| Total populasi | |
|---|---|
87.02% dari populasi. | |
| Agama | |
| Majority Sunni Islam | |
| Bahasa | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Jawa, Melayu-Indonesia, dan lainnya |
Islam di Indonesia adalah agama terbesar dengan persentase 87,08% penduduk Indonesia mengidentifikasi diri mereka sebagai Muslim .[2][3][4] Indonesia adalah negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar kedua di Dunia setelah Pakistan, dengan sekitar 231 juta penganut.[5]
Dalam hal denominasi, mayoritas (98,8%) adalah Muslim Sunni, sementara 1-3 juta (1%) adalah Syiah, dan terkonsentrasi di sekitar Jakarta,[6] dan sekitar 400.000 (0,2%) Muslim Ahmadiyah.[7] Dari segi mazhab fikih, berdasarkan statistik demografi, kira 99% umat Islam Indonesia sebagian besar mengikuti mazhab Syafi'i,[8][9] meskipun ketika ditanya, 56% lainnya tidak mengikuti mazhab tertentu.[10] Terdapat sejumlah tarekat Sunni dari Sufisme (Tasawuf).[11]
Kecenderungan pemikiran dalam Islam di Indonesia secara garis besar dapat dikategorikan menjadi dua orientasi: "modernisme", yang menganut erat teologi ortodoks sambil merangkul pembelajaran modern, dan "tradisional", yang cenderung mengikuti interpretasi tokoh agama setempat dan ustaz di pesantren. Ada juga kehadiran penting secara historis dari bentuk sinkretis Islam yang dikenal sebagai kejawen.
Islam di Indonesia dianggap telah menyebar secara bertahap melalui aktivitas pedagang oleh para pedagang Muslim Arab, adopsi oleh penguasa lokal, dan pengaruh sufisme sejak abad ke-13.[12][13][14] Selama era kolonial akhir, itu diadopsi sebagai panji melawan kolonialisme.[15] Sekarang, meskipun Indonesia mempunyai mayoritas penduduk beragama Islam, Indonesia bukanlah sebuah Negara Islam, tetapi secara konstitusional merupakan negara sekuler (tidak berlandaskan hukum/aturan agama dan tidak menetapkan agama resmi negara) yang pemerintahannya secara resmi mengakui enam agama formal. Pemerintah secara resmi mengakui enam agama: Islam, Protestan, Katolik Roma, Hindu, Budha, dan Konghucu.[16] meskipun pemerintah juga secara resmi mengakui agama lokal Indonesia.[17]
Persebaran
sunting
Islam di Indonesia berdasarkan kelompok etnis (2010)[18]
Muslim merupakan mayoritas di sebagian besar wilayah Jawa, Sumatera, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, wilayah pesisir Kalimantan, dan Maluku Utara. Muslim membentuk minoritas yang berbeda di Papua, Bali, Nusa Tenggara Timur, sebagian Sumatera Utara, sebagian besar wilayah pedalaman Kalimantan, dan Utara Sulawesi. Bersama-sama, daerah non-Muslim ini awalnya merupakan lebih dari sepertiga dari Indonesia sebelum upaya transmigrasi besar-besaran yang disponsori oleh pemerintah Suharto dan migrasi internal spontan baru-baru ini.[butuh rujukan]
Migrasi internal telah mengubah susunan demografis negara selama tiga dekade terakhir. Ini telah meningkatkan persentase Muslim di bagian timur negara yang sebelumnya didominasi Kristen. Pada awal 1990-an, orang Kristen menjadi minoritas untuk pertama kalinya di beberapa wilayah Kepulauan Maluku. Sementara transmigrasi yang disponsori pemerintah dari Jawa yang berpenduduk padat dan Madura ke daerah berpenduduk lebih sedikit berkontribusi pada peningkatan populasi Muslim di daerah pemukiman kembali, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pemerintah bermaksud untuk menciptakan mayoritas Muslim di daerah Kristen peninggalan Belanda itu.[butuh rujukan]
Islam di Indonesia berdasarkan provinsi & kawasan
suntingIni data tabel presentase muslim di Indonesia menurut provinsi, disediakan oleh Kementerian Dalam Negeri:[19]
| Provinsi | Populasi Muslim | Total populasi | Presentase Muslim |
|---|---|---|---|
| Aceh | 5,492,487 | 5,570,453 | 98.61 |
| Bali | 444,905 | 4,361,106 | 10.23 |
| Kepulauan Bangka Belitung | 1,391,050 | 1,537,627 | 90.50 |
| Banten | 11,968,731 | 12,628,199 | 94.74 |
| Bengkulu | 2,066,774 | 2,115,024 | 97.74 |
| Jawa Tengah | 37,273,804 | 38,280,887 | 97.16 |
| Kalimantan Tengah | 2,071,419 | 2,784,971 | 74.31 |
| Sulawesi Tengah | 2,521,437 | 3,185,130 | 79.20 |
| Jawa Timur | 40,583,542 | 41,714,928 | 97.09 |
| Kalimantan Timur | 3,538,416 | 4,050,079 | 87.33 |
| Nusa Tenggara Timur | 536,187 | 5,675,711 | 9.44 |
| Gorontalo | 1,219,899 | 1,244,090 | 98.04 |
| Daerah Khusus Ibukota Jakarta | 9,334,665 | 11,135,191 | 83.89 |
| Jambi | 3,608,236 | 3,795,579 | 95.12 |
| Lampung | 8,732,010 | 9,082,727 | 96.10 |
| Maluku | 1,013,828 | 1,925,301 | 52.70 |
| Kalimantan Utara | 557,866 | 760,724 | 73.43 |
| Maluku Utara | 1,025,988 | 1,374,859 | 74.61 |
| Sulawesi Utara | 846,751 | 2,643,125 | 32.04 |
| Sumatera Utara | 10,394,827 | 15,548,873 | 66.67 |
| Papua | 318,630 | 1,093,447 | 29.14 |
| Riau | 6,065,816 | 6,969,031 | 86.93 |
| Kepulauan Riau | 1,740,897 | 2,220,043 | 78.30 |
| Kalimantan Selatan | 4,139,240 | 4,266,342 | 97.03 |
| Sulawesi Selatan | 8,530,712 | 9,460,344 | 90.10 |
| Sumatera Selatan | 8,723,627 | 8,973,168 | 97.20 |
| Sulawesi Tenggara | 2,669,149 | 2,785,517 | 95.80 |
| Jawa Barat | 49,156,524 | 50,489,208 | 97.26 |
| Kalimantan Barat | 3,383,882 | 5,598,190 | 60.40 |
| Nusa Tenggara Barat | 5,491,178 | 5,666,314 | 96.91 |
| Papua Barat | 217,652 | 569,910 | 38.20 |
| Sulawesi Barat | 1,225,677 | 1,460,753 | 83.91 |
| Sumatera Barat | 5,647,211 | 5,788,436 | 97.39 |
| Daerah Istimewa Yogyakarta | 3,469,496 | 3,731,047 | 93.04 |
| Papua Barat | 217,652 | 569,910 | 38.20 |
| Papua Barat Daya | 234,547 | 616,132 | 38.10 |
| Papua Tengah | 163,483 | 1,362,519 | 12.00 |
| Papua Pegunungan | 26,539 | 1,466,738 | 1.81 |
| Papua Selatan | 146,833 | 545,861 | 26.90 |
| Kawasan | populasi Muslim | Total populasi | Muslimย % |
|---|---|---|---|
| Jawa | 151,786,762 | 157,979,460 | 96.00 |
| Kalimantan | 13,690,823 | 16,701,913 | 78.47 |
| Kepulauan Sunda Kecil | 6,472,270 | 15,703,131 | 41.20 |
| Kepulauan Maluku | 2,039,816 | 3,192,479 | 61.70 |
| Sumatra | 53,862,935 | 61,600,961 | 87.43 |
| Sulawesi | 17,013,625 | 20,778,959 | 81.81 |
| Papua | 1,107,684 | 5,654,607 | 19.63 |
| Indonesia | 245,973,915 | 282,447,584 | 87.07 |
Perbedaan Islam di Indonesia
sunting
