Ekstase St. Theresa oleh Gianlorenzo Bernini (1652). Transept kiri Santa Maria della Vittoria (abad ke-17) di Roma.

Ekstase (dari bahasa Yunani Kuno แผ”ฮบฯƒฯ„ฮฑฯƒฮนฯ‚ รฉkstasis, yang berarti 'di luar diri sendiri') adalah pengalaman subjektif dari keterlibatan total subjek, dengan objek kesadaran mereka. Dalam kesusastraan Yunani klasik, kata ini mengacu pada pemindahan pikiran atau tubuh "dari tempat fungsinya yang normal."[1]

Keterlibatan total dengan objek yang menarik bukanlah pengalaman biasa. Ekstase adalah contoh dari keadaan kesadaran yang berubah yang ditandai dengan berkurangnya kesadaran akan objek lain atau kurangnya kesadaran akan lingkungan dan segala sesuatu di sekitar objek. Kata ini juga digunakan untuk merujuk pada keadaan kesadaran yang meningkat atau pengalaman yang sangat menyenangkan. Istilah ini juga digunakan secara khusus untuk menunjukkan keadaan kesadaran ruang mental tidak biasa, yang bisa berupa pengalaman spiritual (atau ekstase religius).

Referensi

sunting
  1. ^ H. S. Versnal. ecstasy (Edisi Third, revised). hlm.ย 505.

Bacaan lebih lanjut

sunting

Pranala luar

sunting


๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Mistikisme

bertapa, bersemedi, bermeditasi, mengheningkan cipta dll dalam bentuk ekstase, vision, inspirasi dll. Jadi ajarannya diperoleh melalui pengalaman pribadi

Surat Paulus yang Pertama kepada Jemaat di Korintus

kacau. Akibat kekacauan ini, jemaat Korintus mengalami ekstase (kegembiraan yang meluap). Ekstase ini ditujukan bukan lagi kepada Kristus, melainkan terhadap

Al-Hallaj

inilah ia mengucapkan, "Akulah Kebenaran" (Ana Al-Haqq) dalam keadaan ekstase. Perjumpaan ini membangkitkan dalam dirinya keinginan dan hasrat untuk

Abu Yazid al-Busthami

Noor Kholish.Hal 153 Tebba, Sudirman (2006).Merengkuh Makrifat Menuju Ekstase Spiritual.Tangerang:Pustaka Irvan. Cet.I Hal 139-140 Hadi, Abdul WM (1991)

Neoplatonisme

nama โ€œekstaseโ€ (ecstacy). Porphyry menceritakan bahwa selama 6 tahun ia bersama Plotinus, empat kali ia menyaksikan gurunya mengalami ekstase tersebut

Dinasti Sisingamangaraja

(seperti tarian Sibaso), di mana para penari mencapai keadaan trance atau ekstase untuk berkomunikasi dengan roh leluhur (begu). Budaya material ini meluas

Thomas Aquinas

pengalaman mistik yang lain. Ketika sedang merayakan Misa, ia mengalami suatu ekstase dalam waktu yang sangat lama. Karena apa yang dialaminya, ia mengabaikan

Stoikisme

Kebencian, Permusuhan, Berang, Keserakahan, dan Kerinduan. Nikmat: Kedengkian, Ekstase, dan Pamer. Orang bijak (sophos) adalah seseorang yang bebas dari hasrat