Estetika[a] adalah cabang filsafat yang mengkaji keindahan, selera, serta fenomena-fenomena terkait. Dalam pengertian luas, estetika mencakup filsafat seni, yang menelaah hakikat seni, kreativitas artistik, makna karya seni, dan apresiasi khalayak.

Sifat estetis adalah ciri-ciri yang memengaruhi daya tarik suatu objek. Hal ini mencakup nilai-nilai estetis, yang mengekspresikan kualitas positif atau negatif, seperti kontras antara keindahan dan keburukan. Para filsuf memperdebatkan apakah sifat estetis memiliki eksistensi objektif atau bergantung pada pengalaman subjektif[b] para pengamat. Menurut pandangan umum, pengalaman estetis diasosiasikan dengan kenikmatan nirkepentingan yang terlepas dari urusan praktis. Selera adalah kepekaan subjektif terhadap kualitas estetis, dan perbedaan selera dapat memicu ketidaksepakatan mengenai penilaian estetis.

Karya seni adalah artefak atau pertunjukan yang umumnya diciptakan oleh manusia, meliputi beragam bentuk seperti seni lukis, musik, tari, arsitektur, dan sastra. Beberapa definisi berpusat pada kualitas estetis intrinsiknya; yang lain memahami seni sebagai kategori yang dikonstruksi secara sosial. Interpretasi dan kritik seni berupaya mengidentifikasi makna karya seni. Diskusi berfokus pada elemen-elemen seperti apa yang direpresentasikan oleh sebuah karya seni, emosi apa yang diekspresikannya, dan apa intensi yang mendasari pengarangnya.

Banyak bidang studi menyelidiki fenomena estetis, menelaah perannya dalam etika, agama, dan kehidupan sehari-hari, serta proses psikologis yang terlibat dalam pengalaman estetis. Estetika komparatif menganalisis persamaan dan perbedaan antara tradisi-tradisi seperti estetika Barat, India, Tionghoa, Islam, dan Afrika. Pemikiran estetis berakar pada masa antikuitas, namun baru muncul sebagai bidang penyelidikan tersendiri pada abad ke-18 ketika para filsuf mengkaji subjek ini secara sistematis.

Definisi

sunting
Dua wanita sedang mengagumi lukisan
Hakikat pengalaman estetis, seperti kekaguman terhadap karya seni, merupakan topik sentral dalam estetika.[1]

Estetika, yang terkadang dieja esthetics dalam bahasa Inggris,[2] adalah studi sistematis mengenai keindahan, seni, dan selera. Sebagai cabang filsafat, bidang ini menelaah jenis-jenis fenomena estetis yang ada, bagaimana manusia mengalaminya, dan bagaimana objek memantik fenomena tersebut. Bidang ini juga menyelidiki hakikat penilaian estetis, makna karya seni, dan problematika kritik seni.[1] Pertanyaan kunci dalam estetika meliputi "Apakah seni itu?", "Bisakah penilaian estetis bersifat objektif?", dan "Bagaimana kaitan nilai estetis dengan nilai-nilai lainnya?".[3] Salah satu karakterisasi membedakan tiga pendekatan utama dalam estetika: studi tentang konsep dan penilaian estetis, studi tentang pengalaman estetis dan respons mental lainnya, serta studi tentang hakikat dan fitur objek estetis.[4] Dalam pengertian yang sedikit berbeda, istilah estetika juga dapat merujuk pada teori-teori tertentu mengenai keindahan atau pada tampilan yang indah.[5]

Estetika berkaitan erat dengan filsafat seni, dan kedua istilah tersebut sering digunakan secara bergantian karena keduanya melibatkan studi filosofis mengenai fenomena estetis. Salah satu perbedaannya adalah bahwa filsafat seni berfokus pada seni, sedangkan ruang lingkup estetika juga mencakup ranah lain, seperti keindahan di alam dan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, satu pandangan berpendapat bahwa filsafat seni adalah sub-bidang dari estetika.[6] Hubungan yang tepat antara kedua bidang ini masih diperdebatkan, dan karakterisasi lain beranggapan bahwa filsafat seni adalah disiplin yang lebih luas. Pandangan ini menegaskan bahwa estetika terutama membahas sifat-sifat estetis, sementara filsafat seni turut menyelidiki fitur-fitur non-estetis dari karya seni, yang tergolong dalam bidang-bidang seperti metafisika, epistemologi, filsafat bahasa, dan etika.[7]

Meskipun studi filosofis mengenai masalah estetis bermula pada masa antikuitas, baru pada abad ke-18 estetika muncul sebagai cabang filsafat tersendiri ketika para filsuf melakukan penyelidikan sistematis terhadap prinsip-prinsipnya.[8] Istilah Latin aesthetica dicetuskan oleh filsuf Alexander Baumgarten pada tahun 1735, yang awalnya didefinisikan sebagai studi tentang sensibilitas atau sensasi atas objek-objek yang indah.[9] Istilah ini berasal dari kata-kata bahasa Yunani Kuno aisthetikos, yang berarti 'hal-hal yang dapat diserap pancaindra', aisthesthai, yang berarti 'mempersepsikan, melihat', dan aisthesis, yang berarti 'sensasi, persepsi'.[10] Penggunaan paling awal yang diketahui dalam bahasa Inggris muncul dalam terjemahan karya W. Hooper pada tahun 1770-an.[11]

Konsep-konsep dasar

sunting

Para filsuf bertumpu pada sejumlah konsep dasar dalam penyelidikan mereka. Mereka menelaah objek estetis serta sifat atau fitur yang bertanggung jawab atas daya tarik objek tersebut, seperti keindahan. Para peneliti mempelajari pengalaman dan kenikmatan yang dipantik oleh objek-objek ini, penilaian mengenainya, serta selera sebagai sensitivitas yang mendasarinya. Kendati demikian, bidang ini disertai dengan kesulitan-kesulitan teoretis yang disebabkan oleh ketidaksepakatan mengenai definisi dan hubungan antar-konsep tersebut. Demikian pula, batasan pasti dari ranah estetika secara keseluruhan masih diperdebatkan—merupakan hal yang kontroversial apakah terdapat sekumpulan fitur esensial yang dimiliki bersama oleh semua fenomena estetis atau apakah fenomena-fenomena tersebut berhubungan secara lebih longgar melalui kemiripan keluarga.[12]

Sifat dan objek estetis

sunting

Sifat estetis adalah fitur suatu objek yang membentuk daya tariknya atau faktor yang memengaruhi evaluasi estetis. Sebagai contoh, ketika seorang kritikus seni mendeskripsikan sebuah karya seni sebagai hebat, hidup, atau menghibur, mereka sedang mengekspresikan sifat estetis dari karya seni tersebut. Beberapa sifat estetis berfokus pada nilai estetis secara umum, seperti indah dan buruk; yang lain berpusat pada bentuk nilai yang lebih spesifik, seperti anggun dan elegan. Sifat estetis juga dapat merujuk pada kualitas perseptual objek seperti seimbang dan hidup, pada aspek representasional seperti realistis dan terdistorsi, atau pada respons emosional seperti gembira dan marah.[13]

Pembedaan yang tepat antara sifat estetis dan non-estetis masih diperdebatkan. Menurut salah satu usulan, sifat estetis memerlukan sensitivitas estetis khusus di samping persepsi indrawi atas sifat non-estetis, yang melampaui sekadar warna, bentuk, dan suara. Sifat estetis diasosiasikan dengan evaluasi, namun tidak semuanya baik secara intrinsik atau buruk. Misalnya, menjadi representasi yang realistis bisa jadi baik secara estetis dalam konteks artistik tertentu namun buruk dalam konteks lainnya.[14]

Diagram seseorang yang melihat bunga dengan label "pengalaman estetis", "sikap estetis", dan "objek estetis"
Diagram hubungan antar konsep estetis. Para filsuf memperdebatkan apakah objek estetis bersifat material atau objek intensional.[15]

Aliran realisme berpendapat bahwa sifat estetis adalah fitur realitas yang objektif dan tak bergantung pada pikiran (mind-independent). Usulan terkait menegaskan bahwa sifat tersebut adalah sifat emergen yang bergantung pada sifat non-estetis. Menurut pandangan ini, keindahan sebuah lukisan dapat muncul dari kombinasi warna dan bentuk yang tepat. Posisi yang berbeda berpendapat bahwa sifat estetis bergantung pada respons (response-dependent), misalnya, bahwa fitur objek hanya memenuhi syarat sebagai sifat estetis jika fitur tersebut memantik pengalaman estetis pada pengamat.[16] Istilah "sifat estetis" (aesthetic property) dan "kualitas estetis" (aesthetic quality) sering digunakan secara bergantian. Beberapa filsuf membedakan keduanya, dengan mengasosiasikan sifat estetis pada fitur objektif dan kualitas estetis pada pengalaman subjektif serta respons emosional.[17]

Objek estetis adalah objek yang memiliki sifat estetis. Satu interpretasi menyarankan bahwa objek estetis adalah entitas material yang memantik pengalaman estetis. Menurut pandangan ini, jika seseorang mengagumi sebuah lukisan cat minyak, maka fisik kanvas dan cat itulah yang menyusun objek estetis tersebut. Interpretasi lain, yang diasosiasikan dengan aliran fenomenologi, berargumen bahwa objek estetis bukanlah material melainkan objek intensional. Objek intensional merupakan bagian dari isi pengalaman, dan eksistensinya bergantung pada pengamat (perceiver). Sebuah objek intensional dapat merefleksikan objek material secara akurat, seperti dalam kasus persepsi veridikal, tetapi bisa juga gagal melakukannya, yang terjadi selama ilusi perseptual. Perspektif fenomenologis berfokus pada objek intensional yang hadir dalam pengalaman alih-alih objek material yang ditinjau secara terpisah dari pengamat.[18]

Nilai estetis dan keindahan

sunting

Nilai estetis adalah jenis khusus dari sifat estetis. Nilai ini mengekspresikan daya tarik indrawi sebuah objek sebagai ukuran kualitatif dari bobot estetisnya, yang mencakup evaluasi positif maupun negatif. Nilai estetis kontras dengan nilai-nilai di ranah lain, seperti moral, epistemik, religius, dan nilai ekonomi.[19]

Nilai estetis mengenai keindahan sering kali dikhususkan sebagai topik sentral estetika.[20] Ini adalah aspek kunci dari pengalaman manusia, yang memengaruhi keputusan pribadi maupun perkembangan budaya.[21] Contoh objek indah yang sering dikutip meliputi lanskap, matahari terbenam, manusia, dan karya seni. Sebagai nilai positif, keindahan berlawanan dengan keburukan sebagai pasangan negatifnya. Keindahan umumnya dipahami sebagai kualitas objek yang melibatkan keseimbangan atau harmoni dan memantik kekaguman atau kenikmatan saat dipersepsikan, namun definisi tepatnya masih diperdebatkan.[22] Beberapa teori memahami keindahan sebagai fitur objektif dari objek eksternal. Teori lain menekankan sifat subjektifnya, mengaitkannya dengan pengalaman dan persepsi pribadi. Mereka berpendapat bahwa "keindahan itu ada di mata yang melihatnya" alih-alih pada objek yang dipersepsikan.[23] Perdebatan sentral lainnya menyangkut fitur-fitur yang dimiliki bersama oleh semua objek yang indah. Apa yang disebut sebagai konsepsi klasik keindahan berakar pada antikuitas klasik dan Renaisans Italia. Dengan berfokus pada fitur objektif, konsepsi ini menegaskan bahwa keindahan adalah susunan bagian-bagian yang harmonis menjadi satu kesatuan yang koheren. Hedonisme estetis, sebaliknya, adalah teori subjektif yang berpegang bahwa sesuatu itu indah jika ia bertindak sebagai sumber kenikmatan estetis. Konsepsi lain mendefinisikan objek indah dalam hal nilai intrinsik, manifestasi bentuk-bentuk ideal, atau sebagai apa yang membangkitkan cinta dan gairah.[24]