Dokumentasi klasik membagi Muslim Indonesia antara Muslim "nominal", atau abangan, yang gaya hidupnya lebih berorientasi pada budaya non-Islam, dan Muslim "ortodoks", atau santri, yang menganut norma-norma Islam Ortodoks.[20][21] Di Jawa, santri tidak hanya merujuk pada orang yang secara sadar dan eksklusif Muslim, tetapi juga menggambarkan orang-orang yang telah melepaskan diri dari dunia sekuler untuk berkonsentrasi pada kegiatan kebaktian di sekolah-sekolah Islam yang disebut pesantrenโsecara harfiah berarti "tempat santri".[20] Istilah dan sifat yang tepat dari diferensiasi ini diperdebatkan sepanjang sejarah, dan hari ini dianggap usang.[22]

Di era kontemporer, sering dibuat perbedaan antara "tradisionalisme" dan "modernisme". Tradisionalisme, yang dicontohkan oleh organisasi masyarakat Nahdlatul Ulama, dikenal sebagai pendukung setia Islam Nusantara, sebuah merek khas Islam yang telah mengalami interaksi, kontekstualisasi, pribumisasi, interpretasi, dan vernakularisasi sejalan dengan sosial budaya kondisi di Indonesia.[23][24] Di spektrum lain adalah modernisme, yang sangat diilhami oleh Modernisme Islam, dan organisasi masyarakat Muhammadiyah, Persis dan lainnya dikenal sebagai pendukung Islam Berkemajuan.[25] Muslim modernis mengadvokasi reformasi Islam di Indonesia, yang dianggap telah menyimpang dari ortodoksi Islam historis. Mereka menekankan otoritas Qur'an dan Hadits, dan menentang sinkretisme dan taqlid kepada ulama. Pembagian ini, bagaimanapun, juga telah dianggap sebagai penyederhanaan yang berlebihan dalam analisis baru-baru ini.[26] Sejak 1990-an, Muhammadiyah telah bergerak ke arah yang lebih berorientasi Salafiyah. Salafisme adalah cabang Islam yang menyerukan untuk memahami Al-Qur'an dan Sunnah menurut generasi pertama umat Islam, dan untuk menghindari hal-hal yang diperkenalkan kemudian dalam agama, telah terlihat ekspansi dalam masyarakat Indonesia.[27] Banyak masjid di Indonesia menegaskan keterikatan khusus mereka dengan Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah.[28] Pesantren Islamis dan modernis Ma'had Al-Zaytun di Jawa Barat diakui sebagai yang terluas di Asia Tenggara.[29] Harun Nasution, rektor Universitas Islam Negeri Jakarta, merupakan seorang ilmuwan perintis yang berpegang teguh pada perspektif humanis dan rasionalis dalam teologi dan filsafat Islam Indonesia, menyokong pendirian yang digambarkan sebagai neo-Muktazilah.[30]
Terdapat sejumlah tarekat Sunni dari Sufisme (Tasawuf).[11]
Mazhab dan cabang
sunting

Mazhab dan cabang Islam di Indonesia mencerminkan aktivitas doktrin dan organisasi Islam yang beroperasi di Indonesia. Dari segi denominasi, Indonesia adalah negara mayoritas Islam Sunni dengan minoritas sekte lain seperti Syiah dan Ahmadiyah.
Dalam hal mazhab fiqih, mazhab Sunni Syafi'i dominan di Indonesia pada umumnya.[31][8] Adanya sebagian mazhab-mazhab Sunni lainnya serta gerakan Salafiyah.[32] Berkembang biaknya madzhab Syafi'i dianggap karena para saudagar Arab dari selatan Semenanjung Arab yang mengikuti madzhab fiqih ini.[33][34]
Aliran Islam Syiah di Indonesia memainkan peran penting dalam periode awal penyebaran Islam di Sumatera Utara (Aceh).[35] Kini, sisanya di atas 1% pengikut, yakni 1โ3 juta orang, adalah penganut Syiah mazhab Dua Belas Imam, yang berada di Sumatra, Jawa, Madura, dan Sulawesi, dan juga mazhab Ismailiyah di Bali.[36]
Terdapat sekitar 400 ribu (0,2%) pemeluk aliran Ahmadiyะฐh (โJemaah Muslim Ahmadiyah Indonesiaโ, JMAI) yang kehadirannya belakangan ini sering dipertanyakan. Ahmadiyyah di Indonesia telah hadir sejak tahun 1925.[37] Dari Ahmadiyyah utama memisahkan diri โGerakan Ahmadiyah-Lahore Indonesiaโ (GAI) lebih kecil yang di Jawa sejak tahun 1924.[37]
Sejarah awal
suntingPenyebaran Islam menurut sejumlah catatan
sunting
Menurut Thomas Walker Arnold, sulit untuk menentukan bilakah masa tepatnya Islam masuk ke Indonesia. Hanya saja, sejak abad ke-2 Sebelum Masehi orang-orang Ceylon telah berdagang dan masuk abad ke-7 Masehi, orang Ceylon mengalami kemajuan pesat dalam hal perdagangan dengan orang Cina. Hinggalah, pada pertengahan abad ke-8 orang Arab telah sampai ke Kanton.[38] Waktu masuknya Islam di Nusantara sudah berlangsung sejak abad ke-7 dan 8 Masehi. Namun, perkembangan dakwah baru betul dimulai kala abad ke-11 dan 12.[39] Artinya dakwah di Nusantara sudah merentang selama beberapa abad pada masa-masa awal.[39] Indonesia sendiri pada masa-masa itu, tidaklah asing dari pandangan musafir Arab. Sulaiman at-Tajir misalnya, sampai ke kawasan Zabij yang ada di timur India.[40] Dilengkapi pula oleh catatan ahli geografi sejaman, Ibnu Khurdadzbih bahwa Zabij dipimpin seorang Maharaja, yang juga disetujui oleh pendapat Yaqut al-Hamawi dan Al-Mas'udi.[41] Belakangan, pendapat soal negeri Maharaja ini disetujui sejarawan Arab modern, Husain Mu'nis, bahwa ia merujuk pada daerah yang kini ada di kawasan Indonesia modern.[42] Mengenai tempat asal kedatangan Islam yang menyentuh Indonesia, di kalangan para sejarawan terdapat beberapa pendapat. Ahmad Mansur Suryanegara mengikhtisarkan teori masuknya Islam dalam tiga teori besar. Pertama, teori Gujarat. Islam dipercayai datang dari wilayah Gujarat โ India melalui peran para pedagang India muslim pada sekitar abad ke-13 M. Kedua, teori Makkah. Islam dipercaya tiba di Indonesia langsung dari Timur Tengah melalui jasa para pedagang Arab muslim sekitar abad ke-7 M. Ketiga, teori Persia. Islam tiba di Indonesia melalui peran para pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke nusantara sekitar abad ke-13 M. Mereka berargumen akan fakta bahwa banyaknya ungkapan dan kata-kata Persia dalam hikayat-hikayat Melayu, Aceh, dan bahkan juga Jawa.[43] Selain itu pula, temuan Marco Polo juga menyatakan sebagai dampak interaksi orang-orang Perlak di Aceh, mereka telah mengenal Islam. Selama masa-masa ini, dinyatakan oleh Van Leur dan Schrieke, bahwa penyebaran Islam lebih terbantu lewat faktor-faktor politik alih-alih karena niaga.[44] Pandangan lain dari AH Johns dan SQ Fatimi menyebutkan penyebaran Islam bertumpu pada imam-imam Sufi yang cakap dalam soal kebatinan, dan bersedia menggunakan unsur-unsur kebudayaan pra Islam dan mengisinya kembali dengan semangat yang lebih Islami.[45] Peranan agamawan itu yang bisa dilihat dalam proses sejarah Islamisasi kawasan. Di Samudera Pasai misalnya, pelopor dakwah Islam adalah seorang ulama yang disebut Syekh Ismail dan bertanggung jawab memperkenalkan Islam sampai kepada rajanya, Merah Silu dan masuk Islam dengan nama Malik al-Saleh. Begitu pun pada kasus Islamisasi kerajaan Malaka, yang raja pertamanya adalah Iskandar Syah, masuk Islam dengan perantara ulama yang dalam catatan Sejarah Melayu adalah Maulana Sadar Jahan.[46] Dari kondisi-kondisi di atas, hal itu menjelaskan bahwa Islam telah menjadi posisi sentral dalam sosial politik dan budaya tempatan, malahan hingga menjadi unsur terbentuknya kerajaan. Selain itu pula, sejarah di atas menunjukkan bahwa masa awal sejarah dakwah Islam di Nusantara berlangsung dari kawasan pantai timur Sumatera, pantai utara Jawa, dan terlibat secara intensif dalam kawasan dagang jarak jauh Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan.[47]

