Etika mesin merupakan seperangkat nilai yang mengatur dalam penggunaan teknologi secara menyeluruh, etika mesin berkaitan dengan memastikan bahwa perilaku mesin terhadap pengguna manusia, dan mungkin mesin lain, dapat diterima secara etis. Dalam era digital yang terus berkembang tuntutan kebutuhan pengetahuan dan informasi yang aktual sangat dibutuhkan oleh setiap orang, hal ini bisa dilakukan dengan cepat melalui proses pencarian informasi dari internet, dalam proses pencarian informasi di internet setiap orang tidak terlepas dari penggunaan teknologi mesin pencari web seperti Google. Dibalik kepopuleran dan kemudahan pencarian informasi dengan mesin pencari web Google, ternyata tersimpan masalah yang timbul jika dilihat dari sudut pandang etika serta pengaruhnya.[1]

Definisi etika dalam digital

sunting

Etika digital merupakan seperangkat nilai yang mengatur pendekatan perusahaan dalam penggunaan teknologi secara keseluruhan. Hal tersebut dimaksudkan sebagai cara bagi pekerja untuk memanfaatkan teknologi dalam menjalankan strategi dan operasi bisnisnya. Lalu, dipaparkan pula berbagai regulasi hukum dan kerangka etika dalam menghadapi transformasi digital. Sebagai penutup, terlepas dari segala tantangan yang ada, transformasi digital turut memunculkan peluang, seperti keberadaan tugas dan peran baru, pekerja dengan kemampuan yang lebih tinggi, penerapan AI secara etis dan optimal, serta oportunitas simbiosis baru antara manusia dan mesin pada masa depan[2]

Di indonesia itu sendiri dinamika perkembangan dan kemajuan teknologi telah membuat perubahan yang nyata dalam berbagai sisi kehidupan manusia. Teknologi informasi, media elektronik, dan internet adalah kata kunci dalam kehidupan sehari-hari masyarakat global, termasuk masyarakat Indonesia. Khusus untuk penggunaan internet, tidak hanya digunakan sebagai media hiburan, internet juga digunakan untuk kegiatan lainnya seperti sekolah, bekerja, pelayanan kesehatan, dan bahkan berpolitik. Jumlah pengguna internet di Indonesia sangat tinggi. Hal itu dapat dilihat melalui data yang dilansir pada laman Kementerian Komunikasi dan Informatika. Pada tahun 2021, terdapat 202,6 juta pengguna internet di Indonesia atau meningkat sebanyak 11 persen dari tahun 2020 yang terdata sebanyak 175,4 juta pengguna internet. Namun demikian, menarik untuk diperhatikan apakah ada korelasi antara jumlah pengguna internet yang tinggi di Indonesia dengan kesadaran atas hak-hak asasi di bidang digital yang melekat pada pengguna tersebut sebagai subjek hukum.[3]

Reverensi

sunting
  1. ^ Kurniadi, Dede; Mulyani, Asri (2017-03-01). "Pengaruh Teknologi Mesin Pencari Google Terhadap Perkembangan Budaya dan Etika Mahasiswa". Jurnal Algoritma. 14 (1): 19–25. doi:10.33364/algoritma/v.14-1.19. ISSN 1412-3622.
  2. ^ Rizal, Farizi (2023-07-10). "Risiko, Etika, dan Dunia Digital: Tiga Hal yang Tak Terpisahkan". FEB UGM. Diakses tanggal 2023-12-01.
  3. ^ Humas (2022-08-13). "Perlindungan Hak Asasi Digital". Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. Diakses tanggal 2023-12-01.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Etika

Subbidang pentingnya meliputi etika komputer, etika kecerdasan buatan, etika mesin, etika nanoteknologi, dan etika nuklir. Etika perang menelusuri persoalan

Optimisasi mesin pencari

tersebut. Berdasarkan panduan resmi mesin pencari, SEO bukanlah teknik ilegal sepanjang dilakukan dengan mengikuti etika dan aturan yang ada. Hal tersebut

Etika siber

Etika siber atau Etika Dunia Maya adalah studi tentang etika sebagai cabang dari ilmu filsafat yang berkaitan dengan etika komputer dari pemakai internet

Etika komputer

Etika komputer adalah seperangkat asas atau nilai yang berkenaan dengan penggunaan komputer. Etika komputer berasal dari dua suku kata, yaitu etika (bahasa

Teknologi

perlakuan terhadap robot, serta etika mesin, yang berkaitan dengan pemastian perilaku etis dari agen cerdas buatan. Dalam bidang etika AI, masalah penelitian signifikan

Etika nanoteknologi

Etika nanoteknologi adalah studi tentang masalah etika yang muncul dari kemajuan nanoteknologi dan dampaknya. Menurut Andrew Chen, masalah etika tentang

Therac-25

satu studi kasus paling penting dalam sejarah rekayasa perangkat lunak, etika komputer, dan keselamatan sistem kritis, dan terus diajarkan di universitas-universitas

ChatGPT

Ghibli. Mereka menyoroti masalah etika tentang alat kecerdasan buatan yang dilatih membuat karya kreatif tanpa etika, menabrak hak cipta, dan pada akhirnya