Dalam filsafat pra-modern, keindahan sering kali diperlakukan sebagai satu-satunya nilai estetis. Pandangan ini berpendapat bahwa keindahan mencakup segala sesuatu yang patut dipuji secara estetis dan berfungsi sebagai konsep pemersatu dari seluruh ranah estetika. Seiring meluasnya diskusi mengenai fenomena estetis, nilai-nilai estetis lain pun diajukan. Sebagai contoh, yang sublim adalah nilai lain dari hal-hal yang mengilhami perasaan takzim dan gentar. Nilai-nilai lain yang disarankan meliputi pesona, keeleganan, harmoni, dan keanggunan.[19]

Pengalaman, sikap, dan kenikmatan estetis

sunting

Pengalaman estetis adalah apresiasi terhadap keindahan atau kesadaran akan fitur-fitur estetis lainnya. Dalam bentuk yang paling tipikal, pengalaman ini merupakan persepsi indrawi atas objek alam atau karya seni. Pengalaman ini juga dapat mengambil bentuk lain, seperti imajinasi estetis[c] atas objek fiksi yang dideskripsikan dalam sastra.[26] Teori-teori internalis, seperti pandangan Monroe Beardsley, menjelaskan pengalaman estetis dari perspektif orang pertama, dengan berfokus pada aspek internal pengalaman tersebut, seperti fokus dan intensitas. Sebaliknya, teori eksternalis, seperti posisi George Dickie, berpendapat bahwa elemen kunci pengalaman estetis berasal dari objek eksternal yang dipersepsikan beserta sifat estetisnya.[27]

Beberapa fitur diasosiasikan dengan pengalaman estetis, namun apakah ada di antaranya yang bersifat esensial masih menjadi kontroversi. Pengalaman estetis biasanya mengapresiasi suatu objek demi objek itu sendiri karena sifat indrawinya, yang menghasilkan kenikmatan estetis dari evaluasi positif terhadap objek tersebut. Kenikmatan ini umumnya dikatakan terlepas dari kepentingan praktis dan dapat melibatkan keasyikan yang tidak mementingkan diri sendiri, yang memungkinkan kebebasan imajinatif atau permainan bebas fakultas mental selain persepsi indrawi. Beberapa teoretisi mengaitkan permainan bebas ini dengan ketiadaan aktivitas konseptual. Pengalaman estetis mungkin juga bersifat normatif, yang berarti bahwa respons tertentu dianggap tepat, seperti apresiasi positif terhadap keindahan, namun respons lain tidak, seperti apresiasi positif terhadap keburukan.[28]

Aspek sentral dari pengalaman estetis adalah sikap estetis—suatu cara khusus dalam mengamati atau terlibat dengan seni dan alam. Sikap ini melibatkan bentuk apresiasi murni terhadap kualitas perseptual yang terlepas dari hasrat pribadi dan kepentingan praktis. Sikap ini bersifat nirkepentingan (disinterested) dalam artian terlibat dengan suatu objek demi objek itu sendiri tanpa motif tersembunyi atau konsekuensi praktis.[d] Misalnya, pengalaman akan badai dahsyat melalui sikap estetis mungkin berfokus pada pola kilat dan guruh yang rumit alih-alih bersiap menghadapi bahaya langsungnya. Satu karakterisasi memahami sikap estetis sebagai bentuk pemahaman alami yang terjadi dengan sendirinya dalam situasi tertentu. Pandangan lain berpendapat bahwa sikap estetis adalah pendirian sukarela yang dapat dipilih orang untuk diterapkan terhadap objek apa pun.[30] Terdapat perdebatan mengenai sejauh mana dan jenis keterlibatan emosional apa yang dituntut oleh pendirian nirkepentingan, misalnya, apakah rasa takut selama menonton film horor bisa bersifat nirkepentingan.[31][e]

Sikap estetis terkadang dikontraskan dengan sikap lain, seperti sikap praktis, yang berkepentingan pada kegunaan dan berupaya memanfaatkan atau memanipulasi objek untuk mencapai tujuan tertentu. Demikian pula, sikap ini berbeda dengan sikap ilmiah, yang bertujuan menjelaskan fenomena dan memperoleh pengetahuan faktual tentang dunia.[30] Beberapa filsuf, seperti Arthur Schopenhauer dan Martin Heidegger, menyarankan bahwa sikap estetis dapat menyingkap aspek realitas yang tertutup dalam sikap-sikap lainnya.[33]

Pengalaman estetis lebih lanjut diasosiasikan dengan kenikmatan estetis—suatu bentuk kegembiraan dalam merespons keindahan alam dan artistik. Hal ini lazimnya dikarakterisasi sebagai kenikmatan nirkepentingan. Hal ini kontras dengan kenikmatan berkepentingan yang timbul dari kepuasan hasrat, seperti sukacita karena mencapai tujuan pribadi atau memanjakan diri dengan jenis makanan yang diidamkan. Perbedaan lainnya adalah bahwa kenikmatan estetis tidak bergantung pada eksistensi objek yang dinikmati, seperti menikmati keindahan matahari terbenam dalam mimpi. Sebaliknya, sukacita dalam mencapai tujuan pribadi akan sirna jika seseorang mengetahui bahwa pencapaian tersebut hanyalah mimpi.[34] Para filsuf seperti Immanuel Kant berpendapat bahwa kenikmatan estetis bersifat prakonseptual, yang berarti kenikmatan tersebut muncul dari permainan bebas antara imajinasi dan pemahaman, bukan dari penilaian kognitif atau analisis konseptual.[35] Satu pandangan membedakan kenikmatan estetis yang halus (terkultivasi) dari yang kasar berdasarkan apakah kenikmatan tersebut dipantik oleh selera yang terlatih atau respons insting yang serta-merta.[36]

Kenikmatan estetis merupakan hal sentral dalam karakterisasi banyak fenomena estetis yang dikatakan melibatkan atau memantik kenikmatan tersebut. Namun, pandangan bahwa kenikmatan estetis adalah karakteristik penentu dari seluruh ranah estetika masihlah kontroversial. Pandangan ini menghadapi tantangan dalam menjelaskan fenomena seperti yang sublim, drama, tragedi, dan bentuk-bentuk seni modern, yang mungkin memantik beragam emosi yang tidak terutama terkait dengan kenikmatan.[36]

Penilaian estetis dan selera

sunting
Lukisan cat minyak Immanuel Kant
Dalam bukunya tahun 1790 Kritik atas Daya Nilai, Immanuel Kant berargumen bahwa penilaian estetis bersifat subjektif, universal, nirkepentingan, dan melibatkan permainan indra, imajinasi, dan pemahaman.[37]

Penilaian estetis adalah asesmen terhadap fitur dan nilai estetis suatu objek, yang diekspresikan dalam pernyataan seperti "musik ini indah". Penilaian ini dapat berlaku baik untuk objek alam maupun karya seni. Penilaian estetis juga mencakup asesmen tentang bagaimana atau mengapa suatu objek memiliki nilai estetis tanpa secara eksplisit menentukan nilai estetis keseluruhannya, seperti dalam pernyataan "musik ini seimbang". Banyak perdebatan dalam estetika menyangkut hakikat penilaian estetis, khususnya, apakah penilaian tersebut bisa seobjektif dan seuniversal penilaian empiris yang dibuat oleh ilmuwan alam. Kaum subjektivis berpendapat bahwa penilaian estetis mengekspresikan perasaan dan ketidaksukaan pribadi tanpa validitas universal. Pandangan ini ditentang oleh kaum objektivis, yang berpendapat bahwa penilaian estetis mendeskripsikan fitur objektif yang independen dari preferensi khusus individu yang menilai. Pandangan menengah menyarankan bahwa standar penilaian estetis berlandaskan pada disposisi bersama yang stabil, bukan preferensi individu yang berubah-ubah, yang menghasilkan bentuk universalitas subjektif.[38] Posisi ini tercermin dalam pandangan Kant, yang mengidentifikasi empat fitur inti penilaian estetis: bersifat subjektif, universal, nirkepentingan, dan melibatkan permainan indra, imajinasi, dan pemahaman.[37]

Para filsuf seperti Francis Hutcheson dan David Hume berpendapat bahwa terdapat prinsip estetis umum atau kriteria universal yang diterapkan ketika membuat penilaian estetis. Kaum partikularis, sebaliknya, menegaskan bahwa sifat unik dari setiap objek estetis menuntut evaluasi kasus per kasus yang tidak dapat sepenuhnya dimasukkan ke dalam prinsip-prinsip umum.[39] Perdebatan terkait antara rasionalisme dan tesis kesegeraan menyangkut apakah penilaian estetis dimediasi melalui penerapan konsep dan penalaran atau muncul langsung dari intuisi indrawi.[40]

Penilaian estetis bergantung pada selera,[f] yang merupakan kepekaan terhadap kualitas estetis, kapasitas untuk merasakan kenikmatan estetis, atau kemampuan untuk membedakan keindahan dan kualitas estetis lainnya. Selera adalah jenis preferensi yang diekspresikan dalam reaksi langsung dan terkadang dipahami sebagai indra batin atau fakultas kognitif. Perbedaan selera sering digunakan untuk menjelaskan mengapa orang tidak sepakat mengenai penilaian estetis dan mengapa penilaian sebagian orang, seperti kritikus seni dengan pengalaman luas dan rasa yang terlatih, memiliki bobot lebih daripada pengamat biasa. Selera bervariasi baik antarbudaya maupun antarindividu dalam satu budaya.[g] Terdapat pula beberapa kesepakatan lintas budaya. Sejumlah filsuf berpendapat bahwa selera dapat dipelajari sampai batas tertentu dan bahwa penilaian pengamat yang berpengalaman mengikuti standar yang sama, yang menyiratkan adanya norma sosial mengenai asesmen estetis yang benar dan salah.[44]

Istilah "universal estetis" merujuk pada aspek selera dan fenomena estetis lain yang dimiliki bersama lintas budaya dan masyarakat yang berbeda, yang mengindikasikan fitur umum kodrat manusia yang mendasari estetika. Kecenderungan umum yang disarankan meliputi disposisi untuk terlibat dalam ekspresi artistik atau untuk memperoleh kenikmatan estetis dari mengapresiasi ekspresi tersebut. Eksistensi kecenderungan bersama yang lebih spesifik masih diperdebatkan. Salah satu contohnya adalah gagasan bahwa manusia umumnya menganggap lanskap mirip sabana dengan padang rumput terbuka dan pepohonan yang tersebar itu menyenangkan.[45]

Seni

sunting

Seni merupakan topik sentral dalam estetika dan subjek utama dari filsafat seni. Bidang ini mencakup beragam bentuk, termasuk seni lukis, seni patung, musik, tari, sastra, dan teater. Bidang ini meliputi karya seni serta keterampilan atau aktivitas yang terlibat dalam penciptaannya. Karya seni adalah artefak atau pertunjukan yang umumnya diciptakan oleh manusia. Dalam hal ini, karya seni berbeda dari objek estetis yang terjadi secara alami, seperti lanskap dan matahari terbenam.[46]

Definisi

sunting

Perdebatan sentral dalam filsafat seni menyangkut definisi seni atau bagaimana membedakannya dari non-seni.[47] Terdapat banyak teori, yang masing-masing menawarkan perspektif unik mengenai hakikat seni.[48]

Foto hitam putih urinoar porselen bertanda tangan "R. Mutt"
Definisi konvensionalis mengenai seni menegaskan bahwa seni adalah kategori yang dikonstruksi secara sosial. Definisi ini menjelaskan bahwa objek siap pakai (readymade) seperti Fountain karya Marcel Duchamp dianggap sebagai seni dengan merujuk pada konvensi yang mapan.[49]