Di Pulau Sulawesi, Islam menyebar melalui hubungan Kerajaan-Kerajaan setempat dengan para Ulama dari Mekkah dan Madinah, yang sebelumnya pula sempat singgah di Hadramaut untuk menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok Nusantara. Selain itu, pengaruh dari Ulama Minang di wilayah Selatan pulau Sulawesi turut mengantarkan Kesultanan Gowa dan Kesultanan Bone untuk memeluk agama Islam.[48] Sementara itu, pengaruh dari Kesultanan Ternate turut berperan penting dalam penyebaran agama Islam di pulau Sulawesi bagian tengah dan Utara. Salah satu buktinya adalah eksistensi Kesultanan Gorontalo sebagai salah satu Kerajaan Islam paling berpengaruh di Semenanjung Utara Sulawesi hingga ke Sulawesi bagian Tengah dan Timur.[49] Selain pengaruh Kesultanan Ternate, Ulama-Ulama besar yang hijrah ke wilayah jazirah utara dan tengah Sulawesi pun turut mempercepat penyebaran agama Islam di wilayah ini. Selain itu, Kesultanan Tidore yang juga menguasai Tanah Papua, sejak abad ke-17, telah berhasil melakukan upaya penyebaran agama Islam hingga mencapai wilayah Semenanjung Onin di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
Kalau ahli sejarah Barat beranggapan bahwa Islam masuk di Indonesia mulai abad ke-12 atau 13 adalah tidak benar, Abdul Malik Karim Amrullah berpendapat bahwa pada tahun 625 M sebuah naskah Tiongkok mengkabarkan bahwa menemukan kelompok bangsa Arab yang telah bermukim di pantai Barat Sumatra (Barus).[50] Pernyataan yang hampir senada dikemukakan Arnold, bahwa mungkin Islam telah masuk ke Indonesia sejak abad-abad awal Hijriah. Meskipun kepulauan Indonesia telah disebut-sebut dalam tulisan ahli-ahli bumi Arab, di dalam tarikh Cina telah disebutkan pada 674 M orang-orang Arab telah menetap di pantai barat Sumatra.[51]
Pada tahun 30 Hijriyah atau 651 M semasa pemerintahan Khilafah Islam Utsman bin Affan (644-656 M), memerintahkan mengirimkan utusannya (Muawiyah bin Abu Sufyan) ke tanah Jawa yaitu ke Jepara (pada saat itu namanya Kalingga). Hasil kunjungan duta Islam ini adalah raja Jay Sima, putra Ratu Sima dari Kalingga, masuk Islam.[52] Namun menurut Hamka sendiri, itu terjadi tahun 42 Hijriah atau 672 Masehi.[53]
Pada tahun 718 M raja Sriwijaya Sri Indravarman setelah pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (717 - 720 M) (Dinasti Umayyah) pernah berkirim surat dengan Umar bin Abdul Aziz sekaligus berikut menyebut gelarnya dengan 1000 ekor gajah, berdayang inang pengasuh di istana 1000 putri, dan anak-anak raja yang bernaung di bawah payung panji. Baginda berucap terima kasih akan kiriman hadiah daripada Khalifah Bani Umayyah tersebut.[54] Dalam hal ini, Hamka mengutip pendapat SQ Fatimi yang membandingkan dengan The Forgotten Kingdom Schniger bahwa memang yang dimaksud adalah Sriwijaya tentang Muara Takus, yang dekat dengan daerah yang banyak gajahnya, yaitu Gunung Suliki. Apalagi dalam rangka bekas candi di sana, dibuat patung gajah yang agaknya bernilai di sana. Tahun surat itu disebutkan Fatemi bahwa ia bertarikh 718 Masehi atau 75 Hijriah. Dari situ, Hamka menepatkan bahwa Islam telah datang ke Indonesia sejak abad pertama Hijriah.[55]
Selain itu, fakta yang juga tak bisa diabaikan adalah bahwa adanya kitab Izh-harul Haqq fi Silsilah Raja Ferlak yang ditulis Abu Ishaq al-Makrani al-Fasi yang berasal dari daerah Makran, Balochistan menyebut bahwa Kerajaan Perlak didirikan pada 225 H/847 M diperintah berturut-turut oleh delapan sultan.[56]
Bukti lain memperlihatkan telah munculnya Islam pada masa awal dengan bukti Tarikh Nisan Fatimah binti Maimun (1082M) di Gresik.[57]
Bukti pertama adanya Muslim pribumi Nusantara berasal dari Sumatera Utara. Pada tahun 1111, beberapa orang Aceh tempatan telah memeluk agama Islam oleh seorang Arab bernama 'Abd-Allah 'Arif. Salah seorang muridnya, Burhan al-Din, menyebarkan Islam sehingga ke Pariaman di tanah Minangkabau di Sumatra Barat.[58]
Untuk menjelaskan bagaimana metode penyebaran Islam di Indonesia, Arnold mengutip catatan yang dikutip dari C. Semper bahwa para pedagang Muslim menggunakan bahasa dan adat istiadat orang tempatan. Setelah mengadakan pernikahan dengan orang setempat, pembebasan budak, maka ia mengadakan perserikatan dan tak lupa tetap memelihara hubungan persahabatan dengan golongan aristokrat yang juga telah mendukung kebebasannya.[51] Para pedagang ini, tidaklah datang sebagai penyerang, tidak pula memakai pedang, ataupun memakai kelas atas guna menekan kawula-kawula rakyat. Namun dakwah dilakukan dengan kecerdasan, dan harta perdagangan yang mereka punya lebih mereka utamakan untuk modal dakwah.[51]
Selama masa-masa abad pertengahan ini, pedagang-pedagang Muslim turut memberi andil dalam bertumbuhnya perdagangan dan kota-kota yang terlibat di sana. Bersamaan dengan kegiatan dagang orang Tionghoa dari Dinasti Ming, Gresik, Malaka, dan Makassar berubah dari kampung kecil menjadi kota-kota besar dengan penduduk 50 ribu jiwa. Begitupun untuk Aceh, Patani, dan Banten.[59]
Masa kolonial
suntingPada abad ke-18 masehi atau tahun 1700 kerajaan Hindia Belanda datang ke Nusantara untuk berdagang, tetapi pada perkembangan selanjutnya mereka menjajah daerah ini dan memaksakan penyebaran ajaran agama mereka. Belanda datang ke Indonesia dengan kamar dagangnya, VOC (1602-1799), tetapi pada waktu itu mereka belum menjajah daerah Nusantara. Pada tahun 1800, VOC dibubarkan dan Hindia Belanda didirikan, sejak itu seluruh wilayah Nusantara dikuasainya. Saat itu antara kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah terpotong.

Dengan sumuliayatul (kesempurnaan) Islam yang tidak ada pemisahan antara aspek-aspek kehidupan tertentu dengan yang lainnya, ini telah diterapkan oleh para ulama saat itu. Ketika penjajahan datang, para ulama mengubah pesantren menjadi markas perjuangan, para santri (peserta didik pesantren) menjadi jundullah (pasukan Allah) yang siap melawan penjajah, sedangkan ulamanya menjadi panglima perang. Ini dapat dibuktikan dengan adanya hikayat-hikayat pada masa kerajaan Islam yang syair-syairnya berisi seruan perjuangan.
