Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Alasannya ialah: Tulisan ini perlu dirapikan. (Juni 2025) |
Gembrung adalah tradisi kesenian rakyat bernafaskan Islam yang berkembang di wilayah Madiun, Jawa Timur. Seni ini memadukan musik rebana besar (terbangan), gendang, timplung, dan syair salawat, lalu digelar sebagai bagian dari momen-momen penting spiritual seperti peringatan kelahiran bayi tujuh bulan, Isra Mikraj, Maulid Nabi, bahkan pernikahan atau khitanan.[1]
Sejarah dan makna
suntingBerdasarkan tradisi lisan, Gembrungan berkembang sejak masa Wali Songo seperti Sunan Bonang atau Sunan Kalijaga, sekitar abad ke-14 hingga 15 Masehi. Dalam perjalanan sejarahnya, gembrungan sempat mengalami masa vakum, tetapi kemudian dihidupkan kembali pada pertengahan abad ke-20โsebagian sumber menyebut tahun 1957 di Desa Kaibon oleh tokoh agama setempat. Musik dan syairnya, umumnya berupa salawat Arab maupun terjemahan ke dalam bahasa Jawa, bertujuan memperkuat komitmen beribadah seperti salat lima waktu, serta mengajarkan nilai religius dan moral kepada masyarakat.[2]
Pelaksanaan
suntingPertunjukan Gembrungan diselenggarakan oleh kelompok musisi โ disebut penerbang โ yang terdiri dari delapan hingga sepuluh orang, menghadirkan rebana besar berdiameter sekitar 120โฏcm serta alat musik perkusi lainnya.[1] Alat musik yang digunakan terbilang sederhana, seperti kendang besar, kendang tanggung, kendang kecil, rebana dan lesung.[3] Syair total mencakup 40 lagu berbahasa Arab yang telah disederhanakan menjadi 18 lagu berbahasa Arab-Jawa, masing-masing berisi lima syair tiga bait per lagu. Pementasan berlangsung lamaโSetelah salat Isya hingga tengah malamโmenuntut kondisi fisik prima dan kerap diadakan di masjid, balai desa, atau halaman rumah yang disesuaikan dengan acara seperti aqiqah bayi atau perayaan Maulid dan Isra Mikraj.[4]
Nilai budaya dan pelestarian
suntingGembrungan bukan sekadar media hiburan, tetapi juga sarana pendidikan spiritual dan sosial. Ia mengajarkan nilai keagamaan, kebersamaan, dan penghormatan pada adat & undangan ilahi. Syair dalam Gembrungan yang diubah ke dalam bahasa Jawa memudahkan pendengaran generasi muda. Sejak 2021, Gembrungan mendapatkan status resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, didukung oleh Pemerintah Kota Madiun.[1] Namun regenerasi masih menjadi tantangan, sehingga pemerintah dan komunitas lokal mendorong pelestarian melalui Festival Madioen Tempo Doeloe dan pembentukan kelompok seperti Nur Shidiq di Desa Kaibon, guna melatih generasi muda memainkan rebana besar dan menyanyikan shalawat.[2][5]
Referensi
sunting- ^ a b c Dayanto, Swasto. "Tradisi Gembrungan di Madiun biasa ditampilkan saat peringatan kelahiran bayi - Harian Merapi". Tradisi Gembrungan di Madiun biasa ditampilkan saat peringatan kelahiran bayi - Harian Merapi. Diakses tanggal 2025-06-17.
- ^ a b Kompasiana.com (2022-03-02). "Gembrungan, Tradisi Peringatan Isra Miraj di Madiun yang Tetap Dilestarikan". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2025-06-17.
- ^ Yohar, Pamula (20 November 2018). "Gembrung, Seni Kuno Khas Kota Madiun". Times Indonesia. Diakses tanggal 17 Juni 2025.
- ^ "Ekspresi Isra Mikraj dalam Tradisi Gembrungan di Madiun". Alif.ID. 2019-04-01. Diakses tanggal 2025-06-17.
- ^ Ristanto, Hengky. "Upaya Dina Aryati Kenalkan Seni Gembrung ke Kalangan Anak Muda - Radar Madiun". Upaya Dina Aryati Kenalkan Seni Gembrung ke Kalangan Anak Muda - Radar Madiun. Diakses tanggal 2025-06-17.