Pendekatan esensialis berargumen bahwa terdapat suatu esensi atau serangkaian fitur inheren yang dimiliki bersama oleh semua karya seni dan hanya oleh karya seni tersebut.[48] Pendekatan ini sering kali mendefinisikan karya seni dalam kerangka konsep estetis lain, seperti representasi, keindahan, atau pengalaman estetis. Sebuah pendekatan awal yang berpusat pada objek, yang pertama kali diajukan oleh Plato, mengarakterisasi karya seni sebagai representasi yang berupaya merefleksikan atau meniru aspek-aspek tertentu dari realitas.[50] Definisi lain menyarankan bahwa karya seni adalah objek yang dirancang untuk memantik pengalaman atau kenikmatan estetis. Pendekatan terkait mengusulkan bahwa semua karya seni memiliki sifat estetis tertentu yang sama, seperti keindahan.[51] Formalisme estetis berpendapat bahwa fitur formal yang spesifik, seperti "bentuk bermakna" (significant form), adalah ciri khas seni.[52] Pendekatan yang berpusat pada seniman memandang aktivitas artistik sebagai aspek esensial dari karya seni. Satu konsepsi memahami karya seni sebagai wahana khusus tempat seniman mengekspresikan emosi dan keadaan mental lainnya.[53]

Definisi konvensionalis memandang seni sebagai kategori yang dikonstruksi secara sosial. Ini berarti bahwa seni tidak terutama bergantung pada sifat inheren objek, misalnya, apa yang direpresentasikannya atau bentuk apa yang dimilikinya. Alih-alih, seni didefinisikan oleh kesepakatan sosial dan budaya, yang dapat berubah sewaktu-waktu. Motivasi utama pendekatan ini adalah kemunculan seni modern, yang telah menantang banyak konsepsi terdahulu. Definisi konvensionalis dapat menjelaskan, misalnya, bahwa bahkan objek siap pakai yang biasa seperti sebuah urinoar pun dianggap sebagai seni jika konvensi menyatakan demikian. Teori institusional berpendapat bahwa konvensi tersebut ditetapkan oleh institusi sosial dunia seni. Karena ketergantungan sosial ini, sebuah objek yang dianggap seni dalam satu masyarakat mungkin bukan seni dalam masyarakat lain. Teori historis, bentuk lain dari konvensionalisme, menegaskan bahwa kategori seni bergantung pada tradisi yang mapan dan konteks sejarah. Teori ini mengklaim bahwa sebuah objek menjadi bagian dari kategori ini jika objek tersebut memiliki hubungan yang tepat dengan tradisi-tradisi ini, misalnya, dengan diciptakan dalam konteks artistik dan menyerupai karya seni lain yang diakui.[54]

Terdapat pula teori hibrida yang menggabungkan elemen-elemen dari teori lain. Misalnya, satu pendekatan berpendapat bahwa sebuah objek adalah karya seni jika objek tersebut memenuhi standar estetis tertentu atau secara konvensional dianggap sebagai seni.[55] Keragaman definisi yang diajukan[h] serta kesulitan dalam menyelaraskannya telah membuat beberapa filsuf berargumen menentang adanya kriteria yang tepat. Beberapa menyimpulkan bahwa definisi [seni] sama sekali tidak mungkin. Yang lain memberikan karakterisasi yang samar, dengan menyarankan bahwa ranah seni dicirikan oleh kemiripan yang tumpang tindih, yang dikenal sebagai kemiripan keluarga.[58]

Ontologi dan kategori

sunting

Ontologi seni berupaya membedakan kategori ada (categories of being) fundamental tempat bernaungnya semua karya seni.[i] Satu pendekatan berpendapat bahwa karya seni adalah universal—entitas umum atau yang dapat diulang yang dapat memiliki beberapa instansi (wujud) pada saat yang bersamaan. Sebagai contoh, sebuah novel dapat memiliki banyak salinan, sebuah film dapat memiliki banyak penayangan, dan sebuah foto dapat memiliki banyak cetakan. Salah satu versi pandangan ini membedakan karya seni sebagai tipe dari instansinya, yang dianggap sebagai token dari tipe tersebut. Pandangan berbeda menolak gagasan bahwa karya seni adalah universal, dan justru berpendapat bahwa karya seni adalah partikular atau entitas konkret yang unik. Bagi mereka, jika terdapat beberapa instansi, maka karya seni tersebut adalah kumpulan atau jumlah dari semua instansi. Menurut pandangan ini, foto karya Alfred Stieglitz, The Steerage, bukanlah sebuah tipe yang mendasari cetakan-cetakannya, melainkan kumpulan atau jumlah dari seluruh cetakannya.[60]

Diskusi serupa membahas apakah karya seni adalah objek material, yang eksis secara independen dari pengamat, atau objek intensional, yang eksis dalam pengalaman pengamat.[61] Kaum pluralis berpendapat bahwa berbagai jenis karya seni tergolong dalam kategori ontologis yang berbeda.[j] Kaum kontekstualis menerima pandangan ini dan lebih jauh mengusulkan bahwa kategori ontologis bergantung pada konteks diskusi.[64] Deflasionisme bersikap skeptis mengenai eksistensi fundamental karya seni dalam bentuk apa pun. Paham ini mengakui bahwa istilah seni mungkin berguna secara praktis dalam bahasa sehari-hari namun menolak bahwa istilah tersebut merujuk pada entitas realitas yang fundamental.[65]

Foto berbagai tabung cat minyak
Beberapa kategorisasi bentuk seni berfokus pada media yang digunakan untuk mengekspresikan ide artistik, seperti penggunaan cat minyak.[66]

Karya seni dikategorikan dengan banyak cara. Beberapa pembedaan berfokus pada media yang digunakan untuk mengekspresikan ide artistik. Sebagai contoh, lukisan biasanya menggunakan cat, seperti cat minyak atau cat akrilik, yang disapukan pada permukaan, sedangkan tari melibatkan gerakan tubuh. Demikian pula, musik dimainkan menggunakan instrumen dan suara untuk menghasilkan bunyi, dan sastra bergantung pada bahasa. Bentuk hibrida seperti opera dan film menggabungkan beberapa elemen ini.[66] Pembedaan lainnya adalah antara karya pertunjukan dan karya objek. Karya pertunjukan, seperti lagu yang dibawakan di atas panggung, dipentaskan secara dinamis dalam waktu, sedangkan karya objek, seperti lukisan, memiliki sifat yang lebih statis.[67] Karya seni juga dapat diklasifikasikan berdasarkan gaya sejarah seni, seperti impresionisme dan surealisme, serta berdasarkan tujuan yang dimaksudkan, seperti seni politik dan seni religius.[68]

Makna

sunting

Makna karya seni adalah apa yang terlibat dalam memahaminya atau mengerti apa yang dikomunikasikannya, mencakup faktor-faktor seperti representasi dan ekspresi. Aspek-aspek makna tertentu mungkin dapat diakses secara langsung; yang lain memerlukan interpretasi mendalam, misalnya, untuk menangkap elemen simbolis atau metaforis. Pemahaman memengaruhi pengalaman estetis, dan untuk karya seni tertentu, pemahaman yang komprehensif mungkin diperlukan untuk mengapresiasinya secara utuh.[69] Salah satu pendekatan dalam analisis makna adalah pembedaan antara bentuk dan isi. Isi merujuk pada apa yang disajikan, seperti topik yang digambarkan, gagasan yang diekspresikan, dan pesan konseptual. Bentuk merujuk pada bagaimana isi tersebut disajikan, seperti media, teknik, komposisi, dan gaya. Bentuk mencakup mode penyajian dalam berbagai bentuk seni, seperti warna dan penataan spasial dalam lukisan, harmoni dan ritme dalam musik, serta suara naratif dan struktur alur dalam sastra.[70]

Representasi dan ekspresi

sunting
Lukisan cat minyak seseorang yang menjerit dengan latar belakang langit oranye
Emosi yang diekspresikan karya seni merupakan topik sentral dalam filsafat seni, seperti perasaan keterasingan dan kecemasan eksistensial dalam lukisan karya Edvard Munch tahun 1893, The Scream (Jeritan).[71]

Representasi adalah penggambaran entitas nyata atau imajiner. Sebagai contoh, sebuah lukisan potret merepresentasikan seseorang, dan sebuah novel fantasi merepresentasikan rangkaian peristiwa imajiner. Kemiripan adalah elemen krusial dalam banyak bentuk representasi artistik, yang berarti bahwa karya seni tersebut menyerupai entitas yang digambarkan. Representasi juga dapat terjadi melalui cara lain, seperti simbol konvensional dan kode-kode yang mapan. Hal ini terutama lazim dalam bentuk dan gaya seni tertentu, seperti seni klasik dan realisme. Sejak antikuitas, representasi telah menjadi konsep kunci dalam teori seni, seperti gagasan Plato yang mendefinisikan seni sebagai imitasi (peniruan). Namun, masih menjadi kontroversi apakah representasi memainkan peran sentral dalam semua bentuk seni, termasuk musik[k] dan seni modern abstrak.[73]

Ekspresi adalah penyampaian keadaan psikologis, seperti emosi, suasana hati, dan sikap. Sebagai contoh, seorang pelukis mungkin menggambarkan lanskap gersang dengan warna-warna redup untuk mengekspresikan kesedihan, dan seorang musisi mungkin menggunakan tempo cepat dan melodi yang riang untuk menyampaikan kegembiraan. Keadaan mental yang diekspresikan sering kali selaras dengan pengalaman pribadi seniman. Namun, hal ini tidak selalu demikian, dan seniman dapat mengeksplorasi keadaan psikologis yang mereka amati pada orang lain atau pengalaman yang sepenuhnya fiksi. Sebuah karya seni dapat mengekspresikan keadaan mental seperti kesedihan dengan memantiknya dalam pengalaman audiens. Secara alternatif, ekspresi juga dapat terjadi jika pengamat mengenali adanya kesedihan dalam karya seni tersebut meskipun mereka tidak secara pribadi merasakannya. Teori ekspresi menganggap ekspresi sebagai fitur inti dari karya seni. Teori ini mengarakterisasi karya seni sebagai ekspresi pikiran seniman, dengan berfokus pada kreativitas dan orisinalitas dalam manifestasi pengalaman estetis.[74]

Interpretasi dan kritik

sunting
Lukisan ruangan besar dengan beberapa orang, termasuk seorang gadis bergaun putih di tengahnya
Interpretasi berupaya menyingkap makna karya seni, seperti signifikansi kanvas dan cermin yang ditampilkan dalam lukisan Diego Velázquez tahun 1656, Las Meninas.[75]

Proses interpretasi adalah upaya untuk menyingkap[l] makna sebuah karya seni untuk memahami signifikansi dan nilainya. Dalam pengertian terluas, interpretasi mencakup segala cara pemberian makna, termasuk deskripsi gamblang mengenai entitas yang digambarkan dan penjelasan makna kata literal. Dalam filsafat seni, istilah ini biasanya digunakan dalam pengertian yang lebih sempit untuk pemberian makna yang melibatkan analisis mendalam dan pemikiran kreatif, seperti pemeriksaan terhadap kanvas dan cermin yang ditampilkan dalam lukisan Diego Velázquez tahun 1656, Las Meninas, untuk mengeksplorasi hubungan antara pelukis, penonton, dan topik yang digambarkan. Interpretasi bertujuan menemukan aspek-aspek mendasar yang relevan dengan pemahaman dan apresiasi karya seni.[75] Istilah interpretasi dan kritik terkadang digunakan secara bergantian. Namun, kritik biasanya diasosiasikan dengan komponen yang lebih banyak, seperti deskripsi umum tentang karya seni yang dikritik serta klasifikasi gaya dan genre. Kritik juga menjelaskan latar belakang sejarah seni serta mengevaluasi kualitas positif dan negatifnya.[77]

Para kritikus terkadang mengajukan interpretasi yang saling bertentangan atas karya seni yang sama. Menurut monisme kritis, hanya ada satu interpretasi komprehensif yang benar, yang menyiratkan bahwa interpretasi yang bertentangan tidak mungkin sama-sama benar. Pluralisme kritis, sebaliknya, menegaskan bahwa bisa terdapat interpretasi yang berbeda namun sama-sama valid dan bahwa tidak selalu mungkin untuk menentukan mana yang lebih unggul di antara dua interpretasi yang bertentangan. Perdebatan serupa membahas apakah interpretasi dapat bernilai benar atau salah dalam pengertian objektif.[78]