Di akhir abad ke-19, muncul ideologi pembaruan Islam yang diserukan oleh Jamal-al-Din Afghani dan Muhammad Abduh. Ulama-ulama Minangkabau yang belajar di Kairo, Mesir banyak berperan dalam menyebarkan ide-ide tersebut, di antara mereka ialah Muhammad Djamil Djambek dan Abdul Karim Amrullah. Pembaruan Islam yang tumbuh begitu pesat didukung dengan berdirinya sekolah-sekolah pembaruan seperti Adabiah (1909), Diniyah Putri (1911), dan Sumatra Thawalib (1915). Pada tahun 1906, Tahir bin Jalaluddin menerbitkan koran pembaruan al-Iman di Singapura dan lima tahun kemudian, di Padang terbit koran dwi-mingguan al-Munir.[60]
Setidak-tidaknya dalam tren menuju masa kebangkitan nasional pada awal abad ke-20, pergumulan umat Islam di Indonesia berlangsung dalam 3 jalan: organisasi, konsepsi pemikiran-pemikiran ortodoks, dan politik. Organisasi di Hindia Belanda dari berbagai spektrum Keislaman muncul, tetapi yang menentukan tren keumatan ke depan sejarah kala itu adalah NU dan Muhammadiyah.[61] Organisasi-organisasi itu bergerak dengan beberapa cara, antaranya menghubungkan masyarakat dari pelbagai daerah, menyuarakan persamaan gagasan komunitas umat Islam secara global dengan mengirimi buletin perkabaran umat Islam dari penjuru bumi, ataupun mengumpulkan orang banyak untuk kegiatan reli massa.[62]
Demografi
suntingSebagian besar ummat Islam di Indonesia berada di wilayah Indonesia bagian Barat, seperti di pulau Sumatra, Jawa, Madura dan Kalimantan. Sedangkan untuk wilayah Timur, penduduk Muslim banyak yang menetap di wilayah Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, dan Maluku Utara dan enklave tertentu di Indonesia Timur seperti Kabupaten Alor, Fakfak, Haruku, Banda, Leihitu, Tual dan lain-lain.
Distribusi geografi
suntingBerikut merupakan persebaran umat Islam per provinsi Indonesia. Sensus dihadirkan pada tahun 2010.
| Provinsi | Muslim[63] | % |
|---|---|---|
| 4.413.244 | 98.2% | |
| 8.579.830 | 60.4% | |
| 4.721.924 | 97.4% | |
| 4.872.873 | 88% | |
| 2.950.195 | 95.4% | |
| 7.218.951 | 96.9% | |
| 1.669.081 | 97.3% | |
| 7.264.783 | 95.5% | |
| 1.088.791 | 89% | |
| 1.332.201 | 77,5% | |
| 8.200.796 | 83.4% | |
| 41.763.592 | 97% | |
| 31.328.341 | 96.7% | |
| 3.179.129 | 91.9% | |
| 36.113.396 | 96.4% | |
| 10.065.783 | 94.7% | |
| 520.244 | 13.4% | |
| 4.341.284 | 96.5% | |
| 423.925 | 9% | |
| 2.603.318 | 59.2% | |
| 1.643.715 | 74.3% | |
| 3.505.846 | 96.7% | |
| 3.033.705 | 85.4% | |
| 701.699 | 30.9% | |
| 2.047.959 | 77.7% | |
| 7.200.938 | 89.6% | |
| 2.126.126 | 95.2% | |
| 1.017.396 | 97.8% | |
| 957.735 | 82.6% | |
| 776.130 | 49.6% | |
| 771.110 | 74.3% | |
| 292.026 | 38.4% | |
| 450.096 | 15.9% | |
| TOTAL | 207.176.162 | 87.2% |
Budaya
suntingBahasa & adat istiadat
suntingDi Indonesia, telah diketahui bahwa Islam sampai ke Kepulauan Nusantara sejak abad ke-7 dan berkembang pada abad ke-12 dan kemudian ke-16. Pada masa ini, selain kata serapan, sistem aksara yang disebut huruf Jawi dan aksara daerah juga tercipta, suatu hal yang sebelumnya tidak ada. Pada masa ini, bahasa Melayu sebagai lingua franca berpadu mengembangkan kebudayaan Islam di jazirah ini. Pengaruh Islam, lewat bahasa Arab, juga memengaruhi perkembangan daerah di Indonesia, seperti bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Bima, bahasa Bugis, bahasa Lampung dan bahasa Sasak.[64]
Arsitektur
suntingIslam sangat banyak berpengaruh terhadap arsitektur bangunan di Indonesia. Rumah Betawi salah satunya, adalah bentuk arsitektur bangunan yang banyak dipengaruhi oleh corak Islam. Pada salah satu forum tanya jawab di situs Era Muslim,[65] disebutkan bahwa Rumah Betawi yang memiliki teras lebar, dan ada bale-bale untuk tempat berkumpul, adalah salah satu ciri arsitektur peradaban Islam di Indonesia.
Masjid
suntingMasjid adalah tempat ibadah Muslim yang dapat dijumpai diberbagai tempat di Indonesia. Menurut data Lembaga Ta'mir Masjid Indonesia, saat ini terdapat 125 ribu masjid yang dikelola oleh lembaga tersebut, sedangkan jumlah secara keseluruhan berdasarkan data Departemen Agama tahun 2004, jumlah masjid di Indonesia sebanyak 643.834 buah, jumlah ini meningkat dari data tahun 1977 yang sebanyak 392.044 buah. Diperkirakan, jumlah masjid dan mushala di Indonesia saat ini antara 600-800 ribu buah.[66] Adapun menurut penuturan Komjen Pol Syafruddin Wakil Ketum Dewan Masjid Indonesia menyebut sesuai data tahun 2017, bahwa Indonesia memiliki sekitar 800 ribu masjid. Dalam pada itu, pengelolaan masjid di Indonesia berbeda dengan masjid di negara lain. Pemerintah tak secara langsung membangun dan mengelola masjid, tetapi lewat swadaya masyarakat, begitu juga dalam hal pengelolaannya.[67]
Pendidikan
suntingPesantren adalah salah satu sistem pendidikan Islam yang ada di Indonesia dengan ciri yang khas dan unik, juga dianggap sebagai sistem pendidikan paling tua di Indonesia.[68] Pendidikan Islam dalam konteks institusi mengacu pada lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti Pondok Pesantren, Madrasah Diniyah, dan Madrasah sebagai sekolah umum yang memiliki ciri khas Islam. Peran strategis Pondok Pesantren dalam pendidikan Islam telah diakui, dan hal ini terlihat dari beberapa aspek:[69]
Kiblat Umat Islam
Pondok Pesantren masih dianggap sebagai kiblat utama bagi umat Islam Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari pandangan masyarakat bahwa penuntutan ilmu agama akan lebih berkualitas jika dilakukan di pesantren.
Pendidikan Integratif dan Komprehensif
Pesantren telah mengembangkan program pendidikan yang mampu memberikan pendidikan yang integratif (penggabungan berbagai disiplin ilmu) dan komprehensif (menyeluruh). Ini terlihat dari paduan ilmu dengan moralitas santri.
Pendidikan Sepanjang Hidup
Pesantren tidak membatasi usia pesertanya, menyelenggarakan pendidikan sepanjang hidup dengan waktu belajar 24 jam.
Moralitas dan Etika
Pesantren menekankan pada kejujuran, keikhlasan, dan akhlak yang baik dalam proses pembelajaran.
Persaudaraan Santri
Santri di pesantren hidup dalam suasana persaudaraan yang erat. Mereka tinggal dalam satu kompleks dengan banyak penghuni dan makan bersama dengan menu yang disediakan.
Jika melihat sejarah pendidikan di Jawa sebelum Islam, terdapat lembaga pendidikan yang disebut pawiyatan. Pawiyatan merupakan lembaga di mana seorang guru (Ki Ajar) mengajar beberapa murid (cantrik). Konsep ini mirip dengan model pesantren, di mana seorang guru (kiai) mengajar beberapa murid (santri) dan mereka hidup bersama dalam satu kompleks.
