Welfare, Feb-Mar 1983.
  • Iyer, L. K. Ananthakrishna (1927). "Devadasis in South India: Their Traditional Origin And Development". Man in India. 7 (47).
  • Jain Devki, Womenโ€™s Quest for Power, New Delhi: Vikas Publishing House, 1980.
  • Jogan Shankar, Devadasi Cult โ€“ A Sociological Analysis (Second Revised Edition), New Delhi: Ashish Publishing House, 1994.
  • JOINT WOMENโ€™S PROGRAMME, Regional Centre, Bangalore, An Exploratory Study on Devadasi Rehabilitation Programme Initiated by Karnataka State Womenโ€™s Development Corporation and SC/ST Corporation, Government of Karnataka in Northern Districts of Karnataka, Report Submitted to National Commission for Women, New Delhi, 2001-02 (year not mentioned in the report).
  • JONAKI (The Glow Worm), Devadasi System: Prostitution with Religious Sanction, Indrani Sinha (Chief Editor), Calcutta, Vol.2 No.1 1998.
  • Jordens, J.T.F., "Hindu Religions and Social Reform in British India", A Cultural History of India, Ed. A.L. Basham, Clarendon Press,
  • Jordan, K. (2003). From Sacred Servant to Profane Prostitute; A history of the changing legal status of the Devadasis in India 1857-1947. Delhi, Manohar. Oxford, 1975.
  • Kadetotad, N.K., Religion and Society among the Harijans of Yellammana Jogatiyaru Hagu Devadasi Paddati (Jogati of Yellamma and Devadasi Custom), Dharwad, Karnatak University Press (Kannada), 1983.
  • Kala Rani, Role Conflict in Working Women, New Delhi: Chetna Publishers, 1976.
  • Karkhanis, G.G., Devadasi: A Burning Problem of Karnataka, Bijapur: Radha Printing Works, 1959.
  • Levine, P. (2000). "Orientalist Sociology and the Creation of Colonial Sexualities." Feminist Review 65(17): Pages: 5 - 21.
  • Marglin, F.A., Wives of The God-king: Rituals of Devadasi of Puri, Delhi: Oxford University Press, 1985.
  • Mies, M. (1980). Indian Women and Patriarchy. Delhi, Concept Publishers.
  • Mies, M. (1986). Patriarchy and Accumulation on a World Scale: Women in the International Division of Labor. London, Zed Books Ltd.
  • Mukherjee, A.B., "Female Participation in India: Patterns & Associations", Tiydschrift: Voor Econ, Geografie, 1972.
  • Ostor Akos, Culture and Power, New Delhi: Sage Publications, 1971.
  • Patil, B.R., "The Devadasis", in The Indian Journal of Social Work, Vol. XXXV, No. 4, January 1975, pp.ย 377โ€“89
  • Puekar S.D. and Kamalla Rao, A Study of Prostitution in Bombay, Bombay: Lalwani Publishing House, 1967.
  • Rajaladshmi, Suryanarayana and Mukherjee, "The Basavis in Chittoor District of Andhra Pradesh", Man in India, Vol. 56, No. 4, 1976.
  • Ranjana, "Daughters Married to Gods and Goddesses", Social Welfare, Feb-Mar 1983, pp.ย 28โ€“31.
  • Sahoo, B.B, "Revival of the Devadasi system", Indian Journal of Social Work, Vol 58, No 3, 1997.
  • Srinivasan, K., Devadasi (a novel), Madras: Christian Literature Society, 1976.
  • Sujana Mallika & Krishna Reddy, Devadasi System โ€“ A Universal Institution, Paper presented in the A.P. History Congress at Warangal, January 1990.
  • Tarachand K.C., Devadasi Custom โ€“ Rural Social Structure and Flesh Markets, New Delhi: Reliance Publishing House, 1992.
  • Upadhyaya, B.S., Women in Rig Veda, New Delhi: S. Chand & Co., 1974.
  • Vasant Rajas, Devadasi: Shodh Ani Bodh (Marathi), Pune: Sugawa Prakashan, July 1997.
  • Vijaya Kumar, S & Chakrapani, c 1993, Joginism: A Bane of Indian Women, Almora: Shri Almora Book Depot.
  • Sanyal, Narayan, Sutanuka ekti debdasir nam (dalam bahasa Bengali).
  • Lathamala, Hegge Vandu Payana (dalam bahasa Kannada).

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Rukmini Devi Arundale

Bharatanatyam dari gaya 'sadhir' aslinya yang lazim di kalangan penari kuil, Devadasi, dia juga bekerja untuk membangun kembali seni dan kerajinan tradisional

Pelacuran di India

disalahpahami, tetapi secara tradisional/awalnya bukan profesi pelacuran Devadasi, penari kuil yang mengabdikan diri pada latihan tarian spiritual Domni

Balasaraswati

ketujuh dari keluarga matrilineal tradisional musisi dan penari kuil (devadasi), yang secara tradisional menikmati status sosial tinggi, yang telah digambarkan

Perbudakan

pendeta atau orang-orang dari kasta yang lebih tinggi, seperti praktik Devadasi di Asia Selatan atau budak fetish di Afrika Barat. Pernikahan dengan penculikan

Kalanidhi Narayanan

penari dan guru tari klasik India, Bharatnatyam, yang merupakan wanita non-devadasi pertama yang mempelajari bentuk tarian tersebut dan menampilkannya di atas

Prostitusi di Kamboja

menempatkan peringkat Kamboja sebagai negara 'Tingkat 2'. Svay Pak Bargirl Devadasi Prostitusi di India Prostitusi di Indonesia Pelacuran di Thailand Prostitusi

O Friend, This Waiting!

Untuk penyelidikan tak konvensional-nya secara keseluruhan dari tradisi Devadasi di Andhra, mencampur apresiasi delikasi dan bentuk seni bersensasi dengan

Priyadarsini Govind

penonton digital selama pandemi COVID-19. Ia juga meneliti kontribusi para devadasi terhadap Bharatanatyam, menyoroti warisan artistik mereka, dan membahas