Beberapa kerangka interpretasi telah diusulkan. Menurut intensionalisme, makna karya seni ditentukan oleh maksud pengarang—alasan dan motif mereka yang mengarah pada penciptaan karya seni tersebut.[m] Hal ini biasanya melibatkan analisis terhadap gagasan yang ingin diekspresikan oleh seniman tetapi juga dapat mencakup analisis biografi untuk mempelajari keadaan psikologis dan sosial dalam kehidupan seniman.[80]

Intensionalisme adalah teori kontroversial, yang disebut sebagai intentional fallacy (sesat pikir intensional) oleh para kritikusnya. Beberapa keberatan menunjuk pada kasus di mana maksud pengarang tidak dapat diketahui, di mana pengarang tidak dapat diidentifikasi, atau di mana tidak ada pengarang tradisional, seperti dalam karya seni yang diciptakan oleh kecerdasan buatan. Dalam kasus-kasus ini, makna akan menjadi tidak dapat diakses atau tidak ada sama sekali.[n] Keberatan lain menegaskan bahwa seorang seniman mungkin gagal mengekspresikan maksud mereka secara akurat atau mungkin memanifestasikan fitur estetis yang tidak disengaja, yang menyiratkan bahwa sebuah karya seni dapat memuat hal yang kurang maupun lebih dari yang dimaksudkan seniman.[82]

Sebuah alternatif bagi intensionalisme berpendapat bahwa makna ditentukan oleh konvensi artistik, stilistik, linguistik, dan budaya lainnya. Sebagai contoh, konvensi linguistik menentukan makna literal kata-kata dan dengan demikian memengaruhi makna keseluruhan sebuah puisi. Kerangka kerja lain berpendapat bahwa makna dibentuk oleh bagaimana audiens, bukan pengarang, menafsirkan atau akan menafsirkan maksud yang mendasari karya tersebut.[83] Formalisme artistik mengusulkan pendekatan yang berbeda dengan memfokuskan interpretasi secara eksklusif pada fitur formal atau perseptual karya seni.[84]

Estetisisme dan instrumentalisme adalah teori-teori mengenai nilai seni. Estetisisme menegaskan bahwa nilai utama seni terletak pada bobot estetis intrinsiknya, terlepas dari tujuan eksternal apa pun. Gagasan tentang otonomi seni ini diekspresikan dalam slogan "seni untuk seni". Bentuk estetisisme yang kuat tidak hanya mengabaikan tujuan eksternal tetapi juga melihatnya sebagai pengaruh merugikan yang merusak integritas artistik. Instrumentalisme, sebaliknya, menjelaskan nilai seni berdasarkan efek yang dimilikinya pada ranah lain. Teori ini memahami seni sebagai sarana untuk hal-hal seperti pendidikan moral, pertumbuhan spiritual, manfaat terapeutik, dan kohesi sosial.[85]

Seni individual

sunting

Seni individual adalah praktik atau disiplin dalam ranah seni. Bidang ini mencakup cakupan yang luas, termasuk bentuk-bentuk yang telah mapan secara tradisional seperti seni lukis, musik, dan sastra, serta jenis-jenis yang lebih baru seperti permainan video.[86] Salah satu klasifikasi membaginya menjadi seni rupa, seni sastra, dan seni pertunjukan. Batas-batas antara kategori-kategori ini tidak selalu jelas, dan klasifikasi alternatif telah diusulkan.[87]

Foto wanita Afrika yang sedang menari
Seni tari adalah seni pertunjukan yang melibatkan serangkaian gerakan tubuh.[88]

Seni lukis adalah seni rupa di mana seorang pelukis menyapukan warna pada suatu permukaan. Seni ini memungkinkan beragam motif dan gaya, dan sering kali dianggap sebagai bentuk paradigma seni.[89] Representasi entitas nyata memainkan peran sentral dalam banyak bentuk seni lukis, mulai dari lanskap dan manusia hingga peristiwa bersejarah. Proses ini melibatkan pilihan artistik yang melampaui replikasi sederhana, seperti mengarahkan perhatian pemirsa ke aspek tertentu atau menyoroti fitur penting namun mudah terlewatkan.[90] Masalah representasi juga krusial dalam fotografi, sebuah seni rupa yang dibentuk oleh perkembangan teknologi dalam desain kamera dan proses penyuntingan. Topik kunci dalam filsafat fotografi menyangkut cara mekanisnya dalam merepresentasikan objek nyata secara autentik, yang sering kali menarik kesejajaran dan pembedaan dengan seni lukis. Status foto sebagai karya seni sejati diperdebatkan, di mana para kritikus berpendapat bahwa sifat mekanis dalam pengambilan gambar tidak memiliki kreativitas artistik yang diperlukan.[91]

Musik adalah seni pertunjukan di mana bunyi dikombinasikan untuk menciptakan pola estetis, dengan mengandalkan aspek-aspek seperti melodi dan ritme. Tidak seperti seni lukis dan fotografi, musik biasanya kurang diasosiasikan dengan representasi objektif dan lebih terkait erat dengan ekspresi emosi.[o] Diskusi kunci dalam filsafat musik menyangkut definisi musik atau kriteria yang menentukan apakah kombinasi bunyi memenuhi syarat sebagai musik. Usulannya berkisar dari kriteria objektif, seperti pola pengorganisasian bunyi, hingga kriteria subjektif, yang berfokus pada pengalaman dan interpretasi audiens.[94] Tari adalah seni pertunjukan lain di mana penari menciptakan pola estetis melalui serangkaian gerakan tubuh, yang sering kali mengikuti sebuah koreografi. Tarian biasanya diiringi musik dan, seperti halnya musik, menekankan pada fitur ekspresif.[88]

Foto Sagrada Família, katedral dengan menara tinggi nan rumit dan fasad mendetail
Arsitektur adalah seni yang umumnya menggabungkan tujuan estetis dan fungsional, seperti Sagrada Família karya Antoni Gaudí.[95]

Arsitektur adalah seni atau kriya merancang dan membangun, yang mencakup beragam struktur mulai dari monumen dan katedral hingga pencakar langit dan rumah tinggal. Arsitektur biasanya menggabungkan tujuan estetis dengan fungsional, berupaya menciptakan bangunan yang menarik secara visual sekaligus berguna secara praktis. Sifat ganda ini merupakan topik sentral dalam filsafat arsitektur, di mana satu teori menyarankan bahwa sekadar bangunan dapat dibedakan dari arsitektur artistik melalui keberadaan elemen dekoratif.[95] Seni patung adalah bentuk seni lain yang, seperti arsitektur, melibatkan penciptaan karya tiga dimensi. Patung biasanya merupakan objek statis yang terbuat dari material kokoh seperti batu, logam, dan kayu, namun bisa juga menyertakan elemen dinamis, seperti halnya patung kinetik. Diskusi kunci dalam filsafat seni patung membahas definisi, aspek representasional, dan fitur estetis patung serta pengaruh material yang dipilih.[96]

Sastra menjadikan bahasa sebagai media utamanya. Dalam pengertian terluasnya, sastra mencakup segala dokumen tertulis. Namun, istilah ini biasanya digunakan dalam pengertian yang lebih sempit dalam estetika untuk bentuk tulisan yang tergolong dalam seni tinggi, seperti puisi, novel, dan drama. Sastra sebagai seni sering kali dikarakterisasi oleh penggunaan bahasa yang sengaja, rumit, dan terorganisasi, namun tidak ada demarkasi yang diterima secara universal antara sastra artistik dan bentuk tulisan lainnya.[97] Puisi adalah bentuk sastra tersendiri yang sering ditulis dalam bait yang terdiri dari beberapa baris yang mungkin mengikuti pola tertentu, seperti matra dan persajakan. Banyak puisi dikarakterisasi oleh penggunaan bahasa yang hemat yang berupaya memantik pengalaman spesifik sekaligus sulit untuk diparafrasa.[98]

Teater adalah seni pertunjukan yang menggabungkan elemen dari bentuk seni lain. Teater biasanya menyertakan set atau panggung yang disiapkan secara cermat tempat aktor tampil, umumnya dengan memasukkan penceritaan dan desain suara untuk menciptakan pengalaman imersif. Teater dipentaskan di hadapan audiens langsung, yang dapat menciptakan rasa kesegeraan yang kurang lazim dalam bentuk seni terkait, seperti film.[99] Film juga mengintegrasikan aspek dari beberapa disiplin artistik namun lebih bergantung pada sarana teknologi perekaman dan penyuntingan. Film dapat melibatkan aktor tetapi juga bisa menyertakan karakter animasi atau mendokumentasikan peristiwa kehidupan nyata. Film umumnya merupakan hasil upaya kolaboratif banyak orang, yang mempersulit identifikasi pengarang tunggal dalam pengertian tradisional.[100]

Permainan video adalah bentuk seni yang lebih baru. Seperti teater dan film, permainan video biasanya memadukan elemen visual, auditori, dan naratif. Bentuk ini biasanya menonjol melalui penekanannya pada interaksi pemain, yang memungkinkan eksplorasi aktif dan keterlibatan dengan dunia permainan.[101] Status film dan permainan video sebagai bentuk seni yang serius masih diperdebatkan. Para pendukungnya cenderung menekankan kualitas estetisnya; para kritikus sering menunjuk pada asosiasinya dengan produksi massal dan budaya populer sebagai argumen tandingan.[102] Untuk permainan video, perdebatan terkait berpusat pada elemen kompetisi dan kemenangan, dengan mempertanyakan apakah elemen-elemen ini bertentangan dengan semangat seni.[101]

Dalam berbagai bidang

sunting

Fenomena estetis diselidiki dalam berbagai bidang. Sejumlah area mengkaji hubungan antara estetika dan cabang filsafat lainnya atau membandingkan tradisi artistik yang berbeda; area lain menelaah elemen estetis dalam kehidupan sehari-hari atau melakukan penyelidikan ilmiah menggunakan metode empiris.[103][p]

Etika

sunting

Etika adalah cabang filsafat yang mempelajari fenomena moral secara umum dan perilaku benar secara khusus. Karya seni dapat memiliki konsekuensi etis dengan memengaruhi cara orang merasakan, mempersepsikan, dan mengevaluasi keadaan mereka. Sebagai contoh, karya seni dapat mengagungkan kekerasan dan memperkuat bias, sama halnya seperti karya seni dapat mengilhami empati dan menantang norma masyarakat. Akibatnya, seni juga relevan dengan bidang politik karena dapat mengarahkan sentimen politik untuk melegitimasi otoritas atau memobilisasi perlawanan, sehingga memengaruhi sikap pemilih. Karya seni juga dapat mengeksplorasi topik yang relevan secara moral tanpa mengekspresikan evaluasi positif atau negatif yang jelas, seperti novel yang menelaah dilema etis tanpa memihak satu solusi di atas yang lain.[105]

Karena etika maupun estetika berurusan dengan nilai, para filsuf berupaya memperjelas hubungan antara nilai moral dan nilai estetis, dengan mengajukan beberapa teori mengenai interaksi keduanya.[106] Etisisme menegaskan bahwa nilai moral suatu karya seni dapat meningkatkan nilai estetisnya, sementara cacat etis dapat merusak bobot artistiknya. Pandangan ini dibalik oleh imoralisme, yang menyarankan bahwa dalam kasus tertentu, keburukan moral justru meningkatkan pengalaman estetis. Otonomisme menolak kedua posisi tersebut, dengan berargumen bahwa ranah evaluasi ini bersifat independen.[107]

Psikologi dan bidang terkait

sunting

Pendekatan ilmiah yang berakar pada psikologi dan bidang-bidang terkait menggunakan metode empiris untuk melakukan penyelidikan dan menjustifikasi hipotesis.[108] Psikologi estetika mengkaji proses mental yang terlibat dalam persepsi dan apresiasi keindahan serta seni, dengan menggunakan metode seperti eksperimentasi, observasi, dan survei.[109]