Meskipun demikian, tidak dapat dikatakan bahwa pesantren telah tumbuh sejak awal perkembangan Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Model pendidikan seperti pawiyatan telah ada sebelum masuknya Islam. Dengan masuknya Islam, muncul kebutuhan akan sarana pendidikan, dan model pawiyatan dijadikan acuan dengan melakukan perubahan pada sistem pendidikan Islam.[69]
Pendidikan pesantren pada awalnya fokus pada ilmu agama dan sikap beragama. Setelah murid memiliki kecerdasan tertentu, mereka mulai diajarkan kitab-kitab klasik. Mahmud Yunus membagi pesantren ke dalam empat tingkatan: dasar, menengah, tinggi, dan khusus. Sistem administrasi pendidikan pesantren masih bersifat tradisional dan belum seperti sekolah umum yang dikelola oleh pemerintah kolonial Belanda. Ada lima unsur pokok pesantren menurut Zamaksyari Dhofier, yaitu kiai, santri, masjid, pondok, dan pengajaran kitab-kitab klasik.[69]
Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam memiliki perjalanan tersendiri. Sejak awal, pesantren sering kali diabaikan atau dikucilkan dari sistem pendidikan nasional. Pada masa Orde Baru, bahkan pesantren secara formal diputus hubungannya dengan pendidikan formal di Indonesia. Ijazah pesantren tidak diakui lagi sebagai kualifikasi untuk melanjutkan pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi. Ini berlaku bahkan jika di dalam pesantren diselenggarakan pendidikan berjenjang seperti madrasah diniyah. Undang-undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahkan secara tegas menguatkan pemutusan hubungan ini dari segi hukum.[70]
Meskipun ada kemungkinan pesantren atau madrasah diniyah dapat dimasukkan ke dalam sistem pendidikan nasional, tetapi pengelompokannya sebagai pendidikan luar sekolah telah menimbulkan ketidaksesuaian dan kurangnya kesinambungan dengan lembaga pendidikan formal, khususnya madrasah yang telah beralih fungsi menjadi sekolah.[70]
Hal ini menunjukkan bahwa pesantren telah mengalami penolakan atau ketidakpengakuan dalam konteks pendidikan nasional formal. Meskipun pesantren memiliki tradisi dan peran penting dalam pendidikan Islam, tetapi di beberapa periode sejarah pendidikan di Indonesia, pesantren menghadapi tantangan dalam memperoleh status dan pengakuan yang setara dengan lembaga pendidikan formal lainnya.[70]
Politik
suntingDengan mayoritas berpenduduk Muslim, politik di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh dan peranan umat Islam. Kebangunan akan kesedaran berpolitik ini diawali kalangan kaum haji yang membawa kabar-kabar akan serangan Prancis terhadap Maroko, umat Islam Libya diserang, dan gerakan nasionalis Mesir melawan imperialis Inggris. Ini juga membentuk perasaan setia kawan sesama kaum Muslimin, dan membangkitkan ketidaksukan terhadap kolonialisme dan imperialisme Eropa.[71] Meskipun Islam menjadi mayoritas, Indonesia tidak menjadikan Islam sebagai agama resmi negara. Walau demikian, Indonesia bukanlah negara yang berasaskan Islam, tetapi sebagian kecil napas Islam tetap diakui seperti adanya undang-undang peradilan agama, perbankan syariah, wakaf dan pengelolaan zakat.
Seiring dengan reformasi 1998, di Indonesia jumlah partai politik Islam kian bertambah. Pada Pemilu 1999, 17 partai Islamโyaitu 12 partai Islam dan 5 partai lain berazaskan Islam dan Pancasilaโikut berlaga dalam pemilihan tersebut. Kesiapan mereka dalam hal administrasiโterkecuali PPP yang memang sudah tuaโmengagumkan mengingat mereka dapat mengikuti segala syarat pemilu yang cukup ketat, serupa bahwa setiap partai harus punya cabang sekurangnya di 14 provinsi. Dalam Pemilu tersebut, PPP meraih 11.329.905 suara (10,7 persen) dan bercokol pada peringkat ketiga,[72] karena itu Partai Persatuan Pembangunan meraih 5 besar. Partai Bulan Bintang mampu membentuk fraksi sendiri walau cuma 13 anggota, dan Partai Keadilan hanya memperoleh 7 kursi DPR saja.[73] Bila sebelumnya hanya ada satu partai politik Islam, yakni Partai Persatuan Pembangunan-akibat adanya kebijakan pemerintah yang membatasi jumlah partai politik, pada pemilu 2004 terdapat enam partai politik yang berasaskan Islam, yaitu Partai Persatuan Pembangunan, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Bintang Reformasi, Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Bulan Bintang.
Referensi
sunting- ^ Al-Jallad, Ahmad (30 May 2011). "Polygenesis in the Arabic Dialects". Encyclopedia of Arabic Language and Linguistics. BRILL. doi:10.1163/1570-6699_eall_EALL_SIM_000030. ISBNย 9789004177024.
- ^ [go.id/agamadanstatistik/umat "Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut"] [Population by Region and Religion]. Sensus Penduduk 2018. Jakarta, Indonesia: Badan Pusat Statistik. 15 May 2018. Diakses tanggal 3 September 2020.
Religion is belief in Almighty God that must be possessed by every human being. Religion can be divided into Muslim, Christian (Protestant), Catholic, Hindu, Buddhist, Hu Khong Chu, and Other Religions.
Muslim 231,069,932 (86.7), Christian (Protestant)20,246,267 (7.6), Catholic 8,325,339 (3.12), Hindu 4,646,357 (1.74), Buddhist 2,062,150 (0.72), Confucianism 71,999 (0.03),Other Religions/no answer 112,792 (0.04), Total 266,534,836 - ^ "The World Factbook โ Central Intelligence Agency". www.cia.gov (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 24 May 2017.[pranala nonaktif]
- ^ databoks.katadata.co.id. "Mayoritas Penduduk Indonesia Beragama Islam pada Semester I 2024 | Pusat Data Ekonomi dan Bisnis Indonesia | Databoks". databoks.katadata.co.id. Diakses tanggal 2025-11-26.
- ^ "Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut" [Population by Region and Religion] (PDF). Sensus Penduduk 2018. Jakarta: Badan Pusat Statistik. 15 May 2018. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 28 July 2021. Diakses tanggal 3 September 2020.
Religion is belief in Almighty God that must be possessed by every human being. Religion can be divided into Muslim, Christian (Protestant), Catholic, Hindu, Buddhist, Hu Khong Chu, and Other Religions.
Muslim 231,069,932 (86.7), Christian (Protestant)20,246,267 (7.6), Catholic 8,325,339 (3.12), Hindu 4,646,357 (1.74), Buddhist 2,062,150 (0.72), Confucianism 71,999 (0.03),Other Religions/no answer 112,792 (0.04), Total 266,534,836 - ^ Reza, Imam. "Shia Muslims Around the World". Diarsipkan dari asli tanggal 22 Mei 2009. Diakses tanggal 11 Juni 2009.
approximately 400,000 persons who subscribe to the Ahmadiyya
- ^ "International Religious Freedom Report 2008". US Department of State. Diakses tanggal 31 March 2014.
- ^ a b "Sunni and Shia Muslims". Pew Research Center. 27 January 2011.
- ^ Religious clash in Indonesia kills up to six, The Straits Times, 6 February 2011.
- ^ "Chapter 1: Religious Affiliation". The Worldโs Muslims: Unity and Diversity. Pew Research Center's Religion & Public Life Project. 9 August 2012. Diakses tanggal 2015-09-06.
- ^ a b Bruinessen 1992; Kraus 1997, hlm.ย 169โ89; Howell 2001, hlm.ย 701โ29; Mufid 2006; Mulyati 2010; Laffan 2015.
- ^ Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernamaHa - ^ Burhanudin & Dijk 2013.
