| Eyato | |
|---|---|
| Olongia Eyato bergelar Ilomata Ta To Selongi Sultan Eyato dari Gorontalo | |
| Sultan ke-11, Kesultanan Gorontalo | |
| Berkuasa | 1673 - 1679 |
| Pendahulu | Moliye |
| Penerus | Polamolo II |
Raja Eyato atau Olongia Eyato bergelar Ilomata Ta To Selongi (dokumen Belanda sering ditulis Eato; lahir sekitar 1620โ1630 dan wafat sekitar 1690โ1700) adalah salah satu Raja, Ulama, dan Cendekiawan di Kesultanan Gorontalo yang berkuasa pada abad ke-17. Eyato merupakan salah satu dari 4 Raja di Gorontalo yang mendapatkan gelar adat 'ilomata', sebuah gelar adat tertinggi yang hanya dimiliki oleh sesorang yang meiliki maha karya dan pengabdian luhur bagi bangsa dan rakyat Gorontalo.
Eyato merupakan tokoh penting dalam sejarah Gorontalo dan Islam di Nusantara karena ia tidak hanya berperan sebagai Raja atau Sultan, melainkan pula penyebar ajaran agama Islam di kawasan Timur Indonesia, khususnya di wilayah Teluk Tomini dan sekitarnya.[1][2] Selain itu, Eyato juga dikenal sebagai Raja yang menolak bekerjasama dengan Belanda dan akhirnya ditangkap, lalu diasingkan keluar Nusantara.
Latar belakang
suntingSumber-sumber tradisi dan kajian lokal menyebutkan bahwa Eyato bukan berasal dari keluarga bangsawan ataupun pewaris tahta Kesultanan Gorontalo. Menurut J. A. Katili dalam buku biografinya,[3] Eyato dicatat sebagai seorang ulama dan khatib kerajaan yang kharismatik dan berperan dalam pengajaran agama, penerapan hukum keagamaan, serta legitimasi moral bagi kebijakan Kerajaan.[4] Keahliannya dalam ilmu agama menjadikan Eyato dihormati oleh rakyat, kelompok adat dan tokoh keagamaan, yang kemudian membuka bersepakat mengangkatnya sebagai Raja atau Sultan di Kesultanan Gorontalo, meskipun tidak berlatar belakang dari keluarga Bangsawan Kerajaan.
Eyato merupakan salah satu raja terpenting dalam sejarah Gorontalo yang dikenal karena membangun pemerintahan berlandaskan semangat Islam dan sistem sosial yang kuat.[5][6] Eyato dikenal luas karena perannya dalam konsolidasi adat dan penguatan syariat Islam. Oleh masyarakat Gorontalo, panggilan Olongia Eyato (Raja Eyato) pun berganti menjadi Tulutani Eyato (Sultan Eyato) yang dianggap lebih sesuai dengan predikat Kesultanan Gorontalo.
Adapun dalam hubungannya dengan Kesultanan atau Kerajaan lain, Eyato tercatat menjalin relasi dengan Kesultanan Gowa yang sama-sama melawan penjajah kolonial VOC Belanda. Dalam beberapa catatan Belanda, disebutkan bahwa rombongan Sultan Eyato pernah berkunjung ke Kesultanan Gowa beberapa kali secara langsung sebagai bukti kerjasama lintas Kesultanan di bagian utara dan selatan, memperkuat kedudukan dan kedaulatan keduanya di wilayah Pulau Sulawesi.
Peran dalam Penyebaran Islam
suntingEyato tercatat dalam berbagai tradisi dan catatan penuturan lokal di Gorontalo sebagai salah seorang ulama penyebar Islam di Gorontalo pada fase awal islamisasi di timur Nusantara, yang saat ini menjadi wilayah Provinsi Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara.[7][8] Eyato berperan dalam memperkuat integrasi antara nilai adat dan syariat (adati hula-hula'a to sara'a, sara'a hula-hula'a to Kuru'ani, yang secara normatif diartikan sebagai adat bersendikan syara', syara' bersendikan Kitabullah).[9][10][11] Selain itu, Eyato juga turut mendorong penyelarasan hukum adat dengan prinsip-prinsip Islam, terutama dalam perkara hubungan sosial, pemerintahan, dan ritual keagamaan.[12]
Gelar adat dan Ilomata Wopato
suntingDalam struktur adat Gorontalo, Eyato termasuk salah satu pemimpin yang memegang gelar adat tinggi, yaitu ilomata yang secara harfiah diartikan sebagai gelar yang diperuntukkan kepada seseorang yang memiliki maha karya dan pengabdian yang luar biasa.
Eyato kemudian dicatat berada dalam kelompok Ilomata Wopato, yaitu empat pemimpin paling berpengaruh dan memiliki maha karya agung bagi sistem adat istiadat, keagamaan, budi pekerti, ekonomi, ilmu pengetahuan, struktur sosial dan struktur pemerintahan Kesultanan.[13] Para penerima gelar ilomata adalah:
- Raja Ilahudu (berkuasa pada abad ke-14)
- Sultan Amai (berkuasa pada abad ke-15)
- Sultan Eyato (berkuasa pada abad ke-17)
- Sultan Botutihe (berkuasa pada abad ke-18)
Gelar ilomata ini pula yang menunjukkan peran Eyato dalam keseimbangan kekuasaan, adat, dan syariat, serta kontribusinya dalam penyusunan dan penegakan hukum adat di seluruh wilayan kekuasaan Kesultanan Gorontalo.