Estetika eksperimental merupakan pendekatan awal dan berpengaruh yang dipelopori oleh Gustav Fechner. Pendekatan ini mengikuti metodologi bottom-up (bawah-ke-atas) yang bermula dari sensasi manusia, menyelidiki preferensi terhadap stimulus fisik sederhana, seperti warna dan bentuk dasar.[110] Psikologi Gestalt bertumpu pada pandangan yang lebih holistik, yang menelaah bagaimana komposisi dan penempatan objek memengaruhi pengalaman estetis, seperti hubungan antara organisasi yang seimbang dan rasa tenang. Beberapa karya, seperti pendekatan Daniel Berlyne, mengalihkan fokus dari persepsi ke emosi, dengan menyarankan bahwa fitur-fitur seperti kebaruan dan kompleksitas menyebabkan kegairahan (arousal) dan bahwa tingkat kegairahan yang tepat itu menyenangkan.[111]

Analisis psikologis juga menelaah struktur temporal pengalaman estetis atas seni. Satu pandangan mengidentifikasi dua fase: kesan awal di mana pengamat membentuk gagasan umum kasar mengenai topik, struktur, dan makna karya seni, diikuti oleh analisis fokal terhadap fitur-fitur yang lebih spesifik.[112] Penelitian lebih lanjut mengeksplorasi bagaimana keadaan memengaruhi pengalaman estetis, seperti kontras antara menjumpai lukisan di museum atau di pusat perbelanjaan. Bersamaan dengan keadaan fisik, faktor sosial dan pribadi juga memengaruhi pengalaman estetis, seperti dinamika kelompok, pengetahuan sebelumnya, dan motivasi untuk mencari pengalaman tersebut.[113]

Foto lanskap dengan rerumputan, pepohonan, dan langit biru berawan
Psikologi evolusioner mengkaji fungsi evolusioner dari sensitivitas estetis, seperti preferensi terhadap lingkungan yang kondusif bagi kelangsungan hidup, seperti lanskap yang menyerupai sabana Afrika.[114]

Psikologi evolusioner menganalisis fenomena mental sebagai produk seleksi alam. Bidang ini menegaskan bahwa variasi genetik yang bertanggung jawab atas kapasitas baru diteruskan ke generasi mendatang jika variasi tersebut meningkatkan kelangsungan hidup dan reproduksi. Dengan mengadopsi pendekatan ini, estetika evolusioner menafsirkan keindahan dan pengalaman estetis lainnya sebagai ciri adaptif yang memandu preferensi yang relevan dengan kebugaran (fitness).[115] Contohnya adalah preferensi estetis terhadap lingkungan yang kondusif bagi kelangsungan hidup, seperti lanskap yang menyerupai sabana Afrika, dan seleksi seksual dengan mengidentifikasi pasangan yang bugar secara genetis.[116] Dengan berfokus pada kodrat biologis manusia yang relatif permanen, psikologi evolusioner memandang nilai estetis sebagai pola selera dan apresiasi yang universal atau transkultural, kontras dengan teori subjektivis yang memahami nilai estetis sebagai konstruksi budaya.[114]

Neuroestetika menerapkan wawasan dan metode ilmu saraf untuk mempelajari hubungan antara aktivitas otak dan pengalaman estetis. Pengalaman estetis muncul dari proses otak yang bertanggung jawab untuk mengorganisasikan stimulus indrawi, membentuk interpretasi kognitif, dan menghasilkan respons emosional. Neuroestetika menelaah proses-proses ini menggunakan metode empiris, termasuk teknik neuroimaging seperti fMRI. Dalam satu jenis eksperimen, partisipan melihat karya seni, beberapa dianggap indah dan yang lain buruk, dengan peneliti mencatat bahwa area otak yang dikenal sebagai korteks orbitofrontal lebih aktif ketika melihat lukisan yang indah.[117]

Sains kognitif, bidang lainnya, menggunakan pendekatan interdisipliner untuk mempelajari fenomena mental dengan menelaah bagaimana fenomena tersebut mengakses dan mengubah informasi. Sebuah teori berpengaruh, yang disarankan oleh Ernst Gombrich, menganalisis pengalaman estetis melalui interaksi proses informasi tingkat rendah dan tingkat tinggi: proses indrawi menyediakan informasi tingkat rendah, yang diorganisasikan dan ditafsirkan menggunakan pengetahuan latar belakang konseptual tingkat tinggi.[118] Pendekatan lain menganalisis representasi estetis melalui modularitas pikiran—hipotesis bahwa pikiran terdiri dari modul-modul mental yang berfungsi secara independen. Pendekatan ini berargumen bahwa lukisan merepresentasikan objek nyata dengan memicu modul mental yang sama yang bertanggung jawab atas pengenalan objek-objek tersebut.[119]

Estetika komparatif

sunting

Estetika komparatif mengkaji beragam tradisi estetis, menganalisis persamaan dan perbedaan dalam standar keindahan serta pendekatan teoretisnya.[120] Sebagai contoh, fokus dalam estetika Barat pada seni tinggi dan pemisahannya dari urusan sehari-hari tidaklah umum dalam sebagian besar tradisi lain. Dalam tradisi-tradisi tersebut, seni biasanya terintegrasi erat dengan fungsi praktis dalam kehidupan sehari-hari, termasuk agama dan pendidikan moral.[121] Perbedaan artistik antar tradisi juga mencakup media yang dominan, gaya umum, dan motif yang dipilih.[122]

Perbandingan produk budaya dari tradisi yang berbeda menghadirkan tantangan konseptual yang terkait dengan konsep estetis dan standar evaluasi yang spesifik pada tradisi tertentu. Penerapan standar dari satu tradisi secara tidak kritis untuk mengevaluasi karya dari tradisi lain dapat mengakibatkan imperialisme budaya.[123] Pada saat yang sama, perbedaan-perbedaan ini memberikan peluang bagi seniman dan filsuf untuk menggabungkan elemen-elemen baru dan mengeksplorasi perspektif yang segar.[122]

Estetika India menarik hubungan yang erat antara aktivitas artistik dan praktik keagamaan. Estetika ini berargumen bahwa ekspresi artistik adalah usaha spiritual yang harus diinformasikan oleh pengetahuan tentang diri dan realitas, mengekspresikan pengabdian kepada ilahi, dan menghindari kemelekatan pada hasil aktivitas.[124] Estetika tradisional India menganalisis seni dalam kerangka emosi dasar kehidupan, yang disebut rasa, seperti sukacita, humor, kesedihan, dan kemarahan. Pandangan ini melihat seni sebagai permainan yang meniru realitas dengan menyampaikan pengalaman rasa-rasa tersebut. Fokusnya adalah pada ekspresi universal kehidupan emosional manusia alih-alih perasaan spesifik perorangan. Aliran pemikiran ini mengidentifikasi kreativitas artistik sebagai kemampuan untuk memanfaatkan potensi penuh dari media, seperti warna, suara, dan kata-kata, untuk menyampaikan pengalaman universal. Bagi audiens, aliran ini merekomendasikan sikap estetis yang dicirikan oleh jarak psikis dari keprihatinan pribadi untuk melampaui diri personal dan menjadi reseptif terhadap elemen-elemen universal.[125]

Lukisan lanskap berbukit bersama dengan puisi di area kanan atas
Estetika Tionghoa memberikan penekanan khusus pada puisi, seni lukis, dan kaligrafi. Ketiganya dikenal sebagai tiga kesempurnaan dan terkadang digabungkan dalam satu karya seni tunggal, seperti dalam Landscape after Night Rain Shower karya Kun Can.[126]

Estetika Tionghoa menekankan sifat spontan dari kreativitas artistik dan hubungannya dengan ranah moral dan spiritual. Estetika ini berargumen bahwa seni harus memupuk keharmonisan dalam masyarakat dan selaras dengan tatanan alam semesta. Dalam peran ini, seni adalah ekspresi diri sekaligus kultivasi diri yang bertujuan untuk memajukan kesejahteraan sosial.[127] Fokus utama estetika Tionghoa adalah pada puisi, seni lukis, dan kaligrafi, yang dikenal sebagai tiga kesempurnaan.[128] Tradisi ini memengaruhi estetika Jepang, yang dicirikan oleh ketertarikannya pada alam. Gaya seni yang berbeda dalam tradisi ini dibentuk oleh pandangan keagamaan, khususnya Shinto dan Buddhisme. Teori seni Jepang menekankan keterkaitan antara pengalaman seniman dan respons audiens.[129]

Filsuf Islam memandang seni sebagai sarana untuk mengomunikasikan kebenaran filosofis dan religius, membuatnya dapat diakses oleh masyarakat umum tanpa memerlukan pemikiran teoretis yang abstrak. Pemikir seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina berargumen bahwa imajinasi, bukan penalaran, yang mendasari penciptaan dan apresiasi artistik. Menurut pandangan ini, seni meniru realitas dan memantik emosi untuk menyampaikan kebenaran yang mendasarinya serta memengaruhi perilaku secara positif.[130] Ajaran agama memainkan peran sentral dalam estetika Islam. Sebagai contoh, keyakinan bahwa Allah itu transenden dan tak terbatas telah menghasilkan penghindaran terhadap penggambaran figuratif dan penekanan pada bentuk seni abstrak.[131][q]

Estetika Afrika menekankan sifat intuitif dan emosional dari seni, menyoroti fungsi komunalnya dalam kehidupan sosial. Kesarjanaan awal mengenai tradisi ini biasanya dilakukan dari perspektif etnosentris menggunakan standar estetika Barat untuk menafsirkan dan mengevaluasi seni Afrika. Hal ini biasanya mengakibatkan penggambaran karya seni Afrika sebagai kuriositas eksotis yang tidak memiliki kecanggihan seni tinggi. Kemunculan kesarjanaan pribumi pada abad ke-20 berupaya mengoreksi interpretasi ini, dengan berargumen bahwa penekanan pada aspek moral, emosional, dan intuitif mencerminkan standar artistik yang berbeda, bukan kekurangan. Aliran pemikiran ini, yang sering dikaitkan dengan konsep Négritude, berfokus pada pentingnya perasaan yang kontras dengan abstraksi dan analisis intelektual.[132]

Lingkungan, kehidupan sehari-hari, dan agama

sunting

Estetika lingkungan berurusan dengan apresiasi terhadap alam, termasuk elemen-elemen seperti hutan, pegunungan, sungai, dan bunga.[133] Hal ini mencakup tampilan yang bersifat transien (sementara), seperti keindahan sepintas lanskap saat matahari terbenam, maupun aspek yang abadi, seperti keagungan pohon berusia berabad-abad.[134] Bidang ini berfokus pada kualitas indrawi dan formal yang diasosiasikan dengan keindahan serta kualitas estetis terkait. Dalam hal ini, bidang ini kontras dengan filsafat seni, yang biasanya menekankan interpretasi makna mendasar yang diasosiasikan dengan ekspresi dan representasi.[135] Beberapa pendekatan terhadap estetika lingkungan juga mempertimbangkan dampak pengetahuan latar belakang terhadap pengalaman estetis akan alam. Misalnya, kesadaran ekologis tentang hubungan rumit dalam suatu ekosistem dapat membentuk apresiasi terhadap lingkungan hutan dengan memahaminya sebagai habitat bagi beragam spesies.[136]

Foto patung Buddha emas
Seni religius melayani fungsi keagamaan tertentu, seperti menyampaikan ajaran moral atau membantu praktik peribadatan.[137]

Dalam pengertian terluasnya, estetika lingkungan mencakup apresiasi terhadap lingkungan apa pun, termasuk lingkungan buatan manusia.[138] Penyelidikan ini berkaitan erat dengan estetika sehari-hari, yang mengkaji fenomena estetis yang dijumpai dalam kehidupan harian. Estetika sehari-hari mencakup lingkungan publik maupun privat, mulai dari kota modern dan situs industri hingga rumah pribadi dan halaman belakang, serta hiasan diri dan produk konsumen, seperti pakaian, gaya rambut, desain industri, dan desain web.[139] Estetika seni populer, disiplin terkait, menyelidiki kualitas estetis dalam budaya populer dan membandingkan standar evaluatif seni populer dengan standar seni tinggi atau seni murni. Sebagai contoh, disiplin ini mempelajari kontras antara seni massa komersial dan avant-garde eksperimental serta mengeksplorasi jenis seni populer tertentu, seperti kitsch.[140]