- ^ Lamoureux, Florence (1 January 2003). Indonesia: A Global Studies Handbook. ABC-CLIO. ISBNย 9781576079133 โ via Internet Archive.
- ^ Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernamaReferenceA - ^ Yang, Heriyanto (August 2005). "The History and Legal Position of Confucianism in Post Independence Indonesia" (PDF). Marburg Journal of Religion. 10 (1): 8. Diakses tanggal 2 October 2006.
- ^ "Pemerintah Setuju Penghayat Kepercayaan Tertulis di Kolom Agama KTP". Detikcom. 8 May 2017. Diakses tanggal 11 July 2017.
- ^ Aris Ananta, Evi Nurvidya Arifin, M Sairi Hasbullah, Nur Budi Handayani, Agus Pramono. Demography of Indonesia's Ethnicity. Singapore: ISEAS: Institute of Southeast Asian Studies, 2015. p. 273.
- ^ "ArcGIS Web Application". gis.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 2021-08-17.
- ^ a b Kuipers, Joel C. (1993). "Islam". Dalam Frederick, William H.; Worden, Robert L. (ed.). Indonesia: a country study. Area handbook series1057-5294 (Edisi 5th). Washington, D.C.: Federal Research Division, Library of Congress. ISBNย 9780844407906.
Artikel ini memuat teks dari sumber tersebut, yang berada dalam ranah publik.
- ^ Geertz 1982.
- ^ Mehden 1995.
- ^ "Apa yang Dimaksud dengan Islam Nusantara?". Nahdlatul Ulama. 22 April 2015.
- ^ Heyder Affan (15 June 2015). "Polemik di balik istiIah 'Islam Nusantara'". BBC Indonesia.
- ^ Palmier 1954, hlm.ย 257; Federspiel 1996.
- ^ Mehden 1995; Noer 2013.
- ^ Hasan 2007.
- ^ Yusuf & Putrie 2022, hlm.ย 10โ14.
- ^ Crouch 2014, hlm.ย 99.
- ^ Saleh 2001, hlm.ย 230, 233.
- ^ Ali 1975, hlm.ย 32; Hasymi 1983.
- ^ Peacock 1978; Hasan 2007; Solahudin 2011; Hauser-Schรคublin & Harnish 2014, hlm.ย 144โ61; Krismono 2017; Baskara 2017.
- ^ Pouwels, Randall L. (2002), Horn and Crescent: Cultural Change and Traditional Islam, Cambridge University Press, ISBN 978-0521523097, pp 88โ159
- ^ Pearson, M.N. (2000), The Indian Ocean and the Red Sea, in The History of Islam in Africa (Ed: Nehemia Levtzion, Randall Pouwels), Ohio University Press, ISBN 978-0821412978, Chapter 2.
- ^ Atjeh 1977, hlm.ย 32; Hasymi 1983.
- ^ Ali 1994โ95, hlm.ย 67โ93; Atjeh 1977; Hasymi 1983; Ida 2016, hlm.ย 194โ215; Zulkifli 2011.
- ^ a b Burhani 2014, hlm.ย 143โ44; Freedman 2020; Rahman 2014, hlm.ย 418โ20.
- ^ Arnold 1985, hlm.ย 317.
- ^ a b Mahfud et al. Muyasaroh, hlm.ย 227.
- ^ Amnan 2021, hlm.ย 3.
- ^ Amnan 2021, hlm.ย 4.
- ^ Amnan 2021, hlm.ย 5.
- ^ Saifullah 2010, hlm.ย 15.
- ^ Reid 2019, hlm.ย 22.
- ^ Reid 2019, hlm.ย 23.
- ^ Burhanudin & Baedowi 2003, hlm.ย 2โ3.
- ^ Burhanudin & Baedowi 2003, hlm.ย 5.
- ^ Abdullah, A. (2016). Islamisasi Di Sulawesi Selatan Dalam Perspektif Sejarah. Paramita: Historical Studies Journal, 26(1), 86-94.
- ^ Mashadi, M., & Suryani, W. (2018). Jaringan Islamisasi Gorontalo (Fenomena Keagamaan dan Perkembangan Islam di Gorontalo). Al-Ulum, 18(2), 435-458.
- ^ Amrullah 2017, hlm.ย 3-4.
- ^ a b c Arnold 1985, hlm.ย 318ย โ 319.
- ^ H Zainal Abidin Ahmad. Ilmu politik Islam V, Sejarah Islam dan Umatnya sampai sekarang; Bulan Bintang, 1979.
- ^ Amrullah 2017, hlm.ย 3.
- ^ Amrullah 2017, hlm.ย 136.
- ^ Amrullah 2017, hlm.ย 137.
- ^ Saifullah 2010, hlm.ย 11.
- ^ Saifullah 2010, hlm.ย 10.
- ^ Ali 1975, hlm.ย 56.
- ^ Reid 2019, hlm.ย 31.
- ^ Ricklefs 1991, hlm.ย 353-356.
- ^ Fogg 2020, hlm.ย 69.
- ^ Fogg 2020.
- ^ admin (2017-11-07). "Jumlah Penganut Agama di Indonesia Tiap Provinsi". TUMOUTOUNEWS. Diakses tanggal 2021-08-08.
- ^ Mahfud et al. Muyasaroh, hlm.ย 227, 230.
- ^ Pengaruh Arsistektur Peradaban Islam di Indonesia, situs Era Muslim
- ^ Gerakan Memakmurkam Masjid, Institut Manajemen Masjid
- ^ Tejomukti 2018, hlm.ย 12.
- ^ "Nurun Maksuni, Pesantren dalam wajah Islam Indonesia, nusyria.net:2007". Diarsipkan dari asli tanggal 2008-05-07. Diakses tanggal 2008-06-12.
- ^ a b c Rahman, Kholilur (2018-02-15). "Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia". Jurnal Tarbiyatunaย : Kajian Pendidikan Islam (dalam bahasa Inggris). 2 (1): 1โ14. ISSNย 2622-1942.
- ^ a b c Hanipudin, Sarno (2019-10-26). "Pendidikan Islam di Indonesia dari Masa ke Masa". Matanย : Journal of Islam and Muslim Society (dalam bahasa Inggris). 1 (1): 39โ53. doi:10.20884/1.matan.2019.1.1.2037. ISSNย 2715-0119.
- ^ Anwar 2011, hlm.ย 19.
- ^ Abdulsalam, Husein (25 Juni 2018). "Pemilu 1999: Parpol Islam dan Nasionalis Berlaga tanpa Komunis". Tirto.id. Diakses tanggal 28 Juli 2018.
- ^ Usman 2001, hlm.ย 67.
Kepustakaan
sunting- Ali, A. Mukti (1975). "Islam in Indonesia". Handbook of Oriental Studies. Section 3. Southeast Asia, Religions (dalam bahasa Inggris). Leiden: Brill. hlm.ย 55โ80.
- Ali, Wan Zailan Kamaruddin Wan (1994โ95). "Aliran Syi'ah di Nusantara: Perkembangan, Pengaruh dan Kesan". Sejarah: Jurnal Jabatan Sejarah Universiti Malaya. 3 (3): 67โ93. doi:10.22452/sejarah.vol3no3.4. ISSNย 1985-0611.
- Amrullah, Abdul Malik Karim (2017) [1963]. Dari Perbendaharaan Lama: Menyingkap Sejarah Islam di Indonesia. Jakarta: Gema Insani Press. ISBNย 978-602-250-419-1.
- Anwar, Rosihan (2011) [1971]. Jatuh Bangun Pergerakan Islam di Indonesia. Jakarta: Fadli Zon Library. ISBNย 978-602-99458-2-9.
- Arnold, Thomas W. (1985) [1979]. Sejarah Da'wah Islam. Jakarta: Widjaya.
- Atjeh, Aboebakar (1977). Aliran Syiah di Nusantara. Jakarta: Islamic Research Institute.
