Ekspansionisme secara umum terdiri dari kebijakan-kebijakan ekspansionis pemerintah maupun negara. Meskipun beberapa ahli menggunakan istilah ini bagi usaha untuk mendorong pertumbuhan ekonomi (sebagai lawan dari tidak ada pertumbuhan/kebijakan yang berkelanjutan), istilah ekspansionisme lebih sering mengacu kepada doktrin suatu negara dalam memperluas wilayah teritorialnya (atau pengaruh ekonominya) dan biasanya dengan cara agresi militer. Bandingkan pembangunan kerajaan dan Lebensraum).

Istilah-istilah iridentisme (Italia: irredento, belum terbebaskan), revanchisme (Prancis: revanche, pembalasan), atau reunifikasi kadang-kadang digunakan untuk membenarkan dan melegitimasi ekspansi, tetapi hanya jika tujuan eksplisitnya ialah untuk merebut kembali wilayah yang sebelumnya hilang, atau mengambil alih kembali tanah leluhur. Persengketaan wilayah yang sederhana, seperti sengketa perbatasan, biasanya tidak disebut sebagai ekspansionisme.

Pranala luar

sunting


📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Rashisme

"misi peradaban khusus" Rusia, seperti Moskow sebagai Roma ketiga dan ekspansionisme. Ini juga merupakan istilah yang banyak digunakan di Ukraina untuk mengidentifikasi

Ekspansionisme Tiongkok

bersatu, Tiongkok benar-benar memulai proses ekspansinya ke negara lain. Ekspansionisme Qin menyebabkan kontak pertamanya dengan Xiongnu, suku Yue, dan memperluas

Jepang

Jepang mengalami "demokrasi Taisho" yang dibayang-bayangi bangkitnya ekspansionisme dan militerisme Jepang. Semasa Perang Dunia I, Jepang berada di pihak

Ketegangan Amerika Serikat-Takhta Suci tahun 2026

tumbuh di antara para pejabat Vatikan di tengah meningkatnya ambisi ekspansionisme dan kebijakan nasionalisme di bawah pemerintahan Trump, termasuk krisis

Insiden Xi'an

Nasionalis dapat bersekutu dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT) melawan ekspansionisme Jepang. Negosiasi diadakan antara Chiang dan PKT, menghasilkan kesepakatan

Sejarah Kesultanan Utsmaniyah

benteng kota-kotanya di semenanjung Balkan sebagai pertahanan terhadap ekspansionisme Eropa. Karya budaya, seni rupa, dan arsitektur berkembang pesat, dengan

Mongkut (Rama IV dari Siam)

masa pemerintahannya, Kerajaan Siam pertama kali merasakan tekanan ekspansionisme Barat. Raja Mongkut merangkul inovasi Barat dan mulai melakukan reformasi

Genosida Timor Timur

Kolaborator Indonesia Motif Penyerahan paksa rakyat Timor Timur kepada otoritas Indonesia, Indonesia Raya, Kristofobia, ekspansionisme, antikomunisme