Seni memainkan peran sentral dalam bidang agama dan memanifestasikan diri dalam banyak bentuk, termasuk lukisan, patung, arsitektur, musik, tari, dan sastra. Karakteristik kuncinya berasal dari fungsi keagamaannya, seperti menyampaikan ajaran teologis dan moral, merepresentasikan kebenaran simbolis, mengilhami pengalaman religius, dan membantu praktik peribadatan.[r] Seni religius merupakan bagian dari semua agama besar dan merupakan bentuk seni dominan selama masa kuno dan pertengahan. Pengaruhnya mulai memudar pada periode modern karena sekularisasi. Pergeseran ini juga tercermin dalam perkembangan filsafat seni yang memperkenalkan fokus pada ketidakberpamrihan (nirkepentingan) dan otonomi pengalaman estetis dari tujuan eksternal, termasuk tujuan keagamaan.[137]

Lainnya

sunting

Beberapa teori estetika diasosiasikan dengan aliran pemikiran filosofis tertentu. Estetika Marxis mengkaji hubungan antara seni, struktur kelas, dan ideologi sosial, dengan mengeksplorasi bagaimana seni dapat mengukuhkan atau menantang hierarki kekuasaan yang mapan.[142] Estetika feminis mengkritik bias laki-laki dalam teori estetika dan praktik artistik sembari mendiskusikan alternatifnya. Teori ini menyelidiki institusi sosial yang tidak adil dan standar estetis yang merugikan perempuan serta mengecualikan mereka dari dunia seni. Salah satu contohnya adalah tatapan laki-laki—sebuah fenomena budaya yang memperlakukan perempuan sebagai objek tontonan laki-laki alih-alih sebagai pencipta artistik.[143] Estetika pascamodern adalah gerakan beragam yang menantang konsep dan teori mapan dalam bidang estetika. Gerakan ini lazimnya menolak fokus pada kenikmatan nirkepentingan, otonomi seni dari ranah lain, dan pembedaan antara seni tinggi dan seni populer. Gerakan ini cenderung mempromosikan pluralisme yang merangkul keragaman, sifat main-main, dan ironi.[144]

Fraktal geometris yang dirender dari bentuk hitam dengan latar belakang biru
Seni komputer mencakup pembuatan gambar menggunakan algoritma, seperti geometri fraktal dari himpunan Mandelbrot.[145]

Istilah keindahan matematis merujuk pada kualitas estetis dari konsep dan teori matematika abstrak. Sebagai contoh, sebuah pembuktian matematis dapat dianggap indah jika pembuktian tersebut menunjukkan wawasan mendalam dengan cara yang efektif atau menyingkap kesatuan mendasar dari gagasan matematika yang tampak terpisah.[146] Estetika sains menelaah penilaian estetis mengenai teori dan praktik ilmiah, termasuk peran keindahan dan kreativitas dalam konstruksi model.[147]

Seni komputer melibatkan penggunaan komputer dalam penciptaan karya seni.[s] Seni ini dapat mengambil banyak bentuk, mulai dari penyempurnaan digital minor pada karya seni yang sudah ada hingga kreasi yang sepenuhnya baru yang dihasilkan menggunakan algoritma kompleks. Sifat abstraknya, yang didasarkan pada representasi simbolis dan manipulasi sinyal elektronik, membedakan seni komputer dari bentuk seni tradisional, yang bergantung pada media yang lebih nyata. Media ini menawarkan kemungkinan artistik baru, seperti realitas virtual dan interaktivitas.[149] Perkembangan pesat dalam kecerdasan buatan pada abad ke-21 telah berdampak signifikan pada seni komputer. Hal ini mencakup kemunculan model generatif—sistem yang dilatih menggunakan media yang ada untuk menciptakan teks, gambar, musik, atau video baru sebagai respons terhadap deskripsi verbal dari hasil yang dimaksudkan. Contohnya meliputi ChatGPT, Stable Diffusion, MuseNet, dan RunwayML.[150]

Meta-estetika mengkaji asumsi dan konsep mendasar yang melandasi estetika. Bidang ini bertanya mengenai eksistensi fakta estetis, makna pernyataan estetis, dan cara memperoleh pengetahuan estetis. Perdebatan meta-estetika sentral antara realisme dan anti-realisme membahas apakah terdapat fakta estetis yang tak bergantung pada pikiran (mind-independent). Diskusi terkait antara kognitivisme dan non-kognitivisme mempertimbangkan apakah pernyataan estetis dapat bernilai benar secara objektif atau terutama mengekspresikan emosi pribadi.[151]

Sejarah

sunting

Kuno

sunting
Foto patung dada marmer seorang pria berjanggut
Plato memahami seni sebagai kriya yang meniru realitas.[152]

Estetika berakar pada pemikiran kuno, yang lazimnya menafsirkan keindahan sebagai fenomena metafisik yang diasosiasikan dengan tatanan kosmos.[153] Dalam filsafat Yunani kuno, eksplorasi awal mengenai hakikat keindahan ditemukan dalam filsafat Pythagoras pada abad ke-5 dan ke-4 SM. Tradisi ini mengusulkan bahwa keindahan muncul dari proporsi dan harmoni antar-elemen yang berbeda.[154][t] Dalam karya-karya seperti Philebus dan Symposium, Plato (427–347 SM) menganalisis keindahan murni sebagai bentuk abadi yang eksis secara independen dari materi. Ia berargumen bahwa entitas material itu indah jika entitas tersebut berpartisipasi dalam bentuk keindahan. Plato memahami seni sebagai kriya yang berupaya meniru dan merepresentasikan entitas material. Ia mengakui bahwa seni memiliki sejumlah nilai didaktis namun secara keseluruhan bersikap kritis terhadapnya, dengan menegaskan bahwa sifat turunan seni, yang didasarkan pada peniruan fitur-fitur indrawi, tidak dapat menuntun pada pengetahuan sejati.[152]

Aristoteles (384–322 SM) menelaah estetika melalui lensa puisi, dengan memberikan analisis mendetail dalam bukunya Puitika. Ia setuju dengan gagasan Plato bahwa seni adalah bentuk peniruan namun mengadopsi pandangan yang lebih positif, dengan mengusulkan bahwa seni dapat menyingkap kebenaran universal. Aristoteles menyarankan bahwa peniruan artistik yang berhasil itu menyenangkan dan dapat memiliki efek terapeutik atau katartik. Dengan mengaitkan kenikmatan ini dengan keindahan, ia mencoba menjelaskan mengapa peniruan fenomena yang tidak menyenangkan, seperti kisah-kisah tragis, dapat dinikmati.[156] Juga dipengaruhi oleh Plato, Plotinus (204–270 M) berpendapat bahwa keindahan tidak didasarkan pada simetri indrawi atau proporsi sederhana melainkan memanifestasikan tatanan, harmoni, dan kesatuan mendasar yang diasosiasikan dengan sumber utama penciptaan.[157]

Di India kuno, Natya Shastra, yang secara tradisional dinisbahkan kepada Bharata (ca 200 SM–ca 200 M), merumuskan teori rasa dalam seni. Teori ini mengajukan bahwa tujuan seni adalah untuk menyampaikan emosi kehidupan mendasar sebagai pengalaman universal dari eksistensi manusia.[158] Di Tiongkok kuno, filsafat seni dibentuk oleh Konfusianisme. Filsafat ini menekankan kultivasi diri dan hubungan antara alam dan budaya manusia.[159]

Abad Pertengahan

sunting

Selama periode abad pertengahan, bangkitnya Kekristenan menuntun para pemikir estetika Barat untuk memadukan pemikiran Yunani kuno dengan ajaran agama, sering kali dalam bentuk teologi filosofis.[160] Dipengaruhi oleh Plato dan Plotinus, Agustinus dari Hippo (354–430 M) mengeksplorasi perbedaan antara penciptaan artistik, yang mengubah materi, dan penciptaan ilahi, yang menghadirkan eksistensi dari ketiadaan. Ia berpendapat bahwa segala keindahan bersumber dari Allah dan menganalisisnya dalam hal kesatuan, kesetaraan, bilangan, proporsi, dan tatanan.[161] Thomas Aquinas mendefinisikan keindahan sebagai apa yang mendatangkan kenikmatan saat dipersepsikan. Baginya, pikiran memainkan peran sentral dalam proses ini karena keindahan terletak pada bentuk imaterial dari objek yang dipersepsikan yang dikenali oleh pikiran dalam data indrawi. Aquinas memandang keindahan sebagai kategori dasar keberadaan dan mengidentifikasinya dengan proporsi, kecemerlangan, dan keutuhan.[162]

Gambar hitam putih seorang pria tua berjanggut panjang mengenakan jubah
Ilustrasi cukil kayu artistik dari Al-Farabi, yang memandang keindahan sebagai atribut ilahi Allah[163]

Integrasi filsafat Yunani dan pemikiran keagamaan juga terjadi di dunia Islam. Al-Farabi (ca 878–ca 950 M) mengasosiasikan keindahan dengan kenikmatan dan memahaminya sebagai derajat kesempurnaan serta atribut ilahi dari Allah. Ibnu Sina (ca 980 – 1037 M) membedakan keindahan indrawi dari keindahan akliah dan mengeksplorasi proses psikologis yang mendasari penilaian estetis, seperti peran imajinasi.[163]

Sementara itu, di India, teori seni rasa berkembang hingga mencakup praktik devosional, termasuk upaya untuk menggambarkan atau memantik pengalaman religius mendalam akan penyatuan dengan ilahi.[164] Sebagai contoh, Abhinavagupta (ca 950–ca 1025 M) menguraikan dimensi spiritual teori rasa, dengan menarik perbedaan tajam antara emosi duniawi biasa dan rasa sebagai emosi estetis yang transenden.[165]

Dalam pemikiran Tionghoa, Xie He (ca abad ke-5 hingga ke-6 M) memadukan gagasan Daois dan Konfusian, dengan menyarankan agar seniman menyelaraskan diri dengan tatanan alam semesta dan secara spontan mengekspresikan gerak kehidupan dalam karya seni mereka. Ia juga mengajukan serangkaian prinsip dasar seni lukis.[166] Guo Xi (ca 1020–ca 1090 M) berargumen bahwa karya seni mencerminkan karakter moral dan pandangan spiritual seniman, yang ia lihat sebagai faktor sentral nilai estetis karya seni.[167] Selama periode ini, pengaruh Buddhisme yang kian tumbuh pada pemikiran estetika Tionghoa menyebabkan pergeseran artistik dari realitas objektif menuju pengalaman subjektif sebagai akibat dari ajaran Buddha mengenai sifat ilusi realitas.[168]

Periode abad pertengahan di Barat berakhir dengan kemunculan Renaisans yang dimulai pada abad ke-15. Perubahan ini mengarah pada kebangkitan kembali ideal estetika klasik sementara sekularisasi membuka jalan bagi penyelidikan rasionalis terhadap hukum-hukum umum keindahan dan analisis empiris terhadap pengalaman indrawi dan emosional pada Zaman Pencerahan berikutnya.[169]

Modern dan kontemporer

sunting
Lukisan cat minyak yang memperlihatkan David Hume dari depan dengan latar belakang gelap, mengenakan mantel merah dengan sulaman emas, lengan kirinya bertumpu pada suatu permukaan
David Hume memahami keindahan sebagai sentimen yang menyenangkan dan mengeksplorasi selera sebagai indra batin yang bertanggung jawab atas sentimen ini.[170]