- Baskara, Benny (2017). "Islamic Puritanism Movements in Indonesia as Transnational Movements". Dinika: Academic Journal of Islamic Studies (dalam bahasa Inggris). 2 (1): 1โ22. doi:10.22515/dinika.v2i1.103. ISSNย 2503-4219.
- Bruinessen, Martin van (1992). Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia: survei historis, geografis, dan sosiologis. Bandung: Mizan.
- Burhani, Ahmad Najib (2014). "The Ahmadiyya and the Study of Comparative Religion in Indonesia: Controversies and Influences" (PDF). Islam and ChristianโMuslim Relations (dalam bahasa Inggris). 25 (2): 141โ58. doi:10.1080/09596410.2013.864191. ISSNย 0959-6410. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2021-06-12. Diakses tanggal 2019-03-14. ;
- Burhanudin, Jajat; Baedowi, Ahmad, ed. (2003). Transformasi Otoritas Keagamaan: Pengalaman Islam Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. ISBNย 979-22-0392-3.
- Burhanudin, Jajat; Dijk, Kees van, ed. (2013). Islam in Indonesia: Contrasting Images and Interpretations. ICAS Publications Series, 16 (dalam bahasa Inggris). Amsterdam: Amsterdam University Press. ISBNย 978-90-8964-423-7.
- Crouch, Melissa (2014). Law and Religion in Indonesia: Conflict and the courts in West Java (dalam bahasa Inggris). London; New York: Routledge. ISBNย 978-0-415-83594-7.
- Federspiel, Howard M. (1996) [1970]. Persatuan Islam: Pembaharuan Islam Indonesia Abad XX [Persatuan Islam: Islamic Reform in Twentieth century Indonesia]. Diterjemahkan oleh Yudian W. Asmin dan Afandi Mochtar. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. ISBNย 979-420-380-7.
- Fogg, Kevin W. (2020). Spirit Islam pada Masa Revolusi Indonesia [Indonesia's Islamic Revolution] (dalam bahasa Inggris). Diterjemahkan oleh Yanto Musthofa. Jakarta Selatan: Noura Books. ISBNย 978-623-242-186-8.
- Freedman, Amy L. (2020). "Religious Minorities in Southeast Asia: The Ahmadiyah and Why Tolerance Matters". Dalam Verma, Vidhu; Rathore, Aakash Singh (ed.). Secularism, Religion, and Democracy in Southeast Asia (dalam bahasa Inggris). Oxford: Oxford University Press. hlm.ย 135โ160. ISBNย 978-0-19-909877-4.
- Geertz, Clifford (1982) [1960]. Abangan, santri, priyayi: dalam masyarakat Jawa [Religion of Java]. Jakarta: Pustaka Jaya. OCLCย 23574765.
- Hasan, Noorhaidi (2007). "The Salafi Movement in Indonesia: Transnational Dynamics and Local Development". Comparative Studies of South Asia, Africa and the Middle East (dalam bahasa Inggris). 27 (1). Duke University Press: 83โ94. doi:10.1215/1089201x-2006-045. ISSNย 1089-201X.
- Hauser-Schรคublin, Brigitta; Harnish, David D., ed. (2014). Between Harmony and Discrimination. Negotiating Religious Identities within Majority-minority Relationships in Bali and Lombok (dalam bahasa Inggris). Leiden; Boston: Brill. ISBNย 978-90-04-27125-8.
- Hasymi, Ali (1981). Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia. Bandung: Al Maโarifโ.
- Hasymi, Ali (1983). Syiโah dan Ahlussunnah: Saling Rebut Pengaruh dan Kekuasaan Sejak Awal Sejarah Islam di Kepulauan Nusantara. Surabaya: Bina Ilmu.
- Howell, Julia Day (2001). "Sufism and the Indonesian Islamic Revival". The Journal of Asian Studies (dalam bahasa Inggris). 60 (3): 701โ29. doi:10.2307/2700107.
- Ida, Achmah (2016). "Cyberspace and Sectarianism in Indonesia: The Rise of Shia Media and Anti-Shia Online Movements" (PDF). Jurnal Komunikasi Islam (dalam bahasa Inggris). 6 (2). Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya: 194โ215. ISSNย 2088-6314. [pranala nonaktif permanen]
- Imawan, Dzulkifli Hadi (2021). The History of Islam in Indonesia (dalam bahasa Inggris). Yogyakarta: Diva Press. ISBNย 978-623-293-363-7.
- Kraus, Werner (1997). "Transformations of a Religious Community: The Shattariyya Sufi Brotherhood in Aceh". Dalam Kuhnt-Saptodewo, Sri; Grabowsky, Volker; Groรheim, Martin (ed.). Nationalism and Cultural Revival in Southeast Asia: Perspectives from the Centre and Region (dalam bahasa Inggris). Wiesbaden: Harrassowitz Verlag. hlm.ย 169โ89. ISBNย 3-447-03958-2.
- Krismono (2017). "Salafisme di Indonesia: Ideologi, Politik Negara, dan Fragmentasi" (PDF). Millah: Jurnal Studi Agama. 16 (2). Universitas Islam Indonesia: 173โ202. doi:10.20885/millah.vol16.iss2.art2.
- Laffan, Michael (2015) [2011]. Sejarah Islam di Indonesia [The Makins of Indonesian Islam: orientalism and the narration of a Sufi past]. Yogyakarta: Bentang. ISBNย 978-602-291-058-9.
- Lombard, Denys (1996). Nusa Jawa: Silang Budaya. Kajian Sejarah Terpadu. Bagian II: Jaringan Asia. Vol.ย 2. Jakarta: Gramedia. ISBNย 979-605-453-1. ;
- Mahfud, Choirul; Astari, Rika; Kasdi, Abdurrohman; Mu'ammar, Muhammad Arfan; Muyasaroh; Wajdi, Firdaus (2021). "Islamic cultural and Arabic linguistic influence on the languages of Nusantara; From lexical borrowing to localized Islamic lifestyles". Wacana (dalam bahasa Inggris). 22 (1): 224 โ , 248. ISSNย 2407-6899. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-07-16. Diakses tanggal 2021-07-16. ;
- Marshall, Paul (2018). "The Ambiguities of Religious Freedom in Indonesia". The Review of Faith & International Affairs (dalam bahasa Inggris). 16 (1): 85โ96. doi:10.1080/15570274.2018.1433588.
- Mehden, Fred R. von der (1995). "Indonesia". Dalam Esposito, John L. (ed.). The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World: 4-volume Set (dalam bahasa Inggris). Vol.ย 2. New York; Oxford: Oxford University Press. ISBNย 978-0-19-506613-5.
- Mufid, Ahmad Syafi'i (2006). Tangklukan, abangan, dan tarekat: kebangkitan agama di Jawa. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. ISBNย 979-461-593-5.
- Mulyati, Sri (2010). Peran Edukasi Tarekat Qadariyyah Naqsabandiyyah Dengan Referensi Utama Suryalaya. Jakarta: Kencana. ISBNย 978-979-1486-73-6.
- Nash, Manning (1991). "Islamic Resurgence in Malaysia and Indonesia". Dalam Marty, Martin E.; Appleby, R. Scott (ed.). Fundamentalisms Observed. The Fundamentalism Project, 1 (dalam bahasa Inggris). Chicago, Il; London: University of Chicago Press. hlm.ย 691โ739. ISBNย 0-226-50878-1.
- Noer, Deliar (March 2013). "The Modernist Muslim Movement in Indonesia, 1900โ1942" (PDF). American Journal of Sociology (dalam bahasa Inggris). 118 (5): 1467โ1473. doi:10.1086/670524.
- Palmier, Leslie H. (September 1954). "Modern Islam in Indonesia: The Muhammadiyah After Independence". Pacific Affairs (dalam bahasa Inggris). 27 (3). JSTORย 2753021.
- Peacock, James L. (1978). Muslim Puritans: Reformist Psychology in Southeast Asian Islam (dalam bahasa Inggris). Berkeley and Los Angeles, Ca: University of California Press. ISBNย 0-520-03403-1.