Perlawanan terhadap Kolonialisme dan Pengasingan
suntingEyato dikenal sebagai salah satu Sultan atau Raja di Kesultanan Gorontalo yang paling keras menolak bekerja sama dengan VOC Belanda. Selain menolak menjadi sekutu, Eyato juga menolak menggunakan pakaian Eropa sebagaimana ditawarkan oleh pejabat VOC. Eyato kemudian lebih memilih menggunakan pakaian dan sarung tenun khas Gorontalo yang sederhana dengan penutup kepala upiya karanji,[14] yang dianggapnya sebagai simbol identitas, martabat lokal Gorontalo dan semangat perlawanan terhadap penjajah.
Ditangkap dan diasingkan ke Ceylon
suntingDalam beberapa tradisi lisan dan catatan lokal mengisahkan bahwa pemerintahan Eyato berakhir setelah meningkatnya konflik dengan VOC Belanda, yang kemudian berhasil menangkapnya dengan rencana tipu muslihat bersama pengkhianat yang disewa VOC. Dalam arsip Belanda, Eyato dicatat dibuang ke Ceylon (Sri Lanka), mengikuti pola pembuangan tokoh-tokoh Nusantara oleh VOC pada periode tersebut.
Dalam pengasingannya di Ceylon, Eyato kemungkinan besar berinteraksi dengan jaringan tokoh Nusantara lain yang juga dibuang ke wilayah tersebut pada rentang periode yang kurang lebih berdekatan. Ceylon pada akhir abad ke-17 menjadi pusat pembuangan para pemimpin perlawanan anti-kolonial, termasuk Syekh Yusuf al-Makassari, kelompok bangsawan dan prajurit Makassar pengikut Sultan Hasanuddin, serta sejumlah tokoh dari Kesultanan Aceh dan Kesultanan Banten.
Wafat
suntingTradisi lokal dan sebagian kajian sejarah memperkirakan bahwa Raja Eyato wafat di pengasingan, meskipun lokasi pasti kematiannya masih belum terverifikasi karena minimnya catatan VOC mengenai tokoh kerajaan Gorontalo. Berdasarkan pola pembuangan VOC pada abad ke-17, terdapat dugaan kuat bahwa Eyato wafat di Ceylon (Sri Lanka) sekitar akhir abad ke-17, yaitu antara 1690โ1700, sejalan dengan kronologi pengasingan sejumlah pemimpin Nusantara lainnya pada periode yang sama. Tidak ada catatan yang menyebutkan pemulangannya ke Gorontalo, sehingga ia kemungkinan dimakamkan di wilayah pengasingan.
Referensi dan Daftar Rujukan
sunting- ^ Wibawa, N. H. H. P., Yasin, Z., Hi, M., & Husnan, H. M. I. (2023). Islam tradisi dan kearifan lokal Gorontalo. Buku-Buku Karya Dosen IAIN Sultan Amai Gorontalo, 1(1).
- ^ Hula, I. R. N., Helingo, A., Jassin, S. N. A., & Sarif, S. (2022). Transcription of Pegon Gorontalo Arabic Orthography, Malay and Arabic Standard: A Contraceptive Linguistic Analysis. A Jamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab, 11(2), 322-341.
- ^ Diponegoro, A. F. (2007). Harta bumi Indonesia: biografi JA Katili. Grasindo.
- ^ Moonti, R. M., Akili, R. H., & Lukman, L. (2025). Pengaturan โBuatulo Toulongoโ Pada Sistem Hukum Tata Negara Adat Gorontalo. Fundamental: Jurnal Ilmiah Hukum, 14(1), 163-184.
- ^ Baruadi, M. K. (2012). Sendi adat dan eksistensi sastra: Pengaruh Islam dalam nuansa budaya lokal Gorontalo. El Harakah: Jurnal Budaya Islam, 14(2), 293-311.
- ^ https://gorontalopost.co.id/2021/05/03/sultan-eato-berjumpa-syekh-yusuf/
- ^ Tungkagi, D. Q. (2017). Varian Islam Nusantara: Jawa, Minangkabau dan Gorontalo. Jurnal Lektur Keagamaan, 15(2), 273รข-294.
- ^ Azis, M. N. I. (2020). Penyebaran Pendidikan Islam di Buol Abad XX M. Rihlah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan, 8(2), 188-200.
- ^ Mashadi, M. (2012). Realitas Adati Hula-Hulaa to Syaraรขโฌโข i, Syaraรขโฌโข i Hula-Hulaa to Qurรขโฌโข ani. Al-Ulum, 12(1), 201-222.
- ^ Idham, I. (2011). POHUTU MO LA LINGO (Sinergitas Adat dan Syariat Dalam Penyelenggaraan Acara Adat Pemakaman di Pohala'a Gorontalo, Indonesia) POHUTU MOLALUNGO (Synergism between Tradition and Islamic Shari'a of Narrative Tradition of Burial Ceremony at Pohalaa Gor. Al-Qalam, 17(2), 240-250.
- ^ Kadir, H., Bilondatu, A., & Tumuhulawa, A. (2024). Kajian Historis" Buwatulo Toulongo" Pada Sistem Hukum Tata Negara Adat Gorontalo" Adati Hula-Hula To Syar'a. Syara Hula-hula'a To Quru'ani". Journal Evidence Of Law, 3(2), 187-205.
- ^ Sirajuddin, S. (2008). Peran Para Sultan dalam penyebaran Islam di Gorontalo. Al-Qalam, 14(1), 57-74.
- ^ https://www.kompasiana.com/fiqhoy/68a8680eed641516a279ba42/mengenal-sultan-eyato-raja-ulama-dan-cendekiawan-besar-dalam-sejarah-islam-nusantara
- ^ https://gorontalopost.co.id/2025/03/03/jaringan-islam-nusantaradan-jejak-literatur-gorontalo/