Estetika modern muncul pada abad ke-18, ketika para filsuf menggeluti subjek ini secara lebih sistematis.[171] Langkah kunci dalam proses ini terjadi melalui filsafat Alexander Baumgarten (1714–1762), yang pertama kali mengonsep estetika sebagai bidang penyelidikan tersendiri: ilmu tentang kognisi indrawi atau studi mengenai apa yang diindrai dan dibayangkan.[172] Dalam filsafat Inggris, Francis Hutcheson (1694–1746) mengikuti gagasan Earl Shaftesbury ketiga (1671–1713) dan menyajikan teori awal tentang selera, dengan mengonsepkannya sebagai indra internal[u] yang bertanggung jawab atas pemahaman estetis.[174] Pandangan ini mengilhami David Hume (1711–1776) untuk mengembangkan teori subjektif mengenai keindahan, memahaminya sebagai sentimen menyenangkan yang disebabkan oleh persepsi. Ia memadukan perspektif ini dengan gagasan bahwa keindahan mengikuti standar intersubjektif sebagai prinsip selera bersama yang mengatur objek mana yang dialami sebagai indah.[170]

Immanuel Kant (1724–1804) memperluas gagasan Hume bahwa penilaian estetis bersifat subjektif sekaligus universal, dengan berargumen bahwa kenikmatan yang mendasarinya haruslah nirkepentingan (disinterested) agar dapat mengikuti standar universal. Menurut Kant, jenis kenikmatan ini berasal dari permainan bebas di mana fakultas mental imajinasi dan pemahaman berinteraksi secara harmonis.[175] Sebagai tanggapan terhadap teori-teori sebelumnya oleh Edmund Burke (1729–1797), Kant juga menelaah yang sublim (keagungan) sebagai kualitas estetis tersendiri.[176]

Pemikiran Kant mengilhami beragam perkembangan dalam filsafat Jerman. Friedrich Schiller (1759–1805) memandang seni sebagai fenomena pemersatu yang menyintesiskan dorongan dasar manusia yang berbeda dalam sejenis permainan.[177] F. W. J. von Schelling (1775–1854) memiliki perspektif serupa, dengan berargumen bahwa seni mendamaikan hal-hal yang bertentangan dan menyingkap kesatuan mendasar antara diri dan alam.[177] G. W. F. Hegel (1770–1831) mempelajari estetika melalui sistem filosofisnya mengenai idealisme absolut, dengan melihat keindahan artistik sebagai manifestasi indrawi dari kebenaran.[178][v]

Dengan menggabungkan filsafat Kantian dan India, Arthur Schopenhauer (1788–1860) memahami pengalaman estetis nirkepentingan sebagai penangguhan kehendak, yang menghasilkan kedamaian pikiran sementara dengan memutus siklus perjuangan dan penderitaan.[179] Ia mengilhami filsuf Tiongkok Wang Guowei (1877–1927), yang mengintegrasikan gagasan Schopenhauer dengan pemikiran Buddha. Wang memandang tujuan seni sebagai penciptaan dunia di dalam dunia, yang terbuka bagi refleksi nirkepentingan.[180] Friedrich Nietzsche (1844–1900) menolak kenirkepentingan pengalaman estetis dan otonomi seni dari ranah lain. Alih-alih, ia menganggap seni sebagai ekspresi perjuangan antara kekuatan hidup yang berlawanan, serta melihatnya sebagai wahana transformasi dan afirmasi hidup.[181]

Mengikuti pemikiran Karl Marx (1818–1883), filsuf estetika Marxis seperti Leon Trotsky (1879–1940) dan Georg Lukács (1885–1971) menelaah bagaimana seni mencerminkan dan membentuk ideologi sosial serta hierarki kekuasaan.[182] Dengan bertolak dari gagasan Marxis, Theodor Adorno (1903–1969) mengkritik komodifikasi seni dan mengeksplorasi kemampuannya untuk mengekspresikan keterasingan serta menantang norma masyarakat.[183] Juga dengan mengadopsi perspektif Marxis, Walter Benjamin (1892–1940) mempelajari bagaimana kemajuan dalam reproduktibilitas teknologi mentransformasi seni.[184][w]

Foto hitam putih seorang pria mengenakan setelan jas dan dasi
Martin Heidegger mengajukan bahwa seni dapat menyingkap aspek fundamental eksistensi manusia.[186]

Pemikiran Romantis menekankan orisinalitas artistik, kreativitas, dan ekspresi perasaan mendalam, sebagaimana dirumuskan dalam karya-karya J. W. von Goethe (1749–1832), William Wordsworth (1770–1850), dan Samuel Taylor Coleridge (1772–1834). Pemikiran ini melihat karya seni sebagai produk kejeniusan manusia yang menentang pemahaman berbasis aturan.[187] Aliran pemikiran ini mengilhami teori ekspresionisme, yang menegaskan bahwa fungsi utama seni adalah untuk mengomunikasikan emosi dan keadaan mental lainnya. Hal ini ditelaah oleh para pemikir seperti Leo Tolstoy (1828–1910), Benedetto Croce (1866–1952), dan R. G. Collingwood (1889–1943).[188] Intensionalisme, posisi yang berkaitan erat, berfokus pada maksud pengarang sebagai sumber makna karya seni. Monroe Beardsley (1915–1985) menentang pandangan ini, dengan berargumen bahwa makna tidak ditetapkan oleh maksud pribadi.[189] Sigmund Freud (1856–1939) dan Carl Jung (1875–1961) menafsirkan seni melalui perspektif psikoanalisis sebagai ekspresi ketidaksadaran, sebuah pendekatan yang kemudian juga dieksplorasi oleh Richard Wollheim (1923–2005).[190]

Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, estetisisme menjadi pandangan yang menonjol dalam filsafat berbahasa Inggris. Sebagai contoh, Walter Pater (1839–1894) dan Oscar Wilde (1854–1900) mengajukan bahwa seni adalah tujuan pada dirinya sendiri tanpa tujuan tersembunyi.[191] Kaum Pragmatis menolak pandangan ini dan gagasan bahwa pengalaman estetis bersifat nirkepentingan. Misalnya, John Dewey (1859–1952) mengajukan dalam bukunya tahun 1934 Art as Experience bahwa nilai seni terletak pada pengalaman unik yang disediakannya, yang dapat mengarah pada perbaikan individu dan masyarakat.[192] Formalisme menjadi teori seni berpengaruh lainnya pada awal abad ke-20. Teori ini menepis fokus pada aspek ekspresif dan representasional, dan justru berargumen bahwa karya seni didefinisikan oleh fitur formal, seperti susunan kualitas perseptual. Clive Bell (1881–1964), pendukung utama pandangan ini, mengistilahkan susunan ini sebagai "bentuk bermakna" (significant form).[193]

Kemunculan Dadaisme dan seni konseptual menantang definisi tradisional seni yang didasarkan pada fitur intrinsik karya seni.[194] Akibatnya, anti-esensialisme, yang memahami seni sebagai kategori yang ditetapkan oleh konvensi sosial atau interpretatif tanpa esensi yang inheren, memperoleh keunggulan pada paruh kedua abad ke-20 dalam filsafat analitik, sebagaimana dicontohkan dalam teori-teori Nelson Goodman (1906–1998), Morris Weitz (1916–1981), dan Frank Sibley (1923–1996).[195] Perkembangan ini mengilhami Arthur C. Danto (1924–2013) dan George Dickie (1926–2020) untuk mengajukan definisi institusional, dengan berargumen bahwa konvensi sosial yang ditetapkan oleh dunia seni menentukan objek mana yang merupakan karya seni.[196] Mary Mothersill (1923–2008) menantang perkembangan ini. Ia bertujuan untuk memulihkan konsepsi keindahan terdahulu yang diasosiasikan dengan Aquinas, Hume, dan Kant, dengan berfokus pada pemahaman kualitas estetis.[197]

Dalam filsafat kontinental, aliran fenomenologi mempelajari pengalaman langsung akan seni. Sebagai contoh, aliran ini menelaah bagaimana karya seni dapat menggambarkan objek yang tidak nyata, bagaimana imajinasi terlibat dalam proses tersebut, dan bagaimana seni dapat menyingkap fitur-fitur realitas.[198] Tradisi ini berkaitan erat dengan estetika eksistensialis, yang memandang karya seni sebagai ekspresi kebebasan manusia yang dapat secara autentik menggambarkan aspek sentral kondisi manusia.[199] Filsafat Martin Heidegger (1889–1976) memengaruhi kedua tradisi tersebut. Ia mengkritik fokus pada kenikmatan nirkepentingan yang ditemukan dalam filsafat seni modern, dengan berargumen bahwa karya seni dapat menyingkap kebenaran tentang eksistensi manusia dan menyediakan perspektif pemahaman baru.[186] Murid Heidegger, Hans-Georg Gadamer (1900–2002), menyelidiki lebih lanjut hubungan antara seni dan kebenaran, dengan menelaah pengalaman estetis dan teori tradisional melalui analisis fenomenologis dan interpretasi hermeneutis.[200]

Pemikir pascamodern, seperti Roland Barthes (1915–1980) dan Jacques Derrida (1930–2004), menantang pemisahan seni dari kehidupan sehari-hari dan gagasan bahwa karya seni memiliki makna yang stabil atau nilai universal. Mereka justru menyarankan bahwa bobot artistik bergantung pada konteks sejarah dan budaya.[201] Bermula pada tahun 1970-an, perspektif feminis menantang teori dan praktik yang berpusat pada laki-laki dalam filsafat estetika dan dunia seni. Sebagai contoh, Simone de Beauvoir (1908–1986) dan Luce Irigaray (lahir 1930) mengeksplorasi bagaimana perspektif feminin dipinggirkan oleh standar maskulin.[202]

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting

Catatan

sunting
  1. ^ Estetika secara umum juga bermakna kepekaan terhadap keindahan dan seni
  2. ^ Hal ini diungkapkan dalam peribahasa "keindahan itu ada di mata yang memandangnya".
  3. ^ Imajinasi estetis adalah proses kreatif yang mengeksplorasi kemungkinan pengalaman estetis sebagai aliran pemikiran bebas yang tidak dibatasi oleh realitas faktual. Hal ini relevan baik untuk apresiasi maupun penciptaan artistik keindahan.[25]
  4. ^ Sebagai contoh, Roger Scruton berpendapat bahwa sikap estetis memiliki tiga elemen dasar: dilakukan demi hal itu sendiri, bertujuan untuk kenikmatan, dan melibatkan penilaian normatif, yang menyiratkan kesepakatan intersubjektif mengenai nilai estetis yang ditaksir.[29]
  5. ^ Masalah serupa dibahas oleh paradoks fiksi: tantangan untuk menjelaskan bagaimana skenario fiksi memantik respons emosional nyata dan apakah respons tersebut rasional.[32]
  6. ^ Dalam biologi, istilah selera (pengecap) memiliki arti yang lebih sempit terbatas pada sistem pengecap.[41]
  7. ^ Selera juga dipengaruhi oleh pola asuh seseorang.[42] Sebagai contoh, sosiolog Pierre Bourdieu berpendapat bahwa selera sebagian besar ditentukan oleh kelas sosial dan konteks budaya, yang menyebabkan perbedaan signifikan dalam selera kelas pekerja dan kelas atas.[43]
  8. ^ Satu klasifikasi membagi karakterisasi seni menjadi definisi fungsional dan prosedural berdasarkan apakah definisi tersebut berfokus pada peran karya seni atau pada aturan dan prosedur yang digunakan untuk menciptakan dan menafsirkannya.[56] Klasifikasi lain membedakan antara konsepsi esensialis, kontekstualis, dan konstruktivis, yang masing-masing menekankan pada fitur intrinsik, situasi asal-usul, atau praktik interpretasi.[57]
  9. ^ Penyelidikan ini berkaitan erat dengan definisi seni namun tidak identik, karena karya seni dapat tergolong dalam kategori ontologis yang sama dengan hal lain. Sebaliknya, definisi biasanya berupaya mengidentifikasi fitur yang membedakan karya seni dari hal-hal lainnya.[59]
  10. ^ Sebagai contoh, Richard Wollheim dan Nicholas Wolterstorff berpegang bahwa beberapa karya seni, seperti lukisan, adalah objek fisik, sementara yang lain memiliki sifat non-fisik, seperti sastra.[62] Noël Carroll berargumen bahwa seni massa, yang dapat disampaikan kepada banyak orang di lokasi berbeda pada waktu yang bersamaan, tergolong dalam kategori ontologis yang berbeda dari bentuk seni lainnya.[63]
  11. ^ Menurut satu usulan, musik menggunakan tempo, nada, dan volume untuk merepresentasikan emosi.[72]
  12. ^ Pandangan alternatif menyarankan bahwa interpretasi tidak menyingkap makna melainkan menciptakannya.[76]
  13. ^ Intensionalisme berfokus pada maksud asli pengarang alih-alih interpretasi retrospektif mereka, yang bisa saja tumpang tindih namun tidak serta-merta identik.[79]
  14. ^ Akibatnya, beberapa teoretisi mengikuti Roland Barthes dalam berbicara tentang "kematian pengarang" untuk menekankan karya seni itu sendiri alih-alih asal-usulnya.[81]
  15. ^ Kaum formalis meremehkan fokus pada kualitas ekspresif, seperti Eduard Hanslick, yang berpendapat bahwa musik pada dasarnya adalah progresi bunyi alih-alih cerita emosional.[92] Susanne K. Langer berupaya membangun hubungan antara dimensi emosional dan simbolis musik, dengan menegaskan bahwa bentuk musik adalah simbol yang menyampaikan pengetahuan seniman akan perasaan namun tidak memiliki makna yang ditetapkan secara konvensional.[93]
  16. ^ Istilah estetika terapan terkadang digunakan untuk upaya menerapkan prinsip-prinsip estetis umum pada area atau praktik tertentu, seperti estetika lingkungan dan estetika sehari-hari.[104]
  17. ^ Pengaruh ini dapat dilihat pada pola abstrak yang digunakan dalam seni Islam, seperti satu garis yang melingkar kembali ke dirinya sendiri untuk merepresentasikan keesaan dan kemahahadiran Allah.[131]
  18. ^ Estetika teologis mempelajari bagaimana keindahan dan seni menyingkap ilahi dan membentuk pemahaman tentang agama.[141]
  19. ^ Dalam pengertian terluas, seni komputer merujuk pada segala seni digital, termasuk karya seni yang sekadar mereproduksi gaya seni konvensional dengan sarana digital. Dalam pengertian yang lebih sempit, hanya karya seni dengan karakteristik yang tidak umum diasosiasikan dengan bentuk seni lain, seperti interaktivitas, yang dianggap sebagai seni komputer.[148]
  20. ^ Pandangan serupa kemudian juga didukung oleh kaum Stoa.[155]
  21. ^ Hutcheson membedakan indra eksternal, yang memberikan gagasan tentang dunia, seperti penglihatan, dari indra internal, yang merespons gagasan lain.[173]
  22. ^ Hegel juga menganalisis sejarah seni dari antikuitas hingga zamannya sebagai serangkaian tahapan progresif dari manifestasi ini.[178]
  23. ^ Ia mengeksplorasi, misalnya, sejauh mana produksi massal mengikis autentisitas dalam seni dan bagaimana hal itu digunakan untuk tujuan politik.[185]