- Rahman, Fatima Zainab (2014). "State restrictions on the Ahmadiyya sect in Indonesia and Pakistan: Islam or political survival?". Australian Journal of Political Science (dalam bahasa Inggris). 49 (3): 408โ22. doi:10.1080/10361146.2014.934656.
- Reid, Anthony (1992). Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680. Vol.ย 2. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. ISBNย 978-979-461-330-6.
- Reid, Anthony (2019) [2004]. Sejarah Modern Awal Asia Tenggara. Jakarta: Pustaka LP3ES. ISBNย 979-3330-05-8.
- Ricklefs, Merle Calvin (1991). A History of Modern Indonesia 1200-2004 (dalam bahasa Inggris). London: MacMillan.
- Saifullah (2010). Sejarah & Kebudayaan Islam di Asia Tenggara. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. ISBNย 978-602-8764-68-1.
- Saleh, Fauzan (2001). Modern Trends in Islamic Theological Discourse in 20th Century Indonesia: A Critical Survey. Social, economic, and political studies of the Middle East, 79 (dalam bahasa Inggris). Leiden: Brill. ISBNย 90-04-12305-9.
- Solahudin (2011). NII Sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia. Depok: Komunitas Bambu. ISBNย 979-373-195-8.
- Tejomukti, Ratna Ajeng (5 Juli 2018). Handasah, Wachidah (ed.). "DMI Apresiasi Bantuan Saudi". Republika.
- Usman, Syafaruddin (2001). Keterlibatan Umat Islam dalam Sejarah Politik RI. Pontianak: Yayasan Insyaf.
- Yusuf, Kamal; Putrie, Yulia Eka (September 2022). "The Linguistic Landscape of Mosques in Indonesia: Materiality โand Identity Representation". International Journal of Society, Culture & Language (dalam bahasa Inggris). 10 (3): 1โ20. doi:10.22034/ijscl.2022.550006.2570.
- Zulkifli (2011). The struggle of Shi'is in Indonesia. Islam in Southeast Asia Series (dalam bahasa Inggris). Canberra: ANU E Press. ISBNย 978-1-925021-29-5.
Bacaan lanjutan
sunting- Ali, Muhamad (2008). "Islam i Sydostasien" [Islam di Asia Tenggara]. Dalam Simonsen, Jorgen Baek (ed.). Politikens Bog Om Islam (dalam bahasa Dansk). Kรธbenhavn, Denmark: Politikens Forlag. hlm.ย 315โ347. ISBNย 978-87-567-7467-3.
- Ali, Muhamad (2009). Bridging Islam and the West: An Indonesian View (dalam bahasa Inggris). Jakarta: Ushul Press, Faculty of Ushuluddin, the State Islamic University. ISBNย 978-979-25-1295-3.
- Ali, Muhamad (2016). Islam and Colonialism: Becoming Modern in Indonesia and Malaya (dalam bahasa Inggris). Edinburgh: Edinburgh University Press. ISBNย 978-1-4744-0920-9.
- Arif, Nasr M.; Panakkal, Abbas, ed. (2024). Southeast Asian Islam: Integration and Indigenisation (dalam bahasa Inggris). London; New York: Routledge. ISBNย 978-1-032-45169-5.
- Atjeh, Aboebakar (1971). Sekitar Masuknya Islam di Indonesia. Semarang: Ramadhani.
- Awaludin, Muhammad (2016). "Sejarah dan Perkembangan Tarekat di Nusantara". El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis. 5 (2). Bengkulu: State Islamic Institute of Bengkulu: 125โ137. doi:10.29300/jpkth.v5i2.1139. ISSNย 2685-2918.
- Federspiel, Howard M. (1993). The Usage of Tradition of The Prophet in Contemporary Indonesia (dalam bahasa Inggris). Tempe, Ar: Arizona State University Program for Southeast Asian Studies. ISBNย 9781881044116.
- Gade, Anna M. (2004). Perfection Makes Practice: Learning, Emotion, and the Recited Qurโรขn in Indonesia (dalam bahasa Inggris). Honolulu: University of Hawaii Press. ISBNย 0-8248-2599-3.
- Hasyim, Syafiq (2020). "The Secular and the Religious: Secularization and Shariatization in Indonesia". Dalam Verma, Vidhu; Rathore, Aakash Singh (ed.). Secularism, Religion, and Democracy in Southeast Asia (dalam bahasa Inggris). Oxford: Oxford University Press. hlm.ย 111โ134. ISBNย 978-0-19-909877-4.
- Helmiati (2014). Sejarah Islam Asia Tenggara (PDF). Pekanbaru: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, UIN Sultan Syarif Kasim Riau. ISBNย 978-602-1366-69-1.
- Hurmain (1991). Aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan mistikisme dalam Islam. Bumi Pustaka.
- Husain, Sarkawi B. (2017). Sejarah Masyarakat Islam Indonesia. Surabaya: Airlangga University press. ISBNย 978-602-6606-47-1.
- Mansurnoor, Iik Arifin (2012). Living Islamically in the Periphery: Muslim Discourse, Institution, and Intellectual Tradition in Southeast Asia (dalam bahasa Inggris). Tangerang Selatan: UIN Jakarta.
- McCoy, Mary E. (2020). "Piety, Purity, and Nationalism: The Convergence of Nation and Islam in Contemporary Indonesia". Dalam Verma, Vidhu; Rathore, Aakash Singh (ed.). Secularism, Religion, and Democracy in Southeast Asia (dalam bahasa Inggris). Oxford: Oxford University Press. hlm.ย 161โ193. ISBNย 978-0-19-909877-4.
- Mutalib, Hussin (2008). "Chap. 2. Indonesia". Islam in Southeast Asia. Southeast Asia Background Series, 11 (dalam bahasa Inggris). Singapore: ISEASโYusof Ishak Institute. hlm.ย 13โ24. ISBNย 978-981-230-759-0.
- Nasution, Harun; dkk., ed. (1992). Ensiklopedi Islam Indonesia. Disusun oleh tim penulis IAIN Syarif Hidayatullah. Jakarta: Djambatan. ISBNย 979-428-134-4. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link)
- Ricklefs, Merle Calvin (2013) [2012]. Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan penentangnya dari 1930 sampai sekarang [Islamisation and its opponents in Java: A political, social, cultural and religious history, c. 1930 to the present]. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta. ISBNย 978-9790244085.
- Riddel, Peter G. (2001). Islam and the Malay-Indonesian World: Transmission and Responses (dalam bahasa Inggris). Honolulu: University of Hawai'i Press. ISBNย 0-8248-2473-3.
- Romdon (1993). Tashawwuf dan aliran kebatinan: perbandingan antara aspek-aspek mistikisme Islam dengan aspek-aspek mistikisme Jawa. Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam. ISBNย 9789795670018.
- Santosa, Revianto Budi; dkk. (2025). Ensiklopedia Arsitektur Islam Indonesia. Edisi: Masjid Bersejarah. Jakarta: Kementerian Agama RI. ISBNย 978-602-293-252-9. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- Simuh (1995). Sufisme Jawa: transformasi tasawuf Islam ke mistik Jawa. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
- Turmudi, Endang (2006). Struggling for the Umma: Changing Leadership Roles of Kiai in Jombang, East Java. Islam in Southeast Asia Series (dalam bahasa Inggris). Canberra: ANU E Press. ISBNย 1-920942-42-4. JSTORย j.ctt2jbk2d.
- Wiryomartono, Bagoes (2023). Historical Mosques in Indonesia and Malaysia World: Roots, Transformations, and Developments (pdf) (dalam bahasa Inggris). Singapore: Springer. ISBNย 978-981-99-3805-6.
Pranala luar
sunting- (Inggris) Islam di Indonesia Diarsipkan 2020-02-16 di Wayback Machine., dari seasite.niu.edu.
- (Inggris) Islam in Indonesia Diarsipkan 2020-02-16 di Wayback Machine., dari BBC News.
- (Inggris) Munjid, Achmad. "Is Indonesian Islam tolerant?" ( Diarsipkan 2012-10-28 di Wayback Machine.) (Opinion) The Jakarta Post. Friday September 14, 2012.