Gembrung adalah tradisi kesenian rakyat bernafaskan Islam yang berkembang di wilayah Madiun, Jawa Timur. Seni ini memadukan musik rebana besar (terbangan), gendang, timplung, dan syair salawat, lalu digelar sebagai bagian dari momen-momen penting spiritual seperti peringatan kelahiran bayi tujuh bulan, Isra Mikraj, Maulid Nabi, bahkan pernikahan atau khitanan.[1]

Sejarah dan makna

sunting

Berdasarkan tradisi lisan, Gembrungan berkembang sejak masa Wali Songo seperti Sunan Bonang atau Sunan Kalijaga, sekitar abad ke-14 hingga 15 Masehi. Dalam perjalanan sejarahnya, gembrungan sempat mengalami masa vakum, tetapi kemudian dihidupkan kembali pada pertengahan abad ke-20โ€”sebagian sumber menyebut tahun 1957 di Desa Kaibon oleh tokoh agama setempat. Musik dan syairnya, umumnya berupa salawat Arab maupun terjemahan ke dalam bahasa Jawa, bertujuan memperkuat komitmen beribadah seperti salat lima waktu, serta mengajarkan nilai religius dan moral kepada masyarakat.[2]

Pelaksanaan

sunting

Pertunjukan Gembrungan diselenggarakan oleh kelompok musisi โ€” disebut penerbang โ€” yang terdiri dari delapan hingga sepuluh orang, menghadirkan rebana besar berdiameter sekitar 120โ€ฏcm serta alat musik perkusi lainnya.[1] Alat musik yang digunakan terbilang sederhana, seperti kendang besar, kendang tanggung, kendang kecil, rebana dan lesung.[3] Syair total mencakup 40 lagu berbahasa Arab yang telah disederhanakan menjadi 18 lagu berbahasa Arab-Jawa, masing-masing berisi lima syair tiga bait per lagu. Pementasan berlangsung lamaโ€”Setelah salat Isya hingga tengah malamโ€”menuntut kondisi fisik prima dan kerap diadakan di masjid, balai desa, atau halaman rumah yang disesuaikan dengan acara seperti aqiqah bayi atau perayaan Maulid dan Isra Mikraj.[4]

Nilai budaya dan pelestarian

sunting

Gembrungan bukan sekadar media hiburan, tetapi juga sarana pendidikan spiritual dan sosial. Ia mengajarkan nilai keagamaan, kebersamaan, dan penghormatan pada adat & undangan ilahi. Syair dalam Gembrungan yang diubah ke dalam bahasa Jawa memudahkan pendengaran generasi muda. Sejak 2021, Gembrungan mendapatkan status resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, didukung oleh Pemerintah Kota Madiun.[1] Namun regenerasi masih menjadi tantangan, sehingga pemerintah dan komunitas lokal mendorong pelestarian melalui Festival Madioen Tempo Doeloe dan pembentukan kelompok seperti Nur Shidiq di Desa Kaibon, guna melatih generasi muda memainkan rebana besar dan menyanyikan shalawat.[2][5]

Referensi

sunting
  1. ^ a b c Dayanto, Swasto. "Tradisi Gembrungan di Madiun biasa ditampilkan saat peringatan kelahiran bayi - Harian Merapi". Tradisi Gembrungan di Madiun biasa ditampilkan saat peringatan kelahiran bayi - Harian Merapi. Diakses tanggal 2025-06-17.
  2. ^ a b Kompasiana.com (2022-03-02). "Gembrungan, Tradisi Peringatan Isra Miraj di Madiun yang Tetap Dilestarikan". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2025-06-17.
  3. ^ Yohar, Pamula (20 November 2018). "Gembrung, Seni Kuno Khas Kota Madiun". Times Indonesia. Diakses tanggal 17 Juni 2025.
  4. ^ "Ekspresi Isra Mikraj dalam Tradisi Gembrungan di Madiun". Alif.ID. 2019-04-01. Diakses tanggal 2025-06-17.
  5. ^ Ristanto, Hengky. "Upaya Dina Aryati Kenalkan Seni Gembrung ke Kalangan Anak Muda - Radar Madiun". Upaya Dina Aryati Kenalkan Seni Gembrung ke Kalangan Anak Muda - Radar Madiun. Diakses tanggal 2025-06-17.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Kota Madiun

Madiun juga memiliki kesenian asli khas daerah, antara lain: Pencak Silat, Gembrung, Tari Solah Mediunan, Penthul Tembem, Dongkrek. Kota Madiun juga menggelar

Kabupaten Purbalingga

Terminal Purbalinggaโ€“Bobotsari Jalur 2: Terminal Purbalinggaโ€“Pertigaan Gembrungan (Selakambang, Kaligondang) Jalur 3: Terminal Purbalinggaโ€“Lamongan Jalur

Daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Mendhak Sanggring Lamongan Adat istiadat, ritus, dan perayaan 202101500 Gembrung Madiun Seni pertunjukan 202101501 Topeng Dhalang 202101502 Rengganis Banyuwangi

Singosari, Malang

Wulung, Sumberawan, Wonosari 12 Tunjungtirto Bodosari, Bunder, Bunut, Gembrung, Jajar, Juwet, Losawi, Plambesan, Purworejo (Balong), Semarak 13 Watugede

Bakungan, Glagah, Banyuwangi

Kelurahan Bakungan adalah SD Negeri Bakungan. Kantor Lurah Bakungan (Jalan Gembrung) Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Timur di Banyuwangi (Jalan Barong) Berawal

Terminal Purbalingga

Terminal Purbalinggaโ€“Bobotsari Jalur 2: Terminal Purbalinggaโ€“Pertigaan Gembrungan (Selakambang, Kaligondang) Jalur 3: Terminal Purbalinggaโ€“Lamongan Jalur

Pacublak-Cublak Uang

Pacublak-cublak uang Manggolรฉntng-manggolanting Butata butiti Gembrang-gembrung Gembrang-gembrung Bo e-em, bo e-em. Hidayat, Rachmat Taufiq, spk.2005.Peperenian

Masjid Besar Kuno Taman

makanan tersebut bagi jemaah dan warga sekitar, masjid juga menggelar seni gembrung, berupa senandung shalawat yang diiringi alat musik sejenis jidor dan lesung