Kutipan

sunting
  1. ^ a b
  2. ^
  3. ^
  4. ^ Munro & Scruton 2025, § Three Approaches to Aesthetics
  5. ^ Merriam-Webster 2025
  6. ^
  7. ^
  8. ^
  9. ^
  10. ^
  11. ^ OED staff 2025
  12. ^
  13. ^
  14. ^
  15. ^
  16. ^
  17. ^
  18. ^
  19. ^ a b
  20. ^
  21. ^ Lorand 2005, hlm. 198–199
  22. ^
  23. ^
  24. ^
  25. ^ Bunnin & Yu 2004, hlm. 15–16
  26. ^
  27. ^
  28. ^
  29. ^ King, § 3c. Scruton
  30. ^ a b
  31. ^ Shelley 2022, § 2.3 The Aesthetic Attitude
  32. ^ Schneider, Lead section
  33. ^
  34. ^
  35. ^
  36. ^ a b Townsend 2006, hlm. 13–14
  37. ^ a b
    • Stecker 2010, hlm. 40–41
    • Ginsborg 2022, Lead section, § 2.2 How Are Judgments of Beauty Possible?, § 2.3.2 The Free Play of Imagination and Understanding
  38. ^
  39. ^
  40. ^ Shelley 2022, § 1. The Concept of Taste
  41. ^ Korsmeyer 2013, hlm. 258
  42. ^ Bunnin & Yu 2004, hlm. 678
  43. ^ Spicher Aesthetic Taste, § 5a. Pierre Bourdieu
  44. ^
  45. ^
  46. ^
  47. ^
  48. ^ a b
  49. ^ Adajian 2024, Lead section, § 4. Contemporary Definitions
  50. ^
  51. ^
  52. ^
  53. ^
  54. ^
  55. ^
  56. ^
  57. ^ Stecker 2010, hlm. 10–11
  58. ^
  59. ^
  60. ^
  61. ^
  62. ^ Thomasson 2004, hlm. 82–83
  63. ^ Davies 2005, hlm. 161
  64. ^
  65. ^ Rohrbaugh 2013, hlm. 235–243
  66. ^ a b Davies 2013a, hlm. 225–226
  67. ^ Slater, § 9. Art Objects
  68. ^ Davies 2013a, hlm. 225–226, 232–233
  69. ^
  70. ^
  71. ^
  72. ^ Townsend 2006, hlm. 268–269
  73. ^
  74. ^
  75. ^ a b
  76. ^ Currie 2005, hlm. 291–292
  77. ^
  78. ^
  79. ^ Stecker 2013, hlm. 310–311
  80. ^
  81. ^
  82. ^
  83. ^
  84. ^ Shelley 2022, § 2.1 Aesthetic Objects, 2.5.1 The Aesthetic Question
  85. ^
  86. ^ Graham 2005, hlm. 1–2
  87. ^
  88. ^ a b
  89. ^
  90. ^ McIver Lopes 2013, hlm. 596–597
  91. ^
  92. ^ Townsend 2006, hlm. 141
  93. ^ Windle, § 5. Theory of Art
  94. ^
  95. ^ a b
  96. ^ Irvin 2013, hlm. 606–607, 613–614
  97. ^
  98. ^
  99. ^ Hamilton 2013, hlm. 543, 546–547, 549–550
  100. ^
  101. ^ a b Tavinor 2009, hlm. 1–2, 11–12, 29–30, 172–173, 196
  102. ^
  103. ^
  104. ^ Davies 2016, hlm. 487–488, 490–493, 498
  105. ^
  106. ^
  107. ^
  108. ^ Shimamura 2012, hlm. 3–4, 14–15, 19–20
  109. ^
  110. ^
  111. ^
  112. ^ Locher 2012, hlm. 164, 173, 175
  113. ^ Locher 2012, hlm. 181–183
  114. ^ a b Dutton 2005, hlm. 693–695
  115. ^ Dutton 2005, hlm. 695–696
  116. ^ Dutton 2005, hlm. 697–700
  117. ^
  118. ^ Shimamura 2012, hlm. 16–18
  119. ^ Stokes 2009, hlm. 715, 722–724
  120. ^
  121. ^
  122. ^ a b Deutsch 1998, hlm. 409–410
  123. ^
  124. ^
  125. ^
  126. ^ Goldberg 1998, Lead section
  127. ^
  128. ^
  129. ^
  130. ^ Black 1998, Lead section, § 3. Imitation and Imagination
  131. ^ a b Higgins 2005, hlm. 681–682
  132. ^
  133. ^
  134. ^ Stecker 2010, hlm. 15–25
  135. ^
  136. ^
  137. ^ a b
  138. ^
  139. ^
  140. ^ Novitz 2005, hlm. 733–735, 737
  141. ^ Viladesau 1999, hlm. 11–12
  142. ^ Munro & Scruton 2025, § Marxist Aesthetics
  143. ^
    • Korsmeyer & Weiser 2021, Lead section, § 1. Art and Artists: Historical Background, § 3. Aesthetic Categories and Feminist Critiques, § 5. The Body in Art and Philosophy
    • Argüello Manresa 2019, Lead section, § Feminist Critique of Philosophical Aesthetics, § Feminist Philosophy and Theory of the Arts
  144. ^ Shusterman 2005, hlm. 771–772, 781–782
  145. ^
  146. ^
  147. ^ Ivanova & French 2020, hlm. 1–5
  148. ^ Lopes 2009, hlm. 1–3, 21, 26–28
  149. ^
  150. ^
  151. ^ King 2023, hlm. 169–175
  152. ^ a b
  153. ^ Townsend 2006, hlm. xvii–xx
  154. ^
  155. ^ Celkyte, Lead section, § 2a. Proportion
  156. ^
  157. ^
  158. ^
  159. ^
  160. ^ Haldane 2013, hlm. 25–26
  161. ^
  162. ^
  163. ^ a b Black 1998, Lead section, § 1. Beauty, § 3. Imitation and Imagination
  164. ^ Gitomer 1998, hlm. 484
  165. ^
  166. ^
  167. ^ Deutsch 1998, hlm. 410
  168. ^ Saussy 1998, hlm. 365
  169. ^
  170. ^ a b
  171. ^ Shelley 2013, hlm. 36
  172. ^
    • Beardsley 2006, hlm. 49–50
    • Guyer 2020, Lead section, § 3. Baumgarten and Meier: Aesthetics as the Analogue of Rational Cognition
  173. ^ Dorsey 2021, § 1.1 The Senses
  174. ^
  175. ^
  176. ^
  177. ^ a b
  178. ^ a b
  179. ^
  180. ^ Saussy 1998, hlm. 3367
  181. ^
  182. ^
  183. ^
  184. ^ Osborne & Charles 2021, § 6. Art and Technology
  185. ^
  186. ^ a b
    • Thomson 2024, Lead section, § 2. Heidegger's Philosophical Critique of Aesthetics: Introduction, § 3.7 Heidegger's Post-Modern Understanding of Art
    • Wartenberg 2013, hlm. 116–120
  187. ^
  188. ^
  189. ^ Townsend 2006, hlm. 45
  190. ^
  191. ^
  192. ^
  193. ^
  194. ^
  195. ^
  196. ^
  197. ^
  198. ^
  199. ^
  200. ^
  201. ^
  202. ^ Korsmeyer & Weiser 2021, Lead section, § 1. Art and Artists: Historical Background, § 3. Aesthetic Categories and Feminist Critiques, § 5. The Body in Art and Philosophy

Sumber

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Mangkunegara VIII

membangun jati diri Mangkunegara. Pegangan hidup itu antara lain Galek Penggautan artinya berusaha membudidayakan diri sendiri Rigen atau gigih dalam memperjuangan

Chrysophyllum

) Donella capuronii (G.E.Schatz & L.Gaut.) Mackinder & L.Gaut. (dahulu bernama C. capuronii G.E.Schatz & L.Gaut.) Donella delphinensis Aubrév. (dahulu

Saur Sepuh: Satria Madangkara

Muljono Ditulis oleh Niki Kosasih Pemeran Fendy Pradana Harto Kawel Sirjon De Gaut Murti Sari Dewi Hengky Tornando Anneke Putri Elly Ermawati Wenny Rosaline

Tragedi Yunani

dengan kapasitas-kapasitas dari kecerdasan yang merepresentasikannya." (Berys Gaut & Dominic McIver Lopes, penyunting, Routledge Companion to Aesthetics, Bab

Dhoby Ghaut, Singapura

Dhoby Ghaut adalah sebuah tempat di Singapura yang sering dikaitkan dengan Stasiun MRT Dhoby Ghaut, sebuah stasiun antar-penumpang utama untuk MRT Singapura

Pandan

Pandanus novohibernicus (Martelli) Martelli Pandanus nusbaumeri Callm. & L.Gaut. Pandanus obconicus H.St.John Pandanus obeliscus Thouars Pandanus oblatus

Bella Vista

Pradana sebagai Joseph Alex Pangaibali sebagai Alex Sembiring Sirjon de Gaut sebagai Leo Penampilan khusus Ira Wibowo sebagai Vivi Suryani Tamiya Keterangan

Orang keturunan India di Pulau Pinang

terkenal di Penang di kalangan wisatawan lokal dan internasional. Dhoby Gaut terletak di kota George Town. Tempat ini juga dikenal sebagai Vannan Thora